Marrying The Grim Reaper

Marrying The Grim Reaper
Bab 27 : Pilihan yang sulit.


__ADS_3

Gyu-Sik terbangun dari tidur, badannya terasa pegal karena tidur di lantai. Gyu-Sik berdiri untuk melihat Yumi yang masih tertidur nyenyak di tempat tidurnya.


Semalaman Gyu-Sik menemani Yumi karena khawatir. Penglihatan Yumi masih belum kembali, Yumi sempat sedih karena merasa dunianya telah hilang, semua gelap, namun Gyu-Sik berhasil membuat Yumi tenang hingga tertidur.


Gyu-Sik mengendap-endap keluar kamar Yumi, Gyu-Sik bersiap untuk memasak makan pagi.


"Belum lama tapi aku sudah merindukan dapur ini, hehe.." Gyu-Sik senyum-senyum sendiri, jatuh cinta memang membuat siapa saja merasa bahagia.


Gyu-Sik membuatkan pasta untuk Yumi.


“Hmmm.. baunya enak sekali.”


Suara Yumi membuat Gyu-Sik berhenti memasak, dia mematikan kompor lalu berlari ke Yumi.


“Yaak! Aku bilang panggil aku saat kau bangun.” Gyu-Sik membantu Yumi untuk berjalan menuju kursi makan.


“Aku rasa tidak begitu sulit berjalan tanpa melihat di rumahku sendiri.” 


“Tapi tetap saja kau bisa tersandung, kau bisa jatuh.” 


“Uwww.. aku suka Han Gyu-Sik yang seperti ini, aku sungguh ingin melihat wajahmu sekarang.”


“Memang aku kenapa?”


“Hmmm.. jadi kamu masak apa? Aku lapar.” Yumi tidak menjawab, dia mengalihkan pembicaraan.


“Tunggu sebentar ya, sudah matang kok. Aku memasak pasta.” Gyu-Sik menyiapkan makanan untuk Yumi dan dirinya.


“Taraaa.. pasta khusus untuk Lee Yumi.” Gyu-Sik meletakan sepiring pasta di depan Yumi.


“Gilaaa… baunya enak sekali. Aaaa..” Yumi membuka mulutnya meminta Gyu-Sik menyuapinya.


Gyu-Sik menuruti, dia menyuapi Yumi.


“Hmmmm.. Enak sekali, aaa.. akhirnya aku makan masakan Han Gyu-Sik lagi, menyenangkan.” Yumi tersenyum.


Gyu-Sik memandang wajah Yumi, dia merasa tenang Yumi tidak lagi sedih, dalam hati Gyu-Sik berdoa.


‘Dewa.. segeralah buat Yumi bisa kembali melihat.’


Hari itu Yumi dan Gyu-Sik selalu bersama, Gyu-Sik mencurahkan perhatian penuh ke Yumi.


...----------------...


Nirwana, di rumah Gyu-Sik.


Bae Kyung baru saja selesai menjalankan tugasnya, dia masuk ke rumah lalu mengetuk kamar Ma-Ri.


Tok.. tok.. toooook..


“Ma-Ri aku ingin bicara, keluar kau.”


Kreeek..


“Pintu kamarku bisa rusak kalau kau mengetuknya seperti itu? Ada apa?”

__ADS_1


Bae Kyung masuk ke kamar Ma-Ri. “Aku dengar kau tahu caranya agar Gyu-Sik bisa kembali tanpa menghamili wanita itu, benar?”


“Hmm.. iya, aku menemui dewa cinta dan bertanya langsung. Dia akan mendatangi Gyu-Sik malam ini.”


“Emm.. bagus juga kalau ada cara lain karena menurutku Gyu-Sik sudah jatuh cinta dengan wanita itu, dia tidak tega membuatnya hamil lalu harus mengurus bayinya sendiri kelak.” Gyu-Sik duduk ditempat tidur Ma-Ri.


“Tahu apa kau soal cinta? Jangan sok tahu! Gyu-Sik tidak mencintai wanita itu, itu hanya perasaan semu yang disalah artikan.”


“Kenapa kau berpikir begitu?”


“Emmm.. ya pokoknya begitu, sudah sana kau keluar!” Ma-Ri mendorong Bae Kyung agar menyingkir dari tempat tidurnya.


“Ma-Ri, jujur padaku.”


“Apa lagi?”


“Kau menyukai Gyu-Sik kan? Makanya kau sampai menemui dewa cinta untuk Gyu-Sik.”


“Jangan asal ngomong kau!!” 


BRAK!!!


Ma-Ri membanting pintu tepat di depan wajah Bae Kyung.


“Hiiih.. malaikat maut wanita satu ini sangat tidak sopan.” Bae Kyung lalu pergi ke kamarnya.


...----------------...


Tengah malam di bumi, tepatnya di rumah Yumi.


WUUUUUSHHHH…


Tiba-tiba angin berhembus kencang, asap putih tebal memenuhi teras rumah Yumi. Asap mulai hilang muncul sosok lelaki dengan tinggi seratus delapan puluh lima sentimeter dengan paras tampan, matanya biru, rambutnya panjang sebahu dan keriting.


“Hai Han Gyu-Sik.” Sapanya pada Gyu-Sik.


Gyu-Sik menyipitkan matanya karena asap masih belum hilang.


“Dewa cinta??” Tanya Gyu-Sik.


“Hmm.. bagaimana? Kau sudah puas kan sekarang akhirnya bisa bertemu langsung denganku?” Dewa cinta berjalan mendekati Gyu-Sik, langkahnya tegas.


Setelah dua ratus tujuh puluh tahun ingin bertemu akhirnya Gyu-Sik bisa menemui dewa yang menghukumnya menjadi malaikat maut.


“Senang bertemu denganmu dewa.”


“Hahahaha.. basa-basi macam apa ini?” Dewa cinta tertawa.


“Aku selalu ingin melihat wujud dewa yang menghukumku.”


“Aku tidak mau bertele-tele. Kau jatuh cinta pada Yumi?” 


JLEP! Intro yang langsung mengena.


“Kau pasti sudah tahu jawabannya, kau kan dewa.” Jawab Gyu-Sik santai.

__ADS_1


“Iya aku tahu, makanya aku mau memberimu sebuah penawaran.”


Gyu-Sik menatap wajah dewa cinta dengan tatapan sinis.


“Kau tidak ingin membuatnya hamil kan? Aku punya cara agar bola jiwa keluar tanpa melahirkan bayi.” 


“Bulu angsa atau apalah itu?” 


“Bukan, aku hanya asal bicara pada Ma-Ri karena aku risih hampir setiap hari dia mendatangi kediamanku.”


“Lalu bagaimana caranya??” 


“Aku akan mengeluarkannya, mudah sekali bagiku. Tapi kita harus membuat kesepakatan dulu.”


Perasaan Gyu-Sik tidak enak, kesepakatan dengan dewa bukan hal yang baik.


“Emmm.. apa yang kau mau dariku?”


“Pertama Yumi tidak akan mengingat apapun tentang malaikat maut, termasuk tentangmu setelah bola jiwa itu keluar dari tubuhnya. Kedua aku akan menghapus jodoh Yumi, di tidak akan berjodoh dengan siapapun sampai akhir hayatnya.”


“Yang benar saja?? Kenapa malah Yumi yang menanggung akibatnya??” Gyu-Sik tidak setuju dengan ide dewa cinta.


“Tenang saja, ada pilihan keduanya.”


“Apa itu?”


“Setelah bola jiwa itu keluar kau akan lenyap tanpa jejak, dan tidak akan bisa bereinkarnasi, kau akan dimasukan ke neraka. Hmmm.. bagaimana? Mana yang akan kau pilih? Membiarkan Yumi yang menanggung atau kau yang akan menanggungnya? Atau mau menghamili Yumi saja?”


Gyu-Sik menghela nafas kasar.


“Kalau aku memilih untuk lenyap apa kau akan memberi waktu dulu untukku bersama Yumi sampai hari ke seribu?” Tanya Gyu-Sik.


“Emm.. kau bisa juga memilih begitu, karena memang otomatis kau akan lenyap jika gagal mengeluarkan bola jiwa di hari keseribu.”


“Hmmm.. baiklah, itu pilihanku.”


“Tapi….. Dong-Bong dan Ma-Ri tidak akan membiarkan begitu saja, mereka pasti akan mati-matian menggagalkannya.”


“Aku tahu itu, aku siap menghadapinya.”


“Hahh… tidak asik, kau dengan mudah membuat keputusan, ya sudah aku pergi dulu.”


KLAP


Dewa cinta mengayunkan jubahnya lalu menghilang dari hadapan Gyu-Sik.


“Hahhhh… ini membuatku gila.” Gyu-Sik duduk di bangku sambil memandang langit.


Gyu-Sik merasa pilihan yang diberi dewa cinta tidak ada yang menguntungkannya dan Yumi, semua menunjukan akhir yang tidak bahagia.


Namun sebenarnya Gyu-Sik sudah tahu bahwa dirinya dan Yumi memang tidak akan berakhir bahagia.


Jadi Gyu-Sik memilih untuk menikmati hari-hari bersama Yumi, membuat kenangan yang indah bersama.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2