Marrying The Grim Reaper

Marrying The Grim Reaper
Bab 35 : Bola jiwa lenyap (END)


__ADS_3

Malam hari Gyu-Sik pulang dari bekerja. Dia membeli beberapa makanan karena mendapat bonus dari atasannya di perpustakaan.


"Yumi aku pulang, aku bawa banyak makanan, kau pasti suka." Gyu-Sik masuk ke rumah.


Di sana Yumi tengah duduk termenung di meja makan.


"Yumi?" Sapa Gyu-Sik ragu karena tatapan Yumi terasa berbeda.


"Lama tidak berjumpa Han Gyu-Sik." Suara Yumi menjadi sedikit berat, kini kini Yeo Seol yang sedang mengendalikan tubuh Yumi.


DEG!! 


Gyu-Sik langsung tahu siapa yang sedang berhadapan dengannya.


"Yeo Seol??" Tanya Gyu-Sik.


"Baguslah kalau kau masih mengingat namaku. Aku kira kau sudah lupa karena sudah terlalu banyak orang yang kau bunuh." Nada sinis dan penuh dendam membuat suasana diantara mereka jadi dingin.


"Maafkan aku Yeo Seol." Gyu-Sik mulai menangis, rasa penyesalan itu muncul kembali.


"Kau keterlaluan, kau tegas sekali membunuh ayah kekasihmu??" 


"Maaf, tapi kau tahu aku hanya menjalankan perintah raja."


"Tapi yang kau bunuh itu ayahku!! Satu-satunya orang yang berharga dalam hidupku!!" Yeo Seol mulai menangis.


"Maaf." Gyu-Sik merasa sangat bersalah.


"Aaaaak.. sakit sekali Gyu-Sik." Suaranya melemah, kali ini Yumi berhasil mengambil alih tubuhnya kembali.


Yumi merasakan dadanya sangat sakit.


"Yumi?"


"Sakit sekali seperti ada sesuatu yang menancap." Yumi kesakitan.


Gyu-Sik ingat bahwa pedang yang tertancap di tubuh Yeo Seol tepat seperti letak rasa sakit yang Yumi rasakan.


"Maaf Yumi." Gyu-Sik memeluk Yumi.


"Dewa cinta memberiku pengalaman perjalanan ke masa lalu Yeo Seol. Aku tidak menyangka kau orang yang kejam." Yumi menangis.


"Maaf." Tidak ada kata lain yang dapat terucap dari bibir Gyu-Sik.


"Aku ingin sendiri dulu, aku masih belum bisa mengendalikan perasaanku sendiri. Melihatmu aku merasakan benci, senang, marah, rindu, semua perasaan itu campur aduk menjadi satu. Sangat menyiksa." Yumi menangis.


"Tapi aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri, aku takut terjadi sesuatu padamu. Aku akan berada di luar, panggil aku saat kau butuh bantuan." Gyu-Sik meninggalkan semua makanan yang dibeli, lalu keluar dari rumah Yumi.


Yumi tidak berselera makan, dia juga tidak bisa mendapat ide untuk menulis novel, hingga larut malam Yumi juga tidak mengantuk.


Pukul 03:00 pagi,


Yumi bersiap untuk mendaki gunung, ini adalah hobi yang dia selalu lakukan saat sedang sedih, ataupun stress.

__ADS_1


Yumi membuka pintu pelan, dia melihat Gyu-Sik tertidur pulas di bangku teras. 


Yumi kembali masuk ke rumah, dia mengambil selimut untuk Gyu-Sik, lalu pergi ke gunung.


Pukul enam pagi Yumi sampai di lereng gunung, ternyata ada lumayan banyak orang yang akan mendaki.


"Syukurlah ada banyak temannya."


Yumi berjalan mengikuti beberapa orang pendaki agar tidak sendirian..


"Hahhh.. puas sekali jika sudah sampai di puncak gunung." Yumi meneguk air mineral yang dia bawa.


"Yumi." 


Yumi menoleh saat seseorang memanggilnya.


"Yeo Seol??" 


Yumi menengok ke belakang melihat orang-orang mematung, burung terbang ikut berhenti, suasana dingin dan suram menyelimuti puncak gunung.


"Kalau kau jadi aku apa yang akan kau lakukan pada Gyu-Sik?" Tanya Yeo Seol.


"Aku tahu kau pasti sangat membencinya, tapi yang dia tahu hanya menjalankan perintah raja. Dan juga kau harus ingat ayahmu memang salah. Benar kan?" Yumi dengan tenang menghadapi Yeo Seol.


"Benar, ayah memang salah, tapi dia hanya ingin membantu rakyat yang sedang kesakitan." Yeo Seol tampak cantik dengan hanbok warna putih dan rambut panjang yang terurai.


"Gyu-Sik sudah menebus kesalahannya, tinggal sedikit lagi dia akan terbebas dari hukuman itu tapi dewa malah mempermainkannya dengan cara mempertemukanku yang ternyata sosok reinkarnasi dirimu. Kasihan Gyu-Sik." Yumi menikmati pemandangan nyata namun seolah seperti gambar karena tidak ada yang bergerak sedikitpun.


"Tapi dendam itu adalah milikmu, aku Lee Yumi tidak memiliki dendam apapun pada Gyu-Sik."


"Hmm.. kau benar."


Yeo Seol tiba-tiba memegang perut Yumi dan seketika bola jiwa keluar.


Mata Yumi terbelalak.


"Apa itu bola jiwa??" Tanya Yumi.


"Benar, di dalam bola ini dendam dan kutukan dariku untuk Gyu-Sik terkumpul. Saat detik-detik terakhir hidupku, rasa dendam itu memuncak, lalu dewa cinta murka pada Gyu-Sik. Tapi kini aku tahu Gyu-Sik menyesali perbuatannya, aku juga tahu dia tersiksa dalam waktu yang sangat lama untuk melupakanku. Aku rasa sudah saatnya bola jiwa ini aku lenyapkan." Yeo Seol melenyapkan bola jiwa hingga menjadi asap putih.


"Apa itu artinya Gyu-Sik sudah benar-benar menjadi manusi??" 


"Aku rasa begitu, senang bertemu denganmu Yumi." Yeo Seol menghilang lalu semua kembali berjalan seperti biasa.


Yumi berlari turun gunung, dia ingin segera bertemu Gyu-Sik.


...----------------...


Di rumah Yumi.


Gyu-Sik merasa bandannya digoyang-goyang oleh seseorang. Dia mulai membuka matanya.


"Kalian??" Gyu-Sik kaget saat melihat Dong Bong, Baek Hyum dan Ma-Ri.

__ADS_1


Baek-Hyun dan Ma-Ri memeluk Gyu-Sik.


"Akhirnya hari ini datang juga, selamat Han Gyu-Sik." Baek Hyun menangis terharu, sedangkan Ma-Ri dia masih menahan air matanya dia tidak ingin terlihat menangis di depan Gyu-Sik.


"Lepas.. lepas, sesak sekali. Kalian ini kenapa?" Gyu-Sik tidak paham kenapa mereka bersikap aneh seperti itu.


"Ini akan menjadi terakhir kalinya kau melihat kami, setelah ini kau tidak akan melihat malaikat maut lagi kecuali saat kau meninggal kelak." Kata Dong Bong.


"Kenapa?" Gyu-Sik masih tidak paham apa yang terjadi.


Klotak.


Ma-Ri memukul kepala Gyu-Sik.


"Awww.. sakit, yak!" Gyu-Sik kesakitan.


"Bodoh, kau sekarang sudah jadi manusia, makanya kami ke sini untuk berpamitan denganmu." Ma-Ri kesal melihat Gyu-Sik.


"Apaaa??? Bagaimana bisa?? Yumi??" Gyu-Sik ingat jika terjadi sesuatu padanya pasti terhadi sesuatu pada Yumi juga, dia masuk ke rumah mencari Yumi.


"Jangan panik dia akan segera kembali. Bola jiwa sudah lenyap, Yeo Seol sudah memaafkanmu. Sekarang tiba saatnya kita berpisah." Dong Bong memeluk Gyu-Sik.


"Maafkan aku, hiduplah bahagia dengan Yumi."


KLAAAP…


Dong Bong, Baek Hyun dan Ma-Ri menghilang.


"Yumi? Dimana dia??" Gyu-Sik berlari mencari Yumi.


Gyu-Sik ke taman, ke toko buku, ke tempat penyewaan komik, ke perpustakaan dan lainnya tapi masih belum ketemu.


Akhirnya Gyu-Sik memilih untuk pulang. Dia menaiki bus, sudah setengah hari dia habiskan untuk mencari Yumi, dia belum minum ataupun makan.


Saat turun dari bus.


"Han Gyu-Sik." Yumi berlari menuju Gyu-Sik sambil menangis.


"Yumi?" 


Gyu-Sik dan Yumi berpelukan di dekat halte sambil menangis. Mereka tidak peduli orang-orang memperhatikan mereka.


...----------------...


Yumi dan Gyu-Sik akhirnya menikah secara resmi, setelah Gyu-Sik mendapatkan identitas kependudukan mereka mendaftarkan pernikahan mereka ke negara.


Yumi dan Gyu-Sik akhirnya bisa bernafas lega dan menikmati hidup seperti pasangan lainnya.


...- ***END -...


...-Naladhipa-...


...See you***.......

__ADS_1


__ADS_2