MAS DUDA DITENGAH AWAN

MAS DUDA DITENGAH AWAN
Perempuan Cantik


__ADS_3

"Dek, sini biar mas aja yang menimba airnya." Cahyo mengambil tali timba dari tangan Sekar.


"Sekar aja mas, mas Cahyo temani bapak saja didalam," tolak Sekar.


"Aku tahu kamu ga pernah nimba air dek, sini biar aku aja. Kamu cuci aja piring piringnya." Cahyo tetap kekeh.


"Makasih mas."


"Aku yang makasih dek, aku ga ngira kamu mau kesini bahkan sampai cuci piring segala disini." Cahyo tersenyum manis pada Sekar, ya hadirnya Sekar hari ini membuatnya terhibur dalam dukanya.


"Mas Cahyo..." teriak seorang perempuan cantik dari dalam dapur, perempuan itu menghampiri mas Cahyo yang sedang menimba. Sekar yang sedang mencuci piring tak jauh dari sumur ikut menengok kearah suara, lalu sesaat kemudian terkejut melihat perempuan cantik itu memeluk Cahyo.


"Mas, maaf ya aku baru bisa datang hari ini. Aku lagi sibuk, mas jangan sedih lagi ya ada aku disini." Perempuan itu bergelayut manja pada lengan Cahyo.


"Hei kamu!" Panggil perempuan cantik itu pada Sekar.


"I i iya mba, ada apa ya?" Sekar terbata karena tak mengira perempuan ayu itu memanggil dengan kasar.


"Ngapain kamu liatin mas Cahyo seperti itu!" Perempuan itu membulatkan matanya pada Sekar.


"Oh maaf mba, maaf saya ga tahu klo mas Cahyo ga boleh dipandang."


"Bagus klo kamu sudah paham!" Perempuan cantik itu terlihat menarik bibir kanannya keatas. Cahyo membuang pandangan dari Sekar.


"Mas, udah yok kita kedalam saja. Kamu sedang berduka, biar perempuan ini membereskan pekerjaannya sendiri tak usah dibantu, enak amat dia dibantuin, dia disinikan memang buat bantu bantu. Ayok mas, lama lama disini aku bisa kotor, aku ga bawa ganti." Perempuan itu menarik tangan Cahyo dengan paksa.


"Dek..."


"Halah udahlah mas ga usah ga enak hati sama perempuan dusun ini, dia disini pasti senang karena bisa makan minum G-E-R-A-T-I-S!!! Iya kan?" Perempuan itu bicara dengan angkuhnya.


"Nanti selesai cuci piring, kamu cuci sendalku ini!" Perempuan itu melempar sendalnya pada Sekar.


"Cukup Tari!" bentak Cahyo pada perempuan cantik yang ternyata bernama Tari itu. Bentakan mas Cahyo ternyata didengar ibu ibu yang sedang di dapur, mereka keluar untuk melihat apa yang terjadi.


Sekar mencoba menahan air matanya, ia membawa cucian piring dalam wadah besar yang sudah beres dicucinya dengan tergesa. Entah mimpi apa dia semalam hingga bisa bertemu dengan perempuan yang hanya ayu parasnya saja.


"Eh dusun! diajak ngomong malah minggat kamu." Teriak perempuan itu emosi karena ia tak terima dibentak Cahyo karena Sekar.


Cahyo mengejar Sekar, ia mencoba menahannya tapi ditepis oleh Sekar. Hana yang melihat sahabat karibnya diperlakukan seperti itu tentu saja tak terima, namun Sekar sudah menarik tangan Hana.

__ADS_1


"Hana, kita pulang saja, tidak usah diladeni perempuan itu." Ajak Sekar dengan menahan tangisnya.


"Tapi dia harus diberi pelajaran Kar, aku tidak terima kamu diperlakukan seperti itu!" Hana yang temperamen dan Sekar yang sabar menjadikan keduanya sahabat karib.


"Kita pulang saja Hana, kita memang bukan siapa siapa disini." Sekar menatap Hana dengan tatapan memohon.


"Sekar, kamu tetap disini biar Cahyo yang urus mantan istrinya itu!" bulek Rina memeluk Sekar.


Deg! jantung Sekar seperti berhenti.


"Mantan istri?" Sekar dan Hana bertanya berbarengan. Diamini dengan anggukan oleh bulek Rina.


"Ayo Kar kita pulang!" Hana tak mau Sekar makin down.


"Sekar, jangan pulang Kar, aku jelasin dulu semuanya." Cahyo berusaha mencegah Sekar dengan menghadangnya. Sekar menatap Cahyo dengan tatapan kecewa.


"Minggir mas, Sekar mau pulang!" teriak Hana.


"Hana, beri aku kesempatan untuk menjelaskan pada Sekar, sebentar saja." Mohon Cahyo.


"Jangan temui sahabatku lagi, atau kau akan berhadapan denganku!" Hana melepaskan genggaman Cahyo dengan kasar.


"Sana pergi kalian, dasar tidak tahu diri sudah dikasih makan minum gratis ditempat ini langsung pulang!" nyiyir Tari.


"Au" Tari berteriak kesakitan karena tamparan seorang perempuan.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Mas..., sekarang katakan padaku, siapa perempuan tadi?"


"Calon istriku." Semua mata yang hadir di ruangan terlihat berbinar mendengar pengakuan Cahyo.


"Mas! lalu aku ini, kamu anggap apa?" pekik Tari dengan emosi.


"Mantan istri!" Seru yang hadir, pak Dito hanya diam dan memperhatikan kejadian yang ada.


"Kalian ga usah ikut campur urusan rumah tangga kami!" Tari terlihat murka.


"Ngelindur kamu Tari! bangun jangan tidur terus." Bulek Rina tersulut emosi.

__ADS_1


"Kamu itu disini bukan lagi siapa siapa jadi jangan sok! awas saja kalau sampai Cahyo tak jadi menikah dengan Sekar." Ancam mba Wulan, kakak perempuan mas Cahyo, yang menampar Tari tadi.


"Cahyo tidak akan menikah dengan siapapun, dia milikku!" Tari ngegas.


"Itu dulu! dulu sebelum kamu pergi dari rumah ini." Kata pak Dito, yang sedari tadi hanya diam.


"Pak!" Hardik Tari.


"Diam! atau mau aku tabuk lagi mulutmu itu, dengan orang tua tak ada sopan santun kamu itu. Untung saja kamu sekarang tinggal bekas." Mbak Wulan semakin tersulut emosinya.


"Bapak kecewa padamu Cahyo, harusnya kamu kejar dan tahan Sekar bagaimanapun caranya! bapak merasa dia perempuan yang tepat untuk menjadi istri dan ibu anak anakmu kelak." Keluh pak Dito.


"Pak...,"


"Bapak turut merasakan sesak dan sedih yang anak itu rasakan, meski bapak tidak tahu ada kejadian apa dibelakang tadi, yang bapak tahu ia benar benar gadis tulus." Pak Dito, berdiri dari tempat duduknya dan berlalu pergi.


"Halah mas, perempuan macam dia banyak dipinggir jalan. Ga usah kamu pikirkan apa kata bapak." Semua mata yang ada ditempat itu menatap kearah Tari.


"Ternyata selain sombong, kamu ini buta! Tari."


"Kamu juga buta kalau mau sama anak tak punya adab ini Cahyo! mau jadi apa keluargamu jika istrimu seperti ini."


"Bulek ga bisa bayangkan anak anakmu nanti," bulek Rina terlihat begitu murka. Tari melebarkan matanya menatap bulek .


"Katakan pada bulek, apa kamu berniat balikkan lagi dengan perempuan tak adab ini? Kalau iya! bulek janji ga akan mau lagi menginjak rumahmu ini."


"Emang bulek pikir, bulek itu penting disini? Sana sana pergi dari sekarang!" Tari menggerak gerakan tangannya.


Plak!


"Mas Cahyo!" Tari reflek memegang pipinya yang ditampar oleh Cahyo.


"Disini, kamu yang bukan siapa siapa! Pergi dari sini sebelum aku lebih kasar lagi padamu!" Cahyo menunjukkan jarinya kearah pintu. Emosinya meletup letup.


"Mas! aku ini istrimu, ga seharusnya kamu bersikap seperti ini padaku." Tari tak mau kalah.


"Istri yang sudah keluar dari rumah suaminya dengan niatnya sendiri dan pergi dengan laki laki lain dia bukan lagi istri! dia seorang pezinah." Raut muka dan mata Cahyo memerah, semua yang menatapnya menjadi ngeri karena baru ini mereka melihat Cahyo yang sedang marah.


"Pergi atau aku seret dirimu!"

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹


Masih berharap ada yang mampir ☺️


__ADS_2