
“Kenapa kau tampak kaget seperti itu ha?” Aura dingin nan suram semakin terasa.
“Jangan-jangan cuaca ekstrem ini adalah perbuatan anda timjangnim?” Tanya Gyu-Sik, sejak tadi dia memang sudah merasa aneh dengan perubahan cuaca ekstrem ini.
"Aku tidak sekuat itu, alamlah yang melakukannya. Percintaan malaikat maut dan manusia adalah hal yang ditentang seluruh isi alam semesta, dan kau perlu tahu itu Han Gyu-Sik."
"Percintaan? Hah.. yang benar saja timjangnim, aku dan Yumi maksud mu? Tidak.."
"Kau sudah pandai berbohong rupanya, benar-benar cepat sekali kau beradaptasi dengan manusia."
Gyu-Sik tidak bisa menjawab.
"Aku tahu isi hatimu. Han Gyu-Sik ku peringatkan, tidak akan ada hubungan yang berjalan lancar antara dua ras yang berbeda. Ras apapun itu, akan membawa bencana dan malapetaka.
Dulu kau memang manusia tapi dewa telah mengutukmu menjadi malaikat maut. Aku ingatkan kalau kau lupa, kau harus menyelesaikan seratus ribu tegas sebagai malaikat pencabut nyawa baru kau bisa menjadi manusia kembali, menjalankan sisa umur mu, kemudian mati dan bereinkarnasi."
"Aku tahu."
"Kau tahu, kau ingat tapi saat bersama Yumi semua tampak semu bagimu. Kau merasa seperti manusia pada umumnya, tapi kau salah, kau tetap malaikat maut Han Gyu-Sik." Dong-Bong mebungkukan badannya, mendekatkan wajahnya ke wajah Gyu-Sik yang masih duduk di lantai.
Mata Dong-Bong menatap Gyu-Sik dengan tajam, hingga akhirnya…..
KLAAAAAAP…
Semua kembali bergerak dan normal, hujan, petir, angin dan manusia kembali seperti biasa.
Dong-Bong menghilang.
“Hahhh..” Gyu-Sik menghela nafas.
...----------------...
Pukul 04:20 pagi waktu Seoul.
“Selamat pagi semua, kami sudah mendapatkan informasi bahwa keadaan sudah aman, cuaca sudah mulai stabil.
Jadi para pendaki sudah di perbolehkan untuk turun, namun jika masih ingin di posko kami persilahkan hingga pukul sepuluh pagi karena mulai hari ini hingga dua hari kedepan kami terpaksa menutup rute pendakian, pihak badan pengamas cuaca dan alam masih melakukan observasi.” Jelas salah satu petugas jaga alam.
“Syukurlah.” Ucap Yumi yang belum lama terbangun dari tidunya.
“Coba aku lihat.” Gyu-Sik memegang dahi Yumi, dia memastikan apakah Yumi sudah benar-benar sehat.
“Aku sudah tidak apa-apa, tenang saja. Ayo siap-siap untuk turun, sepertinya pendaki yang lain sudah bersiap untuk turun.” Kata Yumi.
“Benar, akan lebih baik jika kita bersama-sama turun dengan pendaki lainnya.”
__ADS_1
Setelah bersiap-siap Yumi dan Gyu-Sik bersama beberapa pendaki memulai perjalanan turun gunung.
Dalam perjalanan Yumi dan Gyu-Sik tidak banyak bicara. Beberapa kali mereka harus berhenti karena Yumi dan beberapa pendaki masih dalam kondisi yang kurang baik.
"Kamu yakin masih bisa melanjutkan perjalanan?" Tanya Gyu-Sik ke Yumi.
"Tenang saja aku tidak selemah itu." Jawab Yumi dengan nada bercanda.
"Yak! Jangan bercanda, mau aku gendong?"
"Kamu yang jangan bercanda, aku ini berat." Yumi berjalan mengikuti pendaki lainnya.
Gyu-Sik lalu mengikuti Yumi.
"Yak! Jangan berjalan dibelakang ku begitu. Aku merasa akan mati jika ada seorang malaikat maut berjalan di belakangku begini."
“Benar-benar sudah sembuh ternyata.”
...----------------...
Pukul sebelas siang waktu Seoul.
Gyu-Sik dan Yumi sampai di rumah.
“Hahhh… Akhirnya sampai juga di rumahku yang nyaman ini.” Yumi membanting badannya di sofa.
“Minum dulu, habis itu mandi sana, lalu istirahat.” Gyu-Sik memberikan sebotol air mineral ke Yumi.
“Kau dulu saja yang mandi, aku masih merindukan tidur di tempat yang nyaman.” Yumi masih berbaring di sofa sambil memejamkan mata.
“Ya sudah aku mandi dulu.” Gyu-Sik masuk ke kamar mandi.
“Astaga!! Aku belum update novelku, aku belum menulis apapun untuk novelku, mati aku. Bisa-bisa kena semprot pembacaku.” Pembaca setia adalah pecut semangat Yumi untuk menulis.
Lima belas menit kemudian Gyu-Sik keluar dari kamar mandi.
“Eoh?” Gyu-Sik melihat Yumi sedang duduk di depan laptopnya, namun badannya membungkuk, kepalanya dia tempelkan di meja.
“Lee Yumi?? Kau masih hidup kan?” Gyu-Sik mencolek lengan Yumi.
“Hahh.. dia tertidur setelah berhasil merilis novelnya, ckckck.. dasar wanita pemalas.
Gyu-Sik menengok jam, masih pukul dua belas siang.
“Hahh.. aku berangka ke kedai saja. Masih bisa bekerj setengah hari dan dapat uang.” Gyu-Sik menulis note lalu menempelkannya di pipi kiri Yumi.
__ADS_1
Note itu bertuliskan ‘Lee Yumi.. aku ke kedai, bekerja. Kalau sudah bangun cepat mandi badanmu bau..!!’
Gyu-Sik tersenyum, dia suka menggoda Yumi.
Gyu-Sik pergi ke kedai untuk bekerja.
Sedangkan Yumi masih mimpi indah di depan laptopnya.
Sssslph..
Yumi mengelap air liurnya, dia terbangun. Yumi menoleh kesana kemari mencari Gyu-Sik, lalu dia melihat bayangan wajahnya di layar laptop yang mati.
“Apa ini?” Yumi menarik note yang menempel di pipinya.
“Aaaaarghhhh.. sial Han Gyu-Sik.” Yumi mengacak-acak rambutnya karena kesal. Dia menggeser mousepad, lalu layar laptop menyala.
“Haaaa?? Jam enam petang?? Selama itu aku tertidur? Huft.. pendakian kali ini memang menguras tenaga, dan badanku masih belum begitu sehat juga kan? Jadi pantas saja dong kalau aku ketiduran walau belum mandi?” Yumi bermonolog seolah menjawab note dari Gyu-Sik.
Sniff.. sniff..
“Hahhh.. tapi benar juga badanku bau, hahh.. dasar Lee Yumi benar-benar tidak bisa jaga image sama sekali. Kau ini baru tinggal dengan seorang lelaki kenapa menurunkan harkat dan martabat wanita begini, hmmm..” Yumi seolah mengutuk dirinya sendiri yang sama sekali tidak perduli dengan bagaimana imagenya di mata Gyu-Sik.
Yumi akhirnya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Aku mau pakai masker, lulur, scrab, shampo, conditioner, pokoknya semuanya. Biar nanti kalau Gyu-Sik pulang bau harum tubuhku sudah tercium dari jarak bermeter-meter. Hmmm.. enak saja bilang aku bau.” Di dalam kamar mandipun Yumi masih meneruskan monolognya.
...----------------...
Pukul sembilan malam.
Kedai Jang-jang sudah tutup, pemilik dan semua karyawan sedang melakukan final check untuk menutup pekerjaan mereka hari ini.
“Terimakasih semua untuk hari ini. Semoga besok rejeki kita semakin berambah ya. Sekarang kalian boleh pulang, hati-hati di jalan.” Maru meminta semua karyawannya untuk pulang.
“Gyu-Sik apa Yumi baik-baik saja?” Maru bertanya.
“Oh.. iya dia sudah tidak sedih. Kemarin saja menemaninya naik gunung untuk melepas kesedihannya.” Jawab Gyu-Sik.
“Baguslah kau dia tidak begitu lama larut dalam kesedihan. Yasudah kau pulang sana, titip salam untuk Yumi, maaf tidak bisa memberinya apapun karena makanan habis ludes hari ini.” Kata Maru.
“Tidak apa sajangnim, akan saya sampaikan pada Yumi. Kalau begitu saya pulang dulu.” Gyu-Sik keluar kedai namum dia tidak pulang ke rumah, melainkan pegi ke mini market untuk membeli bir lalu menikmatinya sendiri di taman.
Desir angin malam Seoul membawa keheningan yang membuat Gyu-Sik semakin kalut dalam pikirannya.
“Hai Bung.. lama tiak bertemu.” Tiba-tiba suara seorang laki-laki terdengar lalu munculah sosok yang sangat Gyu-Sik kenal.
__ADS_1
“Bae Kyung?” Gyu-Sik sedikit terkejut melihat teman satu profesi sekaligus teman satu rumahnya di alam nirwana tiba-tiba muncul.
To Be Continued..