
"Kenapa mas?" Sekar yang menyadari dirinya diperhatikan Hima, merasa risih.
"Cantik sekali kamu dik," Mata Hima terpaku pada gadis berkebaya biru laut dihadapannya itu.
"Kamu baru sadar kalau aku cantik mas, gini gini banyak laki laki yang memperebutkan aku loh," seloroh Sekar.
"Aku tahu itu dik, bagiku bisa bersama denganmu lagi itu sebuah karunia."
Sekar hanya mampu terdiam namun curi-curi pandang pada lelaki didepannya itu.
"Seandainya aku tahu siapa manusia kejam itu dik, ingin rasanya aku menghajarnya." Sekar hanya mampu tertunduk bagaimanapun ada rasa bersalah dalam dirinya setidaknya atas salah duganya.
"Mas... sudah jangan dibahas lagi toh semua sudah berlalu dan aku tahu sekarang bahwa kau tak mempermainkan aku." Hima hanya mampu menarik napas dengan berat.
"Bagaimana kalau nanti kita bertemu dengan Awan atau Cahyo dik? Apa tidak menambah masalah baru bagimu?"
"Aku gadis bebas mas, aku belum terikat pada siapapun."
"Tapi hatimu terikat dengan salah satu diantara mereka dik, aku tahu itu karena pada pandanganmu sudah tak ada lagi aku disana."
"Mas, bisakah tidak usah membicarakan siapapun jika kita sedang berdua? Kita manfaatkan saja waktu yang ada dengan sebaik baiknya sebelum kamu pergi lagi. Bisakan?" Pinta Sekar. Hima pada akhirnya mengangguk.
πΈπΈπΈ
Hajat pak Kades begitu meriah, untuk masuk keruang resepsi saja Sekar dan Hima harus antri panjang.
"Cie, Sekar udah ada gandengan baru..."
"Gitu donk Kar pacarnya dibawa kondangan jangan diumpetin terus,"
"Cepet dihalalkan Kar, entar diembat orang lagi masa iya kamu mau jagain jodohnya orang terus,"
"Gantengan yang ini Kar dari yang kemarin itu,"
"Kenalin ke aku donk Kar ayang mbepnya."
Banyak komentar yang bermunculan saat melihat Sekar bersama laki laki yang tidak mereka kenal.
Sekar dan Hima hanya tersenyum ketika melihat jiwa kepo disekitar mereka, banyak yang hanya melirik dan berbisik-bisik juga.
"Dik, ternyata gadis manis ku ini terkenal dikampung sampai sampai mereka ingin tahu sekali tentangmu," bisik Hima setelah selesai makan.
"Iya mas, aku terkenal sebagai perawan tua!" batin Sekar.
"Ya bapak ibu, yang saya hormati ada permintaan khusus dari pak Kades kepada mba Sekar untuk semakin memeriahkan hajat mba Sekar diminta untuk menyumbangkan sebuah lagu. Monggo mba ke panggung," pernyataan MC membuat Sekar syok.
Sekar yang tidak punya bakat bernyanyi pada akhirnya kebingungan.
"Ayo dik, maju itu diminta sama pak kades dik." Bujuk Sekar.
"Mas, aku ga bisa nyanyi." Sekar tersenyum kecut.
"Ayo mbak Sekar, kami tunggu ini loh," panggil pembawa acara tersebut.
Sekar melambaikan tangannya sebagai isyarat tak bersedia.
"Ayolah mba .. ini permintaan pak kades, klo ga ditaati nanti mba dipecat jadi warganya, mau?" Seloroh pembawa acara.
"Sekar! Sekar! Sekar...."
"Ayok Kar, sambil kenalin itu ayang mbepnya."
"Duet Kar bareng mbepnya nya," teriak para tamu dan teman teman Sekar lainnya.
"Ayo dik aku temani," ajak Hima.
"Tapi mas, apa dirimu ga inget kalau aku ini ga bisa nyanyi? Suaraku jelek mas." Sekar beralasan.
"Mari Sekar, sudah ditunggu pak kades ini." terdengar suara pembawa acara manggil lagi.
Tiba tiba Hima berdiri menggandeng tangan Sekar kearah panggung. Sekar yang tidak siap dibuat kelimpungan.
Rasanya mau marah tapi malu didepan umum," mas Hima benar benar keterlaluan!" keluh Sekar pada dirinya sendiri.
"Mas, mau apa kita disini? Aku ga bisa nyanyi dan kamu tahu itu." Bisik Sekar setengah emosi, Sekar merasa mati kutu dibuat Hima.
Hima hanya tersenyum tipis "tenang dik, kamu temani aku saja biar aku yang wakili kamu.
Mohon maaf pak kades, pak MC dan rekan rekan yang lainnya saya akan mewakili gadis cantik disamping saya ini untuk ikut menyumbangkan sebuah lagu, lagu saya ini lagu tahun era 70an kebetulan saya pencinta lagu lagu lama".
__ADS_1
Blush... wajah Sekar merona, antara malu dan ingin terbang karena dipuji sedemikian didepan umum.
Hima terus menggenggam tangan Sekar, semua yang hadir riuh mendengar bagaimana Hima tanpa sungkan memuji gadis yang tangannya sedari tadi tak dilepas dari genggamannya.
Tidak lama kemudian, pemain musik memainkan musik melow. Sekar tahu bahwa Hima bersuara merdu tapi tetap saja jantungnya dag dig dug..
"Ya lagu ini saya persembahkan untuk semua yang sedang galau," senyum Hima lagi.
Sesaat setelah intro, terdengar suara Hima menyanyikan lagu yang pernah ditenarkan oleh Obie Mesakh begitu pas ditelinga dan memboyong semua yang hadir kedalam satu masa dalam hidup para pendengarnya.
Malam ini disini
Kita duduk berdua
Saling diam dan tak banyak bicara
Ada rasa curiga
Lewat tatap matamu
Seakan benci kau pendam disana
Aku tiada menyangka
Apa yang kau pinta
Secepat ini ingin berpisah
Du du du
Katakan sejujurnya
Jangan engkau sembunyi
Di balik rindu kau simpan dusta
Aku rela melepas
Ikatan cinta kita
Kalau memang yang kau inginkan
Semua baru terungkap
Kau simpan dia yang lain di matamu
Bukan lah perpisahan
Yang akan kutangisi
Namun pertemuan yang ku sesali
Natalia kau jelas berubah
Natalia kau membagi cinta
Aku insan biasa
Yang selalu tersisih
Jangan kan dalam kehidupan
Didalam bercinta pun aku kalah
Du du du
Semua yang hadir disana terlihat begitu meresapi isi dalam tiap liriknya, tua muda ternyata banyak yang masih hapal lagu itu. Tak jarang bibir merekapun ikut menyenandungkan lagu yang sedang dibawakan oleh Hima.
Hima yang masih menggenggam tangan Sekar menuntunnya untuk duduk disalah satu kursi kosong yang ada di atas panggung.
Hima kembali ketengah panggung dan meneruskan lagunya, bahkan dia sedikit mengubah liriknya.
Dik kau jelas berubah
Dik kau membagi cinta
Aku insan biasa
Yang selalu tersisih
__ADS_1
Jangan kan dalam kehidupan
Didalam bercinta pun aku kalah
Du du du....
Hima menatap lekat pada gadis yang baru dituntunnya itu, ketika pandangan mereka terkunci jelas Sekar melihat senyum yang gagal berkembang di bibir Hima.
Semua yang hadir disana merasa bahwa itu bukan hanya sebuah nyanyian belaka tapi sebuah ungkapan. Pesan Hima dari tiap liriknya banyak yang menangkap. Sekali kali mereka bergantian menatap Hima dan Sekar.
Hima mengakhiri lagunya dengan sukses, riuh tepuk tangan dari para penikmat lagu yang Hima nyanyikan. Bahkan banyak yang berteriak "lagi! lagi! lagi!"
Dengan persetujuan Sekar karena didesak semua yang hadir, Sekar akhirnya menyetujui Hima bernyanyi lagi.
Sekali lagi Hima meminta pemain musik untuk mengiringinya dengan lagu Legendaris Panbers, Gereja Tua.
Kembali musik dimainkan.
"Masihkah kau ingat waktu di desa
Bercanda bersama di samping gereja
Kala itu kita masih remaja
Yang polos hatinya bercerita
Waktu kini t'lah lama berlalu
Sudah sepuluh tahun tak bertemu
Entah dimana kini kau berada
Tak tahu dimana rimbanya
Hanya satu yang tak terlupakan
Kala senja di gereja tua
Waktu itu hujan rintik-rintik
Kita berteduh di bawah atapnya
Kita berdiri begitu rapat
Hingga suasana begitu hangat
Tanganmu ku pegang erat-erat
Kenangan itu selalu ku ingat
Waktu kini tlah lama berlalu
Sudah sepuluh tahun tak bertemu
Entah dimana kini kau berada
Tak tahu dimana rimbanya
Hanya satu yang tak terlupakan
Kala senja di gereja tua
Waktu itu hujan rintik-rintik
Kita berteduh di bawah atapnya
Meskipun kini kau telah berdua
Itu bukanlah kesalahanmu
Ku hanya ingin dapat bertemu
Bila bertemu puaslah hatiku
Bila bertemu puaslah hatiku..."
Pandangan Sekar pudar, ada sesal mendalam dalam dirinya. Dadanya terasa sangat sesak mendengar lagu Hima, Sekar berlari dari kursinya dan menghampiri Hima, sepasang insan itu saling berpelukan dalam tangis. Tak peduli dengan sekitar, mereka saling berpelukan melepas sesal. Semua yang hadir terenyuh melihat pemandangan didepan meski mereka sebenarnya tak tahu ada cerita apa sebenarnya.
πΈπΈπΈ
__ADS_1
Semoga ada yang like π