Marrying The Grim Reaper

Marrying The Grim Reaper
Bab 31 : Kehidupan Gyu-Sik dan Yeo Seol (1)


__ADS_3

Yeo Goo dibantu beberapa karyawannya membawa Yeo Seol ke ruang berobat.


Yeo Goo sebagai seorang kepala tabib kerajaan sigap memeriksa sang anak.


"Semua baik-baik saja, tapi kenapa tiba-tiba dia pingsan." Yeo Goo nampak kebingungan.


Yeo Seol mengerutkan dahinya, lalu perlahan membuka mata.


"Ayah.." Yeo Seol memanggil ayahnya lirih.


"Iya nak, bagaimana perasaanmu? Apa yang kau rasakan sekarang?" 


Yeo Seol mencoba duduk, sang ayah membantu.


"Pelayan ambilkan air minum untuk Yeo Seol." Teriak Yeo Goo pada anak buahnya.


"Sudah tidak apa-apa, tadi tiba-tiba saja kepalaku sangat pusing." 


Pelayan datang membawa air minum.


"Minum dulu." 


Yeo Seol meneguk satu gelas air minum hingga tak tersisa.


"Kalau begitu kau istirahat sana di kamarmu." Yeo Goo membantu Yeo Seol berdiri.


"Tidak apa ayah, aku harus pergi ke istana. Aku harus memeriksa Han Gyu-Sik, lukanya kali ini lumayan parah." 


"Besok saja."


"Tidak apa ayah, aku sehat." Yeo Seol melompat-lompat menunjukan bahwa dia sehat.


"Ya sudah kalau kau mau ke istana, ayah juga ada tugas sore ini. Kita sama-sama berangkat."


Yeo Seol mengangguk.


Yeo Goo, Yeo Seol dan satu orang pengawal pergi ke istana menggunakan kereta kuda fasilitas dari kerajaan untuk Yeo Goo.


Yeo Goo adalah kepala tabib kerajaa, dia sudah bekerja di kerajaan sejak muda. Kemampuannya meracik obat dan merawat orang sakit sudah tidak diragukan lagi.


Di rumahnya, dia mempekerjakan beberapa orang yang sudah dia latih untuk mengobati rakyat jelata secara cuma-cuma.


Begitu baik dan mulianya hati Yeo Goo, maka dari itu dia banyak disayang dan disegani oleh orang-orang di sekitar rumahnya.


Sesampainya di kerajaan Yeo Seol langsung mencari Gyu-Sik di kamarnya.


Tok.. tok..


"Han Gyu-Sik buka pintunya, sudah waktunya pengobatan, Han Gyu-Sikkkkk.." Yeo Seol mengetuk-ngetuk pintu kamar Gyu-Sik.

__ADS_1


Tidak ada jawaban.


"Tidak mungkin kalau dia tidak ada di dalam, ini kan belum malam hari." Yeo Seol menggumam sendiri.


KREEEEK..


"Aku masuk." Yeo Seol masuk ke kamar Gyu-Sik, ternyata Gyu-Sik sedang tidur.


Yeo Seol mendekat.


"Wajahnya pucat sekali." Yeo Seok memegang dahi Gyu-Sik. Ternyata Gyu-Sik sedang demam tinggi.


Yeo Seol berlari menuju ruang obat istana, dia meracik obat penurun demam dan obat untuk menyembuhkan luka sayatan pedang di lengan kanan Gyu-Sik.


Setelah selesai dengan semua racikannya Yeo Seol kembali ke kamar Gyu-Sik.


Yeo Seol membuka baju Gyu-Sik dan mulai menyeka dada dan perut Gyu-Sik dengan air. Bekas luka sayatan pedang, bekas luka dalam lebam menghiasi tubuh kekar Gyu-Sik.


Yeo Seol memandang kasihan pada Gyu-Sik. Pekerjaan Gyu-Sik sebagai pembuhun 


Yeo Seol menyeka wajah Gyu-Sik.


Gyu-Sik mengerutkan dahinya. 


Setelah itu Yeo Seol mulai mengobati luka sayatan pedang di lengan Gyu-Sik, tiba-tiba…


Sreeeeet..


"Han Gyu-Sik.. uhukkk.. uhukkk.. sadarlah, aku Yeo… uhukk.. Seol." Tangan Yeo Seol memukul-mukul tangan Gyu-Sik.


Gyu-Sik baru sadar, lalu melepasnya.


Yeo Seol terbatuk-batuk, Gyu-Sik panik, dia memberi Yeo Seol minum.


"Maaf Yeo Seol aku tidak sengaja, tubuhku sudah memikiki reflek tersendiri saat ada orang yang mendekat." Gyu-Sik menepuk-nepuk pelan punggung Yeo Seol.


"Yaaak!! Kau sudah gila yaa.. Aku datang untuk menyembuhkanmu, kau malah mencekikku seperti ini, nih.. rasakan." Yeo Seol mencekik pelan leher Gyu-Sik, dia mendorongnya hingga menabrak tembok.


Gyu-Sik menatap geli pada Yeo Seol, menurutnya dia sangat lucu saat marah.


"Kenapa tersenyum? Aku sedang mencekikmu!!" 


"Pintu kamarku terbuka, kalau ada yang melihat posisi kita seperti ini lalu melaporkan pada tabib Yeo Goo bagaimana?" Gyu-Sik menggoda Yeo Seol.


Yeo Seol baru sadar kalau Gyu-Sik bertelanjang dada karena bajunya terjatuh. Yeo Seol melepaskan tangannya dari leher Gyu-Sik lalu cepat-cepat menutup pintu.


"Duduk, aku akan mengobati lenganmu." Yeo Seol meminta Gyu-Sik duduk dengan tidak ramah, dia mendorong Gyu-Sik hingga terduduk di kursi. Naasnya Gyu-Sik menarik tangan Yeo Seol hingga dia terjatuh di pangkuan Gyu-Sik.


Sedetik.. dua detik.. tiga detik.. mereka saling menatap.

__ADS_1


Lalu Yeo Seol sadar dia berdiri lalu merapihkam bajunya.


"Jangan bercanda." Wajah Yeo Seol memerah karena malu, dan jantungnya berdetak kencang.


"Obati lukaku sebelum matahari terbenam." Pinta Gyu-Sik.


"Kenapa? Apa raja memberimu tugas lagi??" 


Gyu-Sik mengangguk.


"Raja sangat kejam, dia membunuh orang tanpa mengotori tangannya sendiri." 


Gyu-Sik adalah seorang pembunuh yang paling dipercaya oleh raja. 


Delapan tahun lalu Gyu-Sik dibawa oleh raja ke istana. Saat ditemukan oleh raja di hutan, Gyu-Sik hidup sebatangkara, kala itu Gyu-Sik berhasil memangsa babi hutan dengan tongkat bambu, dia mengalahkan raja yang sedang berburu kala itu.


Karena raja merasa Gyu-Sik memiliki kemampuan untuk memangsa maka dari itu raja membawanya ke istana, mengurusnya, memberi makan, memberi tempat tidur yang layak, melatih fisik, kemampuan berburu dan melatih pedang. Hingga akhirnya Gyu-Sik dipercaya oleh raja untuk menjadi pembunuh kerajaan. Raja memberikan perintah pada Gyu-Sik untuk membunuh siapa saja yang raja tidak suka, siapa saja yang melanggar titah raja harus menghilang dari muka bumi.


Gyu-Sik yang merasa berhutang budi karena telah dirawat oleh raja dengan kesetiaannya dia menuruti apapun yang raja perintahkan.


Di lingkungan istana tidak ada yang berani mendekat pada Gyu-Sik. Gyu-Sik juga lebih memilih berdiam diri di kamarnya sepanjang hari, lalu jika ada perintah untuk membunuh seseorang dia akan lakukan pada malam hari.


Yeo Seol ditugaskan oleh raja untuk mengobati Gyu-Sik, awalnya Yeo Seol juga takut. Saat pertama kali mengobati Gyu-Sik, wajahnya oenuh cipratan darah, tangannya berdarah karena tersayat pedang lawan, keadaan Gyu-Sik sangat memgerikan. Namun setelah beberapa kali bertemu lama kelamaan menjadi akrab.


Setelah mengenal Gyu-Sik lebih dalam Yeo Seol yakin bahwa sebenarnya Gyu-Sik adalah orang yang baik. Namun karena kesetiaannya pada raja maka dia tidak bisa membantah segala perintahnya.


"Mereka layak untuk dibunuh karena melanggar perintah raja." Gyu-Sik membela raja.


"Kau ini selalu saja berbaik sangka pada raja, selalu membela raja. Selalu berpihak pada raja, bagaimana jika suatu saat kau disuruh melompat ke jurang oleh raja? Kau mau juga?" Yeo Seol mulai mengobati luka Gyu-Sik.


"Aku siap mati untuk raja."


"Ckckck.. dasar manusia setia." Yeo Seol menaruh obat luka di luka Gyu-Sik, dia menekan keras, sengaja agar Gyu-Sik kesakitan.


"Aaa.. perih, pelan-pelan saja." 


"Rasakan!" Yeo Seol tersenyum puas.


"Kau.. kenapa tidak takut padaku?" 


"Kau kau tidak menyeramkan, buat apa aku takut?"


"Tapi orang-orang menjauhiku, menyebutku sebagai manusia tanpa hati, penjahat yang kejam, malaikat maut, dan lainnya. Semua sebutan yang tidak baik." Gyu-Sik menundukan kepala, terkadang dia malu dengan pekerjaannya. 


Yeo Seol memandang iba pada Gyu-Sik, dia tahu sebenarnya Gyu-Sik bukan orang jahat hanya saja nasib buruk memepertemukannya dengan raja membuatnya menjadi pembunuh berdarah dingin.


"Tidak perlu berkecil hati, mereka hanya iri karena raja sangat memperhatikanmu." Yeo Seol mencoba menghibur Gyu-Sik dan selalu berhasil.


Bagi Gyu-Sik, Yeo Seol adalah satu-satunya manusia baik yang mau memperhatikannya tanpa meminta balas budi.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2