MAS DUDA DITENGAH AWAN

MAS DUDA DITENGAH AWAN
Lepaskan


__ADS_3

Berharap ada yang baca, terus mau meninggalkan jejak komentar, like, favorit atau bahkan kasih hadiah. Harap dimaklumi ya ay...


Penulis masih belajar berimajinasi, jadi belum bisa menyuguhkan cerita yang cetarrrr... Semoga juga bisa lulus kontrak ☺️


🌹🌹🌹🌹🌹


Sekar terbangun dari lelapnya, waktu masih menunjukkan pukul empat lewat dua puluh lima menit. Ia bersaat teduh sejenak, membangun hubungannya dengan Sang Khalik, pemilik hidup.


Pukul lima, saat teduhnya usai. Ia meraih androidnya untuk menghidupkan paket datanya, hapenya terus bergetar menandakan banyak pesan yang masuk diaplikasi hijaunya. Sekar tersenyum sepertinya dugaannya benar, bahwa mas duda akan memberondong dirinya dengan banyak pesan.


Sesaat setelah benda pipih itu berhenti bergetar, Sekar terperangah karena pesan yang masuk dari mas duda hanya dua pesan, sementara dari sang mantan ada belasan.


Rasa gamang mulai menerpanya, ia tak ingin membuka pesan dari sang mantan namun rasa penasarannya lebih besar dari niatnya untuk tak membuka.


Pesan masuk dari Awan :


[Terimakasih masih mengingatnya.] Awan mengomentari foto setatus diaplikasi hijau Sekar.


[Sekar...]


[Aku merindukanmu Kar,] Sekar merasa hatinya tercabik, selama berpacaran Awan tak pernah berkata demikian padanya.


[Aku berharap bisa bertemu denganmu meski hanya di alam mimpi.] Sekar merasa hatinya makin terluka.


[Sekar... aku menyesal melepaskan dirimu, aku ingin kembali padamu Kar. Aku tahu aku salah, aku minta maaf.] Isi Pesan kelima Awan.


Sekar merasa jengah, "Apa kamu pikir aku tak punya hati atau aku hanya patung jadi seenaknya kamu datang dan pergi?" Gerutu Sekar.


Sekar beralih ke pesan hijau dari kontak mas Cahyo, Sekar hanya membaca namun tak berniat membalas pesan Awan.


"Ah tenyata benarkan dugaan ku, mas Cahyo pasti mengirim pesan." Bibir Sekar menyungging senyum penuh makna, moodnya kembali.


[Kalau tidur jangan miring dek, nanti ngiler 🀣🀣🀣,] isi pesan hijau dari Cahyo benar benar diluar dugaan Sekar, namun Sekar berderai senyum.


Sekar tak henti membaca isi pesan Cahyo dengan emot tertawanya. "Laki laki aneh! tapi ngangenin. Ups! Sekar jangan Sekar, sadar sadar!"


Cling.... tiba tiba benda pipih yang baru saja diletakkan Sekar berbunyi, pesan masuk diaplikasi hijaunya.


[Pagi dek... jangan lupa bekas ilernya dicuci ya? πŸ˜‰] Lagi lagi pesan di aplikasi hijau yang dikirimkan Cahyo membuat Sekar sewot sekaligus happy.


"Kaya tau aja tidurku ngiler, πŸ™„" balas Sekar.


[Ya tahu dong, masa kamu lupa aku temenin, mulai amnesia nih kamu dek,πŸ˜”] Balas Cahyo.

__ADS_1


"Wah fitnah kamu mas!!! aku ga suka bercanda yang keterlaluan, nanti dikira orang bener lagi. 😏" Sekar terpancing emosi.


[Bercanda gimana? Yang aku bilang itu bener dek, wong aku semalam berdoa supaya kamu mimpi ada aku didekat kamu πŸ₯°.]


Deg!!!


"Ah mas Cahyo ini ada ada aja!" gumam Sekar.


"Ngarep apa mengharap mas? 😜," balas Sekar. Sangking bahagianya android terlepas dari tangannya.


"Mas, nanti pulang kerja kalau tak sibuk tolong temani aku kondangan bisa ga mas? aku malu mau OTW sendiri.πŸ˜…" lima menit berlalu tapi tak ada suara pesan masuk di android Sekar.


Dert... dert.... android Sekar bergetar, ada panggilan masuk. Sekar tersenyum, "Awan???" Sekar terkejut melihat nama pemanggil ia mengira Cahyo.


"Kar," terdengar suara Awan, sesaat setelah Sekar menekan panggilan bergagang hijau.


"Ada apa?" terdengar jawaban ketus Sekar.


"Kenapa denganku kamu ketus Kar? Kenapa dengan dia kamu bisa sehangat itu?" Terdengar suara Awan seperti sedang sangat kecewa.


"Maksud kamu?" Sekar seperti sedang berpikir apa yang dimaksud oleh Awan.


"Astaga aku salah kirim, tapi apa peduliku? Awan bukan siapa siapaku." Sekar mengecek pesan hijaunya, "Pantas saja mas Cahyo tak membalas lagi, ternyata aku salah kirim."


"Apa kamu sengaja mengirim pesan itu agar aku cemburu Kar?"


"Kar, apa sudah tak ada rasa sedikitpun dihati mu untuk aku? Apa secepat itu kamu melupakan aku?" Kejar Awan dengan pertanyaan yang bertubi. Sekar hanya diam.


Hening....


"Kar, aku mohon jawab aku Kar?" Suara Awan terdengar melemah.


"Aku rasa tak ada yang harus aku jelaskan atau katakan padamu, maaf aku sedang sibuk!" Sekar menutup telponnya tanpa memberikan kesempatan Awan bicara, mendadak dadanya terasa sesak, air matanya jatuh kembali.


Android Sekar kembali bergetar panjang, nama mas Cahyo yang tertera disana. Sekar menarik napas panjang dan membuangnya perlahan, berusaha menetralkan diri agar Cahyo tak tahu bahwa ia baru menangis, ditekannya panggilan hijau itu.


"Halo gadis ileran, kamu marah ya?" Cerocos Cahyo.


"Enggak mas,"


"Kamu pilek apa habis nangis dek?" Terdengar suara khawatir Cahyo.


"Aku... aku pilek mas, udah dulu ya mas." Sekar memutuskan sambungan telponnya.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸🌸


Matahari sudah diatas kepala, Sekar tetap mengurung diri. Hari ini dia memilih tidak masuk kerja, untung saja rekannya kerjanya adalah teman baiknya jadi sangat memahaminya keadaan Sekar.


Tok tok tok....


Terdengar suara ketukan pada pintu kamar Sekar. "Kar, itu ada tamu. Sana temui dulu." Perintah mama Sekar, hari ini mama Sekar yang bekerja di pabrik mendapat sif kerja sore hari.


Dengan malas Sekar bangun dan membuka pintu kamarnya.


"Siapa ma?" Tanya Sekar malas.


"Duda tetangga desa!" mama berlalu dengan wajah ditekuk.


"Ma...." Sekar menyusul sang mama.


"Ada apa?" Sahut mama galak, Sekar maklum itu karena ia tahu, mamanya tak menyukai Cahyo.


"Sekar ga mau ketemu siapa siapa dulu ma?" Sekar berdiri didepan sang mama dengan tertunduk.


"Jadi?" Sahut mama.


"Tolong bilang Sekar ga ada dirumah ma," Sekar memohon agar sang mama bersedia.


"Apa duda itu yang buat kamu nangis?" Selidik mama. Sekar hanya menggeleng.


"Kalau tak ada masalah tak mungkin kamu menghindar Kar, mama tidak suka kamu lari dari masalah."


"Benar mah, Sekar tidak bohong. Sekar ga ada masalah dengan mas Cahyo," Sekar merengek agar sang mama mau membantunya.


"Kalau gitu temui saja dia sebentar, bilang kamu ga enak badan. Beres kan?" Sang mama berlalu pergi tak berniat menolong Sekar.


Dengan langkah malas akhirnya Sekar keluar menemui Cahyo.


Sekar menumpukan bobot tubuhnya pada kursi teras tak jauh dari kursi yang diduduki oleh Cahyo. Sekar menunduk dengan diamnya, Cahyo memperhatikan perempuan muda yang belakangan hari ini mengisi hari harinya.


"Kamu kenapa dek?" Suara Cahyo memecah keheningan diantara mereka. Sekar hanya menggeleng lemah.


"Kalau bercandaku keterlaluan, aku minta maaf ya dek?" Sekar mendongak, tidak sengaja tatapan mereka bertabrakan. Cahyo terkejut melihat wajah sembab Sekar, sangat jelas Sekar habis menangis.


"Kamu kenapa dek? Apa ada yang menyakitimu?" Cahyo meraih tangan Sekar, Sekar berusaha menolaknya namun Cahyo makin erat menggenggamnya.


"Tolong lepaskan mas," pinta Sekar dengan lemah, Cahyo menggeleng. "Katakan, baru aku lepaskan." Cahyo memaksa.

__ADS_1


"Kalau Sekar tidak mau jangan dipaksa, lepaskan!" Sekar dan Cahyo tak menyadari jika sekarang mereka tak hanya berdua, tatapan mata sang pemilik asal suara tadi terlihat menahan emosi.


__ADS_2