Marrying The Grim Reaper

Marrying The Grim Reaper
Bab 25 : Hari Ulang Tahun Yumi.


__ADS_3

Dua hari berlalu..


Keadaan masih sama saja, Gyu-Sik masih belum kembali ke rumah Yumi. Setiap hari Ju-Hwi masih mengirim lauk pauk untuk makan Yumi.


Drrrt.. dddrt.. drrrt..


Suara alarm ponsel membangunkan Yumi. Tanpa membuka mata Yumi mematikan alarm.


Drrrt.. ddddrt.. drrrt..


"Hahh.. siapa sih pagi-pagi begini?" Yumi membuka penutup mata lalu menengok ke layar ponselnya. Sayup-sayup Yumi melihat nama yang terpampang di layar ponselnya.


'Editor Kang Jae-Bom'


"Halo.. kenapa pagi-pagi menelepon? Hoaaaam.." Yumi masih malas untuk bangun dia menelepon sambil tiduran.


"Saengil chughahae Lee Yumi." Suara Jae-Bom terdengar riang memberi selamat ulang tahun pada Yumi.


Yumi melihat kalender duduk di atas nakasnya.


"Oh.. iya hari ini aku ulang tahun, hehe.. Terimakasih sudah mengingatkan."


"Aku sudah membuat pengingat satu minggu sebelumnya jadi pasti aku ingat."


"Waaaah.. loyal sekali editor satu ini."


"Emm.. malam ini kau ada acara?" Tanya Jae-Bom.


"Tidak, kenapa?"


"Kalau begitu aku akan mampir ke rumahmu setelah pulang dari kantor."


"Oke, kalau begitu aku akan beli daging dan bir untuk nanti malam."


"Hmmm.. beli yang banyak ya, haha." Jae-Bom tertawa.


"Tenang saja gajiku dari X-Vel banyak, hehe."


Tok.. tok.. tok..


"Paket.. permisi." Suara seseorang mengetuk pintu rumah Yumi.


"Jae-Bom maaf aku harus membuka pintu sepertinya ada paket datang, tapi aku tidak merasa membeli sesuatu." Yumi turun dari tempat tidur.


"Mungkin itu kado dariku."


"Apa??"


Krekk..


"Permisi kami ingin mengirimkan ini untuk Lee Yumi." Kata petugas pengirim barang.


"Saya Lee Yumi."


"Kalau begitu tanda tangan disini."


Yumi menandatangani surat jalan.


"Kalau begitu kami permisi." 


"Terimakasih." 


Petugas pengirim barang pergi.


"Yaaak! Kang Jae-Bom ini kan kursi yang mau kau beli? Kenapa dikirim kesini?" Yumi dan Jae-Bom masih belum mengakhiri pembicaraan.

__ADS_1


"Baru ada promo beli satu gratis satu."


"Bohong, aku tahu ya dimana kau beli ini. Aku memang mengincar kursi ini, tapi menunggu diskon."


"Baguslah berarti kado dariku akan berguna untukmu."


"Jadi ini benar kado untukku??"


"Iya Lee Yumi."


"Kang Jae-Booooooom terbaik, terimaksih. Semoga kau panjang umur, sehat selalu dan banyak uang, haha.." Yumi senang sekali mendapat kado kursi lipat lantai yang telah lama dia incar.


"Seharusnya aku yang mendoakanmu."


"Tidak.. tidak.. aku tidak perlu didoakan, kursi ini sudah lebih dari cukup, hehe."


"Ya sudah kalau begitu aku siap-siap ke kantor, sekali lagi selamat ulang tahun Lee Yumi."


"Sekali lagi terimakasih Kang Jae-Bom." 


Akhirnya Yumi dan Jae-Bom mengakhiri pembicaraan jarak jauh mereka.


"Waaaah.. keren sekali kursi ini." Yumi menggotong kursi itu masuk ke rumah.


Yumi sangat senang mendapatkan hadiah kursi idamannya dari Jae-Bom.


Hari itu kursi hadiah dari Jae-Bom membuatnya melupakan sejenak kegalauan hatinya.


Karena suasana hatinya sedang baik, seharian Yumi bisa menulis dengan lancar, ide cerita mengalir deras seperti banjir bandang.


Ya.. begitulah Yumi, suasana hati sangat mempengaruhi tulisannya.


Tak terasa hari sudah mulai sore, Yumi teringat belum membeli daging dan perlengkapan lainnya untuk menyambut Jae-Bom.


"Aaaaah… sudah dulu saja, aku harus ke minimarket dulu." Yumi menyudahi menulis novelnya lalu pergi ke minimarket untuk berbelanja.


Setelah selesai berbelanja Yumi menyiapkan tungku dan lainnya di kursi besar di terasnya karena Jae-Bom sudah memberitahu bahwa dia sudah pulang dari kantor dan akan segera menuju rumah Yumi.


Setelah pulang dari kantor Jae-Bom menyempatkan diri untuk membeli kue tart kecil untuk Yumi.


"Aaah.. aku lupa tidak membeli korek api, bagaimana ini?" Jae-Bom mematikan mesin mobilnya tept di depan toko Ju-Hwi.


"Coba aku beli di toko ini, siapa tahu ada." Jae-Bom turun dari mobil lalu masuk ke toko Ju-Hwi.


"Permisi bibi, apa anda menjual korek api?' Tanya Jae-Bom sopan.


" Oh.. tidak, tapi aku punya, tunggu sebentar." Ju-Hwi mengambil korek api di dapur.


"Ini pakai saja."


"Wahh.. terimakasih banyak bi." Jae-Bom menyalakan lilin.


Ju-Hwi melihat kue tart yang Jae-Bom bawa.


"Kue ini untuk Yumi? Lee Yumi yang tinggal di atas?" Tanya Ju-Hwi.


"Iya, bibi mengenalnya?"


"Tentu saja, kami sangat akrab, tapi aku tidak tahu kalau dia ulang tahun hari ini. Kalau tahu aku akan membuatkannya sup rumput laut." *Sup rumput laut biasanya dimakan seseorang saat sedang berulang tahun (budaya Korea Selatan).


Jae-Bom tersenyum.


"Emmm.. tapi… kalau aku sarankan lebih baik kau jangan lama-lama bertamu di rumah Yumi." Kata Ju-Hwi.


"Hmm? Memang kenapa bi? Apa Yumi sedang sakit?"

__ADS_1


"Bukan, tapi….. dia sedang marahan dengan suaminya, sampai suaminya menginap di motel."


"Apa??? Suami?? Emm.. maaf bi Lee Yumi yang kita bicarakan tampaknya orang yang berbeda." Jae-Bom tidak percaya.


"Tidak, cuman ada satu Lee Yumi di daerah ini, Lee Yumi yang suka menulis novel kan?"


"Emm.. iya, kebetulan saya editor dari tempat Yumi menulis."


"Aaa.. jadi ini hanya kue pertemanan, begitu kan?"


"Emmm.." Jae-Bom masih tidak paham dengan omongan Ju-Hwi.


"Jadi aku mohon jangan membuat Yumi terlihat sebagai wanita murahan. Apa jadinya kalau orang-orang disini tahu kalau Yumi sedang berduaan dengan lelaki lain saat suaminya tidak di rumah?"


Jae-Bom mengerutkan kening.


"Tapi Yumi belun nenikah bi."


'Ups.. jangan-jangan Yumi memang masig menyembunyikan pernikahannya. Kalau begitu aku salah ngomong dong?' Batin Ju-Hwi.


"Emm.  ya sudah silahkan." Ju-Hwi mengusir Jae-Bom secara halus.


"Terimakasih bi, kalau begitu saya permisi." Jae-Bom keluar dati toko Ju-Hwi.


"Gawat, aku harus buru-buru lapor ke Gyu-Sik." Ju-Hwi merasa gatal, dia memang suka mengurusi orang lain.


...----------------...


Jae-Bom berjalan sambil menghalangi angin disekitar api pada lilin.


"Suami? Hah.. bercanda tidak lucu. Bagaimana bisa orang tua membuat gosip mengenai status orang lain? Ckckck.. pacar saha Yumi tidak punya apalagi suami." Jae-Bom menaiki tangga untuk menuju rumah Yumi.


"Waah.. kau sudah menungguku rupanya?" Jae-Bom melihat Yumi yang sedang menikmati bir.


"Waah.. kau bawa kue tart segala, hehe.. Hanya kau satu-satunya orang yang pernah memberiku kue dan kado ulang tahu, terimaksih." Aura bahagia terpancar di wajah Yumi.


"Kalau begitu tiup dulu lilinnya, jangan lupa berdoa, buat keinginan dulu." Pinta Jae-Bom.


"Tidak usah, aku tidak punya keinginan apapun."


"Sudah berdoa saja dulu dalam hati." Pinta Jae-Bom.


"Baiklah."


Yumi memejamkan mata lalu berdoa dalam hati.


'Kembalikan Gyu-Sik padaku.'


Itu doa Yumi.


Hufff..


Yumi meniup lilin.


"Yuhuuu.. selamat ulang tahu Lee Yumi." Gyu-Sik menyerahkan kue tart ke Yumi.


"Terimaksih."


"Oiya.. tadi saat aku pinjam korek api di toko di bawah itu, bibi yang menjual membicarakan sesuatu yang tidak masuk akal." Jae-Bom duduk di kursi mengikuti Yumi.


"Apa memangnya?"


"Katanya kau sudah punya suami.".


Yumi terdiam sesaat.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2