
"Prita.. ayo kita pulang.."
Setelah puas memeluk Jane yang dikiranya adalah Prita, Satya menggandeng Jane untuk ikut bersamanya meski berjalan sempoyongan dia tetap membawa Jane bersamanya. Jane pun tidak menolak, dia sungguh tidak perduli dia akan dibawa kemana saat ini, alkohol yang diminumnya sudah terlalu mengusai dirinya saat ini
Begitu tiba di luar bar, Satya menelpon sopir bayaran yang bisa menggantikannya untuk mengemudikan mobilnya. Dia mendudukkan Jane ke kursi belakang begitu pula dirinya yang kemudian duduk di sebelah Jane menuggu supir pengganti datang.
Bukan menuju rumahnya, Satya memilih pergi ke apartemennya dan membawa serta Jane kesana. Dengan berjalan gontai karena efek dari alkohol, mereka sampai di depan unit apartemen milik Satya.
__ADS_1
Jane sudah merasa tidak nyaman sejak tadi. Dia ingin segera melepaskan pakaiannya karena kegerahan. Jadi begitu dia merasa dirinya sudah masuk ke dalam ruangan dan tubuhnya terjatuh di atas ranjang, dia mengira dia sudah berada di kamarnya dan dengan cuek melepaskan dressnya sehingga kini dirinya hanya menggunakan pakaian dalam berupa bra dan celana dalam.
Meskipun Satya sudah tidak bisa fokus, namun dia masih bisa melihat seorang wanita yang dia kira Prita membuka bajunya. Dia mengira itu adalah Prita yang memberikan kode untuknya untuk melakukan hubungan suami istri yang biasanya mereka lakukan.
Kau pasti merindukanku 'kan, sayang.." Gumam Satya sembari mengusap pipi Jane yang sudah terbaring di atas ranjang di kamar apartemennya. Warna hitam dalaman yang digunakan Jane begitu menggugah hasrat kelelakian Satya karena warnanya sangat kontras dengan kulit putih milik wanita itu.
"Haha...baiklah.. ayo kita buat adik untuk Jasmine.."
__ADS_1
Satya bergerak naik ke atas ranjang dan memposisikan dirinya tepat berada di atas Jane yang masih sadar namun menutup matanya sejak tadi karena lelah. Tangan Satya membuka kemejanya hingga dia telangjang dada saat ini. jemarinya bergerak menusuri wajah yang tidak jelas dalam pandangan matanya yang tidak fokus. Lalu jemari itu turun menjamah bagian tulang selangka dan pundak Jane yang jelas terekspos.
"Kau sangat cantik.." Pujinya merasakan kulit lembut dan halus dalam usapan tangannya.
Begitu tangannya tepat di atas dada Jane yang masih terbalut bra, Satya terdiam dan kembali mengamati wajah Jane. Lalu dia mendekatkan wajahnya pada wajah Jane, bibirnya mengecup kening, pipi, dan kemudian bibir Jane yang berwarna merah. Beberapa kali dia mengecupi bibir itu sampai kemudian dia ********** dengan intens. Tanganya juga tidak tinggal diam dan mulai meremas dada Jane yang terasa berbeda dengan apa yang selama ini disentuhnya dari milik Prita, namun hasratnya sudah tidak bisa dikontrol lagi, dia tetap meremas dada itu dan merasakan kekenyalan yang memenuhi tangannya.
Jane merasa kepalanya dihantam oleh beton ketika dia terbangun dari tidurnya. Dia mencoba membuka mata namun rasa pening yang dirasakannya membuat dia tidak kuasa bahkan untuk membuka matanya. Tangannya bergerak menyentuh nakas yang ada di samping ranjang dan mencoba mencari sesuatu, namun yang didapatinya nakas itu kosong, kejanggalan itu membuatnya terdiam dan membuka mata.
__ADS_1
Dan ketika dirinya membuka mata, dia semakin terkejut dengan keadaan langit-langit yang berbeda dengan apa yang biasanya dilihatnya setiap membuka mata dipagi hari. Langit-langit kamarnya memiliki ornamen lucu dengan pernak pernik kartun kecukaannya, Doraemon yang menggantung di langit-langit. Namun saat ini yang dilihatnya adalah kosong. Langit-langit itu jelas memberinya petunjuk jika dirinya saat ini bukan berada di tempat tinggalnya atau tempat tinggal Sandra. Dia ingat kamar Sandra itu penuh dengan wewangian aroma terapi, bukan beraroma musk yang maskulin seperti yang terhirup oleh indera penciumannya ini.