Marrying The Grim Reaper

Marrying The Grim Reaper
Bab 21 : Yumi ingin menjadi penulis novel romantis??


__ADS_3

Pukul sembilan pagi waktu Seoul.


Matahari sudah mulai membuat suhu dingin di kota Seoul berubah menjadi hangat. 


“Aaaah.. kenapa sudah pagi sih?” Yumi menggeliatkan tubuhnya hingga selimutnya terjatuh dari tempat tidur.


“Dia pasti sudah berangka kerja kan? Jadi tidak apa-apa kalau aku keluar kamar kan?” Yumi akhirnya keluar dari kamarnya.


Yumi menuju dapur untuk mengambil air mineral.


“Ternyata dia masih perhatian juga.” Yumi melirik ke tudung saji di meja makannya.


Drrrt… drrrt… drrt…


Ponsel Yumi berdering.


“Yeoboseyo.” Sapa Yumi. *Yeoboseyo : Halo (sapaan saat menelepon)


“Ku kira kau masih tidur.” Suara lembut Kang Jae-Bom terdengar dari speaker ponsel Yumi.


“Enak saja, aku tidak semalas itu ya.” Yumi membuka tudung saji, ternyata Gyu-Sik membuatkan sup ayam dengan sayur dan telur dadar.


“Baguslah.”


“Kau sudah di kantor?”


“Hmm.. menjadi pekerja kantoran tidak bisa bebas dirimu.”


“Kalau begitu kau resign saja lalu menjadi penulis seperti ku, gampang kan?”


“Hahaha.. ide bagus.”


Yumi ikut tertawa.


“Aku akan berkunjung ke rumah mu.”


“Hmm?? Untuk apa?”


“Kenapa? Tidak boleh?”


“Emm.. bukan begitu. Aku saja yang datang ke sana.”


“Kenapa? Pasti rumahmu berantakan seperti biasanya kan? Hehehe..” Jae-Bom sudah beberapa kali datang ke rumah Yumi jadi dia tahu bagaimana gambaran umum rumah Yumi.


Yumi mengedarkan pandangannya, dia melihat keadaan rumahnya yang kini selalu rapih karena ada Gyu-Sik yang selalu merapihkannya.


“Tidak, sekarang rumahku selalu rapih.”


“Hmm.. kau belajar bersih-bersih rumah? Kau mau menikah? Hehehe..” Jae-Bom memang sering bercanda pada Yumi.


Yumi memandang cincin ruby merah di jarinya.


“Aku memang sudah menikah.”

__ADS_1


“Hahahaha.. menikah dengan pemeran utama novelmu kan maksudnya?”


“Sudah sana kerja dulu, aku mau makan pagi, sampai bertemu nanti.”


“Hmm.. datanglah kapanpun.”


“Oke.”


Pembicaraan jarak juah mereka berakhhir.


Yumi tidak perduli belum mencuci muka dan gosok gigi, dia langsung saja melahap makanan yang Gyu-Sik buatkan.


“Hmm.. sudah dingin, apa dia pergi pagi-pagi sekali?” Yumi memakan telur dadar yang sudah terasa dingin.


Yumi hanya bisa menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi pada Gyu-Sik, dalam hati dia berdoa agar Gyu-Sik dapat terbuka padanya.


...----------------...


Yumi keluar rumah pukul sebelas siang, dia berjalan menuju stasiun kereta bawah tanah.


Yumi melewati kedai Jang, dia berhenti sejenak untuk melihat Gyu-Sik dari jauh. Gyu-Sik sedang sibuk menyajikan makanan untuk pelanggan. 


“Lega rasanya setelah melihat Gyu-Sik tersenyum.” Tak sadar Yumi juga ikut senyum-senyum. 


Puas memandang Gyu-Sik, Yumi meneruskan perjalanannya.


Setelah berjalan sekitar tiga kilometer Yumi sampai di stasiun bawah tanah, tak perlu menunggu lama kereta yang Yumi tunggu tiba.


Yumi masuk kedalam kereta, penumpang tidak begitu ramai, dia dapat tempat duduk. Yumi melihat sekeliling, seperti biasa penumpang tidak saling menyapa, semua sibuk dengan ponselnya, acuh satu sama lain.


Sepuluh menit kemudian sampailah di stasiun tujuan Yumi, dia harus berjalan lagi menuju halte bus untuk sekali lagi menaiki kendaraan umum untuk sampai di gedung X-Vel.


Yumi melewati tempat pertama kali dia bertemu dengan Gyu-Sik, 


‘Hahhh.. sial aku tidak bisa berhenti memikirkannya.’ Yumi mengumpat dalam hati.


Yumi mempercepat langkah kakinya hingga sampai di gedung X-Vel.


“Yumi eonni?” 


Yumi menoleh,


‘D*mn! Kenapa bertemu dia sih? Hiiiih..’ Lagi-lagi Yumi mengumpat alam hati namun kali ini bukanlah Gyu-Sik yang membuatnya mengumpat.


“Hai Cae-Rin, apa kabar?” Yumi menggunakan jurus poker face, berpura seramah mungkin kepada Cae-Rin.


“Baik, apa kau juga ada jadwal konsultasi dengan editor hari ini?” Tanya Cae-Rin.


“Hmm.. ya bisa dibilang begitu.” Yumi melihat Cae-Rin dari ujung kaki sampai ujung kepala, she so fancy!


Cae-Rin mengenakan crop top one sholder berbahan furry berwarna peach, dipadukan dengan celana jeans high waist. Sepatu hak tinggi yang membuat tinggi Cae-Rin bertambah enam centimeter menjadi seratus tujuh puluh empat centimeter, siluet badan ramping Cae-Rin terlihat jelas, mengagumkan!


TING!

__ADS_1


Pintu lift terbuka, Cae-Rin masuk ke dalam lift mendahului Yumi. “Tidak ikut masuk?” Tanya Cae-Rin.


“Eoh.. ikut.” Yumi blank out sesaat.


Yumi melihat pantulan bayangannya dan Yumi di dinding lift, cara mereka berdandan memang berbeda seratus delapan puluh derajat. Yumi hanya memakai kaos putih polos dan celana jeans standar. Sneakers yang sudah kusam, dan totebag hitam polos. Cae-Rin dan Yumi seperti itik dan angsa yang sedang bersanding.


TING!


Yumi dan Cae-Rin turun di lantai yang sama, lalu menuju ruang editor dan orang yang mau mereka temui juga sama, Kang Jae-Bom.


“Kalian janjian datang bersama?” Tanya Jae-Bom saat melihat Cae-Rin dan Yumi masuk ke ruang editor bersama.


“Tidak, kami bertemu di lobi.” Jawab Cae-Rin.


“Kau duluan saja, aku akan menunggu di perpustakaan.” Yumi mempersilahkan Cae-Rin untuk lebih dulu menyelesaikan urusannya dengan Jae-Bom.


“Kalian sama-sama masuk ruanganku.” Tapi Jae-Bom meminta Cae-Rin dan Yumi mengikutinya masuk ke ruang pribadinya.


Cae-Rin segera membuntut Jae-Bom bak ada magnet yang menariknya, Yumi dengan terpaksa mengikuti mereka.


“Silahkan duduk.” Pinta Jae-Bom.


Cae-Rin dan Yumi duduk di sofa, Jae-Bom duduk di kursi menghadap mereka.


“Bagaimana keadaan kalian?” Jae-Bom membuka percakapan dengan basa-basi.


“Baik oppa, oppa sendiri bagaimana?” Cae-Rin selaku bersikap manis di depan Jae-Bom.


Yumi tidak habis pikir bagaiman bisa seorang wanita bisa terang-terangan memperlihatkan ketertarikannya pada seorang lelaki, kadang Yumi merasa iri pada Cae-Rin karena hal itu.


“Baik, kau Yumi? Apa kabar?” Tanya Jae-Bom.


“Baik.”


“Tapi aku merasa ada sesuatu yang lain dari mu belakangan ini.” Kata Jae-Bom.


“Sesuatu yang lain? Apa maksud mu?”


“Belakangan tulisanmu banyak salah ejaan dan aku sempat kaget saat kau menyisipkan beberapa adegan romantis pada novel horor milik mu.” Jae-Bom langsung beraksi sebagai seorang editor.


“Maaf, aku jadi merepotkanmu soal salah ejaan. Emm.. soal adegan romantis, aku hanya ingin mencobanya saja, dan ternyata tanggapan pembaca sangat baik. Emm.. apa terlalu melenceng dari garis besar ceritaku?” Selama ini Yumi terkenal dengan novel misteri, horor dan petualangan, dia sama sekali tidak tertarik untuk menulis novel romantis.


“Tidak apa, memang pekerjaan seorang editor seperti itu, aku hanya heran saja karena kau adalah salah satu penulis yang selalu sempurna dalam ejaan. Mengenai adegan romantis aku rasa jika hanya sesekali tidak masalah jika memang masih masuk pada alur ceritanya.” 


“Emm.. bagaimana kalau aku mulai menulis novel romantis?” Pertanyaan Yumi cukup membuat Jae-Bom dan Cae-Rin kaget


“Ha?? Kau mau menulis novel romantis??” Jae-Bom.


“ANDWE!! Eonni.. kau ini terkenal sebagai penulis wanita yang berhati dingin, pembaca setiamu sebagian besar pria kan? Masa kamu mau menulis novel romantis?” Cae-Rin dengan jelas menentang karena novel romantis adalah keahliannya. *Andwe : tidak boleh / jangan.


“Emm.. aku rasa Cae-Rin ada benarnya juga, kau adalah penulis top of the top kategori novel pria, kalau tiba-tiba menulis novel romantis tampaknya seperti sedikit melenceng. Tapi kalau kau penasaran dan ingin mencoba aku akan mendukungmu.” Kata Jae-Bom.


“Tapi oppa, penulis novel romantis sudah ada ribuan, kalau menurutku akan lebih baik kalau Yumi eonni tetap pada jalurnya.” Cae-Rin merasa terancam karena kedudukannya sebagai penulis di X-Vel masih di bawah Yumi. Cae-Rin adalah penulis novel online bergendre romantis.

__ADS_1


“Kalau boleh tahu kisah romantis seperti apa yang ingin kau buat?” Tanya Jae-Bom ke Yumi.


To be continued...


__ADS_2