MAS DUDA DITENGAH AWAN

MAS DUDA DITENGAH AWAN
Hati Kasih


__ADS_3

Hatiku kalang kabut ketika Sekar menghubungi aku di saat jam kerjaku, ini bukan kebiasaan Sekar.


"Ada apa Kar, tumben kamu Vc mama?" Aku menatap wajah gadisku dilayar monitor benda persegi canggih ini.


"Ma, ada yang mau bicara dengan mama..." jelas aku makin bingung dibuat oleh anak gadisku yang terlihat sangat cemas itu. Pikiran yang tidak tidak menari nari dikepala ku.


Sepertinya android anak gadisku terlepas dari tangannya. Aku syok melihat ada seorang laki laki yang membaringkan kepalanya dipangkuan anakku, wajahnya terlalu pucat membiru dan aku tak kenal siapa dia dan ada apa? aku semakin takut memikirkannya.


"Kar, siapa laki laki itu?" teriakku histeris.


"Ma... a, a, aku Hima mah." Aku syok! laki laki yang terbaring itu menyahut akan pertanyaanku, aku tak mengira laki laki yang menjadi cinta pertama anakku itu muncul.


"Hima?" Kataku mencoba memastikan jangan jangan aku salah dengar.


"Ma... aku menepati janjiku pada mama," suara Hima terdengar sangat lemah, pikiranku makin berkecamuk banyak hal jangan, jangan dan jangan tebakku.


"Ma... bolehkah aku pulang kerumah mama?" pertanyaan itu membuatku sulit untuk menelan ludah, pikiran ku tertuju pada putri semata wayang ku, aku takut dia tahu akan perbuatan ku dimasa lalu.


"Bo-bo-bo-boleh mah?" Suara Hima makin terbata bata, aku yang mulai pikun atau memang wajah Hima telah berubah hingga aku tak bisa mengenali wajah itu, tapi kata kata yang diucapkan pria itu...


Tanpa sadar aku menganggukkan kepalaku, aku benar-benar bingung!


"Te-te-terima ka-kasih ma," dalam wajah pucat itu tersembul sebuah senyum.


Mata kepalaku melihat bagaimana laki laki itu menghembuskan napas terakhirnya dipangkuan anak gadisku. Hatiku tertusuk tusuk rasanya melihat anak gadisku gadis ku kembali terluka.


"Maafkan ibu Hima..." tanpa kusadari kata-kata itu terlontar.


Dulu aku yang memisahkan mereka karena aku takut masa depan anakku akan rusak karena menjalin hubungan dengan laki laki yang lebih dewasa, menjauhkan mereka adalah pilihanku karena angapku cinta yang Sekar miliki akan hilang bersama waktu ternyata aku salah! Sekar menjaga cintanya hingga ide gila itu muncul, aku menulis surat mengatas namakan Sekar. Aku berhasil!


Tapi tak pernah aku bayangkan bahwa hasil dari perbuatanku itu kini aku harus melihat Sekar menderita dan Tuhan sendiri yang memisahkan mereka walau memang mungkin mereka tak bisa bersama.


-


-


Dengan langkah gemetar aku meminta izin pulang pada atasanku, izin bahwa salah satu keluarga meninggal dunia membuatku dipermudah untuk pulang cepat.

__ADS_1


"Maafkan mama Kar, mama benar-benar minta maaf, mama tidak tahu jika akan begini jadinya." Tak aku pedulikan lagi bagaimana Sekar akan menilai ku.


Melihat jenasah Hima yang terbujur kaku didepan mataku membuatku meratapi semua hal jahat yang pernah aku perbuat padanya. Terkenang jelas dimata ini bagaimana Hima memohon agar aku tak memisahkan mereka.


**


Flashback on


"Hima, apa kamu mencintai anakku?" Aku mendengus kesal karena beberapa kali memergoki mereka bermalam minggu bersama dirumah sahabat Sekar.


Dari gerak gerik tatapan mereka aku yakin bahwa ada ketertarikan diantara mereka.


"Mama Kasih? mama cari siapa disini?" Hima yang keluar dari tempatnya bekerja menghampiriku yang berdiri diseberang jalan. Sengaja memang aku menunggunya.


"Mama mau bicara denganmu, bisa?" Hima menganggukkan kepalanya.


"Ayo ikut mama," aku berjalan terlebih dahulu kearah warung kopi yang tidak jauh dari tempat kami berdiri, Hima mengikuti dengan wajah bingungnya.


Kami duduk berseberangan, setelah pelayan mengantarkan apa yang kami pesan aku baru mengangkat suaraku.


"Minumlah dulu," perintahku pada Hima yang terlihat bingung. Dia menurut.


"Saya sudah berjanji akan menunggu Sekar berusia tujuh belas tahun dan kami baru akan pacaran ma,"


"Ku anggap itu sebagai jawaban bahwa kau mencintai anakku," ketusku dengan tatapan paling menusuk.


"Memang apa yang bisa kau berikan pada Sekar?" Hima tersentak dengan jawabanku, bisa jadi dia berpikir aku ibu materialis, aku tak peduli!


"Saya tidak punya apa-apa ma," lirih suara Hima, wajahnya memucat.


"Hima, kamu itu laki laki dan sekarang usiamu juga sudah termasuk dewasa kalau kerjamu hanya begini saja bagaimana kamu punya masa depan yang baik? suami itu punya tanggung jawab untuk menafkahi istrinya, apa kamu ga malu kalau istrimu tidak bisa makan dengan baik, tidak punya tempat tinggal yang layak? kalau kamu masih ada orang tua mungkin masih ada yang diharapkan dari mereka tapi yang aku dengar ayahmu saja tidak peduli padamu, lalu bagaimana nasib anakku kelak jika kalian sampai menikah sedangkan pekerjaan mu begini? Maaf bukan aku merendahkan dirimu tapi semua kukatakan karena bisa jadi nanti ini menyangkut masa depan anakku."


"Mama Kasih benar, lalu aku harus bagaimana ma?"


"Pergilah jauh!" Hima yang sedari tadi hanya menunduk seketika mendongak menatapku meski hanya sesaat. Aku sendiri kaget dengan ucapan ini.


"Maksudku carilah pekerjaan yang lebih baik, cari pengalaman agar kamu punya keahlian tapi itu tidak akan kamu dapat disini! pergilah ke kota."

__ADS_1


Hening....


"Apakah mama akan menerima aku sebagai menantu mama Kasih?"


"Mungkin asal kamu sudah sukses!"


"Aku pasti sukses ma, nanti saat usia Sekar ke duapuluh tiga aku akan melamar Sekar." Hima mengucapkan itu dengan sangat yakin.


"Mama tolong jaga Sekar untukku," tatap Hima penuh harap


"Pasti! kapan kamu akan berangkat?"


"Besok lusa ma," terlihat keraguan Hima dalam ucapannya.


"Ingat jangan katakan apapun tentang pertemuan kita hari ini pada Sekar atau yang lainnya."


"Kenapa Sekar tak boleh tau ma?" Hima terlihat kebingungan.


"Aku tak mau Sekar berpikir yang tidak-tidak dan pada akhirnya kami berseteru, apa kamu itu terjadi?"


"Tidak, tidak, jangan sampai ma. Baiklah ini akan jadi rahasia kita berdua saja ma, kelak saat aku kembali dari perantauan aku akan pulang kerumah mama Kasih,"


"Jaga dirimu baik baik, ingat pesanku kamu harus sukses!" Hima kembali mengangguk.


"Sudah mama pamit,"


Dua gelas minuman itu aku bayar meski Hima kekeh untuk membayarnya namun aku tak mau merasa hutang budi padanya hanya karena segelas minuman.


Anak gadisku harus dapat laki laki baik, punya orang tua yang baik dan tentunya harus punya masa depan yang jelas.


Semoga dengan jarak yang ada Sekar bisa melupakan Hima dan Hima lupa akan tujuan awalnya. Menghadapi anak jaman sekarang tidak semudah jaman dahulu semakin keras melarang semakin gila mereka melawan.


Malam ini sengaja aku duduk disudut teras yang gelap, aku memperhatikan dua pasangan muda mudi yang duduk di teras rumah Siska, dibawah lampu benderang itu.


Dari jauh aku melihat Sekar sedang dipeluk Siska, aku yakin bahwa Hima sedang berpamitan.


Disudut hati ada rasa sesak membuat putriku harus bersedih tapi demi masa depannya aku harus tega.

__ADS_1


Rasa tegaku lebih menjadi saat usia Sekar menjelang genap tujuh belas tahun, aku yang awalnya berharap mereka yang terpisah oleh waktu justru saling menunggu.


Aku tega bukan karena harta tapi sungguh karena aku tahu mereka tak bisa bersatu!


__ADS_2