Marrying The Grim Reaper

Marrying The Grim Reaper
Bab 16 : Wasiat nenek Jyeong.


__ADS_3

Yumi menguatkan diri untuk membuka surat dari nenek Jyeong.


"Huft.. ayo Yumi kamu pasti bisa." Yumi menyemangati dirinya sendiri.


Yumi membuka amplop putih lusuh, di dalamnya terdapat sebuah kertas.


Belum apa-apa Yumi sudah menangis, air matanya jatuh menimpa tulisan tangan nenek Jyeong.


'Dear Lee Yumi..


Aku kira Tuhan tidak sayang padaku, tapi ternyata aku salah.


Tuhan masih berbaik hati padaku, dia mengirimkan seorang malaikat baik hati diujung hidupku.


Lee Yumi berkatmu aku dapat merasakan manisnya dunia yang sudah lama menjadi hambar.


Andai.. kita dapat bertemu seddikit lebih lama, tapi yasudahlah, ini takdirnya.


Jaga kesehatanmu, olahraga dan makan teratur, jangan merusak tubuhmu sendiri sepertiku.


Ambil hikmah dari perjalanan hidupku yang sempat aku ceritakan padamu.


Kau boleh bekerja keras sepertiku dulu, tapi kau juga harus mengimbanginya dengan memenuhi hatimu dengan kebahagiaan.


Kau masih muda, jalanmu masih panjang.


Bersenang-senanglah, carilah cinta sejati selagi kau masih muda, bangunlah keluarga kecil dan sayangi mereka sepenuh hati. 


Saat kau mmebaca surat ini aku yakin sedang dalam keadaan yang sangat buruk, jadi Yumi tolong aku. Kabulkan permintaan terakhirku.


Ambil surat wasiat pembagina semua asetku di loker sebuah sauna. Aku membeli loker itu untuk menyimpan surat-surat berharga mengenai semua hartaku.


Maaf aku tidak bisa membagi hartaku untukmu Yumi, tapi aku punya hadiah kecil untukmu.


Diloker ada tas kecil berisi beberapa uang, ambilah, kau layak mendapatkannya. 


Berjanjilah padaku kau harus bersenang-senang dengan uang itu.


Sekali lagi terimakasih Lee Yumi.'


Yumi menangis tersedu-sedu setelah selesai membaca surat dari nenek Jyeong.  


...----------------...


Teeeeet…


Yumi menekan tombol di dalam bus, lalu dia turun di halte terdekat.


Yumi berjalan sambil memeluk tas milik nenek Jyeong yang dia ambil di loket sebuah sauna. Pikiran Yumi kosong, lagi-lagi dia harus menghadapi kepergian seseorang, berat baginya.


Yumi berhenti di depan kedai tempat Gyu-Sik bekerja.


Suasana kedai tidak begitu ramai, hanya ada empat meja yang terisi, papan ‘TUTUP’ sudah dipajang di pintu kedai, tanda mereka tidak menerima pelanggan lagi untuk hari ini.


Yumi hanya memandang Gyu-Sik dari pintu kaca, Gyu-Sik tampak sibuk membersihkan meja dan kursi.


“Kenapa diam saja diluar? Ayo masuk.” Tiba-tiba Maru menghampiri Yumi.

__ADS_1


“Ahh.. tidak sajangnim, terimakasih. Aku tunggu disini saja.” Yumi merasa tidak enak.


“Eoh? Kau menjemputku?” Gyu-Sik muncul.


“Aku baru pulang.”


“Emm.. tapi aku masih agak lama, jadi masuk dulu saja jika ingin menungguku.” Gyu-Sik meminta Yumi untuk masuk ke kedai.


Yumi melirik Maru.


“Sudah ayo masuk.” Maru akhirnya berhasil mengajak Yumi masuk ke kedai.


“Mau ku buatkan minum? Teh hangat? Cokelat hangat? Susu?” Tanya Maru.


“Tidak perlu sajangnim silahkan melanjutkan pekerjaan anda. Anggap saja saya tidak ada disini.” Yumi masih merasa aneh berada dilingkungannya semenjak semua tahu bahwa dia dan Gyu-Sik sudah menikah.


“Eits.. bagaimana bisa aku menganggap istri dari karyawanku tidak ada? Hehe..”


Yumi menggaruk kepalanya walau tidak gatal.


‘Istri?’ 


“Aku benar-benar tidak apa-apa sajangnim, boleh menunggu di dalam saja sudah senang.”


“Yasudah kalau begitu, tinggal sebentar lagi.” Maru berjalan menuju Gyu-Sik yang berada di dapur.


‘Hahh.. rasanya masih aneh jika bertemu dengan tetangga setelah mereka tahu aku sudah menikah dengan Gyu-Sik’ Batin Yumi.


“Hmmm? Kenapa kau menggigit bibirmu?” Tanya Gyu-Sik yang tiba-tiba mendekat ke Yumi.


“Sudah sana kau kerja dulu.” Yumi mendorong Gyu-Sik pelan memintanya untuk menyelesaikan pekerjaannya.


“Haduh.. gara-gara aku ya. Yasudah kalau begitu, aku pulang saja, kau lanjtkna pekerjaanmu.”


Gyu-Sik merangkul bahu Yumi.


“Aku juga mau pulang.” Gyu-Sik berbisik di dekat telinga Yumi.


“Jang sajangnim kami pulang dulu, terimakasih.” Gyu-Sik memberi hormat dari jauh, lalu menatih Yumi keluar dari kedai.


“Emm.. maaf.” Gyu-Sik melepaskan tangannya dari bahu Yumi.


Yumi sedikit salah tingkah, dia tidak merespon apapun.


“Kau baik-baik saja? Wajahmu tampak sedih.” Gyu-Sik menatap Yumi.


“Sul hanjan hajja.” Tanya Yumi tiba-tiba. *Sul hanjan hajja : Ayo minum (alkohol) denganku.


“Gabjagi?” *Gabjagi : Tiba-tiba? (kata yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang mendadak.)


“Kenapa? Tidak mau?” 


“Tidak juga, ayo. Aku dengar anak jaman sekarang suka minum di taman sambil makan snack atau ayam goreng, mau mencoba?”


“Hmm.. johayo.” Jawab Yumi datar. *Johayo : Suka (dalam konteks percakapan ini artinya setuju.)


Mereka berjalan tanpa saling bicara, namun sebenarnya Gyu-Sik ingin sekali menanyakan banyak hal ke Yumi, tapi melihat raut wajah Yumi yang terlihat sedih membuat Gyu-Sik mengurungkan niatnya itu.

__ADS_1


“Tunggu sebentar, aku akan membeli soju, bir dan beberapa snack.”


“Hmm..”


“Mau ramyeon?”


Yumi hanya menjawab dengan bergeleng.


“Oke, aku beli dulu.” Gyu-Sik masuk ke minimarket sedangkan Yumi menunggu di depan minimarket sambil terus memeluk tas milik nenek Jyeong.


Setelah membeli amunisi untuk minum mereka pergi ke taman.


“Hahh.. pemandangan langitnya sungguh indah.” Gyu-Sik duduk di kursi lalu diikuti oleh Yumi.


Yumi segera mengambil botol soju, lalu membukanya.


GLEK…


“Yak! Memangnya itu air mineral? Pelan-pelan, itu soju, alkohol!” Gyu-Sik menarik botol soju dari tangan Yumi.


Yumi merebut kembali botol sojunya lalu meneguk sedikit.


“Hahh.. alkohol memang yang terbaik.” Yumi membuang nafas lega.


“Kenapa sejak tadi kau terus memeluk tas itu, seperti memeluk seorang bayi saja.” Gyu-Sik sejak tadi gatal ingin menanyakan hal ini.


“Tas ini berisi empat ratus triliun won lebih.” Yumi dengan nada santai mengatakan hal yang terdengar seperti lelucon tapi sebenarnya itu adalah fakta.


“Hahahaha.. kau sedang berhayal untuk novel mu?” 


“Lihat saja sendiri.” Yumi menyodorkan tas yang sejak tadi dia dekap.


Gyu-Sik membuka tas berwarna hitam itu, ternyata memang berisi surat-surat saham, surat kepemilikan gedung, rumah, berlian, emas, dan surat kepemilikan barang berharga lainnya. 


Lalu ada tas kecil yang berisi uang dua ratus juta won.


"Haaaaah…" Gyu-Sik kaget melihat isi tas itu.


"Siapa itu Goo Jyeong?" Tanya Gyu-Sik.


"Pertama aku mau minta maaf karena menutupi sesuatu darimu. Sebenarnya aku bertemu seorang nenek dengan tato merah di dahinya saat berkunjung di panti jompo. Nenek itu adalah pemilik perusahaan terkenal HeoGoo elektronik. Pemilik tas itu."


"Waaaah.. kau bertemu orang kaya kali ini."


"Dia sakit diabetes yang sudah parah, sata aku datang bersama teman-teman dari X-Vel dia berteriak-teriak minta kue manis tapi perawat melarangnya.


Tapi aku memberikannya, banana cake yang kau buat juga untuk nenek Jyeong.


Pagi tadi aku ke panti jompo tapi ternyata nenek Jyeong dirawat di rumah sakit, keadaannya sudah koma." Yumi menangis.


"Kenapa tas ini ada padamu?" 


"Dia menulis surat memintaku untuk mengambil tas itu dari loker sauna untuk diberikan pada anaknya saat dia sudah meninggal."


"Berapa sisa umurnya?"


"Besok adalah hari kematiannya." Yumi menutup wajahnya, dia menangis.

__ADS_1


Gyu-Sik menepuk-nepuk punggung Yumi. Dia tidak ingin berusuara, dua hanya ingin membiarkan Yumi menangis hingga hatinya lega.


To be continued...


__ADS_2