Marrying The Grim Reaper

Marrying The Grim Reaper
Bab 14 : D-2 nenek Jyeong.


__ADS_3

Pagi-pagi Gyu-Sik sudah mulai membuat banana cake yang akan Yumi berikan kepada nenek Jyeong.


“Hmm.. untung saja banana cake, coba kalau cake lain, aku tidak terlalu mahir membuatnya. Oke, mari kita mulai.” Gyu-Sik dengan teliti memulai step-by-step, satu jam lebih Gyu-Sik berkutat dengan tetepungan, pisang, gula halus dan bahan-bahan lainnya.


“Hmmm.. harus sekali.” Suara Yumi mengagetkan Gyu-Sik.


“Yak! Kenapa tiba-tiba ada di belakangku sih? Aku tidak mendengar suara langkah kakimu, jangan-jangan kau bukan Yumi ya?


Hayo.. mengaku kau siapa? Kau roh jahat??” Gyu-Sik menggoda Yumi, dia menodongkan spatula yang masih terdapat sisa-sisa adonan cake.


“Hmmm.. aku yang penulis kau yang halu, dasar malaikat maut.” Yumi menyolek sisa donan di spatula lalu mencicipnya, “Hmm.. enak.”


“Yak! Kau bisa sakit perut kalau begitu, itu kan bahan mentah.” Gyu-Sik mengomel.


“Ckckck.. sepertinya kau terlalu bersemnagat membuat banana cake.” Yumi membersihkan hidung Gyu-Sik yang terkena adonan cake yang sudah mengering.


Gyu-Sik mundur satu langkah karena kaget. “Hmm.. biarkan saja, setelah cakenya jadi aku mau mandi, skalian nanti saja membersihkannya.”


“Terserah kau saja, aku pakai dulu kamar mandinya.” Yumi pergi ke kamar mandi.


“Hahh.. Han Gyu-Sik, kenapa kau berdebar seperti ini? Hishhh.. hishhh.. hishhh..” Gyu-Sik memukul-mukul dadanya. “Aa.. aaaw.. sakit.” Pada akhirnya dia kesakitan sendiri.


...----------------...


Setelah sama-sama selesai mandi, Yumi dan Gyu-Sik makan pagi bersama. Kali ini Gyu-Sik membuat nasi campur.


“Kata Jang sajangnim hari ini kedainya akan kedatangan rombongan reuni sebuah sekolah, jadi kemungkinan akan sangat ramai, mungkin aku akan pulang terlambat.” Gyu-Sik masih menikmati makan paginya.


“Semangat Han Gyu-Sik!”


Gyu-Sik tersenyum.


“Kau akan berada di luar rumah sepanjang hari?” Gyu-Sik mulai ingin tahu kegiatan Yumi.


"Hmm.. tidak juga, mungkin sore hari aku sudah di rumah. Kenapa?"


"Hmm.. tidak, hati-hati saat di luar rumah."


Hanya dengan ucapan sederhana seperti itu saja Yumi sudah merasa senang.


"Maaf aku duluan, Jang sajangnim memintaku datang lebih pagi." Gyu-Sik menaruh piring kotor ke temlat cucian piring lalu cepat-cepat memakai sepatu.


"Han Gyu-Sik jangan lupa minta gaji tiga kali lipat pada Jang sajangnim, oke?!" Teriak Yumi.


"Iya.. iya, aku pergi." Gyu-Sik keluar dari rumah.


Belum ada tiga detik Gyu-Sik muncul lagi dari pintu.


"Yumi jangan lupa bawa payung. Bye, aku benar–benar pergi." Gyu-Sik lalu pergi.


Yumi tersenyum, "Hahh.. Han Gyu-Sik."


...----------------...

__ADS_1


Pukul sebelas siang Yumi sampai di panti jompo, dia langsung menuju kamar nenek Jyeong.


Tok.. tok..


Yumi mengintip pada sela-sela pintu terlihat nenek Jyeong sedang asik dengan tablet pintarnya.


"Nenek aku datang, Yumi." Seru Yumi.


Nenek Jyeong menengok, "Yumi?"


Yumi mengangkat tas kanvas berisi banana cake buatan Gyu-Sik.


Yumi menggerakan mulutnya tanpa suara 'Ba..na..na.. cake.'


Nenek Jyeong berjalan menghampiri Yumi, "Ayo kita ke taman, jangan disini bahaya."


Nenek Jyeong menarik tangan Yumi mengajaknya ke kursi taman.


"Ayo cepat buka." Nenek Jyeong meminta Yumi membuka banana cake.


"Taraaaa.." Yumi membuka tempat banan cake, dna nenek Jyeong langsung memancarkan aura bahagia layaknya anak TK yang diberi lolipop.


"Hmmm.. baunya harum sekali, potongkan untukku, yang besar." Pinta nenek Jyeong.


Yumi memberikan satu potong besar banana cake ke nenek Jyeong.


"Waaaa.." Tanpa basa-basi nenek Jyeong menyantap cake tersebut.


"Uhukk.. uhukk.." Karena terlalu semangat nenek Jyeong sampai tersedak.


"Maaf.. maaf aku terlalu bersemangat makan, aku rinduuuuuuu sekali cake ini. Dulu sebelum dinyatakan diabetes aku adalah penggemar cake manis, aku tidak bisa hidup tanpa cake manis. Dan… yaa.. hasilnya aku tuai sendiri, penyakit ini." Nenek Jyeong mulai menceritakan masa lalunya.


Yumi tidak bicara apapun, dia tertegun memandang tato merah di dahi nenek Jyeong yang telah berubah menjadi 'D-2'.


"Kau tidak makan?" Tanya nenek Jyeong.


"Aku sudah mencicipinya di rumah, temanku membuat banyak."


"Jadi ini buatan temanmu? Waaah.. dia jago sekali, sampaikan ucapan terimakasihku padanya."


"Baik nek, emmm.. nenek, bagaimana kalau nenek mengajak anak-anak nenek mencicipi cake ini?"


"Hahaha.. lucu sekali kau Yumi, mereka mana mau datang kesini hanya untuk sebuah cake? Mereka akan datang kalau aku membagi lembar-lembar sahamku, bukan membagi cake seperti ini."


"Emm.. kalau begitu katakan saja bahwa nenek akan membagi saham-saham yang nenek miliki agar mereka datang." Yumi sedang membujuk nenek Jyeong agar bisa bertemu anak-anaknya.


"Kenapa? Kau khawatir aku akan meninggal karena cake yang kau berikan padaku?" Ucap nenek Jyeong dengan nada bercanda.


"Bagaimana jika memang nenek hanya memiliki waktu dua hari lagi?" Tanya Yumi.


"Aku tetap akan melewati hari-hari seperti biasa saja, aku tidak ingin memaksa anak-anakku untuk bertemu denganku."


"Kenapa nek?"

__ADS_1


"Tidak apa. Ngomong-ngomong kenapa kau mau membawakanku cake manis? Padahal kau tahu kan bahwa aku ini pengidap diabetes parah? Apa kau sengaja mau membunuhku? Apa kau suruhan salah satu anakku?"


"Aku.. bisa melihat sisa umur manusia nek."


Nenek Jyeong mengerutkan dahinya, dia tidak paham perkataan Yumi.


"Memang terdengar mengerikan dan tidak masuk akal, tapi begitu adanya." Yumi tidak bisa menahan air matanya.


Nenek Jyeong memeluk Yumi.


"Kau pasti merasa kesulitan dengan kemamluan khususmu itu, Yumi kau harus kuat." Nenek Jyeong mengelus-elus punggung Yumi.


"Kenapa nenek yang menghiburku? Seharusnya aku yang melakukannya." Yumi menghapus air matanya.


"Jadi berapa sisa waktuku?" Tanya nenek Jyeong dengan nada santai seolah dia sedang menanyakan hal yang tidak penting.


"Dua hari." Jawab Yumi.


"Wow.. aku tidak menyangka bahwa sebentar lagi aku akan menjadi penghuni alam baka."


"Nek.. kalau begitu cepat hubungi anak-anak nenek. Pergilah makan dengan mereka malam ini, ah.. tidak minta mereka datang sekarang juga." 


"Tidak, hal yang paling benar adalah aku harus segera menghabiskan cake ini, benar kan? Hehe.." Nenek Jyeong menikmati cakenya.


Yumi masih menangis tanpa suara.


"Kenapa menangis? Aku yang mau mati kenapa kamu yang menangis? Hehe.. sudah.. sudah.. berhenti, aigo.. kasihan kau Yumi." Nenek Jyeong kembali memeluk Yumi.


Setelah banyak ngobrol dengan nenek Jyeong selama lebih dari tiga jam akhirnya nenek Jyeong tertidur pulas, Yumi memilih untuk pulang ke rumah.


"Hahhh.. aku juga mengantuk." Yumi membanting badannya di sofa.


"Hoaaam.. mataku berat sekali." Yumi memposisikan diri berbaring miring di sofa, tak lama kemudian dia tertidur pulas.


...----------------...


Pukul 09:00 malam, Seoul.


Gyu-Sik sudah selesai bekerja, hari ini dia bekerja lembur.


Gyu-Sik berjalan sambil menatap uang gaji dua kali lipat dari biasanya.


"Yumi pasti bangga padaku, aku bisa menghasilkan uang banyak. Hmm.. tapi Yumi pasti menghasilkan lebih dari ini, keren juga pekerjaannya."


Glek..


Gyu-Sik membuka pintu, dia melihat Yumi tertidur di sofa yang biasa ia pakai untuk tidur.


"Masih pakai baju pergi, dia pasti ketiduran. Hmm.. apa dia kelelahan? Kasihan Yumi." Gyu-Sik tidak sadar, dia membelai rambut Yumi.


"Hah.. apa yang aku lakukan?" Gyu-Sik kaget sendiri.


"Hah.. tidak, aku mandi dulu saja." Gyu-Sik lalu pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2