MAS DUDA DITENGAH AWAN

MAS DUDA DITENGAH AWAN
Galau


__ADS_3

Perjumpaan dengan Awan di resepsi pernikahan Hana membekas dalam pikiranku, Awan yang dulu pendiam kini lebih banyak bicara entah mengapa aku suka itu.


Sedikit banyak jiwa ingin tahuku sebagai mantan meronta, sebisa mungkin aku bertahan untuk tidak bertanya tentang hubungannya dengan kekasih barunya itu namun semuanya kandas justru setelah kehadiran mas Cahyo, aku terbawa keadaan hingga membicarakan sesuatu yang harusnya aku tutup rapat dari Awan.


Kehadiran mas Cahyo dkk sudah memporak porandakan perasaan ini.


Memang, antara aku dan mas Cahyo tidak ada komitmen yang jelas! awalnya aku berpikir bahwa mungkin begini caranya sikap insan yang lebih dewasa dariku membina suatu hubungan tanpa harus bertanya dan jawaban.


Rasa nyaman bersamanya membuat aku menutup mata atas kejelasan hubungan kami, hingga aku sadar dengan kehadiran Tari.


Setiap saat pikiranku mulai melangkah kedalam kenangan bersama mas Cahyo, saat itu juga muncul gambar dalam ingatanku betapa iya terbuai dalam setiap sentuhan mantan istrinya itu. Mataku sendiri yang melihatnya. Aku sangat benci!


Jika ditanya apa aku cemburu atau tidak? Rasa kecewa ini sudah mewakili akan apa yang aku rasakan. Aku tertipu!


Rasa sakit yang aku rasakan atas penghianatan Awan, tak sesakit apa yang aku rasa pada laki laki yang belum lama bersamaku. Mungkinkah ini yang namanya cinta buta?


Setiap kata dan pesannya terekam jelas dalam memori otakku.


"Dek, aku kerumah mu ya? Aku bisa jelaskan semuanya. Kamu salah duga dengan apa yang kamu lihat tadi dek, aku bisa jelaskan." Pesan dari mas Cahyo aku baca namun tak aku balas bukan berarti aku tak menanti, tapi ternyata dugaanku benar itu hanya sebuah rayuan mas Cahyo belaka.


[Dek, tak ada niat dalam hati untuk menyakiti apa lagi menduakan, Tari pernah menjadi bagian hidupku, begitu juga dengan dirimu tapi posisinya tak akan tertukar dalam hatiku. Tari adalah perempuan dimasa laluku dan kau perempuan untuk masa depanku. Masa dimana kita akan menua bersama.] Jujur membaca pesan ini hatiku tersanjung dan tersentuh, aku mau bahkan sangat mau mas. Tapi aku bukan lagi anak ABG yang percaya saja tanpa adanya bukti.


[Jangan lari dariku karena aku ingin menghabiskan semua waktuku bersamamu!] Aku hanya ingin melihatmu berjuang bagiku mas, tapi ternyata aku benar semua kata katamu hanya pemanis bibir saja.


[Menikahlah denganku, menua bersamaku dan bercerai denganku karena maut.] Omong kosong semuanya tapi hati ini tetap saja berharap, sudah gila sepertinya aku.


Semua isi pesan dari mas Cahyo ini masih aku save dalam android ku, semua bujuk rayunya membuat terbang sesaat lalu dijatuhkan demikian dalamnya dan kini aku benar benar merasa sakit hati.


🌺🌺🌺


"Sekar, ada tamu itu." Mama menyembulkan wajahnya dari balik pintu kamarku.


"Tamu? Malam malam gini ma?" Sekar melirik jam dinding kamar menunjuk 20.45.


"Iya, temui sebentar jangan lama lama."


"Siapa sih mah, kok kayak ga ada waktu besok saja?" Sunggut Sekar malas.

__ADS_1


"Sudah temui sana nanti keburu malam, ga enak dilihat tetangga."


Dengan langkah malas, aku melangkah keteras depan rumah.


Sosok laki laki berkemeja bermotif kotak kotak kecil dipadu dengan celana dasar hitam duduk membelakangi Sekar.


Perasaan Sekar makin tak menentu dia sangat hapal itu bukan Awan atau Cahyo seperti dugaannya di kamar tadi.


"Mas..." lirih Sekar saat yakin bahwa dia laki laki masa lalunya.


"Dik," laki laki itu membakikkan badannya, dia tersenyum dan senyumnya tak berubah. Sama seperti dahulu terasa hangat dan tetap rapih seperti dulu.


Ada gejolak hebat dalam dada Sekar, harus bahagia atau marah.


"Kamu makin cantik dik,"


"Buat apa kamu kesini mas? Nanti suamiku marah jika tahu ada laki laki yang menemui istrinya," ketus Sekar berbohong.


Laki laki itu justru terkekeh kecil, tawanya masih seperti dulu terdengar renyah dan deretan giginya terlihat putih terawat masih seperti dulu yang selalu di rindu.


"Mas, kenapa kamu senyum seperti itu? Tidak ada yang lucu." Pekik Sekar sebal.


Mungkin waktu membuatmu lupa bahwa aku bukan tipe orang gegabah, sebelum menemui mu aku sudah cari informasi tentang mu." Ah malunya Sekar ketahuan bohong.


"Untuk apa kamu menemui aku sekarang mas? untuk mengolok ku? iya?" Sekar yang kesal merasa dipermainkan oleh laki laki yang ditunggu tanpa kabar, kini tiba tiba muncul dihadapannya.


Sekar dan laki laki itu duduk terdiam, terkadang mereka saling memergoki saat saling curi pandang.


"Sepuluh tahun berlalu, kamu tidak berubah masih sama dengan Sekar ku yang dulu. Sekar yang manis namun terlihat lebih cantik mungkin karena sekarang rajin diet ya dik?" lagi ia memamerkan deretan gigi putihnya itu.


"Besok aku jemput kamu ya dik? Aku ingin mengajakmu jalan." Tatapan mata yang selalu teduh itu terlihat memohon.


"Maaf mas, aku tidak bisa."


"Tolonglah dik, aku tak ingin pergi tanpa memberikan penjelasan apapun padamu,"


"Apa maksudmu mas? Apa kamu hanya sebentar disini?"

__ADS_1


Mata teduh itu tetap memandang Sekar seperti dulu namun ada semburat kesedihan didalamnya dan Sekar menangkap itu.


"Kenapa diam mas?"


"Besok aku jelaskan semuanya padamu dik,"


"Kenapa tidak sekarang saja?"


"Selain makin cantik ternyata kamu makin agresif dik," kedipnya menggoda. Sekar yang melihat itu tercengang.


"Kamu pun ternyata sekarang jadi laki laki genit!" ketus Sekar sebal.


Dia yang melihat Sekar merajuk terlihat makin gemas.


"Jelaskan sekarang saja mas!"


"Dik, ini sudah malam, besok jam sepuluh aku jemput kamu. Aku mohon kabulkan permintaanku kali ini saja."


"Tapi mas besok aku harus kerja,"


"Aku ingin sehari bersamamu dik, aku tak tahu dihari selanjutnya apa aku bisa bertemu denganmu." Suaranya terdengarlah bergetar.


"Aku pamit ya dik, tolong sampaikan salam ku pada ibu. Besok jam sepuluh aku jemput."


"Kamu menginap dimana mas?"


"Kenapa mau nawarin aku nginep disini ya? Jangan dik nanti suami adik marah." Lagi lagi dia mengedipkan mata kirinya. Pipi Sekar merona merah mendengar laki laki itu mengungkit kebohongannya.


"Mas!!!" pekiknya Sekar refleks.


Laki laki itu melonjak kaget, "Dik ternyata banyak sekali kemajuan yang kamu miliki selain makin cantik, suaramu makin tinggi oktafnya." Wajahnya cemberut.


"B.O.D.O! Memang kau siapaku dan apa peduliku tentang suka atau tidaknya kamu?" biar saja biar dia tahu bahwa dia bukan orang penting bagiku.


"Dik... aku memang bukan Awan, bukan Cahyo tapi aku laki laki yang juga pernah bertahta di hatimu. Tolong jangan katakan itu lagi setidaknya sampai besok." Tanpa Sekar sadari tangannya telah ada dalam genggaman pria itu.


🌸🌸🌸

__ADS_1


Berharap like dan komen dari pembaca 😊


__ADS_2