Mantan BossKu

Mantan BossKu
4


__ADS_3

Sandra mengamati temannya itu dalam diam dan ikut duduk di samping Jane. "Loe emang harusnya udah putus sama Tomy dari dulu." Ujar Sandra, dia mengambil ponsel dari tasnya dan memainkannya.


Jane membuka matanya mendengar kalimat Sandra. "Maksud loe?" Dia menoleh pada Sandra, karena heran mendengar temannya itu berkomentar soal kehidupan percintaannya. Itu sama sekali bukan Sandra, temannya itu sangat cuek dan paling nggak mau tahu soal kehidupan percintaan Jane atau orang lain.


"Loe nggak bosen apa sama si Jane?" Baru saja rekaman itu diputar, Sandra menghentikannya. Dia ingin melihat reaksi Jane.


Dan reaksi temannya itu seperti dugaannya, penasaran dan terkejut juga.


"Yaelah...cuma beli cincin doang sama pasang muka manis depan bokap nyokapnya mah nggak ribet kali.. yang penting gue tetep bisa pake dia."


"Gila loe! Sekalian aja nikahin dia kalo gitu..makin enak kan pakenya."


"Sorry to say.. gue emang tunangan sama dia, tapi buat nikah... gue tetep bakal pilih cewek yang bisa kasih gue anak."

__ADS_1


"Hahaha...sadis loe bro...anak orang loe mainin!"


Jane merebut ponsel Sandra dan mematikan rekaman itu. Lalu dia mendongak dan menatap pada Sandra. Matanya sudah memerah dan berkaca-kaca, dia sudah siap menumpahkan bendungan airmatanya.


"Gue udah nyimpen ini dari dua minggu yang lalu, tapi ngeliat elo kayaknya makin lengket sama si ******** itu..gue nggak tega buat hancurin harapan elo..sorry.." Tutur Sandra.


Dan sekali lagi hati Jane hancur. Dia sudah tidak bisa menahan airmatnaya yang hendak keluar untuk kesekian kalinya dua hari ini. Sandra yang melihat itu langsung membawa tubuh temannya itu dalam pelukannya, membiarkan temannya itu melepaskan semua yang ada di hatinya.


dilaen tempat


Bangkit dan berdiri tegap lagi setelah kehilangan itu ternyata tidak semudah itu. Pikir Satya.


Beberapa hari setelah istinya meninggalkan dirinya untuk selamanya, Satya masih belum bisa berfikir jernih, dia bahkan tidak merawat Jasmine dengan baik seperti permintaan istrinya. Dia mengabaikan anaknya itu dan mengurung diri di appartemen yang pernah ditinggalinya saat kuliah. Dia tidak membukakan pintu untuk siapapun yang datang. Dia hanya ingin sendiri.

__ADS_1


Satya masih belum bisa bangkit dari ingatan akan dimana dia sendiri yang melepaskan alat bantu pernafasan di hidung istrinya dan mendengar suara dokter yang menyatakan waktu kematian istrinya. Semua itu masih jelas diingatan Satya.


Dia menatap kedua tangan kanannya dan memukul tangan itu dengan keras menggunakan tangan kirinya. Karena tangan kanannya itu yang melepaskan alat bantu pernafasan istrinya, dan Satya masih merasa bersalah akan itu. Rasa bersalah yang kian hari kian membesar dalam dirinya.


"maaf.. prita"


Semua orang terdekat Satya mencoba untuk membujuk Satya, namun pria itu tidak kunjung sadar dengan kenyataan yang harus dia hadapi sekarang ini untuk tetap hidup dengan baik sesuai permintaan istrinya sendiri. Bahkan suara anaknya yang menangis tak diacuhkannya.


Seminggu kemudian ketika Satya usdah tercekat oleh rasa bersalah, pria itu membawa mobilnya menuju tempat dimana semasa kuliah dia habiskan waktu malamnya disana. Bar langganannya sejak masa kuliah itu masih ada dan tetap berdiri hingga kini dan sekarang dia kembali lagi. Dengan segudang beban berat yang akan dia lupakan sejenak dengan berada di dalam tempat ini.


Sudah tidak ada yang mengenal Satya di tempat ini karena sejak dia menikah dengan Prita, dia sudah tidak mengunjungi bar ini lagi dan itu sudah 6 tahun lalu. Dia memasuki tempat dnegan pencahayaan yang remang-remang itu, musik mulai terdengar begitu dia melewati lorong panjang dan beberapa kali belokan untuk sampai pada aula utama dimana disana sudah ramai oleh manusia yang sedang menghabiskan waktunya dengan menikmati musik yang suaranya mampu membuat degup jantung ikut berdentum cepat.


Satya berjalan melintasi orang-orang yang sedang berkumpul dan menari dengan iringan musik dari DJ di atas panggung. Beberapa kali dia mendapat colekan dari wanita-wanita berpakaian minim yang dilewatinya. Satya tidak menanggapi itu, karena niatnya datang ke tempat ini hanyalah melupakan sejenak masalahnya tanpa membuat amsalah baru dengan terlibat dengan wanita-wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2