
Pukul enam pagi waktu Seoul.
Gyu-Sik sedang mempersiapkan bekal untuk dibawa mendaki gunung, sedangkan Yumi masih mandi.
“Aaah.. dia aku masih tidak habis pikir bagaimana dia memilih mendaki gunung padahal banyak pilihan lain untuk bersenang-senang menghabiskan uang itu.” Gyu-Sik masih saja tidak menyukai ide Yumi untuk mendaki gunung.
“Yak! Mau berapa ratus kali kau menggerutuu sendiri soal mendaki gunung? Aku kan sudah bilang kalau memang tidak ingin yasudah aku bisa sendiri. Lagi pula memang biasanya aku mendaki gunung sendiri, jadi tidak masalah.” Yumi duduk di kursi makan sambil mengeringkan rambutnya dengna handuk.
Gyu-Sik tidak menggubris perkataan Yumi.
“Bekal sudah siap, aku mandi dulu.” Gyu-Sik pergi ke kamar mandi.
“Ckckck.. dasar malaikat maut aneh.”
Setelah semua persiapan selesai Yumi dan Gyu-Sik menuju halte bus untuk segera menuju gunung yang letaknya sedikit jauh dari rumah Yumi.
“Waaah.. aku benar-benar tidak sangka akhirnya aku melangkahkan kaki di lereng gunung lagi.” Gyu-Sik mengedarkan panangan, suasanya asri di lereng gunung membawa kesejukan tersendiri.
“Lagi? Memangnya kapan kau pernah mendaki gunung?” Tanya Yumi sambil menali ulang tali sepatunya.
“Dua ratus tujuh puluh tahun lalu.”
“Hahahahaha..” Yumi tertawa lepas mendengar fakta yang terdengar seperti lelucon baginya.
“Kenapa tertawa?”
“Maaf.. maaf..”
“Wah.. kalian pasti pasangan yang baru menikah ya?” Tiba-tiba seorang wanita paruh baya bersama suaminya mendatangi Yumi dan Gyu-Sik.
“Ah.. tidak kami bukan…” Yumi. “Iya.. kami belum lama menikah.” Secara bersamaan Gyu-Sik menimpal jawaban Yumi.
“Aigo.. kau masih malu-malu ya mengakuinya?” Wanita paruh baya itu memegang lengan Yumi, namun Yumi hanya tersenyum kecil.
“Mendaki gunung memang kegiatan yang sangat cocok untuk pasangan, karena mendaki gunung akan terasa menyenangkan saat dilakukan bersama orang yang kita sayangi. Kalau saat mendaki kita terkena suatu musibah setidaknya ada seseorang disebelah kita.” Kata wanita paruh baya itu sambil melingkarkan tangannya di tangan sang suami.
Yumi dan Gyu-Sik hanya tersenyum mereka tidak tahu harus menanggapi seprti apa.
“Yasudah kalau begitu kami jalan dulu.” Wanita paruh baya dan suami berjalan mendahului Yumi dan Gyu-Sik.
“Ayo jalan.” Ajak Gyu-Sik.
Akhirnya Yumi dan Gyu-Sik mulai memasuki kawasan lereng gunung. Pendaki di gunung ini memang tidak pernah sepi.
"Lumayan banyak ya yang suka mendaki gunung." Kata Gyu-Sik.
"Memang banyak, kau saja yang aneh tidak menyukai kegiatan menyenangkan seperti ini."
"Emm.. bukan tidak suka, dulu saat menjadi manusia hobiku adalah mendaki gunung. Eh.. tidak, lebih tepatnya aku suka mendaki gunung saat sedang kencan bersama kekasihku." Binar bahagia terpancar diwajah Gyu-Sik.
'Kekasih??' Kata itu cukup membuat Yumi syok, dia tidak menyangka bahwa Gyu-Sik pernah punya kekasih.
"Oh.. ternyata kau pernah punya pacar ya."
"Tentu saja, memangnya kau."
PLAK..
"Aww.. yak! sakit Lee Yumi." Gyu-Sik mengelus lengannya yang dipukul oleh Yumi.
__ADS_1
"Pernah punya pacar saja bangga, chh.." Yumi mencibir Gyu-Sik.
"Bangga dong, dari pada tidak pernah punya pacar, setidaknya aku pernah punya kisah cinta sekali."
"Hahaha.. hanya sekali pacaran saja sudah bangga."
"Kalau aku berminat, aku bisa memiliki kekasih seratus, bahkan lebih, tapi aku memilih untuk menjalin hubungan hanya dengan wanita yang membuat hidupku terasa lain.
Saat bersamanya dulu aku menjadi diriku sendiri, dia sanggup nembuatku melepas topeng yang harus aku pakai." Gyu-Sik sedikit menceritakan masa lalunya.
"Topeng??"
"Itu makna kiasan jangan kau bayangkan topeng sebagai topeng wajah sesungguhnya."
"Hah.. kau kira aku tidak paham?? Aku ini penulis tentu saja aku paham makna kiasan seperti itu." Yumi merasa tidak terima.
"Baguslah kalau kau paham."
Beberapa saat mereka tidak saling bicara mereka fokus pada medan pendakian yang mulai terasa menanjak dan menguras tenaga.
"Yumi… hahh.. tung..gu.. istirahat.. dulu." Gyu-Sik yang tertinggal di belakang Yumi duduk di bawah pohon lalu membuka tas untuk mengambil minum.
"Ckckck.. ini baru seperempat jalan lho. Yang semangat dong!" Teriak Yumi.
"Kau tidak capek?"
Yumi menggeleng lalu berjalan lagi.
"Yumi tunggu aku." Gyu-Sik berlari mengejar Yumi.
Setelah pendakian lebih dari tiga jam sampailah mereka di puncak gunung.
"Iya kau benar, dari atas gunung melihat pemandangan seperi ini mengingatkan ku pada masa dulu."
'Masa dulu? Mengingatkan pada kekasih mu kan? Chh..' Batin Yumi.
Yumi sedang memngabadikan pemandangan dengna kamera ponselnya, sedangkan Gyu-Sik duduk sambil menikmati minuman dan bekal yang dia siapkan.
"Kau tidak lapar? Kimbab buatan ku enak lho." Kata Gyu-Sik.
"Tidak." Yumi masih sibuk memotret dan merekam pemandangan dari atas pegunungan.
"Makan dulu, kau sudah mengeluarkan banyak tenaga." Gyu-Sik memasukan kimbab ke dalam mulut Yumi.
Yumi pasrah saja, dia akhirnya memakan kimbab yang membuat mulutnya penuh.
Tiba-tiba sirine tanda bahaya berbunyi.
“Maaf kepada para rombongan pendaki gunung, kmi baru saja mendapat peringatan angin dan hujan deras yang diperkirakan akan mulai sekitar empat puluh menit lagi. Maka dari itu para peendaki gunung sekalian mohon mengikuti arahan kami untuk segera turun ke posko terdekat dan menunggu instruksi berikutnya.” Petugas jaga alam dan tim SAR datang untuk membantu pendaki turun gunung.
“Hahhh.. sayang sekali padahal baru saja sampai.” Yumi masih belum puas berada di puncak gunung.
“Aneh sekali kenapa tiba-tiba mendung?” Kata Gyu-Sik.
“Yasudahlah bagaimana lagi kita harus mengikuti arahan petugas jaga alam.” Yumi dengan berat hati mengikuti petugas dan pendaki lainnya untuk bergegas turun menuju posko terdekat.
Ada sebelas pendaki termasuk Yumi dan Gyu-Sik yang terpaksa turun gunung.
Hujan deras sudah mendahului datang sebelum mereka sampai di posko.
__ADS_1
“Mohon untuk hati-hati karena tanah akan menjadi licin jika hujan lebat seperti ini, tinggal dua kilo lagi untuk sampai di posko, bertahanlah. Tolong saling menjaga satu sama lain.” Teriak salah satu petugas jaga alam.
Gyu-Sik menggenggam tangan Yumi.
GLUDEKKKK…..
BRRRRRRRSHHH…
Suara gemuruh petir mulai menyambar, hujan juga turun semakin deras.
‘Aneh sekali kenapa tiba-tiba cuaca berubah menjadi suram?’ Batin Gyu-Sik.
Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit akhirnya rombongan pendaki yang harus dievakuasi sampai di posko.
Petugas membagikan handuk kepada semua pendaki. Hujan semakin deras, petir dan angin pun semakin menjadi-jadi.
“Kau baik-baik saja?” Tanya Gyu-Sik sambil mengeringkan rambut Yumi dengan handuknya.
“Yaak! Kau pakai dulu handuknya, aku kan sudah ada.”
“Aku bawa handuk dari rumah.”
“Waaah.. jangan-jangan kau sudah tahu ya kalau akan hujan selebat ini?”
“Tidak, kemampuanku masih belum kembali.”
“Hacimmmm… hacimmm..” Yumi bersin-bersin.
“Dingin sekali ya?” Gyu-Sik menggosok-gosokan tangannya lalu menempelkan ke kedua pipi Yumi.
“Maaf hanya ini yang kami punya, semoga dapat menghangatkan anda semua.” Petugas membagikan air jahe hangat dan ubi panggang kepada semua pendaki.
“Maaf pak, sampai kapan perkiraan cuaca buruk ini?” Tanya seorang pendaki.
“Pihak kami badan pengawas cuaca dan kantor pusat swaka alam belum dapat memastikan. Cuaca tiba-tiba berubah drastis, dan anehnya cuaca ekstrem ini hanya terjadi di sekitar pegunungan. Jadi mari kita berdoa agar cuaca kembali normal.” Jelas seorang petugas jaga alam.
Dengan harap-harap cemas semua pendaki dan petugas yang terjebak hujan menunggu di posko. Namun hingga malam hari hujan, angin dan petir tidak kunjung reda, pada kahirnya mereka semua menginap di posko.
Petugas membagi kantung tidur kepada semua pendaki.
Beberapa orang pendaki demam ada juga yang mulai flu karena suhu semakin rendah, termasuk Yumi.
Yumi sudah tertidur di dalam kantung tidur, beberapa kali Gyu-Sik mengecek demam Yumi yang untungnya tidak terlalu tinggi. Namun flu yang mulai menyerang Yumi semakin parah.
Sebelum tidur Gyu-Sik hampir tidak pernah melepaskan pelukannya di tubuh Yumi karena menggigil kedinginan.
“Hahh.. akhirnya dia tidur juga.” Gumam Gyu-Sik sambil menatap Yumi.
“Tenang saja dia tidak akan mati.”
Gyu-Sik menengok saat mendengar suara yang sangat dia kenali.
BREZEEEEEEE...!!!
Semua terhenti, Dong-Bong menggunakan kekuatannya untuk mengentikan waktu dan semua yang ada di kawasan pegunungan.
Air hujan terhenti, petir yang menyambar kilauannya masih terpancar juga terhenti, orang-orang di posko tidak bergerak mereka seperti patung, bak sebuah video yang di pause, hanya Gyu-Sik dan Dong-Bong yang tetap seperti biasa.
“Timjangnim?” Gyu-Sik kaget.
__ADS_1
To be continued...