
Yumi ditemani Gyu-Sik menghadiri upacara pemakaman nenek Jyeong. Mereka datang ke rumah duka.
Yumi dan Gyu-Sik sampai di rumah duka, mereka tidak lupa memberikan uang belasungkawa lalu masuk ke ruangan utama penyemayaman nenek Jyeong.
Dua orang laki-laki berdiri di dekat altar yang dipenuhi hiasan bunga dan terdapat foto nenek Jyeong di tengahnya.
Yumi dan Gyu-Sik memberi penghormatan terakhir untuk nenek Jyeong, Yumi meletakan sebuah bunga di dekat dupa yang dinyalakan di depan altar.
Yumi memberi hormat kepada kepala pelayat, yaitu anak tertua dari nenek Jyeong.
“Annyeonghaseyo, saya Lee Yumi.” Yumi menyapa terlebih dahulu.
“Lee Yumi?? Lee Yumi chakanim??” Lelaki berusia lima puluh tahunan itu nampak terkejut.
“Jadi kau yang membunuh ibu kami?” Anak kedua nenek Jyeong tiba-tiba menghampiri Yumi dan mengeluarkan suara dengan nada tinggi.
“Apa katamu? Jaga baik-baik omonganmu! Tidak sepantasnya seorang berpendidikan sepertimu berkata hal mengerikan seperti itu!!” Gyu-Sik berdiri di depan Yumi untuk melindungi Yumi.
“Kami sudah mendengar semua dari perawat di panti jompo, anda sengaja memberikan kue-kue manis kepada ibu kami padahal anda tahu penyakit ibu kami. Kenapa anda melakukan itu?” Kata anak tertua nenek Jyeong, meski terlihat tenang namun nada suaranya terdengar mengintimidasi.
“Saya minta maaf sebelumnya.” Yumi menundukan badannya.
“KAU KIRA DENGAN MINTA MAAF DAPAT MEMBUAT IBU KAMI HIDUP KEMBALI?!” Anak kedua nenek Jyeong semakin emosi, dia sampai melonggarkan dasinya karena meraaa gerah.
“Lee Yumi siapa yang sebenarnya menyuruh mu melakukan itu? Apa ada pesaing bisnis kami yang menginginkan ibu kami meninggal?” Anak perempuan satu-satunya, anak bungsu nenek Jyeong masuk ke ruangan setelah mendengar keributan.
“Nenek Jyeong ingin sekali makan bersama anak, menantu dan cucunya, namun beliau tidak pernah meminta hal tersebut karen anak-anaknya sibuk memikirkan bagaiman caranya memperkaya diri.
Nenek Jyeong merasa bangga karena sudah mencontohkan bagaimana harus bekerja keras hingga anak-anak mereka bisa mandiri secara financial.
Tapi sebagai seorang ibu, nenek Jyeong merasa kesepian dihari-hari akhirnya. Nenek Jyeong tidak marah ataupun kecewa atas pilihan dari anak-anaknya yang memintanya untuk tinggal di panti jompo karena TIDAK MAMPU merawatnya.
Tidak mengusik, tidak meminta hal-hal yang sebenarnya dia inginkan adalah cara nenek Jyeong menyayangi anak-anaknya.” Yumi menguatkan hati untuk menceritaka apa yang ia dengar dari nenek Jyeong.
“Yak!! KENAPA KAU BERPIDATO DISINI?!” Anak perempuan nenek Jyeong mulai emosi.
__ADS_1
“Kau adalah orang yang terakhir bertemu ibu kami, apa ada sesuatu yang dia sampai kan atau titipkan padamu?” Anak pertama nenek Jyeong mencoba menelisik lebih dalam.
“KATAKAN! Ibu kami pasti membicarakan hal lain selain omong kosong yang baru saja kau sampaikan!!” Anak kedua nenek Jyeong semakin emosi kepada Yumi.
“Nenek Jyeong menitipkan surat-surat berharga kepemilikan asetnya padaku. Dan juga surat terakhir untuk ketiga anaknya.” Anak kedua dan ketiga nenek Jyeong langsung mengambil tas yang Yumi serahkan. Sedangkan anak pertama nenek Jyeong menerima empat pucuk surat tulisan tangan nenek Jyeong.
“Kau yakin sudah menyerahkan semuanya?” Sindir si anak perempuan nenek Jyeong.
Yumi hanya tersenyum kecut.
“Huhuhuhu… ibu, ma..af, huhuhu..” Anak pertama nenek Jyeong menangis setelah membaca surat untuknya.
Sedangkan kedua adiknya sibuk memeriksa surat-surat berharga milik nenek Jyeong.
“YAAAK!! Kalian berdua sudah gila ya?! DI DEPAN MENDIANG IBU dan para pelayat kalian meributkan pembagian harta?!! Kalian bahkan tidak tertarik sama sekali dengan surat yang ibu tulis terakhir kali untuk kalian!!” Anak pertama nenek Jyeong memarahi kedua adiknya yang tidak tahu diri.
“Kalau begitu saya pamit, sekali lagi saya turut berdukacita, selamat siang.” Yumi dan Gyu-Sik pergi dari ruangan itu. Di luar ruangan pelayat yang sedang minum-minuman beralkohol dan menikmati makanan pelayatan bergunjing.
“Lee Yumi setidaknya kau ambil bagianmu, uang tunai dari nenek Jyeong bisa kau pakai berlibur ke luar negeri.” Kata Gyu-Sik sambil meleps jas hitamnya.
“Hmm.. kau benar, kau jauuuuuuh lebih kaya dari pada mereka.” Gyu-Sik meletakan tangannya di dada, seolah memberi tanda bahwa Yumi memiliki kekayaan hati yang baik.
Yumi tersenyum.
“Lee Yumi chakanim tunggu sebentar.”
Yumi dan Gyu-Sik menoleh saat mendengar suara anak pertama nenek Jyeong berlari kearah mereka.
“Gomawoyo, anda sudah membrikan kebahagiaan di akhir hidup ibu kami. Dan saya meminta maaf atas nama adik-adik saya.” Anak pertama nenek Jyeong membungkukan badan.
Yumi dan Gyu-Sik saling tatap, mereka tidak menyangka anak pertama nenek Jyeong akan melakukan hal ini.
“Saya sudah membaca surat yang ibu kami berikan untukmu. Terimalah, uang ini bukan hak kami.” Anak pertama nenek Jyeong memberikan amplop berisi uang tunai yang memang nenek Jyeong wariskan untuk Yumi.
“Tidak, saya bukan siapa-siapa.” Yumi menolak pemberian itu.
__ADS_1
“Terimalah, sekali lagi saya berterimakasih dan maaf.” Anak pertaa nenek Jyeong kembali masuk ke aula pelayatan.
Yumi memandang amplop coklat yang berada di tangannya.
“Terima saja, uang itu memang hak mu.” Gyu-Sik mencoba meyakinkan Yumi.
Yumi kembali meneteskan air mata.
“Hiks.. Han Gyu-Sik..”
“Hmmm..”
“Kau dapat libur tiga hari kan dari Jang sajangnim?"
"Iya, aku bilang kerabat dekatmu meninggal dunia. Lalu dia memberiku tiga hari libur untuk menghiburmu."
"Kalau begitu ayo kita pakai uang ini untuk memperbaiki moodku."
"Dengan senang hati, hehe.. mau kemana kita?" Gyu-Sik sudah semangat dan membayangkan liburan.
"Temani aku naik gunung."
"APA?? Kenapa naik gunung sih?? Kita bisa pergi berlibur ke pulau nami atau ke pulau Jeju dengan uang itu." Gyu-Sik tidak setuju dengan ide Yumi.
"Kenapa? Apa fisik seorang malaikat maut lemah?? Tidak kuat naik gunung?" Yumi menyindir Gyu-Sik.
"Enak saja kau! Bukan begitu, tapi kan banyak pilihan liburan yang tidak menguras tenaga dan menyusahkan diri."
"Aku tidak merasa naik gunung menyusahkan diri, aku senang naik gunung."
"Hahh.. yasudahlah terserah kau saja." Gyu-Sik berjalan mendahului Yumi karena kesal.
"Yak! Tunggu aku malaikat mau yang tidak suka naik gunung!" Yumi suka mengejek Gyu-Sik.
Gyu-Sik tidak memperdulikan perkataan Yumi dia terus berjalan.
__ADS_1
To be continued..