
"Mas, makasih ya udah ajak Sekar jalan."
"Lain kali kita jalan lagi ya?" Wajah Cahyo terlihat berseri, hari ini memang tak sesuai harapannya tapi semua yang tak disengaja membuatnya merasa diatas angin.
"Kamu ga usah sedih lagi dek, kalau kamu butuh temen tinggal kontak aku aja, aku selalu ada dan siap buat kamu." Cahyo meraih tangan Sekar.
"Terimakasih mas," Sekar dengan lembut mengurai genggaman tangan mas duda.
"Maaf mas, aku masuk rumah dulu." Pamit Sekar.
"Selamat istirahat peri cantikku, aku pasti merindukanmu." Sekar hanya tersenyum mendengar gombalan laki laki yang usianya delapan tahun diatasnya.
Kehadiran Cahyo hari ini memang membawa nuansa lebih baik dibanding masa suramnya ketika ia dicampakkan Awan.
Pembawaan Cahyo dan Awan, sangat bertentangan. Awan yang pendiam, dingin dan cenderung apa adanya, berbanding terbalik dengan Cahyo. Mungkin karena Cahyo seorang duda, pengalamannya tentang memperlakukan seorang perempuan tentu berbeda.
"Ehem!"
"Ehem!!!"
"Happy banget anak mama, sampai mama di cuekin dari tadi," Keluh mama Sekar, sambil menaruh bobot badannya pada sebuah kursi santai di teras rumah.
"Siapa yang cuekin mama, Sekar?"
"Ingat pesan mama ya Kar, Cahyo itu duda." Tatap mama tajam.
"Duda lebih didepan mah," seloroh Sekar dengan nyengir kuda.
"Hati hati dengan bicaramu Kar," mama terlihat kurang suka dengan candaan Sekar, barusan.
"Sepertinya enakan sama yang duda mah, lebih berpengalaman, lebih menghargai perempuan. Tidak semua duda brengs*k, yang bujang saja banyak yang bajing*n." Sekar bicara asal.
"Sekar, kamu???" Mama terlihat panik mendengar apa yang Sekar bicarakan barusan.
"Yang penting bukan suami orang ma, hahahaha...." Sekar berlari menjauh sebelum sang mama mengganjarnya dengan cubitan.
"Sekar, klo jomblo ya jomblo aja ga usah gil*," cerocos mama dengan sebalnya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
__ADS_1
Sekar yang sedang mager mengurung diri dalam kamar dan menyibukkan diri menarikan jemarinya pada androidnya.
Cling (suara pesan di aplikasi hijaunya berbunyi). Tertera disana nama Cahyo sebagai pengirimnya.
[Dek... makasih ya untuk hari ini, π₯° ]
"Aku yang terimakasih mas, jangan kapok ya, π€£ "
Terlihat dipojok android Sekar, Cahyo sedang mengetik.
[Ga kapok, malah ketagihan ajak kamu jalan π€© kapan kamu ada waktu dek"]
"Nanti pacarmu marah mas, aku ga mau ribet."
Terlihat Cahyo mengetik, menghapus, dan mengetik lagi.
[Kan aku dah bilang dek, aku jomblo. π ]
"Hem..."
[Gimanasih buat kamu percaya dek? π€]
Terlihat lagi dalam layar android Sekar, Cahyo sedang mengetik, kemudian hanya terlihat tulisan online, kembali lagi mengetik, online, mengetik, Sekar yang melihat itu menjadi tersenyum geli membayangkan betapa sulitnya Cahyo merangkai kata.
"Cie yang lagi bingung π€£, antara Sekar atau gebetan. π»" Sekar cekikikan.
[Dek....]
"Okelah lanjut besok aja mas, Sekar ngantuk."
Paket data Android Sekar langsung dimatikan, Sekar tersenyum sendiri membayangkan esok pagi akan ada deretan pesan dari Cahyo, "Maafkan Sekar mas, seharusnya aku tak memanfaatkan dirimu. Tapi percayalah bahwa hadirmu hari ini membawa nuansa happy di hatiku. Selamat tidur mas Cahyo, semoga mimpi indah." Gumam Sekar.
Tanpa sadar Sekar tertidur dengan sebuah senyum yang menghias wajahnya, malam malam tangisnya setelah dicampakkan Awan telah sirna malam ini, semoga malam esok dan esoknya akan sama dengan malam ini.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Awan yang memutuskan untuk menginap dirumah Sasa dengan terpaksa. Rasa penyesalan yang mendalam mendera hati ketika mendengar pengakuannya.
Awan tersadar demi mendapatkan batu kali, ia campakan batu permata, tragis tapi memang ini yang terjadi.
__ADS_1
Rasa penyesalan yang besar kini menaungi Awan, tiba tiba rasa rindu menyergap relung sanubarinya. "Kar, aku merindukanmu." Gumam Awan, ada nyeri dan rasa tidak terima dalam hatinya mengingat kejadian tadi siang.
Rasa rindu yang menyergapnya membuat dia penasaran dengan akun milik mantan kekasihnya itu, Awan mencoba mengitip di Ig dan FB Sekar, namun tak menemukan hasil apapun, dari dulu memang Sekar tidak begitu aktif di medsos itu. Awan bergeser ke setatus aplikasi hijaunya hatinya berdebar ia takut melihat sesuatu yang menyakitkan tapi rasa penasarannya jauh lebih besar.
Awan terkejut bukan kepalang ketika melihat apa yang terpampang di Status hijau sang mantan, foto waru laut! dengan Caption "Salah satu saksi sejarah dalam hidupku." Air mata Awan tiba tiba menetes, ia tak mengira bahwa Sekar tak lupa. "Aku sangat merindukanmu Kar."
Awan mengomentari status hijau milik Sekar, "Terimakasih masih mengingatnya." Ternyata hanya centang satu, Awan kecewa ternyata android Sekar sudah tak aktif dipukul 20.00, "Selamat tidur Kar, aku ingin bermimpi denganmu." Gumam Awan, ia meletakkan benda pipih itu, berharap Sekar segera membalas pesannya.
Cling (terdengar ada pesan masuk di android Awan), Awan yang tak bisa memejamkan mata terlihat bahagia, mengira itu dari Sekar.
[Mas kok masih online, kenapa? ga bisa bobok ya?] Pesan dari Sasa.
"Belum ngantuk dek,"
[Apa mau aku temenin mas]
"Ga usah dek,"
[Aku masih kangen sama kamu mas.]
"Sudah malam dek, ga pantas anak gadis masuk kamar laki laki."
[Sebentar aja mas,]
"Maaf dek, aku capek dan mulai ngantuk ini. Aku tidur dulu." Awan ngeri menghadapi kekasih barunya ini, awalnya ia suka tapi semakin dipikir ia sepertinya tidak baik untuk dijadikan istri dan ibu anak anaknya. Data internet ia matikan, agar Sasa tidak berbuat aneh aneh dan percaya bahwa ia tidur.
Sesaat kemudian terdengar suara ketukan di pintu kamar yang Awan tempati, tok, tok, tok.... "Mas, mas, mas ini Sasa mas," Awan yang mendengar itu terkejut, " Ga mungkin aku salah dengar." Gumam Awan. Tok... tok...tok, "Mas... aku Sasa mas," suara itu lagi lagi terdengar.
Awan memilih diam, "Kalau aku bukakan pintu untuknya bisa bisa habis aku," Awan bergidik membayangkan sesuatu. Awan memutuskan untuk diam tanpa bergerak. Tak lama kemudian terdengar suara langkah menjauh dari depan kamar Awan.
Terlintas bayangan bayangan senonoh dipikiran Awan, membayangkan bahwa ia bukan laki laki pertama yang menyentuhnya membuat ia bergidik ngilu.
"Seandainya Sekar jadi perempuan yang tak begitu mandiri, sedikit saja mau bermanja padaku, mungkin aku tak berpaling darinya." Awan bermonolog dengan hatinya.
Kokok ayam sudah bersahutan sedari tadi, namun sedetikpun Awan tak mampu memejamkan matanya.
Malam begitu terasa panjang, seakan enggan berpindah terang. Rasanya tak sabar untuk lekas bangun dan pamit pulang. Mengakhiri cinta sesaat dan berpaling kembali pada dia yang tersakiti, meski Awan sangat sadar tak akan mudah menaklukkan hati perempuan yang pernah ia sakiti, namun memperjuangkan Sekar bukan hal yang bodoh karena ia memang perlu diperjuangkan. Sesulit apapun akan ia perjuangkan, sekalipun harus bersaing dengan duda menyebalkan seperti Cahyo atau bahkan dengan para lajang lainnya.
"Lebih baik bersanding dengan perempuan mandiri daripada dengan perempuan manja yang genit." Sesal Awan. "Sekar aku pulang!"
__ADS_1