MAS DUDA DITENGAH AWAN

MAS DUDA DITENGAH AWAN
LELAKIKU


__ADS_3

"Ah si*l, aku harus lekas bertindak untuk merebut Cahyo dari perempuan kampung itu. Enak di dia, pahit di aku." Gerutu Tari.


Penolakan yang Tari terima dari keluarga Cahyo, terutama dari bulek Rina dan pak Tono, baginya hal yang sepele, tapi harus ada balasan untuk semua itu.


Tari, masih begitu percaya diri bahwa Cahyo akan melakukan semua yang dia mau, sama seperti dulu, saat mereka masih berpacaran dan menikah. Cahyo adalah tipe laki laki bucin akut.


"Aku yakin bahwa Cahyo masih bucin ku, hanya perlu sedikit agresif dia pasti klepek klepek lagi padaku, tapi.... aku harus segera menyingkirkan perempuan kampung itu!


Perempuan itu terlihat polos jadi akan mudah buatku menyingkirkannya," Tari tersenyum miring, iya menemukan banyak ide untuk mengusirnya dari kehidupan Cahyo, tentu disertai dengan hadiah yang tak akan Sekar lupa seumur hidupnya jika dia tak menurut dengan perintah Tari.


"Mah, ada ayah!" seru Wahyu dari muka rumah. Tari yang sedang merancang ide gilanya di bilik kamarnya terkejut.


"Mas Cahyo? Ko tumben belum waktunya kesini tapi sudah kesini? Jangan jangan perempuan kampung itu mengadu, awas saja kalau benar!" Geram Tari.


"Mah, ayah datang." Wahyu yang tak sabar menunggu sang mamah tak keluar kamar segera menyusulnya dalam kamar.


"Iya sebentar, mamah mau buatin minum ayahmu dulu." Wahyu mengangguk sambil berlalu kembali keruang depan.


"Mas..., kita ngobrol didalam saja yok, itu sudah aku buatkan kopi kesukaanmu." Tari bicara dengan nada begitu lembut, menggamit tangan Cahyo, namun ditolak.


"Kita bicara disini saja Tari, ga enak dilihat tetangga kalau kita berada diruang tertutup." Cahyo menolak ajakan Tari. Wahyu yang melihat perilaku ibunya yang begitu lembut dan kemayu hanya mampu memandang aneh pada Tari.


"Hem... kenapa harus ngurusin tetangga sih mas? Lagian kita ga hanya berdua, ada Wahyu anak kita. Lagi kalau kita mau berdua ya ga masalah mas, ga akan ada yang marah dan memang wajar kita bersama."


"Aku perduli Tari, aku tak mau orang salah paham tentang kita."


"Kamu takut kalau ketahuan perempuan kampung itu?"


"Perempuan kampung siapa maksudmu?"

__ADS_1


"Aku tak suka ya mas kamu dekat dengan perempuan itu! aku ga rela kalau Wahyu punya ibu sambung yang kampungan seperti dia. Mau jadi apa anak kita kalau dididik dengan perempuan itu?" Tari yang awalnya bersikap lembut kini mulai mengeluarkan taringnya. Wahyu yang sedari tadi menjadi pendengar memutuskan untuk meningalkan mamah dan ayahnya.


"Apa hak mu untuk bilang tak rela? memangnya kamu siapaku?" Cahyo terlihat kesal.


"Ya aku ada hak mas, aneh kamu ini!"


"Memang apa hak mu?"


"Aku ibu dari anakmu mas, aku ibunya Wahyu!" Tari sengaja menekankan itu.


"Siapapun juga tahu kalau kamu ibu kandungnya Wahyu, tapi apa hak mu melarang aku dekat dengan siapapun?"


"Aku mantan istrimu yang akan jadi istrimu, jadi aku berhak." Tari tersenyum sumringah.


"Memang siapa yang bilang kalau aku mau menikah denganmu lagi?" Cahyo terlihat kesal.


Lagi aku kan sudah bilang kalau aku memutuskan menceraikan suamiku dan ingin kembali bersamamu. Aku menyesal dan kusadari ternyata cintaku hanya kamu." Tari mencoba merayu Cahyo, apapun akan iya lakukan untuk menundukkan mantan suaminya itu.


🌼🌼🌼🌼🌼


"Ternyata perempuan kampung itu memang polos alias bod*h!" Tari tersenyum penuh kemenangan.


Kedatangan Cahyo diluar kebiasaan sempat membuatnya khawatir jangan jangan iya akan dilabrak karena mendapatkan aduan dari Sekar.


Ternyata Cahyo datang untuk meminta izin membawa Wahyu untuk beberapa hari berada dirumah eyangnya yang sedang berduka.


Wahyu yang merupakan cucu laki laki pertama di keluarga mertuanya, pak Tono. Memang Wahyu menjadi kesayangan. Disana apapun yang Wahyu minta selalu dituruti.


"Selama Wahyu disana tentu aku punya alasan untuk tinggal disana, serumah lagi dengan mas Cahyo, lelakiku. Beberapa hari kedepan, aku harus bisa mengambil hati mereka semua terutama Cahyo!" lagi seringai licik itu mengembang di wajah ayu milik Tari.

__ADS_1


Tari memilih tak pergi bersama Wahyu dan Cahyo karena iya punya rencana brilian. Iya ingin datang dengan cara yang elegan, iya ingin Cahyo dan keluarganya terutama bulek Rina dan mantan mertuanya yang jelas jelas menentangnya yang akan mengundangnya untuk datang.


Tari punya rencana matang, iya yakin rencananya tak akan meleset.


Tari mengambil ponselnya dan mengirim sebuah gambar melalui inbok, iya tersenyum miring penuh kemenangan dan iya bisa membayangkan bagaimana perasaan si penerima pesan, saat membukanya.


"Alam memang selalu berpihak padaku, karena aku lahir dengan kemujuran.


Suryo, kamu lihat tak lama lagi aku akan menikah! aku akan menikah dengan laki laki yang paling kau benci dalam hidupmu, dia tak lagi miskin dan dia jauh lebih keren darimu hahahaha....


Aku memang sudah tak bisa lagi hamil dan melahirkan tapi aku sudah punya anak dari laki laki yang kau benci, iya tak akan menuntut anak lagi dariku.


Lelakiku yang pernah aku campakkan akan kembali kumiliki. Sementara dirimu akan kian terpuruk dan hancur melihat kebahagiaanku." Tari bicara dengan bayangannya sendiri dalam cermin. Semua penghinaan yang iya terima dari Suryo, mantan suaminya dan mertuanya menggoreskan luka yang dalam.


"Sabar Tari, sabar.... besok adalah waktunya kamu kembali menjadi ratu dirumah Cahyo!


Percantik diri saja hari ini, agar mata lelakiku besok akan terus memandangku tanpa berkedip, menjadikan dia kembali menjadi budak cintaku." Tari terus bicara dengan bayangannya didepan cermin, tersenyum penuh kemenangan akan hari esok.


"Mas Cahyo.... besok aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku, mengemis cintaku kembali, memintaku rujuk dan memenuhi semua keinginanku. Lihat saja mas, penolakan yang kamu lakukan padaku harus kau bayar mahal!


Aku pun tak sabar melihat perempuan tua itu untuk angkat kaki dari rumah orang tuamu, aku muak padamu bulek Rina, sangat muak! pak Tono, sabarlah sebentar lagi juga aku akan membuatmu menyusul istrimu dan kalian yang menertawakan aku kemarin, akan aku buat kalian menangis karena berani mengejekku.


Aku Tari, tak ada dalam kamus hidup seorang Tari kalah dan ditolak oleh siapapun! apa yang aku inginkan harus jadi milikku, benar atau salah caranya akan ku halalkan.


Tunggu pembalasanku, kalian yang telah menghinaku dan merebut apa yang aku punya. Siapapun tak boleh mencampakkan aku, yang ada akulah yang mencampakkan dan menginjak injak semua yang berani padaku." Tari menyeringai didepan cermin, kemudian melangkah kedalam laci untuk mempersiapkan banyak kejutan saat iya berada dirumah mantan mertuanya untuk beberapa hari kedepan.


🌲🌲🌲🌲🌲


Berharap ada yang mampir, beri like, coment dan vote. πŸ₯°πŸ™

__ADS_1


__ADS_2