Marrying The Grim Reaper

Marrying The Grim Reaper
Bab 12 : Nenek Jyeong (Part 1)


__ADS_3

Rombongan dari X-Vel sampai di panti jompo sunrise pukul sebelas siang.


Sesampainya disana mereka mulai menata panggung dan menyiapkan berbagai macam kudapan yang mereka bawa di aula utama.


"Ayo kawan-kawan cepat sedikit, nenek dan kakek sudah menunggu kita." Jae-Bom selaku ketua acara kali ini mengkoordinasikan staff dan penulis.


"Sudah kepala editor Kang, silahkan memulai acara." Lapor seorang staff kepada Jae-Bom.


"Hmm.. thank you!"


"Tes.. tes.. a.. a.. hana.. dul.. set.. selamat siang kakek dan nenek semua. Bagaimana kabar anda sekalian?" Jae-Bom menaiki panggung kecil lalu mengambil alih perhatian dengan menggunakan microphone.


"Semoga kalian dalam keadaan yang sehat, baik dan bahagia ya. Pertama-tama saya Kang Jae-Bom selaku penanggungjawab acara kali ini memperkenalkan teman-teman yang datang bersama saya. Silahkan teman-teman." Jae-Bom meminta staff dan penulis untuk memperkenalkan diri mereka masing-masing.


Setelah berkenalan kudapan manis nan menarik hati dibagikan.


Tampak wajah sumringah para penghuni panti.


"Aku juga mau, aku mauuu." Teriak seorang nenek yang baru saja kabur dari kamarnya, dia berjalan sambil mendorong tiang infusnya.


"Nenek Goo Jyeong anda mau kemana?" Teriak seorang suster sambil berlari mengikuti nenek Jyeong.


"Aku mau, aku mau makan kue manis, aku bosan makanan hambaaaaar." Rengek nenek Jyeong.


Semua perhatian kini tertuju pada nenek Jyeong.


Yumi kaget saat melihat tato merah 'D-3' pada dahi nenek Jyeong.


Dua suster menarik pelan nenek Jyeong untuk kembali ke kamarnya.


Yumi mengikuti dari jarak agak jauh.


Tok.. tok..


Yumi mengetuk pintu kamar VIP yang dihuni oleh nenek Jyeong.


"Boleh aku masuk nek?" Tanya Yumi sambil mengintip di depan kaca pintu.


Nenek Jyeong tidak merespon, dia berdiri di dekat jendela.


Yumi masuk ke kamar nenek Jyeong walau belum mendapat ijin.


"Nenek.. apa kau mau ini?" Yumi menyodorkan kotak kue berwarna pink, berisikan sebuah makarun berwarna pink pula.


"Waaah.. makarun." Nenek Jyeong kegirangan mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Aku ada dua lagi nek." Yumi memberikan dua kotak makarun berwarna kuning dan ungu.


"Ayo kita jalan-jalan ke taman nak." Ajak nenek Jyeong ke Yumi.


Nenek Jyeong menarik tangan Yumi, mengajaknya duduk di kursi taman.


"Hmmmm.. enak sekali." Nenek Jyeong menikmati makarun yang Yumi beri.


"Mengapa nenek dilarang ikut acara kami?" Tanya Yumi.

__ADS_1


"Bukan dilarang ikut acaranya, tapi dilarang makan makanan manis. Kalau acara seperti itu aku tidak tertarik." Jawab nenek Jyeong.


"Kenapa nenek dilarang makan manis?"


"Aku memiliki penyakit diabetes yang lumayan parah, tubuhku sudah tidak bisa memproduksi insulin. Aku harus mengecek gula darah sehari tiga kali, menjaga pola makan dan stress. Tapi yang ada aku malah semakin stress dengan semua aturan yang ada, belum lagi jika memikirkan anak-anakku." Nenek Jyeong bercerita sambil menikmati makarun.


"Emm.. kalau boleh tahu ada apa dengan anak-anak nenek?" Yumi mencoba menelisik lebih dalam tentang nenek Jyeong.


"Mereka hanya datang jika butuh tanda tanganku untuk mencairkan uang. Hah.. jadi orang banyak uang aku pikir akan membuatku bahagia makanya saat muda aku mati-matian bekerja demi anak-anakku. Tapi sekarang mereka hanya mengurusi uang saja dan membuangku kesini."


Yumi si perasa, dia tidak tahan mendengarkan cerita sedih nenek Jyeong.


"Kau menangis? Kenapa? Hehehe.. dasar cengeng, jangan menangis, aku yang menderita saja tidak menangis, lalu kamu kenapa menangis?" Nenek Jyeong menatap Yumi yang terlihat menahan tangisannya tapi gagal.


"Nek.. apa yang kau inginkan saat ini?" Tanya Yumi.


"Hmm.. kenapa tanya seperti itu?"


"Emm.. tidak apa, hanya ingin tahu saja."


"Emm.. sebenarnya aku ingin makan bersama dengan ketiga anakku dan pasangan mereka juga cucu-cucuku. Tapi mereka sibuk bekerja, hmm.. salahku juga mengajarkan pada anak-anakku untuk selalu mandiri apalagi mengenai uang. Jadi sekarang mereka sibuk sekali dengan bisnis masing-masing." Cerita nenek Jyeong tentang keluarganya.


"Emm.. ada hal lain selain itu?" Tanya Yumi.


"Memangnya kalau ada kau mau mewujudkannya?" Tanya nenek Jyeong.


"Emm.. kalau aku mampu pasti akan aku wujudkan." Jawab Yumi mantap.


"Kalau begitu besok bawakan aku banana cake yang enak." 


"Oke, besok aku akan bawakan banana cake terenak untuk nenek." 


"Lee Yumi, aku adalah seorang penulis dari X-Vel yang mengadakan acara di depan." Jawab Yumi.


"Namaku Goo Jyeong. Mantan CEO HeoGoo elektronik."


"Apa?? HeoGoo elektronik yang terkenal itu??" Yumi kaget mendengar latar belakang nenek Jyeong.


Nenek Jyeong mengangguk.


"Tapi sekarang perusahaan itu sudah diambi alih anakku."


"Lee Yumi ayo makan!!" Teriak Jae-Bom dari kejauhan sambil melambai-lambaikan tangan.


"Oke." Jawab Yumi.


"Nek, maaf ya aku harus berkumpul bersama mereka. Besok siang aku datang untuk membawakan nenek banana cake. Aku janji." 


Nenek Jyeong tersenyum, "Sana pergi."


"Dadah nenek Jyeong." Yumi berlari masuk ke aula panti jompo tempat acara berlangsung.


...----------------...


Rombongan X-Vel kembali ke gedung X-Vel pukul lima sore.

__ADS_1


"Terimakasih semua, terutama untuk para penulis yang berkenan membantu acara kami. Semoga dengan adanya kegiatan bersama antara editor dan penulis hubungan kita semua akan semakin akrab." Sambut Jae-Bom setelah sampai di lobi gedung X-Vel.


"Untuk para penulis dipersilahkan pulang, kami yang akan mengurus sisanya. Tapi kalau masih mau bersama kami akan sangat menyenangkan." Senyum Jae-Bom yang menyejukan hati membuat Yumi ingin berlama-lama bersamanya tapi dia ingat deadline novel-novelnya.


"Yumi.. kau mau pulang?" Tanya Jae-Bom.


"Hmm.. aku harus mengejar deadline yang kau berikan." 


"Emm.. kalau begitu tunggu sebentar, setelah penulis lain pulang aku akan mengantarmu."


"Tidak usah, aku mau mampir belanja di mini market kok, terimakasih." Yumi menolak secara halus.


"Tidak apa, aku temani aku…"


"Tidak usah, aku buru-buru, bye. Sampai jumpa." Yumi melarikan diri dari Jae-Bom.


'Apa aku ada salah dengan Yumi? Kenapa Yumi seperti menjaga jarak dengan ku?' Batin Jae-Bom.


...----------------...


Yumi sedang menunggu bus, dia duduk di halte sambil melamun. Pikiran Yumi melayang ke nenek Jyeong.


"Eoh? Kenapa tiba-tiba hujan sih? Padahal ramalan cuaca hari ini tidak akan turun hujan, haisshh.. aku kan tidak bawa payung. Mana aku harus belanja bahan masakan pula." 


Wusssh.. Ciiiiiiit…


Bus yang Yumi tunggu akhirnya tiba.


Yumi cepat-cepat masuk lalu duduk di kursi paling belakang.


Yumi menempelkan kepalanya di kaca jendela, sesekali Yumi menghembuskan nafas kasar.


Bertemu orang yang memiliki tato sisa umur membuat hati Yumi tidak tenang.


Teeeet..


Suara bel yang ditekan salah seorang penumpang membuyarkan lamunan.


"Eoh.. halteku." Yumi berdiri, bergegas untuk turun.


'Untung saja aku sadar dari lamunanku, kalau tidak bisa kelewatan, huh.. Yumi kamu harus fokus, semangat.' Yumi menyemangati dirinya sendiri di dalam hati.


Ciiiiiiit..


Bus berhenti di halte.


Yumi turun, dia menutupi kepalanya dengan tas yang dia bawa, tapi tiba-tiba Yumi merasa ada seseorang yang datang memayunginya dari belakang.


Yumi menengok.


"Han Gyu-Sik?"


"Untung saja aku tidak terlambat, ternyata instingku bagus juga." Kata Gyu-Sik sambil tersenyum.


Yumi bisa merasakan ketulusan hati Gyu-Sik.

__ADS_1


'Han Gyu-Sik celaka! Kau memang makhluk berbahaya.' Batin Yumi.


To be continued...


__ADS_2