MAS DUDA DITENGAH AWAN

MAS DUDA DITENGAH AWAN
Dipepet Mas Duda


__ADS_3

"Mas Cahyo, maaf aku pinjam Sekar sebentar." Awan, menarik tangan Sekar untuk berjalan agak menjauh dari Cahyo.


"Wan, kamu apa apaan sih?" Sekar mengibaskan tangannya dari pegangan tangan Awan.


"Kar, kamu ini yang apa apaan? kenapa kamu jalan dengan Cahyo, apa kamu ga tahu kalau dia itu duda? aku ga suka ya kamu jalan dengan Cahyo!"


"Eh Wan, kamu ini waras atau lupa ingatan? Aku mau jalan dengan siapa, itu bukan urusanmu sekarang! aku bebas mau pergi dengan siapapun."


"Sekar, banyak laki laki yang lebih baik dari dia, kalau kamu mau, aku bisa carikan ganti yang lebih baik darinya. Aku benar benar ga rela kamu dengannya Kar, aku minta tolong tinggalkan dia!"


"Aku antar kamu pulang ya? Aku benar benar ga suka liat kamu dengan dia." Tunjuk Awan pada Cahyo.


"Wan, kamu mau suka atau tidak dengan mas Cahyo, itu urusanmu jangan bawa bawa aku, aku nyaman dengannya dan yang pasti aku bahagia bersama dia."


"Sekar! kenapa kamu jadi berubah begini? Kenapa kamu ga mau dengar kata kataku?" Awan mulai tersulut emosi karena Sekar membantahnya.


"Hey!.... memang kamu siapaku Wan sampai aku harus nurut sama kamu?" Sekar tersenyum mengejek.


Deg! "Ahhh sial kenapa aku harus punya perasaan begini sih!" Awan mengeluh kesal dalam hati.


"Asal kamu tahu Wan, duda semakin didepan!" Sekar lantas meninggalkan Awan yang mematung.


"Sekar.... hatiku sakit melihatmu dan mendengar kamu lebih memilih dan membela duda si***n itu," umpat Awan pelan.


"Hayu mas kita berangkat, lama lama disini bisa stress aku," ajak Sekar.


Mas Cahyo langsung mengulurkan tangan kirinya untuk membantu Sekar duduk diboncengan motornya yang lumayan tinggi, sekilas Sekar melirik Awan yang masih memperhatikan, wajahnya memperlihatkan kebencian dan amarah.


"Hhhh baru tahu rasa kamu Wan!. setidaknya hari ini aku bahagia melihatmu merasakan sedikit sakit hatiku padamu." Tanpa sadar Sekar tersenyum, kejadian ini ternyata ditangkap oleh mas Cahyo dari spion motornya.


"Ehem!"


"Eh iya mas, ada apa?"


"Aku suka lihat kamu senyum begitu dek, kelihatan tambah ayu.." Puji Cahyo.


OMG.... Sekar tersadar ternyata Cahyo memperhatikan nya dari spion sedari tadi.


"Hhhh.... maaf mas Cahyo." Sekar terlihat pipinya merona menahan malu.


"Aku suka lihat kamu yang begini dek, terlihat makin cantik," Puji Cahyo lagi.


Sekar terlihat semakin salah tingkah dibuatnya.


"Dek, maaf aku boleh pegang tangan kamu ga? Atau... kamu boleh deh peluk pinggang aku gratis hhhh."


"Ish mas Cahyo ini mulai genit, baru jalan sekali saja sudah mulai beraksi minta ini itu," omel Sekar dalam diamnya.


"Dek, kok diem aja? Tenang aku ga ada maksud apa apa kok dek, meski aku duda." Mas Cahyo sepertinya bisa menebak isi hati Sekar.


"Ehhh maaf mas, maksud aku bukan begitu mas tapi ....."

__ADS_1


"Sini aku pegang tangan kamu aja, biar mantanmu makin panas ngeliatnya hhhh..." Cahyo seperti tahu keresahan Sekar.


"Apa kita diikuti Awan, mas?"


"Jangan tolah toleh dek, nanti dia tahu kalau kita sadar diikuti dia, liat saja sepintas di spion." Perintah mas Cahyo.


"Eh iya mas, bener itu Awan, ngikuti kita," pekik Sekar terkejut.


"Jadi boleh ga nih aku pegang tangan kamu dek, biar dia semakin cemburu? Mumpung aku baik nih mau bantuin kamu," tawar Cahyo tentu dengan maksud pula dalam hati.


"Diam tandanya mau tapi malu." Cahyo mengomentari diamnya Sekar yang sedang bingung.


Cahyo langsung memegang tangan kiri Sekar, sebenarnya Cahyo menggunakan kesempatan ini untuk bisa menarik simpati Sekar yang sedang galau. Hal itu tak luput juga dari pandangan Awan.


"Ah sial*n !!!! kenapa sih aku harus merasakan hal seperti ini? Sekar.... aku ga nyangka secepat ini kamu bisa berpaling dariku? kenapa juga harus sama Cahyo!"


"Aku yang bersusah payah menemani Sekar selama ini, aku tidak rela kamu bersama duda itu. Sekar, Sekar apasih yang kamu lihat dari duda itu? Laki laki yang ga ada istimewanya sama sekali!


Bedeb** ! ngapain duda itu ngajakin Sekar ke pantai? Berduan lagi." Awan hatinya makin panas melihat kendaraan yang dibawa Cahyo, memberi sen kearah pantai pasir putih.


"Sekar.... kenapa sih dengan kamu, kenapa kamu ga nurut denganku, untuk pacaran dengan Arda yang jelas jelas pria baik baik? Lihat saja kalau kamu berani macam macam pada Sekar, akan aku beri kami pelajaran!" Awan terus menggerutu dalam sendirinya.


Awan terus membuntuti Cahyo dan Sekar masuk ketempat wisata yang dituju.


"Dek, lihat deh mantanmu terus mengikuti kita sampai sini nih. Gimana kalau dia nyamperin kita?" Ujar Cahyo sambil melirik kearah kaca spionnya.


"Biarkan saja mas, kita tidak ada urusan dengannya mungkin dia janjian dengan pacarnya juga disini."


"Maksud mas Cahyo gimana?"


"Kita sandiwara dek, aku yakin Awan masih punya perasaan ke kamu."


"Dia sudah mati rasa padaku mas."


"Aku ga percaya dek, kalau dia sudah mati rasa ga mungkin dia ngikutin kita."


"Kamu jangan turun dari motor dek, kita atur siasat dulu sementara, Awan pasti tahunya kita sedang bermesraan karena dia melihat kita dari belakang hhhh.. " Seringai licik mas Cahyo, keluar.


"Kita turun ajalah mas, aku ingin duduk duduk dipinggir pantai itu, bermain pasir pasti seru mas." Ajak Sekar.


"Oke." Kata Cahyo sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Sekar turun dari motor.


"Hemm sepertinya aku harus memanfaatkan keadaan ini, aku mau Awan melihat kami sudah jadian. Aku yakin dia masih punya perasaan pada Sekar!" Kata hati Cahyo,


"Bu, minta rujaknya yang pedas satu ya?" Cahyo memesan rujak pada ibu ibu yang berjualan dekat motor diparkir.


"Dek, sini duduk diatas pasir biar kita beneran seperti turis yang lagi berjemur di pantai." Cahyo menarik tangan Sekar untuk duduk disampingnya.


"Mas, kalau ada yang lihat dan kenal dirimu aku ga tanggung jawab loh kalau pacarmu marah." Kata Sekar.


"Mbak, mas ini pesanan rujaknya." Ibu penjual rujak menghampiri dan menyerahkan piring berisi buah buahan yang diiris yang sudah disiram dengan sambal petisan.

__ADS_1


"Terimakasih bu," serempak Sekar dan Cahyo menjawab.


"Ciee kompakan nih," kata ibu penjual.


"Doakan ya buk." Cahyo menjawab dengan santainya.


"Ish dasar mas Cahyo ini, ngarep ya? hhhhh." Sekar meledek Cahyo.


"Jangan mau sama yang namanya Sekar mas, aku itu selain jelek juga ngebosenin orangnya."


"Yang bilang kamu jelek matanya pasti kena katarak dek," sahut Cahyo.


"Emmm kalau ngebosenin iya ya mas?" Sekar memandang mengharap Cahyo menjawab pertanyaan nya.


"Perlu dijawab jujur atau bohong nih dek?" Cahyo malah balik bertanya.


"Ya jujurlah mas, aku ga mau dibohongi lagi." Sekar terlihat cemberut.


"Belum diuji coba dek, hhhhhh." Cahyo tertawa sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Sekar yang sedang cemberut.


"Mas Cahyo, mas pikir aku barang uji coba apa?" Teriak Sekar, manja dan secara reflek mencubit lengan Cahyo dengan gemasnya.


"Aduh aduh.... ampun dek, tapi bohong hhhhh kamu makin cantik kalau cemberut dek." Mas Cahyo tergelak.


"Mas Cahyo, terus ngeledek aku!"


"Cieeee kamu suka ya aku gombali." Cahyo semakin tertawa gemas melihat wajah Sekar yang makin terlihat bersemu menahan malu.


"Dek, beneran aku suka liat kamu yang ceria seperti ini." Cahyo meraih tangan Sekar yang mencubit lengannya dan menggenggam nya, menggeser posisi duduknya untuk lebih dekat dengan Sekar.


"Ehemmmm!!" Tiba tiba terdengar suara seseorang berdehem dari belakang, sepontan Sekar dan Cahyo menoleh kebelakang.


"Ehhh kamu kesini juga Wan?" Cahyo pura pura terkejut melihat kehadiran Awan.


"Sekar, aku mau bicara padamu sebentar. Ayo ikut aku," Awan membungkukan badannya dan menarik tangan Sekar dengan paksa, sangat terlihat bahwa ia begitu marah.


"Aku ga mau!" Sekar menepis tangan Awan.


"Ayo ikut aku Kar," Awan makin memaksa Sekar untuk mengikutinya.


”Sekar bilang dia ga mau ikut kamu Wan, jadi jangan paksa Sekar," tiba tiba Cahyo berdiri melepaskan genggaman tangan Awan dari Sekar.


"Maaf mas Cahyo, aku ada urusan dengan Sekar bukan dengan kamu." Awan terlihat berusaha mengendalikan amarahnya.


"Awan, kamu sudah melepaskan Sekar, jadi sekarang dia bebas mau pergi dan pacaran dengan siapapun termasuk denganku." Mas Cahyo bicara tanpa beban.


"Maksudmu apa mas Cahyo?" Awan terkejut mendengar duda menyebalkan itu bicara.


Cahyo mendekati Sekar dan melingkarkan tangannya di pinggang Sekar.


"Sekar sekarang milikku, jadi jangan ganggu dia lagi. Aku tak suka pacarku diganggu siapapun!" Awan terperangah mendengar pengakuan Cahyo.

__ADS_1


__ADS_2