MAS DUDA DITENGAH AWAN

MAS DUDA DITENGAH AWAN
Calon Mantu


__ADS_3

"Awan!" Refleks Cahyo dan Sekar menyebut nama sang pemilik suara.


"Lepaskan tangan Sekar!" Awan menatap tajam kearah Cahyo.


"Hei! apa masalahnya jika aku memegang tangan kekasihku? Kamu bukan siapa siapanya Sekar, jadi kenapa marah?" Geram Cahyo.


Awan terperangah, ia bingung mencari alasan apa yang tepat karena untuk mengatakan ia cemburu itu tidak mungkin. Awan ingat bahwa kini ia hanya seorang mantan.


"Ini tempat umum, apa kamu tidak takut pandangan orang tentang kalian?" Awan menemukan alibi yang tepat. Cahyo akhirnya melepaskan genggamannya, demi dirasa benar apa yang dikatakan Awan. Tanpa sepengetahuan Sekar dan Cahyo, Awan tersenyum penuh kemenangan.


Mereka bertiga terduduk diam dalam hening sesaat.


"Kar, aku minta maaf... aku tahu aku keterlaluan." Awan mengesampingkan keberadaan Cahyo, ia sudah tak peduli lagi jika Cahyo mengejeknya.


"Oh, jadi karena laki laki ini kamu menangis seperti itu dek?" Cahyo terlihat emosi. Sekar hanya terdiam dan tak ingin merespon.


"Aku kemari minta maaf dan ingin memperbaiki apa yang pernah aku rusak, namun sepertinya dirimu sedang sangat sibuk Kar, aku permisi." Awan berdiri dari duduknya, melangkahkan kaki dengan gusar, Sekar tetap diam tanpa reaksi, Cahyo menatap kepergian Awan dengan rasa tidak sukanya, sesaat kemudian ia memalingkan wajah pada gadis disampingnya itu.


"Dek..."


"Maaf mas, aku lagi ingin sendiri."


"Aku pamit, hubungi aku kalau kamu butuh teman." Cahyo menyuguhkan senyum terpaksa, beranjak pergi.


🌸🌸🌸🌸🌸


Seminggu telah berlalu, baik Awan maupun Cahyo, keduanya menghilang tak berkabar.


Hari masih menunjuk pukul 05.05 Sekar yang telah selesai doa pagi, meraih androidnya. Sekar iseng iseng membuka aplikasi berlambang tetangga E itu. Sekar tertegun saat tak lama scroll ada seorang perempuan cantik yang menandai Cahyo Agung, akun Cahyo. [RIP ibunda Rita, yang tabah dan ikhlas ya mas Cahyo] disertai foto mas Cahyo yang sedang menabur bunga di atas makam baru itu.


Sekar melihat tanggal yang tertera, hari ini adalah hari ketiga. Sekar tertunduk sedih, "Maafkan aku yang tidak tahu engkau sedang bersedih mas." Mata Sekar berembun, selama ini, ia sibuk berpikir bahwa Cahyo sudah melupakannya ternyata yang ada ia sedang berduka.


"Hana, aku minta tolong temani aku pagi ini kerumah mas Cahyo ya? Aku baru tahu ibunya meninggal tiga hari yang lalu." Sekar mengetik dan mengirm pesan untuk Hana, teman seusianya, sekaligus tetangga satu satunya yang masih singel.


Sekar sengaja tidak menghubungi melalui telpon karena ia tau kebiasaan Hana yang bangun setelah matahari tinggi.


Cling, (suara pesan masuk)


[Oke, tapi ingat aku ga mau ya kamu sayang sayangan didepan aku! mata jomblowati ini bisa keluar nanti.] balas Hana.


"Tumben jam 5.20 sudah bangun, mimpi apa kamu Hana? πŸ€”" pesan terkirim dari Sekar.

__ADS_1


[Kebangun karena mules, 🀭] balas Hana


"Kirain udah tobat bangun siang, biar lekas dapat jodoh 😜"


[Loe aja yang rajin bangun pagi belum ketemu jodoh! 🀣🀣🀣] balas Hana.


"Kutu kupret loe!"


[πŸ€ͺ]


🌸🌸🌸🌸🌸


"Turut berbelasungkawa ya pak, saya baru tahu ibu meninggal tadi subuh." Tutur Sekar saat menyalami pak Dito, bapaknya Cahyo.


"Ia nduk, ga papa. Terimakasih karena sudah menyempatkan waktu kemari." balas pak Dito dengan ramah. Hana juga ikut menyalami pak Dito, lalu ketiganya duduk diatas karpet yang digelar.


"Maaf ya nduk, duduknya ngampar dibawah, kursi kursi sengaja belum ditata karena masih ada acara sampai empat hari kedepan," kata bapak dengan sungkan.


"Iya pak, kami maklum." Sahut Hana.


"Pak, itu ada tamu sepertinya, kami kebelakang dulu siapa tahu kami bisa bantu bantu."


"Sekarang tamu pak, besok besok mantu," cetus Hana.


Pak Dito terlihat terkejut. "Maksudnya nduk, yang mana calon mantu bapak?"


Hana nyengir kuda sambil menunjuk kearah Sekar, Sekar yang wajahnya memerah menahan malu akhirnya menunduk dengan tangan mencubit pinggang Hana, "au sakit!" teriak Hana reflek sehingga pak Dito dan beberapa ibu ibu yang sedang bantu bantu disana memperhatikan kedua gadis itu.


"Jadi kamu calonnya Cahyo, nduk?" Pak Dito tersenyum hangat pada Sekar.


"Oalah... ternyata anakmu pinter kang golek bakal bojone," tiba tiba seorang ibu paruh baya menghampiri, memeluk dan mencium Sekar. Hana geli melihatnya.


"Aku Rina, nduk. Panggil aku bulek, aku adine pak mu, adek kandung." Cerocos bulek Rina.


"Ayo sini masuk kita ke pawon, bulek kenalin Sekar sama saudara saudaranya masmu, Cahyo dan tetangga disini," riang bulek Rina. Sekar yang berusaha menjelaskan bahwa ia hanya temannya Cahyo, tak diberi kesempatan menyampaikan maksudnya.


Cahyo yang sedari tadi berada dihalaman belakang tertarik untuk tahu ada apa di dapur yang tiba tiba terdengar suaranya ramai oleh candaan.


"Bulek Rina, ada apa to kok rame rame ini?" Bulek Rina yang ditanya malah menjewer telinga sang keponakan dengan gemasnya.


"Iki bocah wes ndue bakal yo ora gelem ngomong karo wong tuo! harusnya jauh jauh hari sudah kamu bawa pulang, kamu kenalin ke orang tuamu, almarhum ibumu juga bisa ketemu sama calon istrimu, inipun kesini bukannya dijemput malah dijarke! bocah gend*ng!" cerocos bulek Rina.

__ADS_1


"Aduh bulek, ampun bulek! Cahyo ga ngerti maksud bulek." Rengek Cahyo.


"Jal kui sawangen sandeng mu kui!" tunjuk bulek. Cahyo yang sedari tadi tak menyadari kehadiran Sekar dan Hana jadi salah tingkah karena malu.


"Dek, kamu..."


"Maaf mas, aku mau jelasin kalau..." belum selesai Sekar bicara, Cahyo langsung menggandeng Sekar keluar.


"Hana, kami tinggal sebentar ya!" pamit Cahyo, sebelum meninggalkan dapur bersama Sekar.


"Dasar Cahyo, cah gembl*ng!" bulek Rina geleng-geleng melihat kelakuan keponakannya itu.


"Mas... aku minta maaf, nanti aku jelasin ke bulek Rina dan ibu ibu yang lain, kalau kita..."


"Biarkan saja dek, siapa tahu itu jadi doa buat kita." Sekar merasa ada desiran dalam dadanya.


"Kenapa ga ngomong kalau mau kesini dek? aku kan bisa jemput kamu."


"Kenapa mas Cahyo ga ngabarin aku?" Sekar malah balik bertanya tanpa memberikan jawaban.


"Kalau aku tak buka aplikasi tetangga E subuh tadi, aku tak tahu mas." Sekar berkata sedih.


"Kalau perempuan cantik itu tak menandai akun mu, aku tidak akan tahu." Mata Sekar terlihat berkabut.


"Dek, aku..."


"Turut berbelasungkawa ya mas, walau terlambat tapi dari pada tidak sama sekali." Ucap Sekar tulus.


"Terimakasih dek, maaf aku ga maksud..."


"Iya mas ga papa, aku ngerti kok. Nanti Hana aku suruh jelasin masalah tadi." lagi lagi Sekar memutus pembicaraan Cahyo. Sekar tersenyum getir, Cahyo menangkap itu.


"Dek..."


"Aku kedapur dulu mas, tujuanku kesini mau bantu bantu di dapur, asal kamu ga keberatan." Sekar meninggalkan Cahyo yang sedang gamang.


"Aku ga akan keberatan tapi justru senang banget dek, aku senang bisa melihatmu dirumah ini, seandainya ibu masih ada kita pasti langsung disuruh nikah." Ucap Cahyo, saat berhasil menyusul langkah Sekar.


"Harusnya tindakan dan perkataan itu selaras mas!" Ujar Sekar yang berhenti sesaat, kemudian berlalu dengan tergesa.


"Bulek Rina, calon mantu dijaga baik baik ya! bujuk dia mau sama aku." Bisik Cahyo. Bulek yang mendengar permintaan Cahyo tersenyum, "SIAP CAH GEMBLONG!"

__ADS_1


__ADS_2