
“Emm.. kisah percintaan seorang wanita dengan malaikat maut.” Jawab Yumi dengan nada datar.
“WHAT? Hahahaha.. lihat oppa, Yumi eonni benar-benar tidak cocok menulis novel romantis kan? Karakternya saja sudah menakutkan begitu bagaimana bisa ceritanya jadi romantis.”
Yumi melirik tajam ke Cae-Rin, dia merasa kesal idenya diejek oleh Cae-Rin.
“Emm.. bagaimana kalau karkternya di ganti Gumiho, dewa tampan, atau putra duyung?” Jae-Bom mencoba memberikan ide alternatif.
“Hahh.. memangnya ada apa dengan malaikat maut? Kenapa sepertinya kalian tidak setuju sekali dengan ideku ini?” Yumi mulai merasa tersinggung.
“Eonni, aku beri saran sebagai senior penulis novel romantis. Pertama, malaikat maut adalah sosok yang sangat mengerikan, jadi akan sangat aneh bukan jika tiba-tiba dia bisa jatuh cinta dengan manusia.
Kedua, jika percintaan dua ras berbeda bukan kah akhirnya kan menyedihkan karena mereka tidak bisa bersatu? Hal seperti itu tidak begitu diinginkan oleh pembaca novel romantis.” Cae-Rin memberikan masukan pada Yumi, tapi Yumi malah merasa semakin tersinggung.
“Kau pikir malaikat maut tidak bisa jatuh cinta? Kau pikir malaikat maut sosok yang menakutkan? Tidak, mereka tidak semenakutkan itu.” Nada bicara Yumi terdengar tegas dan serius
“Hmm.. benar juga kau bisa membuat imajinasimu sendiri soal malaikat maut yang manis, yang memakai baju cerah dan setampan idol.
Tapi aku rasa pembaca tidak begitu menyukai percintaan beda ras karena akan berakhir menyedihkan.”
Yumi hanya terdiam.
“Emm.. kalau begitu buatlah dulu rangkuman materinya, jika sudah selesai kirimkan padaku. Aku akan memberi masukan untuk novel romantis pertamamu.”
Cae-Rin melirik kesal ke Jae-Bom.
“Tidak, tidak jadi. Omongan Cae-Rin ada benarnya juga, aku akan pikirkan ulang soal itu. Ada yang mau kau tanyakan lagi padaku?” Tanya Yumi ke Jae-Bom.
“Emm.. tidak.”
“Kalau begitu aku pulang ya.”
“Yumi.. bukannya kita mau ke cafe baru yang kau bicarakan tadi?” Jae-Bom menahan Yumi yang sudah berdiri.
“Yasudah kalau begitu aku tunggu di perpustakaan.” Yumi keluar dari ruangan Jae-Bom.
“Emm.. sepertinya Yumi eonni marah padaku, apa perkataanku salah oppa?”
“Sudah, kita fokus saja pada masalahmu, jadi begini…”
__ADS_1
Jae-Bom dan Cae-Rin berdiskusi mengenai novel-novel Cae-Rin.
Sedangkan di perpustakaan Yumi sedang mondar-mand mengelilingi rak buku, dia mencari-cari buku tapi dia sedang tidak berselera untuk membaca, suasana hatinya semakin tidak baik setelah mendengar ocehan Cae-Rin.
“Hahh.. seharusnya tadi aku maki-maki saja wanita satu ini, menyebalkan sekali." Yumi mengambil satu komik lalu duduk di sofa.
Dia teringat perkatan Cae-Rin.
‘Tapi perkataan Cae-Rin benar juga, dua ras yang berbeda tidak akan bisa bersama, endingnya pasti akan menyedihkan.' Yumi merasa perkataan Cae-Rin mungkin cocok untuk dirinya dan Gyu-Sik??
Setelah menunggu empat puluh menit di perpustakaan, akhirnya Jae-Bom dan Cae-Rin mendatangi Yumi.
"Maaf membuat mu menunggu lama. Ayo kita ke cafe yang kamu maksud." Ajak Jae-Bom.
Yumi melirik ke arah Cae-Rin.
"Aaa.. Cae-Rin juga ikut." Jae-Bom seperti tahu bahasa tubuh Yumi.
"Kenapa? Apa eonni keberatan kalau aku ikut?" Cae-Rin memang tidak memiliki mode basa-basi seperti orang pada umumnya.
"Kapan aku bilang begitu?" Yumi mengembalikan komik yang dia pegang ke rak buku.
"Emmm.. sebaiknya kita segera ke cafe, jam makan siangku hanya sedikit." Jae-Bom mencoba menengahi Yumi dan Cae-Rin.
Akhirnya mereka bertiga pergi ke cafe yang tidak terlalu jauh dari gedung X-Vel.
Setelah memesan minuman mereka duduk di kursi, Cae-Rin langsung memilih untuk duduk di dekat Jae-Bom, sedangkan Yumi duduk berhadapan dengan mereka.
"Ramai sekali ya." Kata Jae-Bom.
"Iya, mungkin karena cafe baru jadi orang-orang masih penasaran." Kata Yumi.
"Tidak juga, cafe ini sudah dua minggu lalu resmi di buka, artinya bukan cafe baru lagi dong? Aku sudah ke sini tepat saat cafe ini resmi di buka, saat itu antriannya panjang sampai memenuhi jalan. Tapi menurutku yang membuat cafe ini ramai karena memang menu-menu mereka enak,dan suasananya pun menyenangkan, khas anak muda, bukan begitu oppa?" Lagi-lagi Cae-Rin berkata sebaliknya dari yang Yumi katakan.
'Kenapa dengan anak ini? Kenapa seperti ingin mengajak bertengkar? Untung aku masih waras, kalau tidak sudah ku acak-acak rambutnya.' Batin Yumi.
Jae-Bom melirik ke Yumi yang sedang memutar-mutar sedotan di gelasnya.
"Emm.. Yumi, mengenai novel romantis yang ingin kau…"
__ADS_1
Jae-Bom tidak sempat menyelesaikan perkataannya karena sudah disela oleh Yumi sendiri.
"Tidak, aku hanya berandai-andai saja, aku tidak serius mengatakannya." Kata Yumi sambil memasang senyum palsu.
"Emm.. begitu ya. Tapi kalau memang kau ingin mencobanya silahkan, dengan senang hati aku akan membantu mu." Jae-Bom mengumbar senyum manis yang membuat wajah tampannya menjadi sempurna.
"Oppa jangan memaksa begitu, Yumi eonni akan merasa terbebani, bukan begitu eonni?" Cae-Rin sebisa mungkin berusaha agar Yumi tidak merambah dunia novel romantis yang menjadi lahan hijau baginya.
"Tidak, kau tidak usah merasa terancam seperti itu. Aku tidak akan pindah haluan menjadi penulis novel romantis seperti mu." Kata-kata Yumi cukup manjur untuk menutup mulut Cae-Rin.
"Emm.. tapi menurutku ide mu tadi bagus juga, aku rasa kau harus mencobanya." Jae-Bom ingin memberi peluang untuk Yumi masuk ke dunia novel romantis.
"Emm.. menurut mu sebagai seorang editor, akhir cerita apa yang akan terjadi untuk ide ceritaku itu?" Tanya Yumi.
"Emm.. akhir cerita yang tidak memaksakan untuk bahagia. Karena memang hubungan antara dua ras berbeda sulit untuk disatukan, banyak hal-hal tabu diantara mereka, tapi biasanya sepasang pemeran utama novel dengan gendre seperti ini memiliki cinta yang kuat, sehingga mereka akan mengorbankan dirinya demi pasangannya, itu yang membuat akhir ceritanya menjadi tidak bahagia. Itu menurutku." Jae-Bom mengutarakan pemikirannya sebagai editor atas ide cerita yang Yumi sampaikan.
Di otak Yumi saat ini sedang memutar drama akhir cerita dirinya dan Gyu-Sik sesuai imajinasi Jae-Bom.
"Yumi? Lee Yumi?" Jae-Bom melambai-lambaikan tangannya di depan Yumi yang sedang melamun.
"Oh.. maaf." Yumi sadar dari lamunannya.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Jae-Bom.
"Aahh.. tidak."
"Eonni.. cincin mu cantik, unik sekali, dimana kau membelinya?" Cae-Rin menunjuk cincin ruby merah yang Yumi kenakan di jari manis tangan kirinya.
"Oh.. aku tidak beli."
"Seseorang memberinya untuk mu?" Tanya Jae-Bom.
"Emm.. ya.. begitulah." Jawab Yumi.
"Apa kau sudah punya pacar eonni? Kau memakainya di jari manis artinya itu cincin pasangan kan??" Selidik Cae-Rin.
"Emmm..
To be continued...
__ADS_1