
Resepsi pernikahan Hana, berjalan dengan sangat sukses.
Banyak pertanyaan dalam pikiran Sekar mengenai Awan, yang ditujukan pada Hana.
Setiap kali Sekar berpikir apakah pertemuan antara dirinya dengan Awan direncanakan oleh Hana dan suaminya, setiap Sekar berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu hanya kebetulan tapi pikiran nya sendiri yang mematahkannya.
Bohong jika Sekar seratus persen hilang rasa pada Awan dan melupakannya begitu saja tapi perasaan terluka yang begitu dalam justru kini iya rasakan pada mas duda bukan Awan.
"Sekar... kalau kamu butuh teman berbagi, kamu jangan lupa kalau aku masih teman terbaikmu ya?" Hana tiba tiba memeluk Sekar yang sedang duduk termangu di tempat tidur Hana.
"Eh... maaf Na, kamu cantik banget."
"Jangan banyak melamun Kar, aku berat rasanya ninggalin kamu sendiri disini," Sekar lekas menghapus air mata Hana yang mulai jatuh.
"Jangan begini Na, nanti riasannya berantakan. Dikira orang yang lihat kamu ga bahagia lagi. Kamu akan jadi ratu sehari lagi jadi harus perfeck dong, aku bahagia Na melihat kamu bahagia." Tulus Sekar.
"Sekar, aku minta maaf ya? aku hanya ingin yang terbaik bagimu."
Sekar menatap Hana, "apa kamu dan Wito memang yang merencanakannya? Kenapa??"
Hana terdiam.
"Awalnya kami ga bermaksud begitu Kar, namun ibu Awan yang memintanya," Hana menarik napas berat.
"Ibunya Awan?"
"Iya Na, ibu mas Awan berharap kamu bisa jadi menantunya. Ibunya yang meminta ke mas Wito untuk menjadikan kalian pembawa kembar mayang kami.
Awalnya aku tidak setuju dengan rencana mas Wito, aku marah namun ibunya Awan menelepon hingga menangis Kar, aku ga kuasa menolak permintaannya. Maafkan aku Kar," Hana terisak.
"Sudahlah Na, jika aku ada diposisi mu, aku juga akan berbuat seperti itu." Senyum getir mengembang di bibir Sekar.
"Ibu..." gumam Sekar, ada rasa sesak dalam diri rasa sakit karena Awan, iya lupa bahwa ada ada wanita lain juga yang tulus menyayangi dirinya.
"Sudah ga usah nangis, itu maskara dan ilener mu berantakan, jadi kelihatan jelek seperti mak lampir," Sekar berusaha mencairkan kekakuan yang ada.
"Biar mak lampir gini, aku yang laku duluan, ups..." Hana lekas menutup mulutnya takut melukai hati teman rasa saudara itu.
__ADS_1
🌸🌸🌸
"Mereka pasangan yang serasi ya nduk?" Sekar mengangguk.
"Semoga lekas diberi momongan," lanjutnya lagi.
"Amin... terimakasih doanya untuk teman terbaik saya..
Ibu..." pekik Sekar tak sadar, Sekar begitu surprise mendapati bu Lastri, perempuan yang mengajaknya sedari tadi bicara adalah ibunya Awan.
Sekar memeluk bu Lastri erat, dia tersedu dalam peluk perempuan setengah baya itu. Bu Lastri tak hanya memeluk Sekar tapi diciumi juga gadis lembut dihadapannya itu.
"Ibu kangen sama kamu nduk, rasanya ibu ingin menemui kamu dirumah atau menelepon dirimu tapi ibu malu, sekarang kamu tambah cantik..." ditatapnya gadis didepannya itu dengan sendu.
"Tolong maafin Sekar ya bu, harusnya Sekar tidak boleh berubah sikap tapi Sekar tidak ingin ada kesalahpahaman di pihak Awan bu, itu sebabkan Sekar tak pernah menjenguk atau menelpon ibu," kedua perempuan saling berpegangan tangan.
"Ibu yang harusnya minta maaf padamu nduk, ibu yang ga bisa didik anak ibu jadi laki laki yang baik." Lagi bu Lastri memeluk Sekar dengan terisak.
Raja dan ratu sehari yang sedang duduk di singga sananya ikut terharu, menyaksikan dua perempuan beda masa itu saling berpelukan di kursi tamu.
"Ndu, ikut ibu kebelakang yok? ibu kangen pengen banyak ngobrol sama kamu."
"Kenapa nduk?"
"Apa Sasa dan Awan, ada disini bu?"
"Wes ga usah kamu pikirkan nduk, yang penting kita temu kangen." Bu Lastri mengajak penuh semangat dan Sekar tak tega rasanya untuk menolak.
"Di ajak ngobrol di kamar manten aja bude calon mantennya, biar lekas ketularan,"
"Wah usul mu diterima nduk," bu Lastri sumringah mendengar usul Dina, kakak dari Wito.
"Nduk, kamu pasti kaget kan kemarin Awan yang bawa kembar mayang manten lanang?" Sekar mengangguk.
"Maafkan ibu ya nduk? itu semua rencana ibu." Terangnya dengan takut takut.
"Ga papa bu, Sekar sudah tahu." Sekar mengelus punggung perempuan yang disayanginya itu. Wajah bu Lastri terkejut.
__ADS_1
"Apa Hana sudah bilang nduk?" Sekar mengangguk dengan senyum lembutnya.
"Nduk... bagaimana jika kalian balikkan lagi terus menikah nduk?" Ada harapan besar dari tatapan bu Lastri pada Sekar.
"Bu....," Sekar terisak tanpa mampu menjawab.
"Ibu tahu harus nya ibu ga ikut campur masalah pribadi kalian nduk, tapi ibu berharap bahwa suatu saat nanti kamu benar-benar jadi anak perempuan ku.
Awan sudah berubah nduk, dia jadi bertanggung jawab atas ibu. Dia juga banyak berubah. Pulang bekerja hanya dirumah tak kemana mana lagi.
Ibu sering melihatnya melamun, tiga hari belakangan ini ibu melihat hidupnya kembali ceria, ibu yakin itu karena dia berjumpa denganmu nduk." ibu bicara berapi api.
"Bu, apa boleh kita bicara tanpa ada nama Awan bu?" Ibu terperangah.
"Apa sudah tak ada lagi rasa sedikit saja untuk Awan, nduk?" ibu menatap sendu Sekar.
"Maaf bu, saat ini Sekar hanya ingin sendiri. Menata hati yang telah berkeping, rasa sakit yang kemarin masih terasa begitu perih.
Sekar ingin memperbaiki diri dan belum mampu jika harus kecewa lagi."
"Nduk..."
"Bu, Sekar janji walau mungkin Sekar tak jadi menantu ibu, ibu tetap ibunya Sekar." Sekar bersimpuh di hadapan perempuan setengah baya itu. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperlihatkan mereka dengan rasa kecewa namun tak tahu harus berbuat apa.
"Kar..." suara pria itu mampu membuat kedua wanita itu spontan melihat kearah suara. Tepat di depan pintu kamar pengantin pria itu berdiri.
"Aku tahu aku salah Kar tapi tolong aku beri kesempatan kedua untuk memperbaikinya, jika kamu belum bisa menerima aku sebagai kekasihmu maka terimalah aku sebagai sahabatmu dulu, mari kita ulang hubungan kita dengan mengatas namakan persahabatan. Seperti dulu, sebelum kita berpacaran." Pinta Awan.
Bu Lastri mengangguk pada gadis manis itu, Sekar diam.
Pandangan Sekar menyapu keruangan tempat ia duduk. Wangi aroma bunga melati dan mawar terhirup lembutnya di penciumannya, kamar yang dihias bak kamar raja ratu itu terlihat begitu indah berbanding terbalik dengan apa yang ada di hatinya.
"Nduk..." panggilan bu Lastri mengejutkan lamunannya.
Sekar menatap sesaat pada Awan dan menetapkan pandangannya pada bu Lastri. Sekar mengangguk pada tatapan bu Lastri, ada senyum sumringah pada wajah anak dan ibu itu.
"Tapi maaf Wan, ini, aku tak bisa menjanjikan apapun selain persahabatan," Bu Lastri dan Awan saling pandang. "Kenapa nduk?"
__ADS_1
"Menjalin sebuah hubungan bukankah berarti harus siap dikecewakan lagi bu? Saat ini Sekar tak ingin merasakan sakitnya kembali dilukai." Tutur yang lembut namun menusuk begitu dalam di hati Awan saat mendengarnya.