MAS DUDA DITENGAH AWAN

MAS DUDA DITENGAH AWAN
Awan


__ADS_3

"Sejujurnya aku benci melihatmu dengan laki laki lain Kar, hatiku meletub letub bak air mendidih." Suara hati Awan.


Flashback On


(Delapan tahun silam)


"Sekar, apa dia sudah mengabari mu?" Rasa penasaran Awan melanda, setelah selang sehari ulang tahun Sekar.


Sekar menggeleng lemah.


Melihat gelengan Sekar, kuntum bunga di hati Awan semakin mekar. Perlahan namun pasti, "Aku akan membuatmu mencintai aku, Kar."


Sekar memang dan harus jadi milikku! memang bukanlah hal mudah menghapus nama pria yang bersarang dalam hatinya bertahun tahun ini, tapi jangan sebut aku Awan jika tak membuatnya mencintai aku. Awan dialog dengan hatinya sendiri.


"Sekar, bolehkah aku menjadi pengganti laki laki itu?" aku pun sudah membuktikan bahwa aku menunggu jawabanmu selama satu tahun ini."


"Wan, aku..." Sekar berada dalam dilema.


"Kar, seperti janjiku padamu, aku akan menunggu sampai hari perjanjian itu, apakah itu tak membuktikan bahwa aku serius padamu?" Bagaimanapun Awan mau Sekar jadi miliknya, meski hatinya masih ada nama pria lain.


"Aku tahu Wan, tapi..., tapi aku tak yakin apa aku bisa membalas perasaanmu?" Sekar meragukan dirinya.


"Beri aku kesempatan untuk menaklukan hatimu, aku yakin perlahan dirimu pasti akan mencintai ku." Awan sangat optimis bisa membuat Sekar jatuh hati, apalagi dikala gundah.


"Tapi Wan...," Sekar terlihat bimbang.


"Jika dalam setahun kedepan aku tak mampu membuatmu mencintai aku, aku akan merelakan mu Kar," Awan meyakinkan Sekar.


"Baiklah..," rasa bimbang, bingung, tidak enak hati, akhirnya memaksa Sekar untuk menerima.


"Terimakasih Kar, terimakasih sudah memberikan aku kesempatan untuk bisa bersamamu," Awan menggenggam tangan Sekar, berjanji untuk menaklukan hati sang pujaan.


"Em, mulai besok aku akan jemput dan hantar kamu Kar, jangan berangkat sekolah sebelum aku jemput."


"Aku bisa berangkat sendiri Wan," Sekar menolak.


"Beri aku kesempatan Kar," netra Awan, memohon.


"Baiklah," lagi lagi Sekar merasa terzolimi hingga akhirnya mengiyakan.


"Tenang Kar, jam 6.45 aku pasti sudah di teras ini," Awan tersenyum semanis mungkin untuk pacar barunya ini, hhhh meski dia belajar mencintaiku. Awan tertawa kecut.


Berjuang harus dengan langkah yang tepat! agar tidak sia sia dan membuang waktu percuma.


* Perjuangan #1 Kasih Kabar


(Konon katanya perempuan itu merasa dianggap kalau diberi kabar).

__ADS_1


Awan mengirim pesan lewat aplikasi biru :


"Kar, aku sudah sampai rumah ini. Terimakasih sudah memberiku kesempatan, I L U."


[Iya.]


"Aku sayang kamu, aku janji akan berusaha buat kamu selalu tersenyum."


[Terimakasih.]


"Kembali kasih, sayang ku."


Tak ada lagi balasan dari Sekar, cinta memang harus diperjuangkan, walau sekilas seperti sedang mengemis, namun bukankah memberikan kabar tanda bahwa penerima kabar adalah dia yang mempunyai ruang khusus dalam hati sang pemberi kabar?


* Perjuangan #2 Perhatian


( Tidak perlu pergi ke medan perang, secuil perhatian bisa menaklukkan hati lawan ).


Android memang sangat berperan, mau sering sering kerumahnya takut dimarah ortunya.


Awan, duduk di serambi rumahnya dan mulai memainkan jarinya ke benda pipih berteknologi itu. Ia mengetik pesan untuk Sekar.


"Sekar, ada tugas dari sekolah ga nih?"


Tak lama terlihat dua centang biru, dipesan yang Awan kirim dan ada pesan balasan.


"Sudah selesai belum?"


[Belum]


"Kenapa, susah ya? Aku bantuin boleh ga?"


[Ga papa Wan, ga usah, lagi malas saja]


"Semangat Sekar ku..."


[Iya,]


"Huf... ternyata memang ga mudah menaklukkan hati, terus semangat Awan!" Lagi lagi menyemangati diri sendiri.


* Perjuangan #3 Sabar


( Belajar percaya dengan kata bijak, orang sabar pasti menang.)


"Sekar, kita jalan yok?" Awan selalu membujuk Sekar untuk mau diajak jalan.


"Maaf Wan, aku ga bisa. Aku ingin dirumah saja," Sekar menjawab seadanya.

__ADS_1


"Kalau gitu boleh ga aku apel kerumah?" Awan menatap sambil tersenyum, tak kenal lelah.


"Memang kamu mau ajak aku kemana Wan?" Sekar merasa kadang tak enak hati selalu menolak ajakan Awan.


"Kita kepantai Kar, biar seperti turis," Awan terlihat sumringah karena sepertinya Sekar mau diajak pergi.


"Yeay! orang sabar pasti subur, eh menang," gumam Awan.


* Perjuangan #4 Tidak memaksa


( Jangan memaksa, semakin dipaksa semakin pergi angkat kaki seribu).


"Wan, aku tidak suka kamu antar jemput sekolah," Sekar akhirnya menyampaikan keluhannya.


"Oh oke, tapi kalau kamu butuh aku jemput atau hantar bilang ya?" Awan berusaha bersikap bijak meski sejujurnya keberatan.


"Kamu ga marah kan Wan?" Sekar sepertinya agak tak enak hati.


"Ya enggaklah sayang, kenapa harus marah?" Awan berusaha menyembunyikan kecewa yang ia rasa.


"Terimakasih Wan," Sekar tersenyum, terbayang sudah bagaimana ia akan pergi dan pulang sekolah bersama teman teman seperti sebulan yang lalu, sebelum ia menjadi kekasih Awan.


"Aku suka melihat senyummu, kamu makin manis," Awan memuji dengan tulus.


Flashback Off


"Huf..." Awan, menarik napas dalam dalam. Mendapatkan hati Sekar memang bukan hal yang mudah!


Memperjuangkan Sekar, kerap membuat luka tapi tak berdarah, ternyata perjuangan menjadi sia sia, perempuan yang baru bisa Awan taklukan hatinya setelah dua tahun berpacaran.


"Setelah kudapatkan cintamu, aku membuangmu, kini aku merasa terluka ketika kamu dengan yang lain Kar, aku merindukanmu." Awan bicara sendiri.


"Sekar, aku tak yakin kamu sudah dapat penggantiku sekalipun si duda yang sekarang duduk bersamamu! aku sangat mengenal kamu Kar.


Seandainya benar kamu sudah dimiliki duda itu, tapi aku yakin tidak dengan cintamu, dulu aku butuh waktu dua tahun untuk membuatmu melupakan laki laki yang tak lama dirimu kenal.


Sekar, tunggulah aku... akan aku rebut kamu kembali!vaku akan selesaikan dulu urusanku dengan Sasa."


Awan, kini menyadari bahwa ia masih sangat, sangat mencintai Sekar, apa yang ia rasa kepada Sasa adalah sebuah kesalahan.


Sepertinya memang terlambat, namun dalam cinta tidak ada kata terlambat sebelum ada akad nikah.


"Aku titip Sekar sebentar mas duda, hati hatilah tak lama lagi Sekar akan aku ambil." Awan tersenyum optimis.


Awan bangun dari duduknya, waru laut adalah saksi yang mengembalikan bagaimana rasa hati yang hampa, kembali lagi mendamba.


Awan meninggalkan tepi pantai penuh cerita, dengan satu kemantapan dihati.

__ADS_1


"Sekar, aku akan kembali, tunggulah aku sejenak."


__ADS_2