Marrying The Grim Reaper

Marrying The Grim Reaper
Bab 24 : Hari pertama berpisah (sementara)


__ADS_3

DEG..


Yumi tidak menyangka hal itu yang akan dikatakan oleh Gyu-Sik.


“Emm.. baiklah jika itu maumu.”


“Aku tetap bekerja seperti biasa, jika ada yang mau kau bicarakan datang saja ke kedai.”


“Tidak, aku akan bersabar menunggumu kembali ke rumah. Aku tahu pasti banyak hal yang kau pikirkan.” Yumi tersenyum seolah ingin memperlihatkan bahwa dia baik-baik saja.


‘Senyumnya palsu, apa Yumi juga sedih? Sama seperti ku?’ Batin Gyu-Sik.


Yumi dan Gyu-Sik saling menatap tanpa bicara, hembusan angin semakin membekukan suasana. Keduanya sama-sama tidak ingin berpisah namun mereka tahu ada hal yang harus mereka renungi masing-masing.


“Jangan lupa makan dengan teratur, jaga dirimu baik-baik.” Gyu-Sik tersenyum.


“Hmm.. kau juga.”


“Kalau begitu aku pergi dulu.” Gyu-Sik benar-benar pergi dari rumah Yumi.


Yumi hanya bisa memandang punggung Gyu-Sik, ingin sekali dia menahan Gyu-Sik namun Yumi tidak ingin memaksakan kehendaknya, apapun keputusan Gyu-Sik kelak, Yumi akan menerimanya.


Yumi masuk ke kamarnya, dia duduk di tepi tempat tidur dan mulai menangis. Hatinya terasa sesak, seperti ada batu besar yang menimpanya.


...----------------...


Gyu-Sik berjalan menuju taman, dia duduk sambil memandang langit. 


“Apa yang harus aku lakukan? Hahh…” Gyu-Sik menghela nafas panjang.


“Dasar bodoh, tentu saja yang perlu kau lakukan adalah mengeluarkan bola jiwa dan kembali ke nirwana.” 


Gyu-Sik menoleh, dan dia mendapati Ma-Ri sudah duduk di sebelahnya.


“Ma-Ri?”


“Hmmm.. kenapa?” Ma-Ri adalah malaika maut seperti Gyu-Sik, dia sudah menjalani profesinya sebagai malaikat maut selama seratus tahun.


Ma-Ri adalah sosok malaikat maut yang cantik, memiliki badan tinggi semampai, berkulit putih bersih dengan rambut panjang yang begelombang.


“Kenapa kau disini?”


“Kau sendiri kenapa disini?”


“Aku? Emm.. ya, aku hanya ingin mencari udara segar.”


“Bagaimana dengan perkembangan bola jiwa? Kau sudah menghamili wanita itu belum?” 


“Hahh.. Yaaak! Kenapa hal seperti itu kau tanyakan dengan sangat santai sih?”


“Heum?? Memang aku harus tanya dengan cara apa? Memangnya pertanyaanku salah?”


“Hahh.. sudahlah.”

__ADS_1


“Kalau dia tidak ingin tidur denganmu buat saja dia mabuk berat, lalu kau bisa dengan leluasa melakukannya. Ingat Han Gyu-Sik waktumu sudah banyak terbuang sia-sia disini!!” Ma-Ri berdiri di depan Gyu-Sik sambil melipat kedua tangannya di dada.


“Pulang sana, aku ingin sendirian.” 


“Haruskah aku mendatanginya?” 


Gyu-Sik mendongak untuk melihat wajah cantik Ma-Ri.


“Kau tidak perlu ikut campur, ini urusanku.”


“Aku hanya mengingatkan, kau ini seorang malaikat maut bukan manusia, kau harus menjalani hukumanmu sebelum menjadi manusia kembali dan dapat bereinkarnasi. Kau tidak boleh terbawa suasana, kau tidak mencintainya Han Gyu-Sik, itu hanya semu, hanya karena kalian sering bertemu makanya hatimu membuat halusinasi seakan kau suka padanya. Kau tidak boleh gegabah dalam menangani situasimu saat ini.” Dengan nada tegas Ma-Ri ingin Gyu-Sik tidak gentar dalam situasi saat ini.


KLAP..


Ma-Ri menghilang.


“Hahhh… bisa gila aku.” Gyu-Sik mengacak-acak rambutnya. Otak dan hatinya tidak mau bekerjasama, hal inilah yang semakin membuat Gyu-Sik merasa tersiksa.


Malam itu Gyu-Sik menikmati kegalauan hatinya di taman hingga ketiduran.


Srek.. srek.. srek..


"Permisi.. anak muda.. bangun.. kau masih hidup kan?" Seorang kakek petugas pembersih taman membangunkan Gyu-Sik.


Gyu-Sik membuka mata perlahan, dia melihat langit sudah berwarna biru muda, walau masih gelap.


"Jam berapa ini kek?" Tanya Gyu-Sik.


Sang petugas pembersih taman melihat jam tangannya.


Tae-Hyun hanya menjawab dengan senyuman.


"Aa.. kau sedang marahan ya dengan istrimu?" Tebak si kakek.


"Apa??"


"Itu kau pakai cincin dijari manis artinya kau punya istri atau paling tidak punya pasangan kan?"


Gyu-Sik melirik cincin ruby merah yang di jarinya.


"Benar ya? Sedang marahan ya?" Selidik si kakek.


"Tidak juga, kami hanya butuh waktu untuk menyendiri dulu." Jawab Gyu-Sik.


"Aigo.. kalau begitu kau sekarang adalah gelandangan, tidak punya tempat tinggal dan tidak ada yang memasak untukmu. Ayo ikut aku." 


Gyu-Sik mengikuti kakek petugas pembersih taman menuju minimarket.


Sang kakek membelikan beberapa roti, kimbab, dan susu untuk Gyu-Sik.


"Makanlah, kau butuh tenaga untuk gencatan senjata dengan pasanganmu." 


"Tidak usah repot-repot kek, saya punya uang kok." Gyu-Sik tidak enak menerima makanan itu.

__ADS_1


"Sudah terima saja, anggap saja ini dukungan dari sesama lelaki. Aku dulu juga pernah sepertimu saat ini, jadi itu wajar. Tapi… jangan lama-lama, pasanganmu pasti gundah menunggumu. Aku pergi dulu." Kakek petugas pembersih taman itu berjalan meninggalkan Gyu-Sik.


"Hahh.. kenapa aku bertemu dengan manusia-manusia baik sih? Ini membuatku semakin ingin tinggal disini." Mata Gyu-Sik berkaca-kaca.


Gyu-Sik tidak menyangka bahwa masih banyak orang baik di muka bumi ini.


...----------------...


Dubrak!!


"Awwww.." Yumi terjatuh dari tempat tidurnya. "Ternyata sudah pagi ya." Yumi membuka penutup matanya.


Yumi berjalan keluar kamar menuju dapur untuk mengambil air mineral.


"Aaah.. segarnya, matamu jadi bisa terbuka sempurna." Yumi duduk di kursi makan.


Yumi memandang kosong meja makan, belum ada satu hari Yumi sudah merindukan masakan Gyu-Sik.


"Huft.. sepi rasanya tidak ada bau Han Gyu-Sik di rumah ini."


Tok.. tok.. tok..


"Siapa yang datang pagi-pagi begini? Han Gyu-Sik??" Yumi berlari menuju pintu.


“Taraaaa..” Ju-Hwi datang sambil menenteng rantang tingkat empat.


“Bibi?” 


“Ini untuk makan mu hari ini, suamimu yang memintaku untuk membuatkan mu makan. Dia memberiku uang untuk tiga hari, katanya kalau diperpanjang dia kan memberiku uang lagi. Kalian sedang marahan ya? Ckckck.. Yumi kau ini tidak bersyukur sekali, Gyu-Sik adalah pria yang baik, tampan pula.


Di saat kalian sedang marahan saja dia masih memperhatikan makanan untuk mu. Awas kalau sering marahan nanti dia terpikat wanita lain.” Ju-Hwi memang pandai dalam memprovokasi orang.


Yumi tidak begitu mendengarkan ocehan Ju-Hwi, dia hanya terpaku pada rantang yang dibawa Ju-Hwi.


“Kapan dia memberi bibi uang?” Tanya Yumi.


“Tadi pagi-pagi buta, wajahnya tampak kusut. Sudahlah akhiri saja pertengkaran kalian, memang begitu kehidupan rumah tangga, kadang kala ada perselisihan tapi kalian harus hadapi, duduk berdua dan menyelesaikannya.” Ju-Hwi memberi nsihat pada Yumi tapi tidak digubris.


“Tapi dia sendiri yang bilang ingin menyndiri dulu, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain meng-iyakan apa maunya.”


“Apa katamu? Kau tidak bisa berbuat apa-apa? Tentu saja kau bisa, kau ini istrinya, kau berhak menahannya, lelaki memang begitu, keras kepala, jadi kita sebagai wanita harus melunakannya. Mengalah dalam rumah tangga bukan berarti kalah. Bukan begitu? Kau tahu maksud ku kan Yumi?”


“Hmm.. terimakasih bibi.”


“Kalau begitu terimalah, makan yang lahap, kalau kurang kau datang saja ke tokoku, oke?”


“Hmm..”


Ju-Hwi pergi dari rumah Yumi.


Yumi menatap rantang berwarna pink sambil berkaca-kaca.


"Dasar malaikat maut, hikss.. hikss.." Yumi menangis sambil berjongkok dan memeluk rantang.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2