Marrying The Grim Reaper

Marrying The Grim Reaper
Bab 07 : Ayo kita menikah!


__ADS_3

Yumi menyandarkan kepalanya di jendela bus, pandangannya kosong ke arah luar. Gyu-Sik terdiam disebelahnya, dia tidak ingin mengganggu Yumi.


Yumi dan Gyu-Sik baru saja selesai melakukan prosesi kremasi jasad Dong-Il dan peletakan abu di rumah abu.


Teeeeet..


Gyu-Sik menekan tombol tanda mereka akan turun di halte terdekat.


Suara tombol penumpang menyadarkan lamunan Yumi.


Gyu-Sik mengajak Yumi turun dari bus.


Yumi berjalan gontai, Gyu-Sik berjalan disebelahnya. Mereka membisu hingga sampai di rumah.


"Aku akan membuatkan ramyeon, kau mandi saja dulu." Pinta Gyu-Sik.


"Kau saja yang makan, aku tidak berselera." Yumi berjalan menuju kamarnya.


Gyu-Sik menahan tangan Yumi.


"Kau boleh bersedih tapi bukan begini caranya. Kakek Dong-Il pasti akan sedih jika tahu kau seperti ini."


"Han Gyu-Sik.. hal ini.." Yumi mulai menangis.


"..tidak mudah bagiku. Melihat seseorang meninggal dihadapanku.. hiks.. membuat hatiku hancur. Apalagi sebelumnya aku tahu bahwa orang itu akan meninggal tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa."


"Kalau begitu abaikan saja setiap kali kamu melihat sisa umur manusia."


"Aku.. hiks.. juga ingin seperti itu, tapi.. aku rasa hatiku tidak bisa." Yumi menyeka air mata di pipinya.


"Kalau begitu kau mau menyiksa dirimu terus seperti ini?!" Gyu-Sik mulai terbawa emosi.


"Mengabaikannya?? Hal itu mungkin mudah bagimu, tapi tidak bagiku. Aku tidak tahu harus bagaimana? Huhuhu.." Yumi berjongkok, wajahnya dia tenggelamkan di kedua tanngannya.


"Hahh.." Gyu-Sik merasa frustasi, dia bingung bagaimana harus menghadapi keadaan Yumi saat ini.


"Istirahatlah di kamar." Gyu-Sik menuntun Yumi masuk ke dalam kamar.


"Aku akan membuatkanmu ramyeon, tapi kalau kamu ingin tidur, tidur saja." Gyu-Sik pergi dari kamar Yumi.


Gyu-Sik menuju dapur, dia bersiap membuat ramyeon.


"Aaaaarggh.. perutku, Han.. Gyu-Sik tolong.." Yumi berteriak kesakitan.


Gyu-Sik segera melihat Yumi.


"Kenapa?"


Yumi memegang perutnya, dia merasakan perutnya sangat sakit.


"Perutku… arrrrgh.. sa.. kit.. sekali." Keringat dingin mulai keluar dari tubuh Yumi.


Gyu-Sik melihat ada cahaya dari perut Yumi.


'Apa ini reaksi dari bola jiwa?' Batin Gyu-Sik.


"Ayo ke rumah sakit." Gyu-Sik menggendong Yumi di punggungnya.


Gyu-Sik berlari keluar lalu mencari taksi untuk membawa Yumi ke rumah sakit.


"Rumah sakit terdekat pak." Pinta Gyu-Sik ke supir taksi.


Yumi masih kesakitan, Gyu-Sik memeluk tubuh Yumi yang terasa dingin.


Tak butuh waktu lama, mereka sampai di rumah sakit. Para medis langsung membawa Yumi ke ruang gawat darurat.


Gyu-Sik menunggu dengan cemas di luar ruangan.

__ADS_1


"Han Gyu-Sik."


"Timjangnim?"


Dong-Bong mendatangi Gyu-Sik.


"Yumi akan merasakan sakit yang luar biasa setiap kali 'tugasmu' datang." Jelas Dong-Bong.


"Apa??"


"Bola jiwa akan bereaksi hingga membuat perut Yumi terasa sakit luar biasa saat tugasmu untuk mencabut nyawa seseorang datang." Dong-Bong menjelaskan lebih rinci.


"Tapi aku sedang dibebastugaskan, artinya aku tidak menerima tugas untuk mencabut nyawa kan??"


"Tugas tetaplah tugas, walau saat ini tugas itu dialihkan ke malaikat lain tapi beginilah konsekuensi atas kejadian yang menimpamu dan Yumi."


"Lalu Yumi harus merasakan kesakitan seperti ini tiap kali tugasku datang?"


Dong-Bong mengangguk.


"Dokter tidak akan menemukan hal aneh apapun, rasa sakit itu tidak akan bisa dihilangkan secara medis."


"Lalu bagaimana caranya menghilangkan rasa sakit itu?" Raut wajah Gyu-Sik mulai berubah menjadi sangat serius.


"Kau dan Yumi harus menikah di kuil gunung putih, dewa asmara menyamar sebagai kepala biksu disana. Kau dan Yumi harus berjanji di depan dewa asmara, setelah itu dia akan memberikan sepasang cincin rubi merah yang harus selalu kalian pakai. Cincin itulah yang akan meredam kesakitan di perut Yumi."


"Menikah??"


"Kenapa? Kalian juga harus memiliki anak agar bola jiwa keluar. Kau harus cepat-cepat waktumu hanya seribu hari."


"Baiklah aku tahu."


"Wali dari pasien Lee Yumi?" Seorang perawat berteriak ke Gyu-Sik.


"Aku pergi dulu." Dong-Bong berjalan keluar dari rumah sakit lalu menghilang.


Yumi masih tertidur, wajahnya pucat, badannya terasa dingin. Infus dan alat bantu pernafasan terpasang di tubuh Yumi.


"Kami tidak menemukan hal yang buruk, pasien hanya dehidrasi dan kelelahan. Kami akan memantau keadaannya secara berkala." Jelas seorang perawat.


"Terimakasih." Kata Gyu-Sik.


Perawat pergi.


Gyu-Sik duduk di kursi di sebelah ranjang pasien. Perasaan Gyu-Sik campur aduk, dia merasa kasihan sekaligus bersalah pada Yumi. Karena bertemu dengannya Yumi harus mengalami hal-hal yang merugikan.


"Hahhh.." Gyu-Sik menghela nafas. "Maafkan aku Lee Yumi."


...----------------...


Pagi hari.


Yumi terbangun.


"Apa ini?" Yumi merasa risih dengan alat bantu pernafasan.


"Hahh.. rumah sakit lagi." Yumi melepaskan alat bantu pernasafannya.


Yumi menengok ke arah kanan, Gyu-Sik sedang tertidur dalam posisi duduk, wajahnya menempel pada kasur pasien.


Yumi tersenyum.


"Setidaknya ada yang memperdulikanku." Yumi mengelus rambut Gyu-Sik.


Gyu-Sik menggeliat.


"Eoh? Kau sudah sadar? Kau baik-baik saja? Apa perutmu masih terasa sakit?" Gyu-Sik mengkhawatirkan Yumi.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja." Jawab Yumi sambil tersenyum.


"Syukurlah."


"Apa kata dokter tentang penyakitku? Apa aku mengidap kanker ganas? Rasanya sakit sekali." 


"Tidak, rasa sakit yang kamu rasakan bukan karena penyakit dan tidak dapat disembuhkan secara medis."


Yumi mengerutkan dahinya, dia masih belum bisa mencerna kata-kata Gyu-Sik.


"Rasa sakit itu akan muncul setiap kali aku mendapat 'TUGAS'. Rasa sakit itu hanya dapat diredam jika kita memakai cincin rubi merah. Cincin itu akan diberikan pada kita setelah kita menikah di kuil gunung putih dihadapan dewa asmara." 


"Tugas? Cincin rubi merah? MENIKAH? DEWA ASMARA?" Yumi merasa kepalanya pusing setelah mendengar penjelasan dari Gyu-Sik mengenai sakit yang dia rasakan.


"Hanya itu cara satu-satunya, maaf."


Yumi memperhatikan Gyu-Sik, lelaki itu terlihat kalut.


"Permisi.. boleh saya periksa sebentar?" Seorang dokter mendatangi Yumi untuk memastikan kesehatannya.


"Saya rasa semuanya baik, anda hanya perlu istirahat dan minum yang cukup. Siang ini anda diperbolehkan keluar dari rumah sakit." Jelas dokter itu.


"Terimakasih dokter."


"Kalau begitu saya permisi." Dokter pergi dari ruangan perawatan.


"Syukurkah kau sudah boleh pulang."


Yumi menyodorkan sebuah kartu pembayaran, "Minta tolong urus administrasinya, aku akan bersiap-siap. Ayo kita pulang." Ajak Yumi.


"Baiklah." Gyu-Sik pergi ke loket administrasi untuk mengurus kepulangan Yumi.


...----------------...


"Kau yakin tidak mau naik bus saja?" Tanya Gyu-Sik.


Yumi mengangguk.


Yumi dan Gyu-Sik berjalan beriringan.


"Ayo mampir ke mini market dulu, aku ingin makan eskrim." Yumi menunjuk mini market di seberang jalan.


Gyu-Sik menuruti Yumi, mereka menyeberang menuju mini market.


Yumi dan Gyu-Sik membeli eskrim, roti dan beberapa snack.


Mereka menikmati eskrim di kursi di depan mini market.


"Han Gyu-Sik.. gyeolhonhaja uri."


*gyeolhonhaja uri \= ayo kita menikah.


"Uhukkk.. Uhukkkk.. Uhukkkk.." Gyu-Sik tersedak mendengar ajakan menikah dari Yumi.


"Mworago??!" Gyu-Sik tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


*Mworago \= Apa katamu??!


"Ayo kita menikah, dan pakai cincin rubi merah itu. Aku tidak tahan dengan rasa sakitnya. Aku sudah merasa tersiksa dengan tahu sisa umur manusia, aku tidak mau tersiksa dalam hal lain." Ucapan Yumi cukup menggambarkan bagaimana perasaannya, kejadian-kejadian diluar nalar terus berdatangan setelah bertemu Gyu-Sik.


"Hmm.. geurae, ayo kita menikah." Sambut Gyu-Sik.


*Geurae \= baiklah.


Yumi dan Gyu-Sik saling menatap, acara melamar yang seharusnya menjadi momen yang indah tidak berlaku bagi mereka. Karena pernikahan ini hanya sebagai tameng belaka.


To be continued..

__ADS_1


__ADS_2