Marrying The Grim Reaper

Marrying The Grim Reaper
Bab 15 : Yumi dan kehidupannya sekarang.


__ADS_3

Dubrakk..


"Awwwww.." Yumi meringkik kesakitan saat badannya terjatuh dari sofa. Dia tersentak bangun dari tidurnya.


"Kau baik-baik saja?" Gyu-Sik yang sedang bersantai di teras langsung masuk saat mendengar suara sesuatu terjatuh dari dalam rumah.


"Hmm.." Yumi duduk di sofa sambil menyandarkan kepalanya, matanya terpejam, seakan lengket seperti terkena lem.


"Kau terlihat lelah sekali." Gyu-Sik mengambil air mineral untuk Yumi.


"Thank you." Yumi meneguk setengah botol lalu menempelkan botol air mineral ke pipinya. "Brr.. dingin." Efek dingin membantu kesadarannya secara cepat.


"Apa terjadi sesuatu? Kau terlihat tidak dalam kondisi baik?" Gyu-Sik duduj di sebelah Yumi.


Yumi memandang Gyu-Sik selama tiga detik.


"Waeyo? wae nal geuleohge bwa?" Gyu-Sik sedikit tidak nyaman dengan tatapan Yumi, lebih tepatnya hatinya tidak nyaman saat Yumi menatapnya secara intens. *Waeyo? wae nal geuleohge bwa : Kenapa? Kenapa menatapku seperti itu?


"Hmm.. aku lapar, apa kita masih punya ramyeon?" Yumi berjalan menuju dapur tanpa mejawan pertanyaan Gyu-Sik.


"Masih."


"Astaga!! Aku lupa belum upload novel-novelku hari ini." Teringat tugasnya Yumi berpindah haluan ke meja kerja.


"Ckckck.. dasar Lee Yumi. Yasudah kerjakan dulu tugasmu, aku akan membuatkan ramyeon untukmu."


Yumi tidak menggubris Gyu-Sik, dia fokus pada laptopnya.


Sepuluh menit kemudian.


"Selesaaaaai, yuhuuuu….." Yumi mengangkat kedua tangannya ke udara.


"Kalau begitu sini makan, keburu dingin." Gyu-Sik duduk di kursi makan menunggu Yumi.


"Kau tidak makan?" Tanya Yumi sambil memposisikan diri untuk makan di kursi makan.


"Sudah, aku tadi juga buat ramyeon."


"Waaah.. kalau begitu tidurku pulas sekali ya, sampai tidak mendengar kau masak ramyeon." Yumi mengikat rambutnya.


"Memang, sangat pulas sampai mendengkur." Gyu-Sik menggoda Yumi.


"Apa-apaan?? Aku tidan mendengkur saat tidur, seenaknya saja kau ngomong." Mata Yumi sampai membulat karena tidak terima dengan kata-kata Gyu-Sik.


"Benar kok, memang tadi kamu mendengkur keras." Gyu-Sik menyelipkan rambut Yumi yang tidak ikut terkucir di belakang telinga.


Dug..


Dug..


Dug..


Jantung Yumi berdetak kencang, rasa kesal pada Gyu-Sik menghilang begitu saja.


Yumi tidak dapat bicara apa-apa, dia berpura-pura biasa saja, dia fokus pada ramyeonnya.


"Bagaimana dengan temanmu? Apa dia suka banana cake buatanku?" 


"Dia sukaaaaaaaa sekali, dia mengucapkan terimakasih untukmu. Dia memakan sampai habis tak bersisa."


"Benarkah? Waaah.. senang bisa mendengarnya. Apa dia pecinta cake manis? Mau aku buatkan lagi? Atau mau aku buatkan cake lainnya?"


"Tidak usah, besok dia minta dibawakan boba milktea."


"Hmm.. sayang besok aku harus bekerja, lain kali bawa aku bertemu dengannya. Aku akan buatkan cake lagi untuknya." Gyu-Sik tampak bersemangat.


"Lain kali?" Yumi mengulang kata yang tidak penting untuk diulang.

__ADS_1


"Hmm.. karena besok hari jumat, kedai pasti akan ramai, jadi aku tidak bisa libur." Jelas Gyu-Sik yang tidak tahu arti dibalik pengulangan kata yang Yumi lakukan.


Yumi tersenyum palsu.


"Oiya.. Jang sajangnim memberiku gaji dua kali lipat tadi. Keren kan?" Gyu-Sik memamerkan uangnya 


"Seharusnya kau minta tiga kali lipat, sore tadi saat lewat kedai, pengunjung sangat ramai. Jang sajangnim pasti mendapat untung berlipat-lipat, hahhh.. dasar bos pelit." 


"Tidak apa, mendapat gaji segini saja sudah membuatku merasa senang." Senyum tulus terpampang di wajah Gyu-Sik.


"Emm.. ada sesuatu yang ingin aku tanyakan." Yumi sedikit ragu menanyakan hal ini pada Gyu-Sik tapi dia penasaran.


"Apa?" Jawab Gyu-Sik santai.


"Bagaimana jika bola jiwa di dalam tubuhku tidak bisa keluar?"


Suasana berubah seratus delapan puluh derajat. Ekspresi wajah Yumi dan Gyu-Sik berubah menjadi serius.


"Yang pasti kau akan terus melihat sisa umur manusia seperti saat kau melihat kakek Dong-Il."


"Bagaimana denganmu? Ada konsekuensinya atau tidak?" Yumi berhenti memakan ramyeonnya.


"Emm.. tidak." Gyu-Sik tidak ingin Yumi tahu konsekuensi yang akan dia terima jika bola jiwa miliknya tidak keluar dari tubuh Yumi.


"Benarkah? Kalau begitu kau jadi manusia saja, tidak usah kembali jadi malaikat maut. Sepertinya kau sudah terbiasa menjadi manusia, bagus kan?Bagaimana?" Kata Yumi dengan nama bercanda.


"Berarti aku harus hidup sebagai suamimu dong?"


Uhuk.. uhukkk..


Yumi tersedak.


"Haishh.. kamu ini, pelan-pelan kalau makan, dasar wanita rakus." 


Beberapa saat mereka tidak saling bicara.


"Emm.. tidak, kenapa?"


"Syukurlah, tidak apa, aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja."


"Hmm.. aku baik-baik saja." Yumi menjawab dengan kebohongan.


"Kau tidak bertemu dengan orang bertato merah di dahinya?" Tanya Gyu-Sik ingin tahu.


"Hmm.. tidak.


Hahh.. kenyang, aku mau mandi dulu, aku harus bekerja setelah ini." Yumi buru-buru menaruh mangkuk kotor ke tempat cuci piring lalu masuk ke kamar mandi.


"Hufhh.. kenapa dia tiba-tiba bertanya seperti itu sih. Jangan-jangan dia bisa membaca pikiranku? Hahhh.." Yumi teringat kejadian di rumah sakit saat seorang malaikat maut bisa tahu apa yang dia bicarakan di hati.


Yumi keluar kamar mandi.


"Yak! Han Gyu-Sik.. kau bisa membaca pikiran ya? Kau pasti tahu kan jika aku sedang bicara dalam hati?! Hayooo.. mengaku!" Tiba-tiba Yumi marah-marah pada Gyu-Sik.


"Sebelum bola jiwa itu keluar dari tubuhku aku memang bisa, tapi sekarang kemampuan itu hilang. Kenapa memang? Kau sering membatin tentang aku ya? Hayo.. mengaku saja." Gyu-Sik berjalan mendekati Yumi.


Yumi juga melakukan hal yang sama, dia berjalan mendekat ke Gyu-Sik.


"Kau bohong ya? Kau pasti bisa membaca pikiran orang kan??" Yumi melotot ke Gyu-Sik.


"Hahh.. yasudah kalau kau tidak percaya, terserah kau saja. Sudah sana mandi, aku mau cuci piring lalu tidur." Gyu-Sik kembali ke dapur.


'Mencurigakan.' Batin Yumi.


"Mandi sana!" 


Yumi berjalan ke kamar mandi.

__ADS_1


...----------------...


Hari baru dimulai.


Gyu-Sik sudah berangkat kerja setelah membuatkan Yumi makan pagi.


Sedangkan Yumi masih tertidur pulas di kamarnya.


Biip.. biip.. biip.. biip.. biip.. biip.. biip..


Suara alarm dari ponsel Yumi.


"Hahhh.. Kenapa sudah pagi sih." Yumi menonaktifkan alarmnya.


"Kenapa masih mengantuk sih, hmm.." Yumi berjalan gontai menuju kamar mandi, namun terhenti saat melihat meja makan yang sudah terhidang menu sarapan.


Yumi melihat ada sebuah kertas terselip di mangkok nasinya.


'Aku berangkat dulu, kalau mau pergi hati-hati, jangan lupa bawa payung.'


"Manis sekali." Yumi tersenyum setelah membaca surat yang Gyu-Sik tulis untuk Yumi.


...----------------...


Selesai mandi dan makan pagi Yumi bergegas menuju panti jompo untuk menemui nenek Jyeong, dia juga tidak lupa membawa boba milktea.


Tok.. Tok..


Yumi mengetuk pintu kamar nenek Jyeong, dia lalu mengintip di dalam, tidak ada siapapun.


Yumi pergi ke meja perawat.


"Maaf.. Dimana nenek Jyeong?" Tanya Yumi pada seorang perawat.


"Ehmm.. Apa anda Lee Yumi chakanim?" Kepala perawat datang menghampiri Yumi. *Chakanim : Penulis / seniman.


"Iya." Jawab Yumi.


"Nenek Jyeong di rawat di rumah sakit, gula darahnya sangat tinggi, dia pingsan dan sekarang koma." Jelas kepala perawat dengan nada ketus.


Yumi hanya diam.


"Dari ekspresi anda tampaknya tidak kaget. Apa karena anda yang menyebabkan hal itu terjadi makanya anda tidak kaget mendengar kabar tentang nenek Jyeong?" Sindir kepala perawat.


"Maaf.. Dimana nenek Jyeong dirawat? Saya harus menemuinya." Kata Yumi.


"Untuk apa? Untuk memberi milktea itu?" Kepala perawat terlihat sangat marah.


Yumi hanya diam.


Kepala perawat pergi meninggalkan Yumi.


"Permisi." Seorang perawat mencolek lengan Yumi dari arah belakang.


Yumi menoleh.


"Semalam nenek Jyeong memberikan surat ini padaku, dia memintaku nemberikan kepada Lee Yumi chakanim."


Yumi menerima sebuah amplop dari sang perawat.


"Lebih baik anda pergi dari sini, sebelum kepala perawat marah lagi. Nama rumah sakit, dan ruangan tempat nenek Jyeing dirawat aku tuliskan di belakang amplop, permisi." Perawat pergi.


"Surat dari nenek Jyeong?" Yumi masih bimbang untuk mengetahui apa isinya.


"Aku harus cari tempat dulu." Yumi meninggalkan panti jompo menuju ke sebuah cafe.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2