
Sekar yang mendengar perkataan mas Cahyo, terhenyak namun tetap diam.
"Sekar, apa itu benar?" Awan, yang sudah memegang pergelangan tangan Sekar, secara perlahan melepaskan genggamannya.
"Sejak kapan kalian jadian?" Awan menatap lekat ke mantan pacarnya itu.
"Sejak dua hari yang lalu, tidak ada masalah denganmu bukan?" Cahyo merengkuh pundak Sekar.
"Tetapi kenapa aku tak tahu?" Awan, merasa ragu dengan jawaban Cahyo.
"Memang kamu siapanya Sekar sampai harus tahu? Kamu hanya mantan Wan, yang namanya mantan tidak harus diingat atau mencari tahu," ketus mas Cahyo.
"Aku kira kamu benar benar mencintai aku Kar, aku kira akan sulit bagimu untuk menemukan pengganti ku, ternyata aku salah. Baru satu bulan kita berpisah ternyata kamu sudah dapat penggantiku." Awan, terus menatap Sekar, tanpa berkedip, ia benar benar merasa bahwa mantan pacarnya kini sudah sangat berubah.
"Oh kamu berpikir aku akan mengejar kamu Wan? Kamu pikir aku harus mengharapkan dan mengemis untuk dicintai olehmu begitu? Hhhh.... mimpi kamu!
Aku bukan Sekar yang bodoh Wan, aku pernah memperjuangkan kamu dan bagiku cukup sekali saja! bukankah aku pernah katakan itu sewaktu kita pergi bersama untuk terakhir kalinya? Sepertinya kamu lupa!
Sekarang jalan hidup kita tak lagi sama, jangan selalu ingin tahu tentang kabarku, akupun tak butuh tahu tentang mu! kamu bahagia atau tidak dengan selingkuhan kamu pun, aku tak perduli karena kamu hanya sekedar mantan, bukan siapa siapa bagiku, kamu juga harus begitu, aku ini hanya mantan yang harus dibuang ke tong sampah!"
"Sekar! segitu benci kamu ke aku?" Awan, benar benar sudah tak mengenal perempuan didepannya itu, perempuan yang sudah pernah delapan tahun bersamanya.
"Mas Cahyo, kita pergi dari sini yuk? Kakiku capek berdiri terus, lagian tadi kita hanya berdua, kenapa sekarang bertiga?" Sekar, menggamit tangan mas Cahyo dan mengajaknya berlalu dari Awan.
"Sekar, aku memang bukan siapa siapa lagi buatmu, tetapi aku masih perduli denganmu," Awan meneteskan air mata, hatinya terasa begitu sakit menyaksikan kemesraan perempuan yang pernah ia puja dengan laki laki lain.
"Mas Cahyo, maafkan aku ya, aku membawamu dalam masalahku, aku tak tahu kalau akan seperti ini jadinya," Sekar terduduk di atas hamparan pasir putih, air matanya pun mulai menganak tak mampu lagi dibendung.
Mas Cahyo, yang tahu bahwa saat ini keadaan Sekar, memilih untuk diam. Saat bahu Sekar, terguncang, mas Cahyo merengkuh bahu itu kedalam pelukannya dan membelai kepala Sekar, perempuan yang diam diam ia kagumi sejak setahun terakhir ini.
Awan, yang melihat kejadian itu tiba tiba hatinya terasa mendidih, ingin rasanya ia mematahkan tangan duda si** itu!
"Aaaahhhh ada apa dengan diriku ini? Bukankah ini yang aku mau? melepaskan Sekar, dan merengkuh Sasa, dalam dunia asmaraku." Awan terus mengomel pada dirinya sendiri,
tapi apa peduliku? Sekar mau mendapatkan siapapun bukan urusanku lagi, seperti katanya, bahwa mantan harus dibuang ke tong sampah." Awan, berusaha untuk memotivasi diri sendiri.
__ADS_1
"Lebih baik aku pergi dari sini, bukankah aku harus seperti Sekar, bisa menikmati kebahagiaan yang aku pilih sendiri? Biarlah disini Sekar berbahagia, akupun akan berbahagia juga dengan Sasa," Awan, menyetater motornya dan berlalu dengan tetap melihat kearah perempuan yang pernah atau bahkan masih ada dihatinya itu.
"Semoga kamu bahagia Kar."
Awan, menjalankan motor yang dikendarai itu dengan sangat pelan, ia pun akhirnya tersadar bahwa pantai ini menyimpan banyak kenangan antara dirinya dan Sekar.
"Sekar..., mungkin kamu lupa dengan banyak goresan tawa sumringah kita dalam tiap debur ombak yang berlarian kepantai ini, bahkan mungkin kamu pun sudah lupa bahwa terakhirnya kita kemari, ada derai air matamu juga, saat kau memintaku untuk kembali?" Awan, terus berbicara sendiri dengan dirinya. Ada kekosongan dalam hatinya yang membuatnya merasa sepi.
Awan, tiba tiba menghentikan laju motornya saat melewati sebatang pohon waru laut yang rindang, ia turun dari atas motor itu dan menyandarkan tubuhnya pada batang waru itu.
Awan, teringat sebuah kisah di sembilan tahun silam.
Flashback On
(Sembilan tahun yang silam )
"Sekar, sini duduk disini!" Awan dan Sekar pergi ke pantai dengan berkonpoi ria, ada lima belas motor rombongan dan semua berboncengan.
"Duduk disini aja Kar, disini teduh," Awan sengaja mencari tempat agak terpisah dari rombongan.
"Yaelah Kar, masalah sama siapa? Lagian apa kamu mau jadi obat nyamuk orang orang itu?" Awan menunjuk rombongan mereka yang ber-selfie ria dengan pasangannya masing masing.
"Sudah disini aja sama aku, aku ga rabies kok sudah divaksin."
"Em... aku mau sama Desy saja Wan." Tolak Sekar.
"Jangan, jangan... kamu disini saja sama aku, aku ga ada temannya. Desy, juga lagi pendekatan sama Bayu, masa ia kamu mau ganggu mereka, siapa tahu pulang dari sini mereka udah ga jomblo lagi, dan kitapun gitu...," Awan tersenyum semanis mungkin.
"Kita??? Maksud kamu apa Wan?" Sekar terlihat mulai resah karena menyadari sesuatu yang sepertinya salah.
"Iya Kar, kita."
"Maksud kamu?" Sekar, terlihat semakin tak tenang.
"Sudah empat bulanan ini aku memperhatikan kamu Kar, jujur aku tertarik padamu!"
__ADS_1
Sekar hanya terdiam, tak tahu harus bicara apa.
"Sekar, apa kamu mau jadi pacarku?"
Dibawah pohon waru laut yang rindang dan teduh, Awan mengungkapkan perasaan pada Sekar, Awan sangat berharap rasa cintanya terbalas.
"Awan, terimakasih untuk perasaanmu padaku, namun maaf aku tak bisa membalas cintamu," Sekar berusaha tetap tenang dalam gugupnya.
"Kenapa Kar? Bukannya dirimu pernah bilang kalau kamu masih jomblo padaku? Kamu bilang kemarin kalau hanya aku, lawan jenis yang mendekati mu?" Awan, tidak mengira bahwa Sekar menolaknya.
"Katakan Kar, apa alasanmu?" Awan terus mendesak jawaban.
"Aku memang jomblo, teman laki laki banyak, tapi paling dekat denganmu Wan. Aku sudah berjanji untuk seseorang Wan, seseorang yang aku kagumi kala usiaku empat belas tahun, dia pernah menyatakan cintanya padaku dan dia bersedia menunggu tiga tahun untuk jadi kekasihku, saat genap usiaku tujuh belas tahun, sesuai dengan persyaratan yang orangtuaku beri padaku. Satu tahun lagi, saat aku berulang tahun dia akan datang, dia akan menagih janjinya padaku," Sekar mendudukan diri dengan bersandar di batang kayu waru.
"Lantas dimana laki laki itu sekarang?"
"Aku tak tahu Wan, semenjak perpisahan itu kami tak saling berkabar, bagaimana keadaannya, rupanya, aku tak tahu Wan." Sekar menunduk.
"Apa kamu yakin laki laki itu akan datang Kar? Jangan jangan kamu hanya dipermainkan olehnya saja?"
"Aku tak tahu Wan," lirih jawabannya.
"Kar, apakah aku boleh menunggumu sampai laki laki itu datang padamu?" Awan yang duduk bersebelahan dengan Sekar, menatap kosong.
"Buat apa kamu menungguku Wan? Jangan lakukan hal sepertiku, jangan mengharap yang tak pasti selagi tak ada janji."
"Aku akan menunggumu Kar, menunggu sampai laki laki itu datang, tapi aku merasa laki laki itu tak akan datang dan kamu akan kumiliki tahun depan." Awan lebih sungguh lagi untuk memperjuangkan dan mengisi kekosongan hati Sekar meski tak mudah.
Flashback Off
"Ahhhhhhh si*lan! kenapa aku sampai lupa bahwa perjuanganku untuk mendapatkan cintamu tak lah mudah?" Sesal Awan.
Awan mengelus pohon waru itu dengan perlahan, ia seakan melihat kembali bagaimana Sekar, pernah duduk disampingnya.
"Aku memang bo*o* !!!" maki Awan pada dirinya.
__ADS_1