Marrying The Grim Reaper

Marrying The Grim Reaper
Bab 06 : The D (Kwak Dong-Il)


__ADS_3

Dong-Il mengajak Gyu-Sik untuk beristirahat di sebuah minimarket. 


"Hahh.. panas sekali." Gyu-Sik menyeka keringat di dahinya.


"Kau sudah bekerja keras, minumlah." Dong-Il memberikan jus kaleng dingin ke Gyu-Sik.


"Terimakasih." Gyu-Sik meneguk jus.


"Apa pekerjaan mu?" Tanya Dong-Il tiba-tiba.


"Emm.. sebuah pekerjaan yang unik." Jawab Gyu-Sik.


"Saat muda aku bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan asuransi kendaraan.


Aku bekerja sebagai salesman, performa penjualanku sangat baik. Di tahun kedua aku dipromosikan naik jabatan sebagai kepala unit, tapi seorang teman kerjaku membawa lari uang asuransi yang seharusnya aku setorkan ke bank." Dong-Il menceritakan masa lalunya.


"..Aku harus menanggung semua kerugian, aku menjual mobil dan harus pindah dari apartmenku.


Saat itu aku memiliki kekasih, kami berencana menkikah di tahun berikutnya, namun dia akhirnya meninggalkanku."


"..Sejak saat itu aku bekerja serabutan hingga akhirnya memilih untuk menjadi seorang pemulung." 


Gyu-Sik dengan setia mendengarkan cerita Dong-Il.


"Kau.. maaf, maksudku kakek tidak memiliki saudara?" Tanya Gyu-Sik.


"Tidak, orang yang aku kenal semua menjauhiku karena takut akan aku pinjami uang."


"Waaah.. manusia memang rumit, mereka memiliki hati tapi seperti tidak memiliknya."


"Ya.. begitulah manusia." Dong-Il meneguk air mineral.


"Kakek.. apa ada sesuatu yang ingin kau lakukan sebelum meninggal?" 


"Hemm.. sebenarnya ada."


"Katakan, Yumi sangat ingin membuat kakek bahagia, dia mungkin saja akan mengabulkan keinginanmu itu." Kata Gyu-Sik.


"Aku ingin berfoto dengan baju rapih. Setidaknya di rumah abuku kelak ada fotoku dengan baju yang layak." 


"Oke, kalau begitu setelah bertemu Yumi kita ke studio foto."


"Hari ini?" 


"Iya harus hari ini." Jawab Gyu-Sik tegas.


"Benar juga, siapa tahu hari ini adalah hari terakhirku." Dong-Il meneguk air minerlanya.


Gyu-Sik terdiam.


...****************...


"Kakek.. disini.. disini.." Yumi melambai-lambaikan kedua tangannya agar Dong-Il dan Gyu-Sik tahu keberadaannya.


Dong-Il dan Gyu-Sik menghampiri Yumi.


"Sudah lama menunggu?" Tanya Dong-Il.


"Tidak, ayo kek ke kedai bungeoppang." Yumi menggandeng tangan Dong-Il.


"Kau sudah lapar sekali?" Tanya Dong-Il.


Yumi mengangguk.


"Lee Yumi.. kakek Dong-Il ingin berfoto dengan pakaian rapih." Tiba-tiba Gyu-Sik bicara.

__ADS_1


"Hmm? Benarkah kek?"


"Iya, aku ingin ada foto diriku mengenakan pakaian rapih di rumah abuku kelak."


Yumi kembali merasa hatinya hancur.


"Baiklah, kalau begitu ayo ke studio foto." 


"Tapi kita kan mau makan bungeoppang?!" Protes Gyu-Sik.


"Aku sudah kenyang." Jawab Yumi.


"Bagaimana sih? Plin plan sekali sikapmu? Baru saja kau bilang lapar sekarang kenyang, dasar!" Gyu-Sik merasa sangat lapar, di otaknya sudah terbayang bungeoppang.


"Tapi foto kakek lebih penting dari pada bungeoppang!" Yumi tidak mau kalah.


"Tapi perutku juga penting! Aku berjalan jauh dan bekerja keras membantu kakek!" Gyu-Sik dan Yumi terlibat pertengkaran kecil.


"Sudah.. sudah.. kita makan bungeoppang dulu baru ke studio foto, bagaimana Yumi?" Dong-Il menengahi Yumi dan Gyu-Sik.


"Iya kek."


...----------------...


"Kalian ini kenapa seperti anak kecil sih?" Dong-Il duduk di antara Yumi dan Gyu-Sik yang sedang perang dingin.


"Aku? Tidak mungkin kek." Gyu-Sik tidak setuju dengan perkataan Dong-Il.


"Lalu maksudmu aku yang seperti anak kecil??" Yumi merasa tidak terima.


"Aku tidak bilang seperti itu, kau malah mengakuinya sendiri." 


"Hehehe.. lucu sekali kalian, jadi begini rasanya punya cucu ya? Senangnya mendengarkan perdebatan tidak penting seperti ini." Dong-Il tersenyum, dia merasa bahagia.


"Apa kakek merasa senang?" Terlalu kompak, Yumi dan Gyu-Sik bertanya bersamaan.


Setelah menikmati bungeoppang mereka bertiga pergi ke studio foto yang tidak jauh dari kedai bungeoppang.


"Kek.. disini juga ada penyewaan pakaian, jadi kakek tidak perlu membelinya." Yumi mengarahkan Dong-Il untuk memilih pakaian yang dia suka.


"Benarkah? Jadi bisa lebih murah ya?" Dong-Il merasa bersemangat.


"Benar kek, dan juga ada pelayanan penataan rambut dan wajah, agar fotonya bisa terlihat lebih baik." 


Dong-Il dibantu Yumi memilih baju lalu merapihkan rambut dan mulai pemotretan.


"Lihatlah wajahnya." Bisik Gyu-Sik pada Yumi.


"Iya, dia tampak bahagia." Yumi dan Gyu-Sik berdiri di belakang fotografer mengamati Dong-Il yang sedang pemotretan.


Yumi meneteskan air mata, "Ah.. sial.. aku benar-benar tidak bisa menahannya."


"Tahan sebentar, kau bisa menangis sepuasnya dirumah. Aku akan menemanimu menangis hingga hatimu merasa lebih baik." 


Mendengar kata-kata tulus dari Gyu-Sik membuat Yumi menemukan sedikit kebahagiaan ditengah-tengah kesedihannya untuk Dong-Il.


"Yumi.. Gyu-Sik.. kemarilah." Dong-Il meminta Yumi dan Gyu-Sik mendekatinya.


"Fotokan kami bertiga." Pinta Dong-Il kepada fotografer.


Yumi dan Gyu-Sik berdiri di belakang, sedangkan Dong-Il duduk.


FLASH..


"Fotokan mereka berdua." Dong-Il berjalan mendekati fotografer lalu meminta untuk memotret Yumi dan Gyu-Sik.

__ADS_1


"Tidak usah.." Gyu-Sik mau berjalan namun Yumi menahan tangannya.


"Sudah lakukan saja." Yumi berbisik ke Gyu-Sik, akhirnya Gyu-Sik kembali berdiri di sebelah Yumi.


"Sebentar." Asisten fotografer menyingkirkan kursi di depan Yumi lalu membuat Yumi dan Gyu-Sik merapat hingga lengan mereka saling menempel.


"Senyum.. tiga.. dua.. satu.."


...----------------...


"Lucu sekali ekspresi kalian, hehe.." Dong-Il membolak-balik hasil foto bersama Yumi dan Gyu-Sik.


"Kakek.. ayo kita makan." Ajak Yumi.


"Ayo.. aku ingin makan sup kepiting. Kau tahu kedai yang menjual sup kepiting yang enak?" Tanya Dong-Il.


"Tahu, tapi kita perlu naik subway, tidak apa-apa kan kek?" Tanya Yumi.


Dong-Il mengangguk.


Yumi, Gyu-Sik dan Dong-Il menikmati hari bersama. Yumi ingin membuat hari terakhir Dong-Il menjadi kenangan yang indah yang akan dia bawa ke alam lain.


...----------------...


00:00 waktu Seoul.


Yumi, Gyu-Sik dan Dong-Il sedang menikmati teh hangat di halaman rumah Dong-Il.


Yumi melihat tato merah angka 1 berubah menjadi 0.


Yumi menahan air matanya, Gyu-Sik memberikan sinyal ke Yumi untuk tidak memperlihatkan kesedihannya.


"Aku benar-benar merasa senang bertemu kalian. Tuhan ternyata masih sayang padaku, disaat umurku tinggal sedikit aku dipertemukan dengan orang-orang baik." Raut wajah bahagia terpancar jelas pada Dong-Il.


Yumi dan Gyu-Sik hanya tersenyum.


Drap.. drap.. drap..


Aura suram mulai datang.


Yumi dan Gyu-Sik menoleh ke arah belakang saat mendengar suara langkah kaki.


Ternyata seorang malaikat maut yang bertugas mencabut nyawa Dong-Il datang.


"Hoamm.. aku ngantuk sekali." Dong-Il tertidur di lantai.


Yumi menangis tanpa suara, dia tidak tega melihat prosesi ini.


Yumi dan Gyu-Sik melihat arwah Dong-Il keluar dari raganya.


"Ahh.. ternyata aku sudah meninggal." Arwah Dong-Il melihat raganya tergeletak di lantai.


"Jadi kalian sudah tahu?" Tanya Arwah Dong-Il.


Yumi dan Gyu-Sik mengangguk.


"Terimakasih kalian sudah memberikan kebahagian diujung hidupku. Aku minta tolong kremasikan jasadku, tidak perlu membuat acara pelayatan, tidak akan ada yang datang. Pakai uang yang ada di lemariku, jika ada sisa kalian pakai untuk beli bungeoppang. Aku pamit, kalian harus akur dan jaga diri kalian." Senyum terakhir Dong-Il sangat hangat.


"Han Gyu-Sik, timjangnim menitipkan pesan untukmu. Dia bilang kau harus cepat, jika tidak ingin ada hal aneh timbul." Kata malaikat maut itu.


"Baiklah." Jawab Gyu-Sik.


"Ikuti saya." Malaikat maut membimbing arwah Dong-Il lalu sejekap mereka hilang.


"Ka.. kekkk….." Yumi menangis tersedu-sedu sambil memegang tangan jasad Dong-Il.

__ADS_1


"Kita harus melaksanakan permintaan kakek Dong-Il, tegarlah Lee Yu-Mi." Gyu-Sik menepuk-nepuk pundak Yumi.


To be comtinued..


__ADS_2