
"Hahahaha.. lucu sekali." Yumi pura-pura tertawa.
Jae-Bom mengerutkan dahinya.
"Ayo kita mulai memanggang dagingnya, aku sudah lapar." Kata Yumi sambil meletakan kue tart di bangku.
"Waaaah.. banyak sekali, yakin kita habis makan berdua saja? Atau kau mengundang orang lain?" Jae-Bom sengaja ingin memancing Yumi.
"Orang lain? Tidak, kita berdua saja. Kalau kau hanya makan sedikit tenang saja aku akan memakan sisanya, haha.."
"Dasar wanita rakus."
“Hehe.. tumben kau sudah pulang, biasanya kau pulang malam kan?” Yumi sibuk memanggang daging.
“Karena hari ini spesial.”
“Waah.. kalau Cae-Rin tahu aku pasti akan dicabik-cabik olehnya.”
“Kenapa memang?” Jae-Bom menarik capit dari tangan Yumi dia mengambil alih urusan memanggang, sedangkan Yumi beralih mempersiapkan pelengkap lain.
“Kau benar tidak tahu atau pura-pura?” Yumi melirik ke Jae-Bom.
“Tidak tahu.”
“Eeey.. kau pasti tahu, Cae-Rin kan terang-terangan memperlihatkan ketertarikannya padamu. Dia menyukaimu.”
“Aku rasa tidak, dia memang begitu dengan semua orang.”
“Tidak, dia jutek denganku.”
Jae-Bom tersenyum. “Itu karena dia kesal tidak bisa mengejar kepopuleranmu di kalangan pembaca X-Vel.
“Padahal fansnya juga banyak lho.”
Drap.. drap.. drap..
Hossh.. hossh.. hossh..
“Gyu-Sik??” Yumi kaget saat melihat Gyu-Sik datang dengan nafas terengah-engah.
Jae-Bom melihat Gyu-Sik.
“Siapa?” Tanya Jae-Bom ke Yumi, namun Yumi tidak menanggapi dia mengambil sebotol air mineral lalu dia berikan ke Gyu-Sik.
“Kau baik-baik saja? Kenapa berlari?”
Gyu-Sik meneguk air mineral hingga habis.
“Siapa dia?” Tanya Gyu-sik ke Yumi.
“Aaa.. sepertinya kalian harus berkenalan.” Yumi sebenarnya ragu memperkenalkan mereka satu sama lain tapi dia tetap melakukannya.
‘Apa yang harus aku lakukan?’ Batin Yumi.
“Aku Kang Jae-Bom, editor yang sudah lama bekerjasama dengan Yumi.” Jae-Bom mengulurkan tangan saat Gyu-Sik mendekatinya.
“Aku Han Gyu-Sik, suami Yumi.”
Mata Yumi Membulat sempurna, dia tidak menyangka Gyu-Sik akan mengatakan hal itu.
__ADS_1
“Suami??”
“Kau tidak lihat cincin yang kami kenakan?” Gyu-Sik mengangkat tangan Yumi memamerkan cincin couple mereka.
Yumi pasrah.
“Jadi benar kau sudah menikah Yumi?” Tanya Jae-Bom
“Emm.. ya begitulah, tapi pernikahan ini bukan seperti yang kau bayangkan. Pernikahanku dan Gyu-Sik karena ada sesuatu yang membuat kami memang harus melakukan pernikahan demi kebaikan kita berdua.”
“Kau hamil??” Jae-Bom mengartikan penjelasan panjang lebar Yumi dengan hamil.
“Bukaaaaan!!”
“Belum.” Gyu-Sik menimpal jawaban Yumi.
“Apa??” Jae-Bom tidak bisa mencerna situasi saat ini.
“Jae-Bom, aku mohon jangan sebarkan tentang ini.” Yumi meminta Jae-Bom untuk menutup mulut.
“Kenapa??” Tanya Gyu-Sik dengan nada sedikit meninggi.
Yumi menatap Gyu-Sik kebingungan, kenapa Gyu-Sik bersikap seperti tidak setuju dengan Yumi.
“Kita ini memang suami istri kan?”
Yumi tidak tahu harus menjawab apa, dia melihat Jae-Bom dan Gyu-Sik bergantian.
“Hahhh… entahlah.” Yumi membuka kaleng bir lalu meminumnya sampai habis.
“Yaaak!! Pelan-pelan!” Gyu-Sik dan Jae-Bom serentak meneriaki Yumi.
“Emm.. aku pusing, sebaiknya aku pulang saja. Kita bicara lain kali Yumi.” Jae-Bom mengemasi barangnya bersiap untuk pulang.
“Jae-Bom maaf.” Yumi merasa tidak enak pada Jae-Bom.
“Hmm..” Jae-Bom pergi dari rumah Yumi.
“Yaak! Jawab! Kenapa tiba-tiba kau datang dan bersikap seperti itu?” Yumi menatap Gyu-Sik, jareka mereka hanya sekitar lima puluh sentimeter.
Gyu-Sik membuka satu kaleng bir lalu meminumnya sampai habis, dia juga membutuhkan alkohol sebagai pembangkit keberaniannya.
“Hahhh.. oke, dengarkan baik-baik Lee Yumi. Aku sudah selesai memikirkannya, aku sudah menemukan jawabannya. Aku menyukaimu, aku ingin terus bersamamu, tapi hal itu adalah mustahil.”
“Apa??”
“Aku tidak bisa mengendalikan hati dan pikiranku, aku pernah menyukai seseorang jad aku tahu persis bagaimana rasanya.”
Jantung Yumi hampir copot, dia merasakan jantungnya berdetak kencang tanpa aturan, dan otaknya membeku.
“Selama tiga hari ini aku merasa hampa tanpa melihatmu, tapi kita tidak…” Belum selesai Gyu-Sik mengungkapkan perasaannya Yumi sudah menutup bibir Yumi dengan bibirnya.
CUP!
“Aku juga merasakan hal yang sama.” Yumi kembali mencium bibir Gyu-Sik namun Gyu-Sik menarik diri, dia mundur beberapa langkah menjauh dari Yumi.
“Tidak Yumi, kita tidak boleh seperti ini. Aku akan membahayakanmu.”
Yumi mengerutkan dahinya.
__ADS_1
“Lalu apa maumu?”
WUSSSSSSSHH..
Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang.
“SUDAH GILA KAU HAN GYU-SIK?????!!” Ma-Ri datang secara misterius.
“Siapa kau?” Tanya Yumi.
Tik!
Satu jentikan jari Ma-Ri membuat Yumi tiba-tiba tak sadarkan diri, badannya terjatuh di pelukan Gyu-Sik.
“Yaak! Apa yang kau lakukan??” Gyu-Sik meneriaki Ma-Ri.
“Kau benar-benar sudah gila? Aa katamu? Menyukainya?? Menyukai manusia? Manusia yang membawa bola jiwamu?” Ma-Ri berjalan mendekat ke Gyu-Sik yang saat ini berjongkok sambil memeluk tubuh Yumi yang tidak berdaya.
“Aku tahu cara lain agar bola jiwa itu bisa keluar.” Kata Ma-Ri.
“Cara lain?”
“Hmm.. aku tahu ku tidak akan menghamilinya, tapi kau tidak boleh menyerah begitu saja! Ingat perjuanganmu menjadi malaikat maut selama dua ratus tujuh puluh tahun, kau sudah menyelesaikan 900 tugas, tinggal seratus lagi.” Ma-Ri ikut berjongkok.
“Bagaimana caranya?”
“Dewa yang menghukumu, dewa cinta memiliki bulu angsa emas yang bisa membuat bola jiwa keluar dari tubuh wanita ini.”
“Bulu angsa emas?”
“Iya, aku sudah memohon padanya untuk meminjamkannya untukmu, tapi dewa cinta ingin bertemu langsung denganmu. Besok malam, tepat tengah malam saat bulan purnama, dia akan mendatangimu. Aku yakin dewa cinta pasti akan memberikan syarat, apapun syaratnya kau harus mau melakukannya.” Ma-Ri berdiri.
“Bagaimana dengan Yumi? Sampai kapan dia tidak sadarkan diri?” Gyu-Sik membelai rambut Yumi.
“Dia akan segera bangun saat aku menghilang.”
“Kalau begitu pulang sasna.” Gyu-Sik mengusir Ma-Ri.
“Haha.. memang sudah gila kua rupanya. Oke aku akan segera menghilang, emm.. oiya aku sedikit memberi dia hadiah ulang tahun, jangan terkejut ya, hanya sementara saja, bukan permanen.”
Gyu-Sik tidak paham dengan perkataan Ma-Ri.
KLAP..
Ma-Ri menghilang.
“Aaah.. kepalaku.” Yumi sadar.
“Kau baik-baik saja Yumi?”
“Han Gyu-Sik, kenapa dengan mataku??? Kenapa aku tidak bisa melihat apa-apa, kenapa semua gelap padahal aku sudah membuka mataku, bagaimana ini??” Yumi memukul-mukul matanya.
“Yumi tenang, ini hanya sementara, tenanglah ada aku disini.” Gyu-Sik memeluk Yumi yang terlihat syok dan sedih.
Yumi menangis.
Malam itu, di hari ulang tahun Yumi yang ke 33 menjadi hari yang tidak akan dia lupakan. Hari dimana dia menerima pernyataan cinta untuk pertama kalinya, hari dimana dia mencium seorang lelaki untuk pertama kalinya, dan juga hari dimana dia merasakan dunia hampa karena buta sementara yang Ma-Ri buat padanya.
To be continued...
__ADS_1