Marrying The Grim Reaper

Marrying The Grim Reaper
Bab 32 : Kehidupan Gyu-Sik dan Yeo Seol (2)


__ADS_3

“Yeo Seol.. kenapa kau belum menjawab pernyataan cintaku?” Tanya Gyu-Sik.


Yeo Seol menunduk. “Emm.. memang kalau aku tidak menjawab kau tidak mu lagi berteman denganku?”


“Tidak juga, kau adalah satu-satunya temanku.”


Yeo Seol tersenyum. “Emm.. besok malam di pasar pelangi akan diadakan pameran lampion, mau kesana?” Yeo Seol tahu bahwa Gyu-Sik pasti tidak mau pergi ke tempat ramai seperti itu.


“Tidak.”


“Aku akan jawab pertanyaanmu disana, jadi pastikan kau sudah berada di depan pintu pasar sebelah barat setelah matahari tenggelam.” Yeo Seol pergi dari kamar Gyu-Sik.


Yeo Seol pergi ke ruang obat mencari sang ayah tapi tidak ada. Tabib lain memberitahu bahwa ayahnya sedang berada di kebun obat kerajaan. Yeo Seol menyusul sang ayah.


“Ayah masih merawat tanaman obat?” Tanya Yeo Seol saat memasuki kebun yang semua tumbuhannya dipakai untuk pengobatan.


“Hmm.. sudah selesai, kau sudah selesai mengobati Gyu-Sik?” Tanya Yeo Goo.


“Sudah.”


“Anggrek biru ini tumbuh dengan sangat baik, tanaman ini adalah harta karun bagi raja.” Yeo Goo berdiri di depan ribuan bunga anggerk biru.


“Raja mendapatkan banyak emas dari menjual anggrek ini ke kerajaan lain..” sambung Yeo Goo.


“Bukannya itu tanaman yang dapat menyembuhkan penyakit kulit yang sedang melanda banyak warga ayah?”


“Hmm.. kau benar, tapi ayah tidak bisa membujuk raja untuk memberikan tanaman ini untuk rakyatnya.”


“Dia memang raja yang kejam.”


“Hushh.. kau tidak boleh berkata seperti itu di istana.” Yeo Goo memukul pelan lengan sang anak.


“Tapi memang benar kan? Lihat saja di luar sana banyak sekali rakyatnya yang sedang sakit, raja memiliki obatnya tapi dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Dia menjual demi memperkaya dirinya sendiri.” Yeo Seol aalah satu dari sekian banyak rakyat yang membenci raja mereka yang tamak.

__ADS_1


“Sudah.. ayo kita pulang.” Yeo Goo mengajak Yeo Seol untuk pulang.


...----------------...


Kesokan harinya.


Matahari telah tenggelam, Gyu-Sik sudah berada di depan pintu sebelah barat pasar pelangi. Dia celingukan mencari Yeo Seol. Suasana pasar sangat ramai, karena pameran lampion adalah acara hiburan gratis bagi semua warga.


“Mencariku?” Yeo Seol menepuk punggung Gyu-Sik.


Gyu-Sik menoleh. “Kau terlambat.”


“Tidak juga, kau yang datang terlalu cepat. Emm.. buka tutup kepalamu, mengganggu saja.” Yeo Seol menarik caping dengan tirai tipis yang Gyu-Sik pakai untuk menutupi wajahnya.


“Yaak! Yeo Seol jangan.” Gyu-Sik mencoba merebut caping itu tapi gagal, Yeo Seol membuangnya begitu saja.


“Diluar istana tidak ada yang mengenalmu, jadi angkat kepalamu Han Gyu-Sik dan mari kita menikmati keindahan lampion malam ini.” Yeo Seol menarik tangan Gyu-Sik lalu masuk ke dalam pasar.


Awalnya Gyu-Sik merasa tidak nyaman karena dia tidak pernah pergi ke tempat ramai seperti ini, namun Yeo Seol berhasil membuatnya menikmati malam itu.


“Yeo Seol katanya kau mau menjawab pernyataan cintaku.” Gyu-Sik menarik tangan Yeo Seol tiba-tiba.


“Kau ini tidak sabaran, hmm.. baiklah akan aku jawab. Aku juga menyukaimu, jadi mari kita menjalin sebuah hubungan. Sudah kan? Ayo jalan lagi, kita belum kesebelah timur, ayo..” Yeo Seol mengatakan hal yang sudah lama Gyu-sik tunggu dengan sangat santai.


Gyu-Sik merasa hatinya dipenuhi oleh bunga-bunga yang bermekaran. Yeo Seol adalah satu-satunya orang yang bisa membuatnya sebahagia ini.


“Yeo Seol sudah malam, ayo aku antar pulang.” 


“Hahh.. kenapa waktu berjalan begitu cepat.” Yeo Seol terlihat murung.


“Kita bisa berjalan-jalan lagi lain kali, sekarang kau harus pulang, tabib Yeo pasti akan mencarimu.” Gyu-Sik membujuk Yeo Seol.


“Janji ya? Lain kali kita jalan-jalan lagi?”

__ADS_1


Gyu-Sik mengangguk.


Gyu-Sik mengantar Yeo Seol pulang.


“Kau tidak mau masuk dulu?” Tanya Yeo Seol saat mereka sudah berada di depan rumahnya.


“Tidak, masuklah.”


“Hmm.. kau hati-hati ya.” Yeo Seol masuk ke rumah.


Yeo Goo ternyata sudah menunggu Yeo Seol di ruang tamu.


“Jangan terlalu dekat dengan Gyu-Sik.” Kata Yeo Goo dengan nada datra.


“Emm.. tapi ayah dia sebenarnya baik.”


“Tetap saja dia itu seorang pembunuh, kau tidak takut?”


“Tapi dia membunuh bukan karena keinginannya sendiri, dia membunuh karena diperintah oleh raja. Karena kesetiaannya pada raja dia melakukan segala perintah raja, sama sepert ayah.”


PLAK! Sebuah tamparan mendarat di pipi Yeo Seol.


“Kau menyamakan ayah dengan seorang pembunuh??” 


“Ma..af ayah.” Yeo Seol menyesali perkataannya tadi.


“Masuk ke kamarmu sekarang!” Yeo Goo marah besar pada putrinya.


Yeo Seol masuk ke kamarnya, dia menangis tanpa suara, dia tahu bahwa ayahnya mengkhawatirkannya tapi dia juga tahu bahwa Gyu-sik tidak akan melukainya.


Dia merasa senang saat bersama Gyu-Sik, dia tidak bisa mengendalikan hatinya, tapi dia tidak bisa membuat ayahnya merestui hubungan mereka karena memang fakta bahwa Gyu-Sik adalah seorang pembunuh tidak dapat diabaikan.


To be continued..

__ADS_1


__ADS_2