Marrying The Grim Reaper

Marrying The Grim Reaper
Bab 20 : Dua hati yang gundah.


__ADS_3

“Bae Kyung?” Gyu-Sik sedikit terkejut melihat teman satu profesi sekaligus teman satu rumahnya di alam nirwana tiba-tiba muncul.


"Kau baik-baik saja kan?” Bae Kyung duduk di sebelah Gyu-Sik.


Bae Kyung adalah malaikat maut yang sudah menjalani profesinya selama seratus sembilan puluh tahun.


Dia juga malaikat maut yang dulunya adalah manusia yang dikutuk oleh dewa menjadi malaikat maut karena suatu kesalahan.


Ada dua jenis malaikat maut, yang pertama adalah malaikat maut asli yang memang sejak awal diciptakan oleh alam semesta untuk menjadi malaikat maut.


Yang kedua adalah malaikat maut yang dikutuk oleh dewa karena suatu kesalahan besar, mereka dikutuk menjadi malaikat maut untuk menebus dosa sebelum akhirnya mereka bisa kembali menjadi manusia dan menjalankan sisa hidup mereka, lalu mati dan bisa bereinkarnasi.


Gyu-Sik dan Bae Kyung adalah dua dari sekian banyak tipe kedua dari malaikat maut.


(Tolong untuk pembaca yang sangat taat agama untuk menyingkir karena konsep malaikat maut disini hanya fiksi belaka, hasil menghalu author..!!Tidak untuk disangkut pautkan ke dalam suatu agama, jadi jangan baper dan menilai author melecehkan agama atau lain sebagainya, thx..!!)


“Yahh.. seperti yang kau lihat.” Kata Gyu-Sik sambil meneguk bir kaleng.


“Aigo.. bahkan sekarang dia minum bir kaleng.” Ejek Bae Kyung.


“Disini tidak ada yang gratis seperti di nirwana. Uang hasil bekerja tidak cukup untuk membeli wine yang biasa kita minum.” Kata Gyu-Sik sambil menatap langit.


“Hahaha.. susah ya jadi manusia jaman sekarang, semuanya serba mahal.” 


“Bagaimana tugasmu? Lancar?” Tanya Gyu-Sik.


“Seperti biasa, aku juga dapat tugas tambahan beberapa kali limpahan dari tugas yang seharusnya kau emban.” 


“Hahh.. lagi-lagi karena aku orang lain jadi sengsara.”


“Tidak juga, kau tidak perlu memikirkan soal itu. Kau hanya perlu memikirkan bagaimana caranya bola jiwa itu kembali ke tubuhmu.”


“Hahhh.. jangan bicara soal itu.”


“Kenapa? Apa beratnya menghamili seorang wanita?”


“YAAAK!!!! Jaga omonganmu.”


“Kenapa kau berteriak? Memangnya aku salah ngomong? Tidak kan? Memang itu cara satu-satunya agar bola jiwa keluar dari tubuh wanita itu, lalu kau bisa kembali ke nirawana.”


“Huft.. entahlah.”


“Cepat selesaikan masalah ini, secepatnya kembali ke nirwana, kembali ke rumah. Rumah kita berantakan dan kami selalu makan di luar sekarang.” Keluh Bae Kyung.


“Makanya kau dan Ma-Ri seharusnya bergantian mengatur jadwal untuk membersihkan rumah dan memasak. Kalian terlalu mengandalkan ku sih jadi sekarang kalian susah sendiri kan?”

__ADS_1


“Bukan aku dan Ma-Ri masalahnya, tapi kau. Kau yang salah tempat, bukan disini tempatmu."


Gyu-Sik tahu betul apa yang Bae Kyung maksud, tapi dirinya sudah mulai terbiasa dan merasa nyaman berada di sini, di dekat Yumi.


"Ma-Ri beberapa kali mengawasimu, dia bilang padaku bahwa sepertinya kau menyukai wanita pembawa bola jiwamu itu. Benarkah?” Bae Kyung penasaran dengan hal satu ini.


GLUP..


Gyu-Sik menelan ludah.


“Jadi benar??” Bae Kyung berharp jawaban dari Gyu-Sik adalah 'tidak'.


“Entahlah, aku juga tidak yakin. Semalam timjangnim datang menemui ku saat aku dan Yumi sedang mendaki gunung.


Dia bilang alam semesta menentang hubungan percintaan dua ras yang berbeda, tapi aku dan Yumi tidak ada apa-apa. Aku dan Yumi tidak saling mencintai.” Jelas Gyu-Sik.


“Mungkin dia tidak mencintaimu, tapi apa kau yakin tidak mencintainya? Kau rela bekerja di kedai menghasilkan uang agar tidak merugikan wanita itu kan? Itu adalah bukti bahwa kau perhatian dengannya, bisa jadi perhatian itu muncul karena kau menaruh hati padanya. ” Perkataan Bae Kyung benar-benar masuk akal, tapi Gyu-Sik tidak begitu memperdulikannya.


“Hmm.. iya aku memang bekerja agar tidak membebani Yumi, tapi itu bukan berarti aku mencintai Yumi, kau jangan seenaknya berpikir seperti itu.” 


“Itu namanya simpati, mungkin sebentar lagi kau akan mencintainya.” Kata Bae Kyung dengan nada santai.


Gyu-Sik tidak menanggapi.


“Yasudah aku pulang dulu, sebentar lagi aku harus menjalankan tugas. Jaga dirimu baik-baik, aku dan Ma-Ri menunggu mu pulang ke rumah.” 


Seketika Baek Kyung menghilang.


“Sebaiknya aku pulang saja.” Gyu-Sik akhirnya berjalan pulang ke rumah Yumi.


...----------------...


“Kenapa baru pulang?” Yumi ternyata menunggu Gyu-Sik di teras rumah.


“Eoh? Tidak apa, aku baru saja minum bir di taman, kau mau?” Gyu-Sik menyodorkan kantong plastik berisi tiga kaleng bir.


“Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” Tanya Yumi, dia tampak khawatir.


“Tidak ada, hanya mencari suasana yang berbeda.”


“Kau bosan dengan rumahku ya?”


“Tidak, tidak juga. Hanya sedang penat bekerja.” Gyu-Sik mencoba mencari alasan yang masuk akal.


“Lalu kenapa kau bekerja? Kau itu masih capek karena perjalanan mendaki gunung. Lagi pula sajangnim kan sudah memberimu izin tiga hari kan? Itu artinya kau tidak perlu bekerja hari ini.”

__ADS_1


“Dari pada diam saja di rumah tidak dapat uang lebih baik aku bekerja.”


“Hmm.. ya sudah sana mandi, makan lalu istirahat.” Sebenarnya Yumi masih ingin mendebat Gyu-Sik tapi dia merasa Gyu-Sik sedang tidak ingin diusik. 


“Kau sudah makan?” Tanya Gyu-Sik.


“Sudah, tadi aku pesan makanan. Aku juga membelikan satu porsi untuk mu.”


“Kalau begitu aku mandi dulu.” Gyu-Sik masuk ke rumah.


“Ada yang aneh? Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu dari ku.” Yumi merasakan aura kalut Gyu-Sik, namun dia tidak punya klu sama sekali untuk menebaknya.


 


...----------------...


Karena merasa Gyu-Sik perlu ruang untuk sendiri Yumi memilih untuk menulis novel di kamarnya, dia tidak ingin membuat Gyu-Sik merasa tidak nyaman.


“Hahh.. bagaimana ini otakku buntu, aku jadi tidak bisa meneruskan tulisanku. Huft..” Yumi melepaskan kacamatanya, dia turun dri tempat tidur lalu menuju ke pintu.


Yumi menempelkan telinganya di daun pintu. “Tidak ada suara televisi, apa dia sudah tidur?” Yumi penasaran apa yang sedang Gyu-Sik lakukan.


“Apa sebaiknya aku keluar untuk melihat? Hahh.. tidak.. tidak..” Yumi kembali ke tempat tidurnya, dia galau.


“Huft.. ada apa sebenarnya?”


Malam itu Yumi tidak bisa tidur karena penasaran dengan Gyu-Sik.


Biasanya jika Yumi tidak bisa tidur dia pakai waktu begadangnya untuk menulis novel, namun kali ini staff imajiner di otaknya sedang mogok bekerja.


Hal yang sama juga terjadi pada Gyu-Sik, dia tidak bisa tidur, badannya terasa lelah tapi matanya tidak bisa diajak kerja sama.


Gyu-Sik duduk di kursi panjang di teras, dia mendongak memandang langit yang bertabur bintang, pikirannya sedang melayang entah kemana.


Hatinya yang telah lama terasa tidak berfungsi kini seolah berjalan seperti mesin baru.


Gyu-Sik larut dengan pikirannya hingga tidak terasa dia ketiduran di kursi panjang sampai pagi hari


“Brrrr.. dingin sekali.” Gyu-Sik terbangun, badannya terasa kaku karena kedinginan.


Gyu-Sik masuk ke rumah, masih pukul lima pagi. Gyu-Sik memilih untuk membuatkan makan pagi untuk Yumi.


Hari ini Gyu-Sik berencana untuk berangkat kerja lebih awal, dia masih tidak ingin bertemu Yumi karena takut menghadapi pertanyaan dari Yumi.


Gyu-Sik takut tidak bisa menutupi kegalauan hatinya, setiap dia melihat wajah Yumi, terutama matanya, jantungnya terasa berdetak lebih cepat.

__ADS_1


Mata Yumi mengingatkannya pada seseorang di masa lalunya, entah mengapa hal itu bisa terjadi.


To be continued...


__ADS_2