Marrying The Grim Reaper

Marrying The Grim Reaper
Bab 29 : Itaewon 29 oktober 2022


__ADS_3

Sore hari Yumi mendatangi Gyu-Sik di kedai.


“Sajangnim, maaf bolehkan Gyu-Sik pulang sekarang?” Yumi memintakan ijin pada Maru.


“Kau masih sakit?” Tanya Maru.


“Sedikit, saya ingin memeriksakan diri ke rumah sakit ditemani Gyu-Sik.”


“Jangan-jangan kau hamil ya?” Selidik Maru.


“Tidak.. tidak.. saya tidak hamil.” Yumi buru-buru membantahnya.


“Hahaha.. kenapa panik begitu? Wajar saja kalau kau hamil, kau kan punya suami.”


Yumi terdiam tidak menjawab.


“Oiya Yumi, mulai besok Gyu-Sik sudah tidak bekerja disini.


“Apa?? Kenapa sajangnim? Apa dia melakukan kesalahan hingga dipecat??”


“Bukan begitu, sepupuku menawarinya bekerja sebagai penjaga loker di perpustakaan kota.”


“Apa?? Memangnya tidak perlu identitas dan lainnya ya?”


“Katanya tidak perlu ijazah yang penting dia mau bekerja, kalau identitas mungkin perlu untuk keperluan administrasi.”


Glup..


Yumi menelan ludah. ‘Bisa jadi masalah ini.’


“Yumi apa yang kau lakukan disini? Kau mau makan?” Gyu-Sik menghampiri Yumi dan Maru.


“Dia bilang minta kau temani ke rumah sakit.” Maru yang menjawabnya.


“Kau sakit apa??”


“Hmm.. ya aku masih sedikit merasa pusing dan lemas.” Yumi berbohong.


“Kalau begitu temani Yumi sana, ini gajianmu hari ini, Terimakasih Gyu-Sik.”


“Saya yang harusnya berterima kasih sajangnim.”


“Sudah sana pergi.”


Yumi dan Gyu-Sik berpamitan.


“Kau sakit apa sih?” Tanya Gyu-Sik sambil berjalan di depan Yumi, dia berjalan mundur.


“Tidak, aku berbohong. Aku ingin mengajakmu ke Itaewon, malam ini orang-orang merayakan halloween, aku suntuk dirumah.” Kata Yumi.


“Kau baik-baik saja kan? Kenapa sepertinya mukamu terlihat sedih?” Ternyata Gyu-Sik menyadarinya.


“Aku hanya sedang bosan saja di rumah.”

__ADS_1


“Hmm.. baiklah kalau begitu kita bersenang-senang.” Sekarang Gyu-Sik berjalan disebelah Yumi sambil menggandeng tangan Yumi.


Yumi ingin mengajak Gyu-Sik jalan-jalan karena ingin membahas apa yang dia dengar dari Ma-Ri. 


Mereka naik bus untuk sampai di Itaewon. 


Itaewon adalah salah satu daerah di Seoul yang terkenal sebagai tempat bermain anak muda. Banyak juga orang asing yang mengunjungi daerah ini. Terutama saat menjelang halloween, mereka berkumpul di jalanan Itaewon menggunakan kostum-kostum unik dan menikmati suasana malam di sana, tapi……


“Tunggu Gyu-Sik.” Yumi menahan Gyu-Sik.


“Kenapa?”


“Aku melihat beberapa orang dengan tato merah di dahinya bertulis D-Day. Apa kau tidak melihatnya”


Gyu-Sik lalu mengedarkan pandangannya, benar dia juga melihat beberapa orang dengan tato merah di dahinya tertulis D-Day yang artinya orang-orang itu akan meninggal hari ini.


“Ada apa ini? Apa akan ada bencana alam? Kita harus menelepon polisi dan rumah sakit.” Yumi mulai panik karena bukan hanya satu atau dua yang dia lihat tapi lebih dari itu.


“Apa yang mau kau katakan pada mereka? Sudahlah tidak ada gunanya kau juga tahu itu. Lebih baik kita mencari tempat lain saja.” Gyu-Sik menarik tangan Yumi untuk pergi.


Yumi menangkisnya.


“Tapi aku tidak bisa begitu saja membiarkannya, setidaknya kita harus melakukan sesuatu.” 


Jalanan di Itaewon semakin ramai, Yumi dan Gyu-Sik bertabrakan dengan orang beberapa kali.


Gyu-Sik menarik Yumi dalam pelukannya lalu memaksanya untuk keluar dari kerumunan orang yang semakin banyak.


“Kita harus keluar dari sii sebelum kau semakin stress karena melihat banyak orang yang bertato di dahinya.” Gyu-Sik berjalan terus hingga akhirnya berhasil ke tempat yang tidak sesak.


Yumi pasrah, dia hanya terdiam karena masih syok. Gyu-Sik meminta supir taksi membawa mereka pulang.


Sesampainya di rumah Gyu-Sik membuatkan coklat hangat untuk Yumi agar dia lebih tenang.


“Minumlah.” Gyu-Sik meletakan secangkir coklat hangat di meja makan.


Yumi masih terdiam, dia menatap kosong ke cangkir.


“Hahh.. sekarang kau memintaku untuk minum saat aku tahu di luar sana akan ada banyak orang yang meninggal sebentar lagi? Aku ini manusia biasa Han Gyu-Sik, aku masih punya hati, aku punya perasaan.” Yumi mulai menangi.


Gyu-Sik mendekati Yumi lalu memeluknya. “Maafkan aku yang sudah membuatmu begini.”


Malam itu sekitar seratus lima puluhan orang meninggal dalam tragedi Itaewon. Penyebab kematiannya karena henti jantung, karena ribuan orang memadati jalanan yang tidak begitu luas. Dan juga kekurangan tenaga medis dan polisi untuk menertibkan keadaan.


Tragedi ini membawa duka tersendiri bagi seluruh warga kota Seoul.


#Mari kembali kita doakan untuk seluruh korban tragedi halloween di Itaewon 29 Oktober 2022. 


...----------------...


Pagi harinya.


Yumi bangun dari tidurnya, dia keluar kamar ternyata Gyu-Sik sedang menyiapkan makan pagi di meja makan.

__ADS_1


“Tepat sekali, ayo makan.” Ajak Gyu-Sik.


“Hmm.. aku cuci muka dulu.” Yumi cuci muka lalu duduk di kursi makan.


“Kau harus tetap kuat Lee Yumi.” Gyu-Sik menyemangati Yumi.


“Hmm..” Yumi mulai makan, suasana hatinya masih kacau, sejak semalam Yumi tidak memegang ponsel, menyalakan televisi dan lainnya, dia tidak ingin mendengar berita tentang Itaewon.


Gyu-Sik dan Yumi makan dengan tenang hingga habis.


“Han Gyu-Sik ada yang harus kita bicarakan, letakan saja piringnya disitu.” Yumi berjalan menuju sofa.


“Ada apa? Kenapa wajahmua serius sekali?” 


“Sebenarnya semalam aku ingin mengajakmu keluar untuk membahas hal ini tapi, hahh..”


“Ada apa denganmu? Apa aku membuat suatu kesalahan?”


“Kemarin temanmu Ma-Ri datang menemuiku.”


“Ma-Ri??!”


“Hmm.. dia memberitahu tentang hari keseribu.”


DEG!


“Apa benar kau setuju untuk lenyap begitu saja di hari ke seribu?” Yumi memandang Gyu-Sik.


“Hahh.. hmm.. iya.”


“KENAPA?? Kita bisa mengeluarkan bola jiwa dengan melahirkan anak kan? Kalau begitu mari kita lakukan! Kenapa akau bodoh sekali mau menyia-nyiakan semua pengorbananmu selama dua ratus tujuh puluh tahun!!” Yumi akhirnya meluapkan perasaannya.


“Karena aku tidak mau kau menanggung apapun.”


“Kenapa kau bodoh sekali ha? Kalau kita punya anak dan bola jiwa itu keluar kalu hanya akan menyelesaikan tugasmu sebagai malaikat maut sepuluh kali lagi kan? Setelah itu kau bisa jadi manusia, kita bisa bersama lagi kan?!!”


“Tidak bisa seperti itu, saat aku menjadi manusia dewa akan membuatku lupa tentang semua kehidupanku sebelumnya dan mengganti dengan ingatan rekayasa yang mereka buat.”


Dalam beberapa detik mereka hanya diam.


“Tidak masalah, aku bisa menemukanmu dan membuatmu ingat padaku, jadi mari kita lakukan.” Suara Yumi terdengar sangat putus aja, dia menahan air mata.


“Tidak, aku tidak bisa membuatmu mengurus anak kita sendiri, kau yang bilang bahwa tidak ingin memiliki anak kan?”


“Tapi keadaannya berbeda sekarang!! Aku tidak bisa membiarkanmu lenyap begitu saja!!”


“Lee Yumi aku mohon kita tidak perlu membahas mengenai ini jadi…”


“Kau egois, jika kau menghilang bagaimana denganku? Kau tidak memikirkan perasaanku?” Yumi tidak bisa lagi menahan tangisnya.


“Saat aku lenyap semua tentangku juga ikut lenyap, tidak akan ada satupun orang yang akan mengingatku, jadi menurutku ini adalah jalan terbaik. Kita bisa menikmati hari bersama, dan kau tidak akan menanggung apapun setelahnya.”


Yumi tidak dapat berkata-kata lagi, hatinya semakin hancur, tangisnya semakin menjadi.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2