
"Apa kau sudah punya pacar eonni? Kau memakainya di jari manis artinya itu cincin pasangan kan??" Selidik Cae-Rin.
"Emmm.. tidak juga, entahlah." Yumi ragu menjawabnya.
"Kalau begitu pindahkan saja di jari telunjuk." Kata Jae-Bom. *Di Korea Selatan jika seseorang memakai cincin di jari telunjuk artinya adalah cincin untuk persahabatan.
"Emm.. tidak, aku suka pakai di jari manis." Jawab Yumi.
Jae-Bom mengerutkan dahi, awalnya dia tidak terpengaruh dengan cincin yang Yumi kenakan, namun sekarang lain, Jae-Bom mulai penasaran.
"Oh.. mungkin Yumi eonni ingin menutup diri dari lelaki, jadi dia pakai cincin di jari manis. Banyak wanita yang melakukan hal itu." Cae-Rin ikut berkomentar lagi.
"Begitu Yumi??" Tanya Jae-Bom.
"Tidak juga." Yumi memandang cincinnya.
'Mata Yumi tampak lain saat memandang cincin iti, sebenarnya cincin apa yang dia kenakan itu ya?' Batin Jae-Bom.
Yumi, Jae-Bom dan Cae-Rin berbincang sembari menghabiskan minuman mereka.
"Aaah.. sudah jam segini, aku pulang duluan ya. Aku ada janji dengan temanku." Cae-Rin mengeluarkan tempat riasannya, gadis cantik wajib merias ulang wajahnya sebelum pergi.
"Aku juga harus pulang, aku harus melanjutkan novel-novelku." Yumi juga bersiap untuk pulang.
"Emm.. baiklah, aku antar sampai stasiun." Kata Jae-Bom.
"Aku naik taksi kok." Kata Cae-Rin.
"Aku naik kereta bawah tanah dan bus. Tapi kau tidak perlu repot-repot mengantarku." Jawab Yumi.
"Tidak repot, ayo aku antar." Jae-Bom terus meminta untuk mengantar Yumi, akhirnya karena tidak enak menolak lagi, Yumi pasrah.
"Atau Yumi eonni ikut denganku saja, searah kok dengan stasiun." Cae-Rin berbohong, arah tujuannya bertolak belakang dengan arah stasiun tapi dia tidak ingin Jae-Bom mengantar Yumi, berjalan berdua.
"Tidak, aku bisa jalan kaki." Yumi secara tegas menolak Cae-Rin.
'Hah.. dasar rubah licik.' Batin Cae-Rin.
"Itu taksi." Jae-Bom membantu Cae-Rin memberhentikan sebuah taksi.
Cae-Rin dengan berat hati merelakan Jae-Bom mengantar Yumi ke stasiun.
"Ayo." Ajak Jae-Bom.
__ADS_1
"Sebenarnya kau tidak perlu mengantar ku, aku sudah biasa jalan sendiri."
"Jangan salah paham dulu, aku mau mengantar mu karena ingin olahraga. Seharian duduk dan menatap layar laptop sangatlah melelahkan." Jae-Bom mencari alasan yang logis, walaupu sebenarnya Yumi juga tahu bahwa Jae-Bom hanya cari-cari alasan saja.
"Oiya.. menurut mu barang ini bagus tidak?" Jae-Bom tiba-tiba menyodorkan ponselnya, dia memperlihatkan produk kursi lantai dengan sandaran empuk yang dijual di salah satu situs penjualan daring.
"Waaaah.. ini kursi impian ku, aku pernah ceritakan padamu. Kau mau membelinya untuk di rumah mu?"
"Hmm.. mana warna yang kau suka?" Tanya Jae-Bom.
"Warna biru tua cocok untuk mu."
"Emm.. kalau kau ingin warna apa jika nanti beli?" Tanya Jae-Bom.
"Sama, aku juga suka warna itu. Aku tidak suka warna terang, kalau kotor akan terlihat jelas, hehe.."
"Emm.. baiklah, terimakasih sarannya."
"Hanya sekadar membantu hal kecil, tidak perlu berterimakasih." Yumi mengembalikan ponsel Jae-Bom.
“Sudah sampai, aku masuk dulu, sampai bertemu lagi.” Yumi masuk ke lorong menuju stasiun bawah tanah.
Setelah naik kereta dan bus, akhirnya Yumi sampai di daerah rumahnya.
Yumi terus berjalan hingga sampai di rumah.
"Hahhh.. mari menulis supaya otakku tidak hanya dipenuhi oleh Gyu-Sik.. Gyu-Sik dan Gyu-Sik." Yumi langsung menyalakan laptopnya lalu mulai menulis.
Jika Yumi sedang dalam mode menulis yang serius, dia bisa menulis tanpa henti hingga berjam-jam lamanya.
"Aaaaaah.. capek sekali…." Yumi meregangkan badannya.
"Waaaah.. sudah jam enam sore. Aku belum makan, hmm.." Yumi melihat ponselnya dia mencari memesan makanan cepat saji.
"Done! Tinggal menunggu makannya sampai." Yumi berbaring di sofa sambil menyalakan televisi.
Tak perlu menunggu lama, makanan yang di pesan Yumi datang. Yumi menikmati makan malamnya lalu mandi.
–
Pukul delapan malam.
Kedai sudah sepi pelanggan, Maru sudah meminta karyawannya untuk bersih-bersih dan bersiap untuk pulang.
__ADS_1
“Ini gajimu hari ini Gyu-Sik, terimakasih.” Maru memberi uang kepada Gyu-Sik.
“Terimakasih sajangnim.”
“Yumi belum hamil?”
“Apa??” Gyu-Sik kaget mendengar pertanyaan dari Maru.
“Aaa.. kalian pasti ikut-ikut pasangan moderen ya? Pasangan yang menunda atau bahkan tidak ingin memiliki anak?”
Plak..
“Aww..” Maru kesakitan saat lengannya di pukul sang istri.
“Kau ini, kenapa bertanya hal pribadi seperti itu? Maaf ya Gyu-Sik.” Istri Maru juga bekerja di kedai.
“Hehe.. tidak apa.”
“Negara ini sedang krisis manusia karena pasangan jaman sekarang takut memiliki anak, padahal akibat covid banyak warga negara ini yang meninggal. Bayangkan jika hal itu terjadi seratus tahun saja, bisa jadi populasi di negara ini semakin menurun dan bisa punah, hihh.. mengerikan, jadi Gyu-Sik tolong bantu negara ini agar tidak cepat punah.” Maru memang suka membicarakan banyak hal pada Gyu-Sik, dari hal penting sampai hal-hal yang tidak masuk akal.
“Wajar kalau pasangan jaman sekarang tidak ingin memilik anak, itu salah pemerintah juga. Semua hal di negara ini mahal, membiayai diri sendiri dan pasangan saja slit apalagi memiliki anak.” Istri Maru lebih memiliki pemikran yang terbuka dari pada Maru.
“Hahhh.. ya sudah, yang penting kau dan Yumi bahagia dan sehat. Itu kunci kalian dapat berumur panjang dan hidup berdampingan selamanya.” Maru memeluk sang istri.
Gyu-Sik tersenyum, dia memang kagum dengan Maru dan istrinya yang terlihat harmonis meski sudah memiliki dua anak yang beranjak dewasa dan sehari-hari di sibukan dengan kedai.
“Kalau begitu saya pulang dulu, terimakasih.” Gyu-Sik keluar dari kedai, dia berjalan pelan menuju rumah Yumi.
“Hahhh.. aku harus bicara pada Yumi, aku tidak bisa menghindarinya terus.” Gyu-Sik berbicara sendiri sambil menguatkan hatinya agar bisa menghadapi Yumi.
“Kau pulang cepat hari ini.” Sambut Yumi yang baru duduk di kursi teras rumahnya.
“Oh… iya.” Jawab Gyu-Sik singkat.
“Han Gyu-Sik sampai kapan kamu akan menghindar dari ku?” Yumi sudah tidak tahan dengan sikap Gyu-Sik.
“Huft.. maaf Yumi, aku membuat mu merasa tidak nyaman. Ada yang ingin aku katakan.”
“Duduk dulu, apa perlu aku membuat minum?” Yumi merasa Gyu-Sik akan mengatakan sesuatu yang kurang baik, dia masih menata hatinya agar siap menghadapi apapun yang akan Gyu-Sik sampaikan.
“Aku rasa kita perlu waktu untuk menyendiri, maka dari itu mulai malam ini aku akan menginap di motel.”
To be continued...
__ADS_1