
Yumi keluar kamar sambil membawa dua midi dress.
"Mana yang lebih bagus?" Yumi menunjukan midi dress putih polos dengan hiasan renda dan midi dress merah muda dengan motif bunga kepada Gyu-Sik.
"Semua bagus." Jawab Gyu-Sik singkat.
"Hiih.. dasar laki-laki diminta menjawab salah satu tapi malah begitu jawabannya." Yumi kesal, lelaki memang begitu adanya.
"Kenapa harus pusing memilih baju sih, kita kan hanya menikah bohongan."
"Tapi kan kita akan masuk ke kuil."
"Yasudah pakai yang putih saja." Gyu-Sik menjawab sembarangan.
"Hmm.. oke. Kau mau pakai itu?" Yumi menunjuk Gyu-Sik.
Gyu-Sik mengenakan celana kain hitam miliknya, dan kaos berwarna biru muda milik Yumi.
"Iya."
"Hmm.. sepertinya kita harus membeli baju untukmu."
"Terserah kau saja." Gyu-Sik masih asik menonton televisi.
"Oke aku akan siap-siap." Yumi masuk ke kamar.
"Hmm.."
Setelah dua puluh menit berdandan akhirnya Yumi dan Gyu-Sik keluar dari rumah. Mereka mampir ke sebuah toko pakaian pria.
Yumi memilihkan beberapa baju untuk Gyu-Sik.
"Kau mau beli sebanyak itu??" Tanya Gyu-Sik.
Yumi mengangguk, "Tidak banyak, hanya tiga kemeja, tiga kaos, satu celana jeans, satu celana kain, tiga celana training, dan beberapa pakaian dalam."
"Kau punya uang?"
"Waaaah.. jadi kau pikir aku tidak punya uang? Perlu aku lihatkan saldo rekening bank milikku?"
"Tidak usah, kalau begitu ayo cepat keburu sore."
Yumi membayar di kasir, sedangkan Gyu-Sik berganti pakaian.
Setelah selesai mereka pergi menuju kuil gunung putih.
"Kenapa ramai sekali sih?" Seumur hidup Yumu baru dua kali masuk ke kuil.
"Tidak juga, memang biasanya begini kan?"
"Mana aku tahu, aku bukan penganut sebuah agama. Aku tidak berdoa di kuil, gereja atau tempat ibadah lain." Jawab Yumi.
"Oh.. begitu ya."
Gyu-Sik mengedarkan pandangannya.
"Han Gyu-Sik." Terdengar seseorang meneriaki nama Gyu-Sik.
"Itu dia, ayo kesana." Ajak Gyu-Sik.
Gyu-Sik memberi hormat ke dewa asmara yang menyamar sebagai kepala biksu di kuil ini.
"Lihatlah kalian, benar-benar takdir yang rumit." Kata dewa asmara.
"Takdir yang rumit?" Gyu-Sik mengulang pernyataan dewa asmara.
__ADS_1
"Tidak, tidak, tidak usah kamu pikirkan. Jadi kalian datang untuk menikah kan? Agar kalian dapat cincin rubi merah ini?" Dewa asmara menyodorkan sebuah kotak cincin yang berisi dua buah cincin yang terbuat dari batu rubi merah.
"Waaah.. indah sekali." Yumi menyukai cincin itu, modelnya yang unik benar-benar terlihat cantik.
"Kalau begitu ucapkan janji kalian." Kata dewa asmara.
"Janji??" Yumi dan Gyu-Sik bersamaan.
"Iya.. buat satu janji yang bisa kalian tepati. Jangan buat janji yang muluk-muluk, karena jika kalian melanggar janji itu, cincin rubi merah akan hancur dengan sendirinya." Jelas dewa asmara.
"Janji apa yang harus kita buat?" Tanya Yumi pada Gyu-Sik.
"Aku juga bingung harus membuat janji apa."
"Bagaimana kalau kau janji akan membuatkan aku masakan setiap hari?" Tanya Yumi.
"Wahhh.. itu namanya curang, aku yang susah." Gyu-Sik tidak terima.
"Lalu apa dong?"
"Bagaimana kalau kalian berjanji akan saling percaya satu sama lain?" Dewa asmara mengusulkan sebuah ide.
"Emm.. boleh juga, tidak sulit sepertinya." Kata Gyu-Sik.
"Kau percaya padaku?" Tanya Yumi.
"Emm.. bisa diusahakan."
"Tapi aku tidak yakin bisa percaya padamu."
"Kalian datang kesini dengan suka rela, itu sudah menandakan bahwa kalian saling percaya. Aku rasa tidak akan sulit jika kalian membuat janji untuk saling percaya."
Yumi dan Gyu-Sik saling menatap.
"Bagaimana? Kau mau?" Tanya Gyu-Sik.
"Baiklah kalau begitu, ucapkan janji kalian."
"Kami berjanji untuk saling percaya." Ucap Yumi dan Gyu-Sik kompak.
"Uww.. bahkan kalian ternyata sangat kompak."
Yumi dan Gyu-Sij saling menatap sesaat lalu mereka sama-sama salah tingkah.
"Ini cincin kalian, pakailah. Semoga cincin ini dapat membantu mu Yumi." Kata dewa asmara.
"Terimakasih." Yumi menerima cincin rubi merah itu, lalu memasangnya di jari manis tangan kanannya. "Cantik sekali."
"Terimakasih dewa."
"Saudara-saudara semua, beri selamat kepada kedua mempelai yang baru saja melangsungkan pernikahan." Tiba-tiba dewa asmara berteriak hingga membuat pengunjung kuil bersorak menyelamati Yumi dan Gyu-Sik.
"Dewa.. kenapa harus berteriak begitu sih?" Gyu-Sik berbisik ke dewa asmara.
"Kalian boleh pulang, aku banyak pekerjaan." Dewa asmara pergi meninggalkan Yumi dan Gyu-Sik.
Yumi sibuk membalas ucapab selamat dari pengunjung kuil.
"Ayo pergi." Gyu-Sik menarik tangan Yumi lalu mengajaknya keluar dari kawasan kuil.
...----------------...
Yumi dan Gyu-Sik menunggu bus di halte.
"Bagaimana kalau kita merayakan pernikahan kita?" Kata Yumi.
__ADS_1
"Merayakan?"
"Iya, kita pergi ke manhwabang, kita baca komik sepuasnya sambil makan disana." Kata Yumi.
*Mahwabang\=comic room/tempat penyewaan komik, seperti cafe, banyak makanan dan minuman dijual di tempat itu.
"Boleh juga."
"Oke."
...----------------...
Setelah puas menghabiskan waktu di manhwabang selama empat jam, Yumi dan Gyu-Sik pulang.
"Gila.. aku benar-benar suka tempat itu." Gyu-Sik masih kagum dengan manhwabang.
"Tentu saja, aku juga suka tempat itu. Aku banyak menghabiskan waktu disana, selain mengasikan, aku juga bisa dapat inspirasi dari komik-komik yang aku baca."
Yumi dan Gyu-Sik baru saja turun dari bus, mereka berjalan menuju rumah.
"Lee Yumi." Teriak seseorang.
Yumi dan Gyu-Sik menengok. Jang Ju-Hwi, wanita lima puluh tahun pemilik toko buah dan sayur, dia terkenal sebagai biang gosip di komplek ini.
Yumi memberi hormat, diikuti oleh Gyu-Sik.
"Chukahae." Ju-Hwi menyodorkan kantong plastik berisi sayur-sayuran mentah.
*Chukahae : Selamat.
"Selamat untuk apa??" Yumi bingung.
"Aku melihat kalian siang tadi di kuil gunung putih. Kalian sungguh pasangan yang cocok, tidak masalah kalau kalian hanya melangsungkan pernikahan yang sangat sederhana. Cinta kalian adalah yang utama dalam pernikahan, bukan resepsi mewah, benarkan?" Ju-Hwi terlihat bersemangat.
"Jadi bibi tahu??" Yumi kaget.
"Tentu saja, aku dan suamiku rutin datang ke kuil itu untuk berdoa." Jelas Ju-Hwi.
Yumi tidak bisa berbuat apa-apa, menyangkal akan terlihat aneh karena Ju-Hwi bilang melihat mereka tadi siang di kuil. Tetapi mengiyakan juga bukan pilihan yang terasa tepat.
"Terimakasih bibi, kami terima sayurannya. Kami agak lelah hari ini, kami ingin segera pulang." Gyu-Sik menerima kantong plastik dari Ju-Hwi.
"Ups.. maaf aku ini memang tidak tahu diri, menahan pengantin baru terlalu lama. Pulanglah, nikmati malam kalian dengan indah." Ju-Hwi melemparkan tatapan nakal.
Yumi menghembuskan nafas kesal.
"Terimkasih bibi, kami pulang." Gyu-Sik menarik Yumi agar cepat pergi dari situasi tidak nyaman ini.
"Sekali lagi selamat atas pernikahan kalian." Ju-Hwi berteriak karena Yumi dan Gyu-Sik sudah berjalan menjauh.
"Dasar wanita gila, tidak sekalian saja dia pakai pengeras suara supaya terdengar jelas satu komplek!" Yumi kesal.
"Mau bagaimana lagi, dia melihat kejadian tadi."
"Ini semua salah dewa itu, kenapa dia tadi harus mengumunkan pernikahan kita."
Yumi dan Gyu-Sik menaiki tangga untuk sampai di rumah Yumi.
Rumah Yumi adalah rumah atap, dia menyewa rumah di lantai atas dengan halaman yang dihiasi tanaman dalam pot, tempat menjemur baju dan bangku lebar untuk menikmati pemandangan malam hari.
"Ayah?" Yumi kaget sang ayah telah menunggunya di halam rumah.
"Kau menikah?" Tanya ayah Yumi.
To be continued ...
__ADS_1
*gambarang rumah Yumi.