
Pagi hari.
Yumi baru saja terbangun dari tidurnya.
“Ennnnnngg..” Yumi meregangkan badannya.
“Aaaaaaak… aku sudah bisa melihat kembali.” Yumi senang saat menyadari bahwa pengelihatannya sudah kembali, dia naik ke atas kasur sambil melompat-lompat seperti anak kecil.
“Gyu-Sik harus tahu ini.” Yumi langsung berlari ke luar kamar mencari sosok Han Gyu-Sik, namun tidak ditemukan. Yumi keluar dari rumah ternyata Gyu-Sik sedang menjemur baju.
“Haaaaaan Gyuuuuu-Sikkkkkk..” Yumi memeluk Gyu-Sik dari belakang.
“Kau sudah bisa melihat lagi??”
“Hmmmm..”
Gyu-Sik membalikan badan.
“Ini angka berapa?” Tanya Gyu-Sik sambil mengangkat dua jarinya.
“Hahaha.. sepuluh.” Jawab Yui seraya bercanda.
“Syukurlah, terimakasih Tuhan, terimakasih dewa.” Gyu-Sik memeluk erat Yumi.
Yumi melihat ember berisi bajunya, tiba-tiba…..
“Yaaak! Kau menjemur pakaian dalamku? Auhhh.. kau ini membuatku malu saja.” Yumi mengambil ember berisi baju yang masih basah lalu memeluknya.
“Memangnya kenapa? Kau kan tidak bisa melakukannya, jadi aku yang melakukannya. Apa salahnya?” Jawab Gyu-Sik dengan muka polosnya.
“Hahh.. sudahlah kau berangkat kerja sana.”
Gyu-Sik berjalan mendekati Yumi, lalu mengambil ember cucian dan meletakannya ke lantai.
“Hmmm.. apa maumu?” Yumi sudah curiga dengan gerak gerik Gyu-Sik.
“Katanya kau mau menatap wajahku.” Gyu-Sik mendekatkan wajahnya pada wajah Yumi, jarak mereka sangat dekat.
‘D*MN! Tuhan…. bibirnyaaaaaa.’ Yumi mengagumi Gyu-Sik dalam hati.
“Sudah sana berangkat kerja.” Yumi mendorong tubuh Gyu-Sik.
“Hehe.. iya iya, kau baik-baik ya di rumah, aku berangkat kerja dulu.” Gyu-Sik menglus lembut rambut Yumi lalu pergi.
Yumi melihat Gyu-Sik dari atas.
__ADS_1
“Hah.. sejak kapan Han Gyu-Sik menjadi setampan dan sexy seperti itu? Hmmm… manis sekali.” Yumi sedang mengagumi Gyu-Sik dari jauh.
BAM!!
“Jatuh cinta memang seperti itu.”
Yumi kgaet setengah mati saat mendengar suara dari belakang, dia berbalik badan.
“Si.. si.. apa kau?” Yumi mundur beberapa langkah.
Ma-Ri datang menemui Yumi.
“Jadi kau yang namanya Yumi?” Ma-Ri mendekat ke Yumi.
“Jangan mendekat.” Badan Yumi sudah mentok ke tembok.
“Jangan terlalu mundur kau bisa jatuh lalu mati.” Kata-kata yang keluar dari Ma-Ri terasa sangat dingin. Hawa disekitar juga jadi dingin, angin berhembus lebih kencang, Yumi memeluk dirinya sendiri.
“Aku Ma-Ri teman Gyu-Sik.”
“Teman Han Gyu-Sik? Berarti…..”
“Iya, benar, tepat sekali, aku adalah malaikat maut.”
“Hahaha.. ya.. itu yang selalu manusia tanyakan pada malaikt maut. Tapi sayangnya belum waktunya kau mati.”
“Kau yang membuatku menjadi buta?”
“Hmmm.. bagaimana rasanya tidak bisa melihat cantik?”
Yumi masih di posisi yang sama.
“Aku datang untuk memberitahu mu tentang Gyu-Sik. Ada banyak hal yang kau tidak tahu tentang Gyu-Sik, Ckckck.. kau ini manusia kesepian kasihan sekali sampai-sampai mau berpacaran dengan malaikat maut.”
“Katakan.”
“Gyu-Sik akan lenyap di hari keseribu.”
“Apa maksunya??”
“Di hari keseribu dia disini, dia akan lenyap, dia tidak akan bisa hidup sebagai manusia dan bereinkarnasi seperti janji dewa padanya.”
“Kenapa dia lenyap? Apa salahnya??”
“Hahaha.. kau ini pura-pura tidak tahu atau menyangkal bahwa sebenarnya kau tahu?” Ma-Ri kini berdiri tepat di depan Yumi.
__ADS_1
“Aku tidak akan banyak memberitahu. Tapi intinya jika selama serbu hari dia tidak bisa mengeluarkan bola jiwa dari tubuhmu maka dia akan lenyap dari bumi dan nirwana. Itu artinya apa yang dia lakukan selama dua ratus tujuh puluh tahun sia-sia.
Gyu-Sik tinggal menyelesaikan sepuluh tugas, jika tugasnya selesai dewa akan memberikannya umur dan dia hidup kembali menjadi manusia dan setelah dia meninggal dia akan mendapat tiket reinkarnasi.”
Yumi merinding mendengar penjelasan dari Ma-Ri, tak terasa air matanya jatuh.
“Uww.. jangan sedih cantik, kau bisa menyelmatkannya.” Ma-Ri menghapus air mata Yumi.
“Jadi kau tahu kan apa yang harus kau lakukan?”
Yumi tidak menjawab dia tertunduk.
“Hmm.. kau harus membantu Gyu-Sik mengeluarkan bola jiwa itu, kau harus hamil dan melahirkan anak Gyu-Sik agar bola jiwa itu keluar dari tubuh mu!”
“...Kau tidak perlu khawatir anak kalian akan menjadi manusia biasa, jad kau hanya perlu mengurusnya seperti mengurus manusia pada umumnya, bagaimana? Mudah kan? Kau bisa kan melakukannya? Atau….. kau mau membuat Gyu-Sik lenyap di depan matamu?” Ma-Ri mengangkat dagu Yumi dengan satu tangannya.
“...Yumi pikirkan baik-baik apa yang harus kau lakukan demi Gyu-Sik.”
KLAAAP!!
Ma-Ri menghilang, lalu udara di sekitar kembali menghangat.
Yumi terduduk, otak, hati dan raganya seperti melemah, dia baru saja merasakan jatuh cinta tapi kini dia harus menghaapi sebuah kenyataan pahit.
...----------------...
Di kedai tempat Gyu-Sik bekerja.
“Eoh kau bekerja hari ini? Bagaimana keadaan Yumi? Apa dia sudah sembuh?” Maru menanyakan keadaan Yumi karena kemarin Gyu-Sik bilang bahwa Yumi sakit dan dia harus menemaninya sepanjang hari.
“Sudah, dia sudah baik-baik saja.” Jawab Gyu-Sik.
“Syukurlah kalau begitu. Oiya Gyu-Sik kemarin kakak sepupuku memintaku mencari seorang lelaki sekitar umur tiga puluhan untuk menggantikannya bekerja di perpustakaan kota sebagai penjaga loker penitipan barang. Katanya dia tidak memandang pendidikan dan lainnya, asal orangnya mau bekerja pasti akan diterima. Apa kau mau mencoba mendaftar untuk bekerja disana?”
Gyu-Sik bingung, “Jadi sajangnim memecatku?”
“Bukan.. bukan begitu. Tapi aku rasa orang sepertimu akan lebih cocok bekerja ditempat seperti itu dari pada disini. Gajinya pun lebih banyak dari yang aku berikan, dan jam kerjanya juga tidak selama disini.”
Gyu-Sik menggaruk kepalanya, dia merasa bingung tidak tahu harus menanggapi, dia belum pernah menghadapi hal seperti ini seumur hidupnya.
“Ini kartu namanya, kau boleh mempertimbangkannya dulu, hari ini kau bekerja seperti biasa. Oke?”
“Terimaksaih sajangnim.” Gyu-sik menerima kartu nama dari Maru.
To be continued...
__ADS_1