
Acara tujuh harian ibu Cahyo, masih tiga hari lagi, semua keluarga kumpul tapi pak Tono tetap saja murung, ya bagaimanapun bukan hal mudah melupakan sosok istri yang berpuluh-puluh tahun menemaninya dalam keadaan suka dukanya.
Kehadiran Wahyu mampu mengobati sedikit dukanya, cucu laki laki pertamanya.
"Mbah kung, Wahyu kangen sama mamah..." Ujar Wahyu, kala sedang berbaring bersama mbah kakungnya, pak Tono.
Pak Tono terdiam, dilema menghampirinya. "Bicaralah pada ayahmu, Yu." Hanya itu yang mampu iya katakan pada cucu kesayangannya, "Semoga boleh ya mbah, kasihan mamah dirumah sendirian." Gumam Wahyu.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Pagi sekali ponsel Cahyo telah berdering, Cahyo yang terbiasa bangun menjelang subuh merasa heran ada panggilan sepagi ini.
Cahyo mengeriyitkan dahinya saat membaca nama tertera pemanggil.
"Tari? Ada apa pagi pagi begini dia menghubungiku?" Cahyo mengangkat panggilan itu.
"Pagi mas," terdengar suara Tari yang lesu.
"Iya, pagi juga Tari." Sekedar saja Cahyo menjawab panggilan dari ibu anaknya itu.
"Semalaman aku ga bisa tidur mas, aku kepikiran sama Wahyu. Apa dia rewel semalam mas?"
"Sepertinya dia tidur nyenyak,"
"Kok sepertinya sih mas! apa Wahyu tidak tidur denganmu?" Terdengar suara Tari kesal.
"Terus kamu suruh tidur dengan siapa anakmu? Dengan pacarmu? Oh rupanya kamu bawa anakku untuk kau dekatkan dengan perempuan lain gitu? keterlaluan kamu mas!" Pekik Tari emosi. Secara sepihak Tari mematikan panggilannya.
"Ternyata kamu ga berubah Tar, semoga Wahyu tidak mengikuti tabiat buruk darimu." Keluh Cahyo pada dirinya sendiri.
"Untung saja pagi buta begini aku sudah bangun! lihat saja kalau sampai benar dugaan ku, benar benar akan aku buat kau menangis perempuan kampung!" Tari yang merasa rencananya gagal merasa sangat geram.
Tari bergegas membereskan semua barang barang untuk dia menginap dirumah mantan mertuanya itu. Tari yang awalnya sudah menyusun rencana dengan demikian cantiknya menjadi kepanasan, semula iya bermaksud menggunakan Wahyu sebagai senjatanya.
Tari yang semula ingin datang karena diminta kehadirannya oleh sang anak terpaksa kecewa, iya sangat marah pada Wahyu karena beranggapan anaknya tak melakukan apa yang dia perintahkan.
Segala kebutuhan yang telah iya siapkan semalam, mempercepat acara kemas kemas barang yang dibawa. Dengan mengendari sepeda matic, Tari gegas melaju kuda baja itu dengan cepat.
Dua jam perjalanan Tari sudah sampai dihalaman rumah pak Tono.
"Wahyu...nak, kamu dimana mamah kangen!" Suara cempreng Tari memecah keheningan pagi di rumah pak Tono.
Orang orang yang berada dalam rumah pak Tono, termasuk sang pemilik rumah ikut keluar karena suara heboh itu.
"Heh perempuan aneh! ini masih jam tujuh pagi tapi kamu sudah bikin keributan ya? Apa kamu pikir ini hutan?" bulek Rina terlihat sangat sebal melihat kelakuan Tari yang seperti hidup dalam rimba itu.
__ADS_1
Bukan Tari jika tak bisa membalas orang yang mengatainya. "Bulek ga usah kepo deh! aku manggil anakku dan ini juga kan rumah anakku."
"Apa maksudmu?" Suara bulek Rina terdengar bergetar menahan amarah.
"Ya rumah bapak ini pasti suatu saat akan menjadi harta anakku,"
"Siapa bilang?" Kesal bulek Rina semakin menjadi.
"Bulek ga usah ikut campur ya? bulek itu orang yang kebetulan saja jadi saudara mas Cahyo, lagi bapak saja ga banyak omong kok!" Wajah bulek terlihat memerah menahan marah.
"Jadi apa mau mu dengan membawa keonaran seperti ini, apa kamu tak bisa sedikit saja memelankan suaramu?" Tegur pak Tono yang berusaha tenang, meski rasanya ingin sekali dia memaki mantan mantunya karena telah menyakiti adik perempuannya.
"Ya tentu saja bisa pak, aku terlalu merindukan anakku jadi tak sabar ingin melihat dan memeluknya." Tari tersenyum ramah pada calon mertua nya itu, ya walaupun tanpa restu tua ban*ka ini, Tari tak masalah. Mencoba sedikit ramah mungkin tak masalah.
"Pak, mas Cahyo dimana ya sekarang?"
"Kamu datang untuk Cahyo atau Wahyu?"
"Eh, anu pak maksud saya Wahyu. Tari kangen pak, semalaman Tari ga bisa tidur karena kepikiran dia rewel ga kalau tidur sama bapaknya." Jelas Tari.
"Wahyu itu sudah besar, dia juga gak rewel kok." Jawabnya ketus.
"Memang bapak tau dari mana dia ga rewel?" Sengit Tari.
"Sekarang dimana Wahyu dan mas Cahyo pak? Kenapa mereka tidak kelihatan dari tadi?" Kembali lagi pikiran Tari berkata yang tidak tidak, "jangan jangan Wahyu dibawa menemui Sekar!" Gumam Tari dalam hati.
"Mereka sedang dirumahnya, pagi pagi Wahyu ngajak pulang kerumah." Pak Tono yang sangat paham dengan pikiran bekas mantunya itu dan tak ingin ada masalah lagi maka iya katakan dimana kedua orang yang dicarinya itu.
"Oh..." Tari lantas beranjak pergi menyusul Cahyo dan Wahyu dengan kuda maticnya.
Rumah Cahyo hanya perlu ditempuh lima menit saja dengan berkendaraan. Rumah itu adalah rumah penuh berjuta juta kenangan rumah yang pernah Tari dan Cahyo tempati bersama.
"Mas..." Cahyo yang sedang bersenda gurau disamping rumah terkejut dengan kehadiran Tari.
"Mamah..." Wahyu begitu ketakutan melihat sang mamah karena iya tahu mamahnya akan marah karena amanat beliau belum Wahyu jalankan untuk membujuk sang ayah.
"Jadi Wahyu ga kangen nih sama mamah?" Wahyu yang tak pernah diperlakukan demikian hanya terbengong.
"Sini nak, peluk mamah, mamah kangen sama anak semata wayang mamah ini." Tari merentangkan kedua tangannya untuk memeluk sang anak, Wahyu yang tak terbiasa dengan keadaan seperti itu menjadi heran, namun Wahyu mengikuti permainan sang mamah, ambil amannya saja pikir Wahyu.
Cahyo yang melihat Tari barusan menjadi terheran, bagaimanapun iya sangat hapal bagaimana karakter Tari pada sang anak, "mungkinkah Tari sudah berubah menjadi seperduli ini?" Pikir Cahyo.
"Nah kalau begini keluarga kita jadi utuh lagi, ada aku, kamu mas, dan juga anak kita.
Rumah ini pun banyak menyimpan kenangan manis diantara kita ya mas, masa masa pengantin baru yang indah kita lewati disini.
__ADS_1
Aku ingat banget kala itu, jauh jauh tempatmu bekerja kamu rela curi curi waktu untuk bisa berduan dengan istrimu. Kala itu kamu bucin akut mas," Tari sengaja membuka kenangan lama mereka untuk mengingatkan kembali suaminya betapa iya begitu dicintai.
"Bukankah membuka kenangan masa indah bisa menenggelamkan seseorang kedalam asmara pada orang yang sama meski pernah dilukai? Aku punya banyak cara untuk membuatmu jatuh cinta lagi padaku dan menyerahkan dirimu padaku." Tari tersenyum licik, yakin bahwa strateginya akan sukses.
"Wahyu, yok kita masuk kerumah ayah, mamah kangen dengan keadaan dalam rumah itu." Tari menggandeng anaknya masuk, sementara mau tak mau Cahyo mengikutinya juga dari dalam.
"Mas, apa aku boleh lihat lihat dalam rumah ini? aku ingin mengenang masa manis kita mas." Tari bicara dengan begitu lembut dan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Cahyo hanya mengangguk, menyadari ada sesuatu yang aneh dalam diri Tari tapi Cahyo segera menepis pikiran negatifnya.
"Wahyu, kamu kan sering liburan di rumah ayah. Wahyu tahu ga disini warung sembako sebelah mana?"
"Tahu mah, sepuluh rumah dari sini." Jawab Wahyu.
"Mamah bisa minta tolong beliin gula dan kopi nak? Kasian ayah capek, mamah mau buatin kopi. Wahyu mau kan mamah minta tolong beliin?"
"Iya mah," Wahyu menerima uang itu dan hendak berlalu tetapi segera dipanggil lagi oleh Tari.
"Oh ya tolong sekalian beliin gorengan ya nak, minta yang panas."
"Iya mah,"
"Wahyu..." lagi Tari memanggilnya.
"Lewat pintu belakang saja nak, biar ga muter muter, kasian ayah juga kalau liat kamu pergi pasti ikut, mamah juga ga berani kalau dirumah ini sendiri." Wahyu mengangguk.
"Yes!" Tari kegirangan, Tari bergegas keruang tamu dimana Cahyo berada.
"Mas, kamu capek ya? Harusnya kamu panggil tukang urut mas, bukan malah dipijit sendiri begini. Sini biar Tari saja yang pijit mas." Cahyo bermaksud menolak halus, namun bukan Tari kalau tidak memaksa.
Dengan gemulai Tari memijit pundak Cahyo, senyuman masih tak lepas menghias bibir Tari. Cahyo pun ikut terbawa suasana, iya menikmati setiap pijitan itu hingga mata terasa berat untuk dibuka. Di setengah sadarnya Cahyo merasa mendengar suara lembut milik Sekar, tapi iya yakin itu hanya perasaan yang merindu hingga iya abaikan.
"Ayah... ini ada teman ayah," terdengar suara Wahyu.
"Mas..., bangun ada tamu." Tari mengguncang tubuh setengah sadar Cahyo, dengan mesra.
"Siapa?" Ujar Cahyo setengah terkejut. Mata Cahyo melebar saat tahu siapa yang berdiri disamping Wahyu. Cahyo dan Sekar sama sama terpaku sesaat, ada tatapan kecewa jelas terlihat di wajah Sekar.
"Maaf mas, aku datang pada waktu yang tak tepat." Sekar memutar balik tubuhnya dan melangkah dengan cepat.
"Sekar, tunggu aku bisa jelaskan dek." Cahyo berusaha mengejar, namun iya kalah cepat.
"Sudahlah mas, nanti juga bakal balik lagi kok," hibur Tari dengan senyum puas yang luput dari penglihatan Cahyo.
π²π²π²
Tolong dilike, komen dan votenya teman2. π
__ADS_1