MAS DUDA DITENGAH AWAN

MAS DUDA DITENGAH AWAN
Senasip


__ADS_3

"Bu, apa ibu marah?" Awan tak menyangka bahwa perpisahannya dengan Sekar, berpengaruh bagi ibunya.


"Buat apa ibu marah sama kamu Wan? Kamu mau sama siapa dan dengan siapa itu urusan kamu!"


"Tapi Awan yakin ibu marah."


"Ahh itu urusan kamu Wan, toh ibu sama bapakmu kelak hanya bertugas kasih restu saja kalau kalau kamu nikah itupun kalau kamu minta," ketus ibu.


"Bu, ibu kok bilang begitu? Ya Awan pasti butuh pertimbangan dan keputusan ibu dan bapak karena Awan kan anak bapak dan ibu."


"Ya bagus kalau kamu ingat itu Wan," dengus ibu kesal.


"Bu, apa ibu benar benar sayang Sekar?"


"Ibu sayang atau enggak itu bukan urusanmu sekarang Wan, dengan atau tanpa kamu Sekar tetap anak bagi ibu." Ada titik kecewa yang tersirat dalam kalimat ibu, Awan yakin itu.


"Bu, kenapa ibu jadi ketus begini sih? Yang anaknya ibu, itu Awan bukan Sekar bu," kilah Awan.


"Kamu pikir ibu pikun sampai kamu bilang begitu? Ah sudahlah Wan, ibu malas ngomong sama kamu. Semua terserah kamu, yang akan jalani kamu yang akan nyesel atau tidak ya kamu juga," ibu berlalu dari Awan.


"Ibu mau kemana?" Awan melihat ibunya beranjak ke kamar dan sesaat keluar dengan menggunakan pakaian yang rapih.


"Mau kerumah Sekar, memang ada apa? Apa mau kamu ingatkan lagi kalau yang anaknya ibu itu kamu bukan Sekar?" Ungkit ibu.


"Ibu mau ngapain kesana? Kita sudah ga ada urusan lagi dengan Sekar bu, yang mutusin hubungan Awan, bukan Sekar, jadi percuma ibu kesana kalau ibu ingin kami bersama lagi." Awan mencoba menghentikan ibunya.


"Ibu kesana bukan mau memperbaiki hubungan kalian, lagian ibu bersyukur kamu putus dengan Sekar!"


"Jadi ibu mendukung Awan ya bu?" Awan seperti tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.


"Jangan gede rasa kamu! ibu justru bahagia karena Sekar bisa lepas dari laki laki pemalas macam kamu!"

__ADS_1


"Bu...."


"Apa??? Kamu ga terima Wan? Terserah kamu terima atau tidak! yang jelas Sekar memang harus dapat laki laki yang jauh, jauh dan jauh lebih baik dari kamu. Ibu sudah punya laki laki yang sangat cocok buat Sekar, kamu... urus saja urusanmu sendiri!" wajah ibu terlihat sangat tidak bersahabat dengan Awan.


Ya delapan tahun kedekatan Sekar dengan Awan membuat ibu Awan jadi sayang karena selama itu ibu jadi mengenal Sekar, Sekar tidak pernah menyakiti siapapun, ia gadis berhati lembut.


"Kalau dalam pacaran kan masih dalam tahap penyesuaian bu, kalau merasa sudah tidak cocok ya wajar donk Awan cari yang lain? Jangan ibu bawa serius bu,"


"Oh jadi begitu jalan pikiranmu selama ini Wan? Kalau kamu memang tidak mau ibumu ini menanggapi hubunganmu dengan anak gadis orang, maka jangan pernah bawa bawa mereka kesini! ingat ini rumah ibu, bukan rumahmu!"


"Kenapa ibu semakin melebarkan masalah sih? Sekar itu orang lain bu, yang kebetulan mampir dalam hidup kita. Yang namanya orang mampir mau tak mau, suka tak suka ya harus pergi." Teriak Awan.


"Eh Awan, dengar ya kamu, anak laki laki ibu yang bikin kesal! ibu ini perempuan dan punya anak perempuan juga. Kamu pikir ya, bagaimana kalau kamu yang jadi Sekar dan kamu dikatain begitu? Jadi laki laki jangan sok kamu, Sekar saja yang buta, mau mencintai laki laki pemalas seperti kamu," tuding ibu.


"Bu, yang anak ibu itu Awan bukan Sekar, kenapa ibu mati matian membela Sekar? Bisa gede rasa nanti dia kalau tahu!"


"Ibu juga ga lupa kalau kamu itu anak ibu, ga usah diulang! aku lebih suka Sekar yang jadi anakku, kalau bisa ditukar tambah aku mau," tutur ibu tanpa sungkan.


"Eh anak kurang ajar! hati hati kalau mulutmu bicara ya? ibu membela Sekar, bukan karena apapun tapi karena Sekar memang patut dibela, semua ibu pasti ingin punya menantu tipe Sekar. Lihat aja kamu pasti akan menyesal dan nangis nangis minta balikkan lagi, tapi sudah terlambat!"


"Bu, ibu bisa bilang begitu nanti bu, nanti setelah ibu ketemu dengan Sasa pacar aku yang sekarang." Awan membela diri.


"Aku ga usah kamu kenalin ke pacar mu itu, aku malas dan firasatku pacarmu itu bukan perempuan baik baik."


"Bu, ibu belum pernah ketemu dan kenal Sasa, ibu ga bisa menilai begitu saja padahal ibu belum pernah bertemu."


"Tanpa melihat mukanya ibu sudah tahu tipe apa perempuan yang dekat dengan kamu, sekarang."


"Bu....."


"Ah sudahlah Wan, kamu merusak kebahagiaan ibu saja hari ini,"

__ADS_1


"Bu.... dengarkan Awan dulu bu," bujuk Awan.


"Sudah banyak yang ibu dengar Wan, semua terserah kamu dan jangan pernah bawa bawa ibu dalam masalahmu, buah memang ga jauh jatuhnya dari pohon, anak dan bapak sama saja kelakuannya." Getir suara ibu.


"Apa maksud ibu menyamakan aku dengan bapak?" Awan merasa tidak terima.


"Bagus kalau kamu ngerti maksud ibu! ternyata ga hanya sifat buruknya saja yang nurun tapi kecerdasannya!"


"Tapi aku ga suka ibu samakan aku dengan bapak!" Awan terlihat memerah wajahnya.


"Hahahaha.... tidak mau disamakan tapi kelakuannya sama," ibu tertawa sinis.


"Bu, aku dan bapak berbeda! bapak pergi dari kita karena tidak mau bertanggung jawab sebagai seorang bapak dan suami, lalu apa samanya aku dengan bapak? tidak ada bu!" Awan tersulut emosi.


"Kamu jangan lupa atau pura pura tidak tahu ya kalau bapakmu minggat alasannya sebenarnya karena perempuan tak waras itu. Kamu sama bapakmu itu, sama sama laki laki breng**k, yang ga bisa setia dan hobinya selingkuh," jerit ibu.


"Bu!" Awan, terlihat begitu marah hingga giginya terdengar berbunyi menahan emosi karena ucapan ibu barusan.


"Apa Wan? apa kamu ga suka ibu bilang begitu? kenyataan begitu Wan. Kamu pikir saja benar atau tidak yang ibu katakan? Kamu tahu yang buat ibu lebih sayang Sekar, dari pada kamu Wan? Sekar itu nasibnya sama seperti ibumu ini.


Dari awal kalian pacaran, ibu banyak lihat dia yang banyak mengalah dan banyak berkorban buat kamu, tapi ternyata kamu ga sadar!"


"Oh ternyata dia seorang pengadu, pantas saja ibu membelanya mati matian," tuduh Awan.


"Sekar ga pernah cerita apapun ke ibu, tanpa Sekar mengadu, ibu tahu itu. Karakter kamu dengan bapakmu itu sama saja!"


"Jujur saja ibu senang dan sedih mendengar kalian berpisah, ibu senang karena nasib Sekar, tidak akan benar benar seperti ibumu yang b***h ini, sedih karena anak sebaik dia tidak jadi mantu ibu," ibu menghapus kristal bening dari wajah yang sudah banyak keriputnya.


"Bu...., Awan minta maaf bu, bukan maksud Awan ingin melukai hati ibu," Awan berusaha memeluk ibunya namun ditepiskan.


"Ah sudahlah Wan, semoga saja pacarmu yang sekarang benar benar perempuan baik baik. Ibu juga berharap semoga kamu tidak sepenuhnya mewarisi karakter buruk bapakmu yang mata keranjang dan tidak punya tanggung jawab pada keluarga," ibu terlihat mengusap air matanya dan berlalu pergi meninggalkan Awan yang sangat terpukul mendengar kata kata ibu baru saja.

__ADS_1


__ADS_2