MAS DUDA DITENGAH AWAN

MAS DUDA DITENGAH AWAN
Sasa


__ADS_3

"Mas, mampir kemana kamu? Apa jangan jangan kamu jalan dulu ya sama mantan kamu itu? Ingat mas, pacar kamu sekarang itu aku, bukan dia lagi," cerocos Sasa, saat Awan baru saja sampai.


"Jauh jauh datang hanya untuk dapat omelan! sepertinya memang kurang sesendok isi dalam kepalaku," Awan menggerutu dalam hati.


"Mas! ditanya kok malah bengong sih? Kamu dari mana saja kok baru sampai atau jangan jangan kamu ga niat kesini ya?" Sasa masih tetap dengan wajah kesalnya.


"Pacaran aja baru genap sebulan tapi kamu seperti malas buat ngapel, kenapa sih mas?"


"Lagi kurang enak badan aku dek," jawab Awan sekenanya.


Sasa menyentuh dahi Awan,


"Alasan saja kamu mas, suhu tubuh normal gini," Sasa merasa ada yang tak beres dengan sikap Awan.


"Mas, inget ya kamu itu pacar aku! aku tahu kamu masih sering komunikasi dan bertemu sama mantan kamu itukan?" Sasa mendengus kesal.


"Jangan ngaco kamu dek, aku dan Sekar sudah lost contek terakhir aku bertemu dia waktu aku putusin dia, jadi ga usah aneh aneh deh!"


"Aku ga percaya mas, kalian satu kampung jadi sangat besar kemungkinan kalian sering bertemu," sengit Sasa.


"Terserah kamu dek! aku malas membahas hal hal ga penting begini." Awan mulai tersulut emosi.


"Ga penting gimana mas? Ini harus dibahas, aku ga mau ya mas hubungan kita ini kandas hanya gara gara pelakor ga tau diri itu!" Sasa mulai memperlihatkan karakter yang sebenarnya.


"Dek, kalau ngomong itu pelan, kenapa? Malu didengar orang tua dan tetangga," Awan mengingatkan Sasa.


"Bukan Sekar yang pelakor tapi kamu! jadi ga usah ngomong aneh aneh karena tetap kita yang salah," desis Awan.


"Mas! bukan aku tapi dia yang jadi pelakor, dia mantanmu yang menyebalkan, lihat saja kalau sampai aku bertemu dengan dia akan aku cakar cakar muka perempuan ja*ang itu!"

__ADS_1


"Bukan dek, kamu yang pelakor dan aku yang gila!"


"Mas! kenapa kamu belain dia? jangan jangan benar dugaan aku, kamu masih ada hati sama perempuan ibl*s itu, ingat mas aku bisa nekat, jangan sebut aku Sasa kalau aku ga bisa kasih pelajaran ke bunga bangk*i itu!" Sasa makin berteriak histeris.


Rasa penyesalan Awan meninggalkan Sekar makin menjadi, ternyata meninggalkan Sekar demi Sasa adalah keputusan terbodoh yang dia ambil. Ternyata benar kata ibu, sesal Awan mendalam.


Sekar memang keras kepala dan terlalu mandiri dan terlalu apa adanya, itu alasan yang sesungguhnya Awan meninggalkan Sekar.


Selama delapan tahun pacaran, tidak pernah sekalipun Awan mendengar kata kata kasar keluar dari mulut Sekar, bahkan ketika dia mengakui sudah berpaling hati Sekar tetap menjaga lisannya.


"Aku memang bukan orang yang pandai bersyukur, ibu memang benar, Sekar memang calon pendamping yang baik, meski ia selalu biasa saja dan apa adanya, sangking apa adanya dalam delapan tahun mereka bersama tak lebih dari hitungan jari tangan, Sekar berhias," Awan menyesali kebodohannya dalam hati.


"Mas, kenapa diam? Jawab pertanyaan aku dengan jujur, kamu habis jalankan dengan sial*n itu? Ingat mas, jangan bohong padaku, aku punya banyak mata mata disana!" tegas Sasa.


"Ya aku memang tadi bertemu dengannya," jawab Awan.


"Ngapain mas? Kamu mau menduakan aku mas? Jangan macam macam kamu mas, meski aku sangat cinta padamu tapi aku tak ragu untuk menyakitimu apalagi perempuan itu." Sasa menatap Awan dengan tatapan yang sangat tajam.


"Mas, kenapa kamu diam? Jawab pertanyaan aku!" tanpa sungkan sungkan lagi Sasa membentak Awan.


"Aku bertemu dia dijalan tadi," balas Awan.


"Oh maksudmu bukan sengaja gitu? Kamu pikir, aku akan percaya begitu saja? Hahahaha aku bukan perempuan idi*t seperti mantanmu itu mas."


"Sasa! cukup, cukup kamu mengatai ngatai dia. Tak adakah rasa bersalah di hatimu?" Hati Awan semakin merasa sakit saat dengan kasarnya Sasa mengatai Sekar dengan kasar.


"Kenapa mas? Kamu ga rela jika aku mengatakan hal buruk tentang pelakor itu? Kamu masih cinta dengan dia?" Sasa menatap Awan dengan mata melotot.


Awan semakin merasa ia benar benar bodoh, melepas seorang Sekar demi perempuan psikopat.

__ADS_1


Hanya karena Sekar mandiri dan tak mau bermanja manja padanya, ia justru merasa bosan, bukankah harusnya Awan bersyukur? Keras kepalanya Sekar pun jika ia tau itu benar.


"Aku bertemu Sekar dengan kekasih nya dek," Awan berusaha melunak, meski sebenarnya ia tersulut emosi.


"Oh... baguslah kalau begitu, ternyata dia tak seperti yang kamu perkirakan mas," Sasa tersenyum mengejek.


"Tapi ingat mas, aku tak akan percaya begitu saja akan perkataan mu! jika sampai aku dengar kamu jalan dengannya, kamu akan lihat apa yang bisa aku lakukan pada pelakor itu, ini bukan sekedar ancaman mas, coba saja kalau kau berani."


"Kamu mengancam aku dek?" Awan benar benar tak mengira bahwa kekasih barunya ini bukan perempuan berhati lembut, berlisan merdu dan bertindak santun seperti saat beberapa bulan lalu ketika mereka baru bersua.


"Itu bukan ancaman mas, cobalah kalau berani! satu lagi, aku tak perduli kamu cinta atau tidak denganku, kamu sudah jadi milikku jadi apa yang jadi milikku tidak akan kubiarkan lepas dariku, kamu paham mas?" Sasa menyeringai bengis.


"Hayoo masuk mas, ayah dan ibu lagi ada arisan keluarga, mau minum apa?" Sasa tiba tiba berubah perangai menjadi gadis manis nan lembut berbanding terbalik dengan beberapa detik yang lalu.


"Kita diluar saja dek, ga enak dilihat orang hanya berdua didalam," tolak Awan halus.


Sesaat mereka duduk terdiam dalam pikirannya masing masing.


"Mas, aku minta maaf ya? Terkadang aku ga bisa kontrol emosi," Sasa berucap dengan sangat lembut dan sedikit kemayu,


"Mas Awan, mau kan maafin aku?" Merdu dan lembut suara Sasa, terdengar ditelinga Awan.


Suara lembut, merdu dan sedikit kemayu itulah yang dirindukannya dalam diri Sekar yang tidak ada, hingga ketika Awan mendapati hal demikian dari Sasa yang membuatnya lupa dan lekas berpaling.


Tapi semua yang dimunculkan dipermukaan hanyalah topeng belaka, rasa ingin lekas bergegas pergi, meninggalkan Sasa, ber segera kembali kepada Sekar, walau mungkin tak mudah untuk meraih hatinya kembali.


Awan sadar bahwa kata kata yang Sasa lontarkan tadi bisa saja terjadi dan ia tak ingin terjadi hal yang tidak tidak pada Sekar. Awan tak akan memaafkan dirinya jika sampai ada hal buruk terjadi pada Sekar, perempuan yang masih merajai hatinya meski ia sekilas berpaling hati.


"Mas, nanti ga usah pulang ya? Kamu nginep disini, aku masih kangen." Sasa merajuk manja.

__ADS_1


"Menginap dek?" Awan terkejut dengan tawaran Sasa.


"Ia mas, memang kamu ga kangen sama aku?" Sasa tersenyum menggoda dengan mengedipkan sebelah matanya pada Awan.


__ADS_2