Marrying The Grim Reaper

Marrying The Grim Reaper
Bab 11 : Sudah terbiasa tinggal bersama (?)


__ADS_3

Cahaya matahari mulai mengintip dicelah-celah daun pintu, Gyu-Sik mengerutkan kelopak matanya, dia mulai terbangun dari tidurnya.


"Ahhh.. sudah pagi rupanya." Gyu-Sik meregangkan tubuhnya.


"Aku harus segera membuatkan sarapan untuk Yumi lalu mandi." Gyu-Sik melangkahkan kaki ke dapur untuk membuatkan makan pagi untuk Yumi.


"Hmm.. bahan-bahan masakan sudah mulai habis. Buat sandwich sajalah." Gyu-Sik mulai menyiapkan sandwich untuk Yumi dan dirinya.


"Joheun acim." Yumi baru saja keluar dari kamarnya lalu mengambil air mineral di lemari pendingin. *Joheun acim : Selamat pagi.


"Hmm.." Jawab Gyu-Sik.


Yumi melirik ke arah Gyu-Sik.


"Sandwich?" Tanyanya.


"Iya, bahan-bahan di lemari pendingin sudah mau habis, jadi aku buat sandwich saja. Kenapa? Kamu tidak mau? Tidak kenyang?" Tanya Gyu-Sik.


"Hehe.. iya, perutku ini perut karet. Tapi yasudah tidak apa, nanti aku pesan makan lagi." Yumi mengucir rambutnya, lalu memakai kacamata anti radiasi, dan bersiap dengan laptopnya.


"Tumben kerja pagi-pagi sekali?" Tanya Gyu-Sik.


"Hmm.. ada banyak deadline yang harus aku kejar. Dan hari ini aku ada kegiatan diluar rumah, jadi aku kerjakan sekarang saja novelnya." Jelas Yumi.


"Mau aku buatkan teh hijau?" 


"Boleh."


Yumi dan Gyu-Sik semakin hari semakin terbiasa tinggal bersama, Gyu-Sik yang memang memiliki sifat perhatian selalu mengutamakan Yumi, sedangkan Yumi yang haus perhatian merasa senang karena ada seseorang yang berpihak padanya.


"Aku taruh disini, kamu makan dulu saja baru kerjakan lagi novelmu." Gyu-Sik menaruh teh hijau hangat dan sandwich di meja makan.


"Tidak.. tidak taruh sini saja." Yumi meminta Gyu-Sik menaruh di meja kerjannya.


"Kau yakin? Bagaimana kalau nanti mengoroti laptopmu? Atau tiba-tiba tehnya tersenggol tanganmu lalu membuat laptopmu rusak??"


"Haisssh.. suka sekali ngomel sih malaikat maut satu ini." Yumi berjalan menuju meja makan.


"Nah.. gitu dong! Kau boleh tidak perduli dengan orang lain tapi kau tetap harus perduli dengan tubuhmu. Makan yang teratur contohnya." Gyu-Sik mengomel layaknya seorang ibu yang mengomeli anaknya karena perhatian dan sayang.

__ADS_1


"Iya.. iya." Yumi mulai menyantap sandwich.


"Aku mandi dulu, lalu siap-siap bekerja."


"Hmm.." Yumi masih asik dengan sandwichnya.


Gyu-Sik mandi lalu bersiap berangkat ke kedai.


"Aku ambil satu, aku berangkat ya." Gyu-Sik menyomot sandwich.


"Aku nanti ada acara ke panti jompo dengan orang-orang dari X-Vel, aku tidak tahu pulang kapan." Yumi memberitahu Gyu-Sik kegiatannya.


"Menginap?" Gyu-Sik sedang memakai sepatu di dekat pintu.


"Tidak, tapi aku tidak tahu selesai jam berapa."


"Oh.. yasudah, yang penting jaga dirimu baik-baik, oke? Aku pergi dulu, bye." Gyu-Sik keluar dari rumah.


"Han Gyu-Sik, kenapa kita bisa seakrab ini? Bagaimana kalau aku benar-benar suka padanya? Hahhhh…" Yumi menempelkan pipi kanannya di meja makan sambil melamun.


"Bisa gila aku."


Yumi sampai di gedung X-Vel, hari ini X-Vel akan mengadakan acara bakti sosaial di sebuah panti jompo.


"Hai.. Yumi, apa kabar?" Tanya seorang teman penulis juga bernama Lee Cae-Rin.


"Hai.. Cae-Rin, baik, bagaimana kabarmu?" Yumi berbasa-basi menanyakan kabar Cae-Rin, padahal dia tahu bahwa Cae-Rin adalah salah satu penulis yang sirik padanya.


"Waah.. aku lihat di profil X-Vel mu, pengikutmu sudah tembus satu juta ya, hebat sekali. Aku saja yang memulai beberapa bulan lebih dulu dari kamu baru dapat setengahnya. Emm.. pantas saja kalau editor X-Vel selalu mengutamakan mu." 


Yumi memicingkan matanya, dia mulai tahu arah pembicaraan Cae-Rin.


"Tidak juga, semua editor memperlakukan sama pada semua penulis di X-Vel."


"Hmm.. iya sih, tapi kamu sepertinya adalah pengecualian."


"Kalian sudah datang ya, maaf aku masih ada pekerjaan, jadi barubbisa turun." Jae-Bom baru saja datang.


"Oppa.. aku sudah lama menunggu mu, bagaimana kabarmu?" Cae-Rin lebih muda tiga tahun dari Jae-Bom, tapi memanggil 'oppa' dalam lingkup pekerjaan sangatlah tidak profesional.

__ADS_1


"Hmm.. baik." Jawab Jae-Bom singkat.


"Yumi.. kau sehat?" Tanya Jae-Bom.


"Hmm? Oh.. iya sehat." 


Cae-Rin menarik tangan Jae-Bom, "Oppa ayo kita bergabung dengan penulis dan editor yang lain."


"Hah.. dasar rubah licik. Suka sih suka, tapi punya harga diri dikit dong sebagai wanita. Dasar wanita centil." Gumam Yumi setelah melihat kelakuan Cae-Rin yang membuatnya semakin membenci wanita itu.


Setelah selesai menyiapkan barang-barang yang akan mereka bawa ke panti jompo, akhirnya rombongan X-Vel berangkat.


Yumi menumpang di mobil Jae-Bom bersama Cae-Rin dan tiga orang penulis lainnya.


Yumi duduk di belakang Jae-Bom, sedangkan Cae-Rin menyerobot minta duduk di kursi depan.


"Terimakasih kalian semua mau ikut dalam acara sosial kami, ditengah-tengah kesibukan kalian menulis novel dan melakukan aktivitas lain, kalian dengan rela hati membantu kami." Jae-Bom memberikan mencairkan suasana dalam mobilnya sambil tetap fokus menyetir.


"Aku kira editor tidak tahu kalau kita punya aktivitas lain selain menulis, ternyata tahu juga." Sindir seorang penulis wanita bernama Kim Se-Kyung.


Jae-Bom tersenyum, dia tahu bahwa Se-Kyung sedang menyindir para editor yang pekerjaannya mengejar penulis top of the top untuk konsisten update menulis di jalur yang benar.


"Bukannya kami tidak tahu, tapi yaa.. memang begitu pekerjaan kami."


"Iya Se-Kyung eonni, jangan salahkan Jae-Bom oppa dan editor lain, mereka bekerja secara profesional, jadi mari kita sebagai penulis top of the top X-Vel juga harus menunjukan profesionalitas." Cara bicara Cae-Rin sangat lembut dan manis jika Jae-Bom ada di dekatnya.


'Apa-apaan sih? Dia bilang soal profesionalitas?? Dia amnesia atau punya penyakit dimensia sih?? Ckck.. padahal dia selalu mengeluh di media sosial soal editor yang banyak meminta revisi atas novelnya.' Batin Yumi.


"Profesional?? Aku rasa kata-katamu barusan lebih cocok untuk dirimu sendiri Cae-Rin eonni." Seorang penulis berusia sembilan belas tahun, bernama Kang Ji-Soo yang terkenal ceplas-ceplos angkat bicara.


"Yak! Kang Ji-Soo jaga sikapmu, bersikaplah sopan dengan orang yang lebih tua!" Cae-Rin merasa tidak terima.


"Sudah.. sudah.. berisik sekali sih, kalian mengganggu konsentrasi editor Kang yang sedang mengendarai mobil." Kim Suho, satu-satunya penulis lelaki di mobil itu yang mulai risih dengan wanita-wanita disekelilingnya ini.


"Sekali lagi aku minta maaf jika sikapku dan staffku membuat kalian tidak nyaman." Kata Jae-Bom.


"Sudah editor Kang, jangan ditanggapi wanita-wanita ini. Akan jadi panjang urusannya kalau berdebat dengan wanita." Suho yang duduk paling belakang langsung menjadi pusat sasaran mata elang keempat wanita itu.


"Kenapa kalian menatapku begitu??!"

__ADS_1


To be continued..


__ADS_2