Marrying The Grim Reaper

Marrying The Grim Reaper
Bab 10 : Perasaan yang mulai berkecamuk.


__ADS_3

Matahari mulai tenggelam, burung-burung yang seharian berpetualang kini mereka terbang pulang ke sarangnya.


Begitu pula dengan Gyu-Sik, setelah menyelesaikan pekerjaannya di kedai dia berniat untuk pulang, menemui Yumi.


"Ini gajimu hari ini, terimakasih. Berkat kehadiranmu banyak pelanggan baru wanita yang datang, mereka tertarik dengan wajahmu, hehe.. Eits.. tapi kau harus kuat hati, ingat ada Yumi yang menunggu mu di rumah." Maru menberikan sebuah amplop berisi uang gajian Gyu-Sik.


"Terimakasih sajangnim. Saya tidak akan melupakan orang yang menunggu saya dirumah." Gyu-Sik menerima amplop.


"Uww.. Pengantin baru romantis sekali. Kalau begitu ini bonus untukmu, makanlah bersama Yumi." Maru memberi kantong plastik berisi dua porsi jajangmyeon.


"Terimakasih banyak sajangnim. Kalau begitu saya permisi dulu, selamat malam." Gyu-Sik membawa kantong plastik dan amplop dengan hati senang, dia berniat memberi kejutan pada Yumi.


"Akuuuu pulang." Dengan nada riang gembira Gyu-Sik memasuki rumah.


Yumi masih berada di meja kerjanya.


"Dari mana saja kau?" Tanya Yumi judes.


"Pertama aku mau minta maaf dulu padamu." Gyu-Sik memilih menggunakan strategi lelaki pasal satu, lebih baik meminta maaf dari pada meminta ijin.


"Kenapa?"


"Hari ini aku bekerja. Aku diterima bekerja di kedai jang-jang diujung gang." 


Yumi berdiri, dia berjalan mendekati Gyu-Sik.


"Kenapa tiba-tiba mau bekerja?"


"Emm.. aku.. tidak enak padamu. Aku hanya menumpang hidup padamu, bagaimanapun adanya aku disini pasti membuat pengeluaranmu bertambah, maka dari itu aku ingin bekerja agar mendapatkan penghasilan untuk membantumu." Gyu-Sik menjelaskan dengan nada yang berhati-hati. Dia pernah mendengar bahwa lelaki harus merendah saat meminta maaf agar wanitanya luluh.


Yumi kembali merasa terharu dengan perlakuan Gyu-Sik padanya, rasa kesal karena Gyu-Sik tidak berdiskusi terlebih dahulu soal pekerjaannya lenyap begitu saja.


"Han Gyu-Sik kenapa kau berbaik hati padaku? Aku… hiks.. hiks.." Yumi mulai menangis.


"Yak! Kenapa sih suka sekali menangis? Kenapa lagi sekarang?" Gyu-Sik memandang Yumi yang sedang menangis sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.


Yumi menatap Gyu-Sik dengan mata yang masih sembab.


"Setidaknya kau cari pekerjaan yang lebih baik, aku tadi melihatmu di kedai, kau terlihat kelelahan." 


Gyu-Sik tersenyum.


"Tidak apa-apa, untuk sementara aku akan bekerja di kedai jang-jang sambil mencari pekerjaan yang lebih baik yang bisa menerima lelaki tanpa identitas sepertiku." 


"Kalau begitu jangan dipaksakan bekerja."

__ADS_1


"Tidak, aku tidak apa-apa. Terimakasih kau sudah menghawatirkanku Yumi." Gyu-Sik menatap wajah Yumi, mata mereka saling bertemu, ada sesuatu yang tidak mereka katakan dengan bibir, melainkan dengan mata mereka.


"Emm.. ayo makan, Jang sajangnim memberikanku dua porsi jajangmyeon."


Yumi dan Gyu-Sik duduk dilantai, mereka menyantap jajangmyeon sambil menonton televisi.


"Enak sekali, jajangmyeon milik kedai jang-jang memang terbaik." Puji Yumi sambil makan.


Gyu-Sik membersihkan saus pasta kedelai yang belepotan di bibir Yumi.


"Makan dengan rapi, jangan seperti anak TK." 


Yumi memanyunkan bibirnya mendengar sindiran dari Gyu-Sik.


"Ini gaji pertamaku." Gyu-Sik menyodorkan amplop gajinya kepada Yumi.


"Kenapa kau berikan padaku? Itu kan gajimu." Yumi mengembalikan amplop itu ke Gyu-Sik.


"Terimalah, aku memang sudah berniat memberikan gaji pertamaku padamu."


Yumi menatap amplop putih di atas meja itu.


"Lee Yumi, terimalah, isinya hanya lima puluh ribu won, jadi kau tidak perlu merasa terbebani untuk menerimanya."


"Bukan masalah nominalnya, tapi maknanya. Aku masih ingat saat pertama kali menerima gaji waktu bekerja di pasar ikan. Kala itu hanya delapan ribu won, tapi aku merasa sangat bahagia menerimanya." Yumi memutar kembali memorinya saat ia masih berusia belasan tahun.


"Kenapa? Karena ditubuhku ini memiliki hal yang paling penting dari hidupmu ya?" Sindir Yumi.


"Lebih dari itu, aku merasakan hal yang sudah lama tidak aku rasakan."


"Apa?"


"Aku merasa hidupku lebih terasa bermakna saat bersamamu."


Hati Yumi berdetak tidak beraturan.


"Kalau begitu akan aku simpan uang ini, akhir pekan kita pakai untuk makan diluar, bagaimana?" Yumi memberi ide.


"Hmm.. boleh."


Yumi dan Gyu-Sik mulai merasakan hal-hal yang seharusnya tidak mereka rasakan. 


Namun, entah itu manusia entah itu malaikat maut, semua tidak bisa mengendalikan hati mereka semaunya.


Setelah selesai makan Yumi masuk ke kamarnya, sedangkan Gyu-Sik memilih untuk mencari udara segar di halaman depan rumah.

__ADS_1


"Hahh.. ada apa denganku?" Gyu-Sik mengedarkan pandangannya ke gedung-gedung tinggi lampunya menghiasi suasana malam kota Seoul.


"Kenapa aku baru sadar kalau pemandangan kota Seoul seindah ini? Kemana saja aku selama ini?" 


"Bukan saatnya mengagumi pemandangan malam kota Seoul Han Gyu-Sik!" Dong-Bong secara misterius muncul di sebelah Gyu-Sik.


"Kamjjagiya." Gyu-Sik memegang dadanya. *Kamjjagiya : Mengagetkan saja.


"Waaah.. bahkan kau sekarang merasa kaget? Kau sudah merasa menjadi manusia? Hmm.. makanya kau juga mulai merasa suka pada wanita itu kan??" Dong-Bong mengintrogasi Gyu-Sik.


"Mworae??" Gyu-Sik gelagapan menjawab pertanyaan Dong-Bong. *Mworae : Siapa bilang??


"Kojitmal hajima." Dong-Bong semakin menyudutkan Gyu-Sik. *Kotjimal hajima : Jangan berbohong.


"Aku tidak berbohong!"


"Kalau begitu lakukan secepatnya, waktumu tinggal sembilan ratus sembilan puluh hari lagi. Kau tahu kan akibatnya kalau sampai seribu hari kau masih tidak berhasil mengeluarkan bola jiwa dari tubuh Yumi?" 


"Hmmm.. iya aku tahu."


"Kalau begitu jangan membodohi diri sendiri."


KLAP…


Dong-Bong menghilang.


"Hahhh.." Gyu-Sik mengacak-acak rambutnya, kepalanya terasa pusing.


Hatinya berkecamuk, di satu sisi perasaannya pada Yumi mulai berkembang, tapi disisi lain, dia menyadari bahwa hubungannya dan Yumi adalah suatu hal yang tidak boleh terjadi.


...---------------...


Di dalam kamar Yumi.


Yumi duduk menyandar di kepala tempat tidurnya. 


"Hahh.. apa-apaan ini? Plot twist macam apa ini?" Pandangan Yumi kosong menatap lurus ke depan.


"Benar-benar tidak masuk akal, bertemu malaikat maut, menikah dengannya, dan sekarang hatiku berdebar karenanya?? Hahhh.. aku pasti sudah gila!!!!" Yumi memandang cincin batu rubi yang terpasang di jarinya.


"Apa ini yang dinamakan karma sebagai seorang penulis novel fiksi?? Aku menulis setiap pasangan dalam novelku berakhir tragis, lalu sekarang apa hidupku juga akan berakhir seperti itu? Hahh.. entahlah." Yumi menendang salah satu bantalnya hingga jatuh ke lantai. Yumi mulai memikirkan hal-hal yang tidak masuk akal dan tidak berguna.


"Tapi… sikapnya terlalu baik padaku, jadi wajar kan kalau aku jadi deg-degan? Hisssh.. ini salahnya, kenapa bersikap seperti itu padaku." Yumi memanyunkan bibirnya.


"Entahlah.. lebih baik aku tidur, besok harus meneruskan novelku, ada deadline kejar bab." Yumi mencoba untuk tidur walau sebebarnya dia tidak merasa mengantuk.

__ADS_1


To be continued..


__ADS_2