MAS DUDA DITENGAH AWAN

MAS DUDA DITENGAH AWAN
Resepsi


__ADS_3

Enam bulan telah berlalu, Cahyo dan Sekar sama sekali tak ada komunikasi sama sekali. Cahyo menghormati permintaan Sekar untuk tidak lagi datang atau menghubunginya.


Rasanya memang berat untuk memenuhi permintaannya karena hati Cahyo telah menetapkan Sekar sebagai ratu atas rasanya.


Sekar memilih menutup pintu hatinya, iya merasa belum siap untuk memulai sesuatu yang baru dan bisa saja melukai hatinya kembali.


Hana teman karib Sekar, menerima pinangan dari kekasihnya, Wito. Hana tak mau nasibnya sama seperti Sekar hingga dia merasa cukup berpacaran tiga bulan saja dan memutuskan menikah.


"Sekar, kamu temani aku disini aja ya? Kamu ga usah bantu bantu di dapur, aku kesepian disini sendirian." Rajuk Hana, layaknya calon pengantin jawa, Hana harus dipingit terlebih dahulu.


"Aku kan kesini diminta tolong buat bantu bantu Na, masak iya aku malah selonjoran disini. Apa kata yang lain nanti?"


"Ya kan kamu teman akrabku, masak iya kamu tega ninggalin aku sendiri disini Kar? lagi kalau aku sudah menikah nanti, kita akan jarang bertemu karena aku akan ikut suamiku."


Sekar yang mendengar pernyataan sahabatnya itu tiba tiba menitikkan air matanya, meski dari awal iya sudah diberi tahu akan tetapi entah kenapa dia merasa tak siap jika berpisah dengan Hana.


"Nanti kalau kamu menikah dan ikut suami, aku luntang-lantung sendiri ya Na? aku resmi jadi perawan tertua di kampung ini." Sekar tersenyum getir, selama ini Sekar dan Hana dijadikan aikon perawan tua dalam bisik bisik tetangga.


"Apa kamu mau aku nemenin kamu lagi?" ucap Hana sambil memeluk teman baiknya itu, iya pun ikut menangis.


"Ja ja jangan Na, kamu harus nikah jadikan besok aku bisa makan rendang yang banyak," canda Sekar dalam tangisnya.


"Ah kamu Kar!" Hana ikutan menangis sambil tersenyum.


"Kar, besok kamu yang bawa kembang mayang ku ya? Aku berdoa semoga dengan itu kamu bisa lekas ketularan." Pinta Hana pelan pelan, iya tak mau temannya itu tersinggung.


"Yang bawa kembang mayang dari pihak laki laki udah dewasa kaya aku ga Kar? aku ga mau ah kalau kembang mayang dari pihak jejaka masih ABG," protes Sekar.


"Lah memang kenapa Kar? Hana terlihat bingung.


"Ye... kan ga enak gitu dilihatnya, tante tante bawa kembang mayang dipasangin sama ABG, takut ketularan dapet brondong! hhhh..." Sekar tertawa, Hana yang dibuat kesal langsung menjewer Sekar. Suasana yang tadinya kaku kini berubah lagi dengan tawa renyah somplak mereka.


🌺🌺🌺

__ADS_1


Ning nang ning nung ning nang ningnung....


Suara gamelan acara temu manten ala jawa sudah mulai digelar, setelah acara akad.


Hana terlihat begitu cantik, dia yang biasanya hanya memakai pelembap dan bedak tabur bayi menjelma bak ratu keraton dalam balutan baju tradisional pengantin jawa. Hana terlihat anggun dan bau wangi melati dari ronce sanggulnya tercium semerbak.


Suaminya pun bak raja raja jawa, dengan selipan keris di pingang, gagah dan penuh wibawa. Rona bahagia terlihat jelas pada sepasang pengantin baru yang akan temon (bertemu).


Pemimpin adat memberi aba aba pada kedua pengantin dan keluarga yang mengiringnya. Saling lempar sirih, senyum terus mengembang dibibir mereka. Sekar yang membawa kembang mayang sang gadis, berdiri tepat disamping sang pengantin perempuan begitu pun dengan pemegang kembang mayang jejaka di bawa oleh jejaka.


Saat pengantin disandingkan sepasang (kembar) kembang mayang ikut diarak dan disatukan oleh si pembawa.


"Sekar..." Laki laki itu terkejut, sama halnya dengan Sekar yang ditegur. Sesaat mereka sadar dan kembali kepada tugas mereka sebagai pembawa kembar mayang. Menyamping kan perasaan demi suksesnya acara.


"Kamu apa kabar Kar?"


"Baik," jawab Sekar seadanya. Dalam hati Sekar sedang menerka apa ini ulah Hana dan suaminya untuk mempermainkannya, "Tidak mungkin!" gumam Sekar. "Hana tidak akan sekejam itu padaku." Sekar terus meyakinkan dirinya.


Laki laki itu terus menatap intens pada Sekar, dia merasa bahwa hari ini adalah hari keberuntungan baginya. Seandainya tadi dia menolak perintah ibu untuk menghantar keponakkan nya, Wito, pengantin pria. Tentu dia tak akan melihat gadis yang sangat iya rindukan selama ini. Sekar terlihat makin mempesona dengan balutan kebaya moderen namun simpel.


"Doakan segera Wan, kamu sendiri kapan?" Jantung Sekar dan Awan sama sama berdegup kencang, ada rasa grogi yang menyergap meski hubungan mereka tidak berakhir dengan bahagia. Gitu kan ya rasanya ketemu mantan? Meski pernah disakiti dan dikecewakan mantan, akan tetapi yang namanya pernah jadi orang istimewa dihati, kalau ketemu pasti ada rasa ser ser gimana gitu hhhh....


"Doakan juga Kar, semoga ada yang mau aku ajak nikah," jawab Awan sambil terus menatap Sekar yang sedang asik memainkan jari jari tangannya. Sekar yang mendengar jawaban Awan, tertegun sesaat lalu menatap Awan beberapa saat, pandangan mereka terkunci satu sama lain. Sekar kembali menunduk untuk menutupi rasa groginya, Awan pun demikian.


"Hubungan yang dibangun atas dasar menyakiti hati, memang tak akan pernah langgeng," Awan tersenyum getir, jika ingat itu rasa bersalah dan merasa bodoh selalu hadir untuk menghakimi dirinya sendiri.


"Oya bagaimana kabar mas Cahyo, Kar?"


"Baik, Wan." Sekar menjawab sekedarnya.


"Betapa beruntungnya Cahyo mendapatkan kamu Kar." lirih namun masih mampu ditangkap oleh pendengaran Sekar. Sekar hanya menanggapi dengan senyuman sepintas.


"Apa suatu saat aku boleh berkunjung kerumah kamu, Kar?

__ADS_1


Santai Kar, aku ga akan ganggu kamu kok. Setidaknya kalau tidak bisa bersama sebagai pasangan, kita bisa jadi teman." Ungkap Awan, "aku janji kalau kerumah mu, aku akan bawa teman temanku jadi Cahyo ga akan marah." Lagi Awan meyakinkan.


🌺🌺🌺


Resepsi pernikahan Hana dan Wito digelar sampai malam hari, pesta dikampung memang asik, tak ada batas waktu dalam menggelar resepsi dan tak ada sewa ruangan, yang ada sewa tenda hhhh...


"Dek.., apa kabar?" Cahyo mengulurkan tangannya pada Sekar.


"Baik mas," Cahyo menatap kekasih hatinya itu, rasa rindu yang tertimbun dalam hati meronta. Ingin sekali rasanya memeluk gadis ayu itu, mengungkapkan rasa sayang dan rindunya tapi Cahyo tau, dia tak boleh seperti itu.


"Jangan telat makan dek, badanmu terlihat kurus banget. Jaga kesehatanmu juga," Sekar hanya memberi anggukan.


Sekar dan Awan didaulat sebagai pelayan manten, semua yang raja dan ratu sehari itu menjadi tanggung jawab mereka oleh karena itu mereka masih ada diposisi yang tidak jauh dari singgasana pengantin.


"Dek, marahnya jangan lama lama ya? Aku kangen bercanda denganmu." Ungkap Cahyo.


"Sudahlah mas, tolong jangan ungkit itu," Manik cantik itu kembali terlihat berkaca kaca.


"Sesakit itukah hingga tak ada maaf bagiku dek dan sampai air matamu belum bisa mengering sampai saat ini?" Gumam Cahyo dalam hati.


Irama indah dalam dada Sekar masih bergetar untuk Cahyo, sungguh meski waktu sesaat kebersamaan dan belum pernah ada komitmen dalam hubungan mereka namun rasa nyaman itu meresap dalam di sanubari Sekar. Tidak mudah melupakan sosok Cahyo, namun cinta tak harus memiliki, iyakan?


Sementara disudut lain, Awan yang baru saja masuk kedalam acara resepsi terperangah melihat Sekar sedang berbincang dengan Cahyo, ada cemburu yang berkobar dalam dada namun iya sadar bukankah hal yang wajar jika sepasang kekasih bersama? Seorang mantan wajar punya rasa cemburu tapi dia tak berhak untuk melarang.


"Hai apa kabar mas?" Awan menghampiri Sekar dan Cahyo. Cahyo terlihat terkejut dengan kehadiran Awan.


"Baik Wan, sudah lama ya kita ga ketemu?" balas Cahyo basa basi. Awan mengangguk.


"Jadi kapan nih diresmikan?"Ujar Awan dengan sedikit gemetar ada rasa tidak rela jika memang terjadi, Sekar yang sedari tadi menunduk, tercengang menatap Awan, tatapan itu tertangkap oleh Awan. Cahyo sendiri bingung dengan pertanyaan Awan, "Apa Awan tidak tahu apa yang terjadi?"pikir Cahyo.


"Cie yang ketemu mantan, tembak lagi terus ajak ke KUA mas, nanti kita arak rame rame pulang pergi. Mau kan dek Sekar?" Salah satu teman Cahyo menghampiri, ketiga insan itu.


"Mantan?" lirih Awan. Sekar dan Cahyo saling menatap sesaat.

__ADS_1


"Besok aku kerumah." Pamit Cahyo. Sekar hanya terdiam tak mengiyakan atau menolak.


__ADS_2