
"Mbak Ais, kita buat rujak yuk? Aku punya buah mangga dan jambu air ini, sepertinya siang siang gini seger makan rujak."
"Ehhh panjang umur kamu Sekar, aku tadi yang mau kerumah mu, mau ngajakin kamu buat rujak, ehhhh malah kamu udah kesini duluan," sambut mbak Ais yang sedang duduk duduk di balai balai teras depan rumahnya.
"Ada gula merah ga mbak Ais, aku cuma bawa buah aja ini mba, dirumah kebetulan lagi kehabisan."
"Ada kok Kar, kalau gula merah kamu jangan khawatir aku pasti ada. Kamu yang kupas buah, aku yang buat bumbu rujaknya Kar."
"Asiappp mbak Ais."
"Mbak Ais, kok mas Tono ga keliatan?"
"Mas Tono, lagi ke Tanjung nganterin motornya mas Yon, katanya sebentar kok bentaran lagi sampai Kar."
"Wah, suami kesayangan mba Ais pasti senang nih ngeliat kita lagi buat rujakan gini nanti."
"Hhhhh ia Kar, mas Tono paling demen sama rujak." Baru saja menceritakan sang suami, terdengar suara motor masuk halaman.
"Panjang umur kamu mas, baru ditanyain Sekar ehhhh sudah datang aja."
"Wah buat rujakan ya Kar, pas ini panas panas gini. Yank, tolong dong bumbunya dan buahnya dibagi di piring," pinta mas Tono pada mbak Ais.
"Hayu mas Tono, bareng aja disini sama kita, tenang aku ga rabies kok," seloroh Sekar.
"Tapi nanti ada mas Yon dan Cahyo juga Kar, jadi kita bagi dua grup aja. Nah itu mereka sudah pada datang." Tunjuk mas Tono.
"Wih tumben nih anak gadis tetangga main kesini," koment mas Yon, saat turun dari sepeda motor bersama mas Cahyo.
"Ya ga tumben kali mas, tapi jarang hhhhh...." Sekar tersipu malu.
"Yang baru broken heart kurusan nih sekarang, sudah Sekar jangan ditangisi terus laki laki begitu nanti kamu malah sakit," ucap mas Yon dengan santai.
"Uhuk uhuk...." Sekar yang mendengar perkataan mas Yon jadi tersedak.
"Jadi kamu jomblo nih Kar?" Tiba tiba mas Cahyo komentar padahal sedari tadi dia hanya diam.
"Emmm boleh ga untuk jangan membahas hal yang begitu? Rasanya nyeri dihati kalau ingat." Tiba tiba netra Sekar memerah menahan tangis.
"Maaf Sekar, aku kira kamu ga akan sesedih ini jika aku singgung." Mas Yon terlihat menyesal.
"Yang sabar Sekar, tenang hilang satu tumbuh seribu," mas Cahyo ikut menimpali dengan senyumnya.
"Lagi belum mikir nyari tumbuhan mas." Mas Cahyo sesaat menatap Sekar dengan intens.
"Hhhhhh..." Tiba tiba mbak Ais tertawa, semua menatap heran kearah nya.
"Ada yang lucu yank?" Mas Tono sepertinya sepaham dengan Sekar dkk.
"Hhhh gimana aku ga tertawa mas, apa kalian tadi ga denger dan ga sadar dengan apa yang diucapkan Sekar barusan?"
"Lah memang Sekar bilang apa Ais?" kini giliran mas Cahyo yang juga bingung.
"Tadi Sekar itu jawab apa mas, waktu mas Cahyo bilang hilang satu tumbuh seribu, dijawab apa coba sama Sekar?"
"Hhhhhh.... ah sudah mbak Ais, aku malu jangan dibahas lagi." Sekar tersadar dengan jawabannya.
"Hhhhh.... paham, paham, aku paham sekarang. Sekar kok kamu lucu banget sih disaat lagi galau begini," mas Cahyo tersenyum menatap Sekar dengan intens.
"Hhhh... iya harusnya jawabnya belum terpikir cari ganti ya mbak Ais, bukan nyari tumbuhan." Sekar tersipu malu oleh jawabannya sendiri.
"Sekar, hari Minggu kita jalan yok?" ajak mas Cahyo, tiba tiba.
__ADS_1
"Aku malas mas, lagi ga mood mau kemana mana."
"Hemmm kalau kamu dirumah saja akan kepikiran kesana sana terus Kar, jadi lama move on kalau begitu. hayoolah biar kamu happy, Minggu jam dua aku jemput kamu, dandan yang cantik ya," tiba tiba mas Cahyo mengedipkan matanya pada Sekar.
"Cie...... Sekar ada tumbuhan tu, ga usah dicari malah sudah datang sendiri," mbak Ais menggoda Sekar yang sedang tersipu malu karena ulah mas Cahyo.
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Sekar, kamu dicariin sama mas Cahyo itu." Cepat temui sana, perintah mama.
"Mas Cahyo ma, mau apa dia kesini?"
"Ya mana mama tahu Kar, sana kamu temui dia, ada di teras."
"Loh kok belum siap siap Sekar?" Cahyo menatap heran melihat Sekar masih memakai baju rumahan.
"Siap siap mau kemana mas?" Sekar terlihat bingung.
"Hem beneran lupa atau pura pura lupa ini Kar?"
"Tunggu deh, apa kita ada janjian ya mas?" Sekar terlihat mengingat.
"Hemmm.... waktu ngerujak, Jumat kemarin kan aku bilang mau jemput kamu jam dua Sekar." Cahyo tampak tidak sabar untuk menunggu Sekar mengingat janji mereka.
"Eh iya, ya mas, maaf aku pikir mas Cahyo hanya bercanda saja. Oya mas Cahyo biasa minum kopi atau teh ini?"
"Ga usah Kar, kamu cepet dandan sana keburu sore."
"Emang mau kemana sih mas?"
"Ada deh, dandan yang cantik ya dek."
"Dek?" Sekar terhenti karena panggilan itu.
"Oh..."
Sekar mengganti pakaiannya dengan kaus, celana panjang dan sweater birunya.
"Loh mau kemana kamu nak? kok sudah ganti baju," saat berpapasan dengan mama diruang TV.
"Sekar mau keluar dulu mah, mumpung ada temannya. Mama kasih izinkan?"
"Iya mama izinkan, tapi jangan malam malam ya nak pulangnya dan hati hati Cahyo itu duda loh," bisik mama pelan.
"Siapppp mah, Sekar laksanakan perintah mama."
"Mas Cahyo, titip Sekar ya dan jangan lupa hati hati dijalan," ibu menghantar Sekar kedepan teras.
"Iya bu, kami pamit dulu dan jangan khawatir Sekar aman dengan saya bu," Cahyo menyalami mamanya Sekar untuk pamit.
"Dek, kamu cantik!" Tiba tiba suara mas Cahyo, memecah keheningan diantara mereka.
"Biasa aja mas, kalau cantik pasti aku ga dibuang." Ketus Sekar.
"Bener kok kamu cantik dek, Awan pasti nyesel melepas mu suatu saat nanti."
Sekar hanya tersenyum getir.
"Dek, kita main agak jauh ya? Kita kan para jomblo, jadi harus happy."
"Yang penting ga pulang malam mas," Sekar mengingat pesan mamanya.
__ADS_1
"Ok."
"Dek, kita ngisi bensin sebentar ga papa ya, takutnya nanti sore antrian panjang di pom bensin."
"Terserah kamu mas. Aku tunggu di pintu keluar ya mas, mas aja yang masuk ke pom."
"Jangan dek, kamu ikut aja takut kalau kamu hilang ada yang culik."
"Enggak akan ada yang mau culik aku mas, jadi aku tunggu di pintu mau keluar pom aja," kekeh Sekar.
"Dek.... bener nih ga mau nemenin aku yang ganteng ini? Gimana kalau aku nanti diculik?"
"Ih mas Cahyo, kamu kok lebay amat sih!"
"Hhhhh... lebay sama kamu mah rasanya ga masalah karena kamu berhasil menculik hatiku dek."
Deg! "Ih apaan sih mas Cahyo ini, udah sana ngantri. Sekar tunggu diwarung itu." Sekar menunjuk sebuah warung kelontong.
"Asiapp dek."
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Sekar... sama siapa kamu disini?" tiba tiba ada sebuah motor berjalan perlahan mengimbangi Sekar yang berjalan di trotoar menuju warung kelontong. Sekar yang terkejut bertemu dengan Awan, mencoba untuk tenang.
"Dengan siapa aku pergi aku rasa itu bukan urusanmu lagi Wan," ketus Sekar.
"Ya kitakan saling kenal Kar, kamu mau kemana biar aku hantar Kar?"
"Terimakasih tapi aku tak butuh bantuan darimu Wan, maaf silahkan kamu lanjutkan perjalananmu saja, aku tak ingin punya masalah denganmu." Sekar bicara tanpa memandang sedikitpun ke Awan.
"Sekar, kenapa kamu sekarang berubah banget?" Tanya Awan heran.
"Enggaka ada yang harus kita bahas Wan." Sekar memilih berlalu.
"Sekar, jangan begitu ke aku donk. Sedih dan sakit aku kamu cuekin begitu," protes Awan.
"Apa peduliku, kita tidak ada hubungan apa apa kok."
"Sekar, tolong tatap aku Kar. Kamu benar benar benci ke aku ya?" Kejar Awan.
"Maaf, bukan kebiasaan ku menatap apa yang bukan milikku."
"Sekar... kenapa kata katamu semakin menyakiti hatiku?"
"Ehem!!! Selamat siang Awan, apa kabar?" Cahyo menghampiri Awan dan Sekar yang berhenti di trotoar dekat pintu keluar pom, sambil tersenyum.
"Mas Cahyo?" Awan nampak terkejut ketika tahu siapa yang menghampiri mereka.
"Ayo mas, nanti kita ke sorean," Sekar ingin segera pergi dari tempat itu.
"Pakai helmnya dulu dek," Cahyo sengaja tidak menyerahkan helm itu tapi justru merapikan poni rambut Sekar, dan memakaikan helm. Sekar tak protes.
Netra Awan, tak bisa berkedip menyaksikan setiap adegan yang tersuguh didepan matanya, melihat Cahyo, membetulkan rambut Sekar dan memakaikannya helm dengan begitu lembutnya sementara Sekar hanya tersenyum....
"Kenapa hatiku semakin sakit? harusnya aku senang Sekar, bahagia." Kata hati Awan.
Sekar seakan dapat angin segar untuk sedikit membalas sakit hatinya pada Awan dan seolah gayung bersambut, Cahyo pun mengerti apa yang diinginkan Sekar.
Ish mas duda tetangga desa memang keren!.
πΉπΉπΉπΉπΉ
__ADS_1
π bagi yang mampir... jangan lupa like dan komentarny teman teman.