
Yumi dan Gyu-Sik berjalan beriringan, sesekali lengan mereka bersentuhan secara tidak sengaja. Dibawah payung berwarna kuning itu ada dua hati yang sedang menata degubannya.
"Emm.. mau makan diluar?" Gyu-Sik mencoba memecahkan keheningan.
"Boleh, tapi kita harus beli bahan makanan untuk stok di rumah."
"Nanti saja sehabis pulang makan. Aku penasaran dengan kedai kedai vegetarian di ujung jalan sana. Mau mencoba?" Tanya Gyu-Sik.
"Haahhhh.. kenapa makan sayur sih? Makan daging saja. Samgyeopsal.. samgyeopsal.." Rengek Yumi. *Samgyeopsal \= Daging perut babi yang berlemak dan tebal yang dipanggang sendiri diatas tungku oleh pembeli.
"Hmm.. oke. Kita ke kedai samgyeopsal di dekat rumah saja?"
"Iya, biar dekat dengan mini market."
"Oke."
Yumi dan Gyu-Sik berjalan menuju kedai samgyeopsal yang berjarak tidak jauh dari kedai tempat kerja Gyu-Sik.
"Hmmm.. baunya enak sekali, jadi lapar." Gumam Yumi setelah selesai memesan menu.
Gyu-Sik mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kedai.
"Suasana kedai di sekitar sini memiliki kesamaan ya." Gyu-Sik menemukan hal yang menurutnya sama dengan kedai Jang.
"Hmm.. oya? Entahlah.. aku tidak begitu perhatian dengan tempatnya, yang penting makanannya."
Gyu-Sik menatap Yumi heran, wanita yang duduk di hadapannya itu memang super cuek.
"Kedai di daerah sini memiliki suasanya hangat seperti di rumah."
"Begitu kah? Hmm.. entahlah.. aku tidak begitu berpikir soal itu."
"Yak! Lee Yumi kau ini wanita macam apa sih? Ckckck.. urusanmu cuman soal.perut saja."
"Hehe.. memang." Yumi sedang sibuk dengan ponselnya, pandangannya tertuju di layar ponsel.
"Kau menulis novel di ponsel?" Tanya Gyu-Sik.
"Tidak, aku sedang mencari toko kue yang menjual banana cake yang enak."
"Hmm?? Kenapa tiba-tiba ingin makan banana cake?" Tanya Gyu-Sik.
"Hmm.. bukan untuk ku, untuk seseorang." Jawab Yumi terdengar mengambang, membuat Gyu-Sik penasaran.
"Seseorang??"
"Emm.. iya." Yumi tidak ingin memberitahu mengenai nenek Jyeong ke Gyu-Sik.
"Siapa? Editor itu?"
"Bukan, ada seseorang yang baru aku kenal."
"Oh.. yasudah kalau buka editor itu."
"Memang kenapa kalau dia??"
"Eoh??"
"Permisi." Pelayan datang menyiapkan daging perut babi, sayuran pelengkap, kimchi dan soju.
"Silahkan menikmati." Pelayan pergi.
"Ayo makan, sepetinya enak." Gyu-Sik sigap mulai memanggang.
__ADS_1
"Jelaslahhh.." Mata Yumi sangat fokus pada daging yang sedang di gunting-gunting oleh Gyu-Sik, air liurnya tertelan beberapa kali.
"Berkediplah Lee Yumi." Goda Gyu-Sik.
"Berisik, sudah panggang saja yang benar, cacing di perutku sudah mulai berdemo."
Gyu-Sik tersenyum, wanita satu ini memang berbeda dari wanita lain, tidak ada gengsi sama sekali.
Nyeeeess…
Cesssss….
Suara bumbu daging yang meleleh di atas tungku panas semakin menggoda syaraf lapar Yumi.
"Yak! Han Gyu-Sik, bisa cepat sedikit nggak?" Ucap Yumi yang semakin tidak sabar untuk makan.
"Hahh.. sabar!"
"Huft.." Dengus Yumi kesal.
"Emm.. soal banana cake, bagaimana kalau aku yang buatkan?"
"Memangnya kamu bisa??"
"Kalau aku menawarkan artinya aku bisa dong."
"Waaaah.. malaikat maut satu ini memang unik. Kau yakin seorang malaikat maut? Bukan seorang koki??" Selidik Yumi, merasa curiga dengan identitas Gyu-Sik.
"Emm.. aku dulu memang dikenal sebagai juru masak bayangan."
"Juru masak bayangan? Apa itu??" Tanya Yumi, dia sengaja memancing Gyu-Sik yang sepertinya keceplosan menceritakan mengenai masa lalunya.
"Dulu aku tinggal di kerajaan, temanku adalah juru masak kerajaan. Jadi aku sering dia ajak memasak, lalu setelah menjadi malaikat maut aku jadi terbawa suka masak." Cerita Gyu-Sik keluar begitu saja dari mulutnya tanpa dia sadari.
"Hidupku tidak begitu menarik." Sorot mata Gyu-Sik berubah menjadi layu.
Yumi mengamati perubahan suasana hati Gyu-Sik.
"Waaaah.. sudah matang, aku makan ya.."
"Aaaah… aw… aw.. waaahanas (panas)." Mulut Yumi terasa terbakar karena daging yang dia comot masih panas sekali.
"Minum.. minum.. minum ini." Gyu-Sik sigap memberi Yumi segelas air putih.
"Hahhh.. lidahku mati rasa sepertinya." Tangan Yumi mengipas-ipas mulutnya.
"Makanya yang sabar, jangan rakus. Huff.. huff.." Gyu-Sik meniupi daging yang selesai ia panggang, lalu menaruhnya dipiring.
"Ini sudah hangat, makanlah." Gyu-Sik memberi sepiring daging ke Yumi.
"Gomawo." Yumi berterimakasih pada Gyu-Sik lalu melahap daging yang sejak tadi sudah dia incar.
Yumi dan Gyu-Sik menikmati makanan mereka dengan sangat lahap.
"Waaaah.. perutku hampir meledak, aku menyerah." Yumi meletakan sepasang sumpitnya di meja.
"Jelas saja, kamu makan tiga per empat, aku makan seperempat saja."
"Enak saja, kita bagi rata ya porsinya." Yumi tidak terima, dia merasa makannya tidak sebanyak itu, padahal yang Gyu-Sik ucapkan adalah fakta.
"Haha.. iya iya, terserah kau saja."
"Ayo pulang, kita harus beli stok bahan untuk di rumah, dan juga beli bahan untung membuat banana cake." Ajak Yumi.
__ADS_1
"Iya iya, ayo." Gyu-Sik membuntut Yumi membayar di kasir lalu keluar dari kedai.
Mereka menuju mini market untuk berbelanja.
"Oke, selesai." Yumi menengok ke keranjang belanja yang sedang di dorong oleh Gyu-Sik.
"Yakin sudah lengkap?" Tanya Gyu-Sik.
"Yakin, ayo ke kasir."
Gyu-Sik menyodorkan amplop ke Yumi.
"Hmm? Apa ini?" Tanya Yumi bingung.
"Uang gajianku hari ini, untuk bayar belanjaan saja."
"Tidak usah, bawa saja." Yumi mengembalikan ke Gyu-Sik.
"Ayolaaaah, terima saja."
"Tidak, simpan saja. Kau pakai saja untuk beli baju." Yumi menarik keranjang belanja, bermaksud untuk mengambil alih dari Gyu-Sik.
Tapi Gyu-Sik menariknya balik.
"Aaaaaa…" Yumi terpeleset untung saja Gyu-Sik sigap menangkap Yumi. Kini tubuh Yumi berada dalam pelukan Gyu-Sik. Mata mereka saling bertemu,
Satu detik.
Dua detik..
Tiga detik…
Akhirnya Yumi tersadar, Yumi melepaskan diri dari pelukan Gyu-Sik lalu mencoba berdiri tegap dan membenahi rambutnya.
"Kau… baik-baik saja?" Tanya Gyu-Sik pelan.
"Hmm.. ayo bayar."
"Eoh? Hmm.. iya.. ayo.."
Keduanya sedang salah tingkah. Mereka berjalan sambil sama-sama mendorong keranjang belanja namun disisi yang berlawanan. Suasana canggung menyelimuti mereka.
Setelah selesai membayar belanjaan yang akhirnya dibayar dengan gaji Gyu-Sik, mereka keluar dari mini market berjalan beriringan tanpa mengeluarkan suara.
Yumi memegang kantong belanja, dan tasnya, sedangkan Gyu-Sik memegang payung.
Mereka bukannya sedang marahan tetapi mereka sedang canggung dan sama-sama salah tingkah akibat kecelakaan kecil di mini market tadi.
'Aaaah.. sial! Kenapa suasananya jadi canggung begini sih?' Umpat Yumi di dalam hati.
'Kenapa Yumi diam saja? Apa dia marah padaku? Emm.. topik apa yang harus aku pakai untuk mencairkan suasana canggung ini? Aaaah… sial! Otakku buntu!' Gyu-Sik juga mengumpat dalam hati.
Sesamlainya di rumah.
"Emm.. aku yang mandi duluan ya?" Tanya Yumi.
"Hmmm.. mandilah, aku akan menata belanjaannya, berikan padaku."
Yumi memberika kantong belanja ke Gyu-Sik lalu pergi ke kamarnya.
Yumi membanting tubuhnya di kasur, lalu menutup mukanya dengan bantal, dia berteriak namun dibungkam sendiri dengan bantal.
"Hahhhh.. apa yang aku harapkan sih dari seorang malaikat mau? Bisa gilaaaaaa aku." Yumi mengacak-acak rambutnya.
__ADS_1
To be continued...