MAS DUDA DITENGAH AWAN

MAS DUDA DITENGAH AWAN
Bertiga


__ADS_3

"Dik?"


"Kamu sama siapa?" Cahyo yang tidak sengaja melihat Sekar sedang memilah-milah shampo sendiri, gegas menghampirinya.


"Mas Cahyo?" Sekar yang disapa terkejut, dia tak mengira akan bertemu dengan laki laki yang sudah menghilang tanpa kabar itu.


"Kamu apa kabarnya dik? kamu habis nangis dik?" Sekar yang ditanya hanya tersenyum getir, bahkan air matanya hampir jatuh. Semenjak kepergian cinta pertamanya Sekar mudah sekali menitikkan air mata.


"Aku duluan mas," Sekar berlalu dengan membawa barang belanjaannya. Cahyo gegas mengikuti Sekar.


"Dik..." panggil Cahyo mengejar Sekar setelah berhasil membayar belanjaannya di toko xxmart.


"Sudah Kar?" disaat yang bersamaan Awan yang menunggu Sekar diparkiran menghampiri Sekar.


"Awan?"


"Mas Cahyo?" Awan maupun Cahyo sama terkejutnya.


"Kamu habis apakan Sekar sampai matanya sembap seperti itu?" Cahyo berpikir bahwa Awan lah yang menyebabkannya.


Awan menaruh jari telunjuknya ke bibirnya. Sepertinya Sekar memang sengaja memunggungi mereka, jarak mereka sebenarnya hanya sekitar dua meter.


"Sekarang bukan saatnya kita berdebat mas, Sekar butuh sahabat bukan pacar saat ini." Awan berbicara dengan sedikit berbisik pada Cahyo.


"Maksud kamu?" Cahyo dibuat kebingungan.


"Apa kamu beneran ga tahu apa yang terjadi dengan Sekar mas? Atau kamu pura pura tidak tahu apa yang Sekar sudah alami baru baru ini?" Kesal Awan.


Tidak mungkin Cahyo tidak tahu kabar tentang perempuan yang di cinta, pikir Awan.


Atau mungkin memang antara Sekar dan Cahyo benar benar sudah tak ada hubungan? Ah kenapa aku baru sadar! kembali pikiran Awan bergerilya.


"Aku baru hari ini pulang dari perantauan Wan, anakku sakit." Jelas Cahyo.


"O... terus bagaimana kabar terbaru dari anakmu mas?" Awan mencoba peduli pada saingannya itu.


"Wan, ayo..." panggilan Sekar membuat kedua orang itu secara bersamaan menatap pada pemilik suara.


"Nanti malam datanglah kerumah Sekar," Awan meninggalkan Cahyo dengan menepuk bahunya.


Awan dan Sekar berlalu dan tanpa sengaja pandangan Sekar dan Cahyo bertemu.

__ADS_1


Wajah Sekar tertangkap muram, dengan bola mata memerah.


"Sebenarnya apa yang sudah kamu lewati yang aku tidak tahu dik?" gumam Cahyo.


🌸🌸🌸


Malam harinya Cahyo bener benar datang kerumah Sekar, Cahyo terkejut karena dirumah itu banyak orang.


Apa malam ini Sekar dan Awan lamaran ataukah mereka menikah?


Tapi kenapa rasanya suasana ditempat ini seperti sedang berduka?


Tapi siapa yang meninggal? bukankah Sekar hanya berdua saja dengan ibu Kasih? Apa jangan jangan...


"Yang meninggal namanya mas Hima, mas." Kemunculan Awan yang tiba tiba disamping Cahyo membuyarkan semua yang dipikirkan Cahyo dan seakan Awan tahu apa yang menjadi pertanyaan dalam hati Cahyo.


"Sudah lama sampainya mas Cahyo? kenapa ga langsung masuk saja?"


"Mas Hima?" Cahyo terlihat bingung, dia tak tahu siapa yang dimaksud oleh Awan.


"Hima, cinta pertamanya Sekar mas. Dia meninggal tujuh hari yang lalu, ayo masuk kita bantu bantu dibelakang saja, acaranya dilaksanakan sesuai kepercayaan almarhum." Cahyo yang masih bingung menurut mengikuti Cahyo masuk kerumah Sekar melalui pintu samping.


"Nanti tolong ceritakan padaku secara detail Wan, aku masih bingung," pinta Cahyo.


Sesaat Awan berhenti, geraknya yang tiba tiba itu membuat Cahyo hampir menabraknya.


"Lihat mas bagaimana keadaan gadis yang kita sukai itu?" Awan berkata lirih namun jelas terdengar ditelinga Cahyo.


Cahyo menatap kearah mana pandangan Awan, hatinya teriris ketika melihat Sekar menangis dalam pelukan seorang perempuan paruh baya.


Perempuan setengah baya itu melambaikan tangannya kearah Awan.


"Ayo mas, kita kesana. Itu mbak Tika, kakak dari almarhum." Awan mengajak Cahyo mendekat pada perempuan paruh baya dan Sekar.


"Dek, Sekar... lihat ini ada Awan dan temannya. Kalian ngobrol dulu ya? mba mau menemui saudara saudara yang lain dulu, udah sedihnya dek, malu sama teman temanmu yang ganteng ganteng itu." Pesan mba Tika.


Sekar yang memalingkan pandangannya kearah Cahyo menjadi terkejut.


"Mas?" lirih Sekar dengan mengembangkan senyum gagalnya.


Sekar, Cahyo dan Awan mereka duduk bertiga. Kecanggungan jelas terlihat.

__ADS_1


Ada rasa cemburu dalam diri Awan saat beberapa kali Awan memergoki Cahyo sering curi curi pandang pada Sekar. Tapi Awan sadar bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk cemburu cemburuan.


"Ehem!"


Awan sengaja berdehem untuk memecah kecanggungan yang ada. Sekar dan Cahyo pun secara bersamaan menatap Awan, yang ditatap balik tersenyum.


"Ngobrol yuk? mulutku kaku ini diem melulu," komentar Awan justru dianggap lucu oleh keduanya dan senyum pun mengembang di bibir Sekar maupun Cahyo.


"Jadi selama ini mas Cahyo kemana saja kok ga pernah keliatan?" Cahyo yang ditanya oleh Awan malah melirik pada Sekar.


"Semenjak kejadian itu, aku memutuskan untuk merantau sambil menenangkan hati. Ini aku pulang karena ada kabar bahwa anakku sakit," Cahyo menjawab pertanyaan Awan namun seolah Sekar yang bertanya padanya. Cahyo fokus pada Sekar.


"Lalu bagaimana keadaan anakmu mas?" Sekar membuka suara.


"Sudah membaik dik, terimakasih sudah mau bertanya tentang keadaan anakku." Cahyo kembali tersenyum.


Aku tahu Sekar dan mas Cahyo saling merindukan, apakah aku harus pergi dari tempat ini? sendu hati Awan.


Bagaimana pun ternyata untuk belajar seperti dirimu tidak mudah mas Hima, mungkin seperti ini yang dulu kau rasakan saat tahu Sekar telah menerima diriku sebagai kekasihnya.


mungkin ini juga menjadi karmaku yang telah merebut Sekar dari mu.


Ternyata tidak semudah yang aku kira, hatiku membara melihat mereka tampak dekat dan sepertinya aku tak ada didekat mereka. Pilu hati Awan.


"Em sebaiknya aku melihat keadaan didepan dulu," cetus Awan yang dirasa semakin tak mampu menahan hati jika harus berlama lama menatap kedua insan itu.


"Wan, disini aja? temani kami." Pinta Cahyo, sementara Sekar yang diharap mau menahannya untuk tidak pergi justru hanya diam dan tanpa reaksi.


"Iya mas nanti aku kembali, aku harus lihat keadaan diluar dulu. Takutnya tempat yang disediakan kurang karena ini malam terakhir tahlil." Awan mencari alasan.


"Apa perlu aku temani Wan?" Cahyo menawarkan diri tapi tatapannya tak lepas dari Sekar.


"Tidak usah mas, aku bisa sendiri. Tolong temani Sekar saja." Sekar sekilas memandang kearah Awan dengan heran.


Demi melihat dirimu kembali tersenyum aku rela Kar, rela melumpuhkan harapan dan cita cintaku padamu, asal kamu bahagia.


Meski sejujurnya hati ini sudah tersakiti melihat dia menatapmu apalagi jika nanti dirimu dipersunting olehnya.


Aku belajar untuk ikhlas walau memang terasa sulit dan sakit, jika mas Hima saja bisa maka aku pun harus bisa!


Awan memantapkan langkahnya untuk menjauh dari Sekar dan Cahyo, toh bukankah cinta tak bisa dipaksa dan diminta kepada siapa dan kapan rasa itu akan berlabuh.

__ADS_1


🌸🌸🌸


Mengharapkan like dan komen dari teman2 yang sudah mampir. Terimakasih.


__ADS_2