MAS DUDA DITENGAH AWAN

MAS DUDA DITENGAH AWAN
Sehari saja


__ADS_3

"Loh Dik, kok belum siap siap?"


Pukul 09.45 menit, mas Hima, laki laki masa lalunya itu datang. Sekar tetap santai dengan baju rumahannya.


"Malas mas, lagian takut ada yang marah!" balas Sekar sambil selonjoran di kursi terasnya.


"Siapa dik, suamimu?" Goda mas Hima.


"Istrimu!"


"Istriku?"


"Iya!"


"Kata siapa aku punya istri dik?"


"Laki laki yang sudah matang sepertimu pasti sudah beristri."


"Dik, pantang bagi seorang Hima merusak pagar ayu orang lain apalagi pagar ayu sendiri,"


"Maaf mas..."


"Yok kita berangkat sekarang," mas Hima menarik tangan Sekar.


"Mau kemana sih mas? Di rumah sajalah." Sekar menarik tangannya namun tangannya di cekal kuat oleh Hima.


"Aku mohon dik, hari ini saja aku ingin jalan denganmu berdua, aku mau menebus dosa yang tak bisa aku tebus karena membuatmu menunggu sesuatu yang hampa."


"Aku malas mas!"


"Aku mohon dik, aku tak akan berlaku kurang ajar padamu, aku janji." Hima mengangkat tangannya dengan jari membentuk angka V.


"Kalau tidak kamu ambil jaket mu saja dik, kita berangkat sekarang keburu siang." Hima memaksa.


"Memang kita mau kemana mas?" Akhirnya Sekar menyerah.


"Kita ke pantai dik, terserah pantai mana asal kamu tunjukkan jalannya." Hima tersenyum senang.


"Sebentar aku ganti baju sebentar mas." Sekar masuk kedalam rumah, sepuluh menit kemudian dia keluar dengan baju kasual disertai jaket Levis.

__ADS_1


Mata Hima tak berkedip, dia merasa kembali melihat Sekar saat usianya empat belas tahun.


"Dik, kamu cantik!" blush... wajah Sekar merona membuat Hima, gemas.


"Cantik tapi gadis tua mas," Sekar tersenyum kecut.


"Maaf dik, aku hanya bisa membawamu dengan sepeda motor saja," mas Hima meraih helm yang dipegang Sekar, dirapihkannya rambut Sekar dan dipakainya helm itu. Sekar yang mendapat perlakuan itu tiba-tiba teringat akan sosok mas duda.


Tinnnn.... tiba tiba terdengar suara klaksonnya panjang dari sebuah motor yang sepertinya hendak mendekat namun tidak jadi.


Sekar yang tahu siapa pengendara itu hanya mampu menatap, "dik, bisa tidak sehari ini kamu menatapku saja tanpa mempedulikan mantan kekasihmu itu?"


"Loh?" Sekar terkejut saat Hima tahu bahwa yang barusan adalah mantan kekasihnya.


🌸🌸🌸


"Dik..., aku minta maaf karena telah menyia-nyiakan dirimu." Setibanya di pantai yang Sekar tunjukkan, mereka duduk di hamparan pasir putih dengan beralas pasir beratapkan daun pepohonan manggruf.


"Selama ini kamu kemana saja mas? Apa begitu tak ada artinya aku sampai kamu tega membuatku menunggu tanpa kepastian?" Pekik Sekar yang merasa dipermainkan.


"Aku tahu aku salah dik, hari ini memang sangat terlambat kedatanganku harusnya delapan tahun yang lalu aku menepati janjiku padamu.


"Kiriman bunga dan kadoku pun engkau kembalikan tanpa kau mau melihat sedikit saja isinya, kenapa Kar? Apa karena kamu lebih membutuhkan sosok yang nyata?" Hima menghujam Sekar dengan tatapannya.


"Kamu bohong mas! aku tak pernah menerima apapun darimu." Sekar menangis sesenggukan, hatinya lebih sakit saat dituduh demikian. Sekar tak merasa dan memang bukan dia.


"Ini, lihat ini." Hima mengeluarkan secarik kertas berwarna biru bergambar lambang zodiak libra dari saku celananya. Sekar terperangah saat menerima dan membaca isi pesannya.


"Mas, sungguh ini bukan aku." Sekar menangis, entah siapa yang tega berbuat seperti itu padanya.


"Jika bukan kamu, lalu siapa dik? bahkan gelang tangan yang aku buat untukmu juga kau kembalikan."


"Mas Hima, sungguh itu bukan aku mas! aku memang kehilangan gelang itu seminggu sebelum hari ulang tahunku, aku mencarinya kemana mana tapi tidak ketemu."


"Apa yang kamu katakan ini benar Sekar?" Hima menatap bola mata gadis disampingnya seakan ingin mencari jawaban sejujurnya. Sekar terisak.


"Mas, aku minta maaf...." Sekar menghamburkan diri memeluk sosok cinta pertamanya. Hima membalas pelukan Sekar, dipeluknya kekasih hatinya itu.


"Siapa ya mas orang yang tega memisahkan kita?"

__ADS_1


"Entahlah dik, aku tak tahu." Hima merengkuh gadis itu dalam pelukannya, ia bahkan tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang sering curi pandang atau bahkan terang terangan untuk menghakimi mereka dalam pandangannya. Toh Hima memeluk Sekar hanya untuk menenangkan kekasih hatinya.


"Dik, bolehkah aku meminta sesuatu pada mu?" Sesaat setelah Sekar tenang Hima berusaha untuk menyampaikan maksud hatinya.


"Apa mas?" Sekar menatap manik teduh dihadapannya itu.


"Jika permintaanku berat bagimu maka aku hanya minta sehari ini saja pura-pura jadi kekasihku." Sekar terlihat terkejut mendengar permintaan Hima yang aneh itu.


"Aku mohon dik sehari ini saja, aku janji aku akan menjagamu lebih dari aku menjaga diriku selama ini." Sekar semakin bingung mendengar permintaan Hima yang aneh ini.


"Kenapa harus pura-pura mas?" Sekar mencoba menelisik jalan pikiran Hima.


"Aku tahu dik, hatimu kini tertambat pada Cahyo, tak ada lagi rasamu untukku."


Degh!


"Mas..."


"Hanya pura-pura dik, aku ingin sehari saja menjadi kekasihmu walau hanya pura-pura." Tergambar jelas ada kesedihan mendalam diri Hima.


"Maaf mas, aku tak mau!" Hima tertunduk lesu mendengar jawaban Sekar, iya sadar tak boleh memaksa. Menarik napas panjang berharap ada sedikit kelegaan dalam hatinya namun nyatanya sama.


"Aku tahu dik, cintamu pada Cahyo lebih besar karena dia masa depanmu bukan seperti aku yang menjadi bagian masa lalu untukmu." Hima berusaha tersenyum, susah payah untuk pulang kedesa kekasih hati ternyata sia sia.


"Apa untungnya bagiku jika menjadi pacar pura pura mu mas?"


"Tidak ada dik, kamu tidak mendapatkan keuntungan apapun dari permainan ini."


"Lalu apa untungnya bagimu jika kita melakukannya permainan ini?" Kejar Sekar yang ingin tahu fakta dibalik permainan yang diminta Hima padanya.


Hima terdiam sejenak, pandangannya terfokus pada ombak yang berkejaran ke tepi pantai namun kembali lagi ketengah laut seperti tak kenal lelah.


"Kenapa diam mas? beri aku satu alasan yang masuk akal agar aku mau ikut dalam permainan pura-puramu itu.


"Aku ingin apa yang aku impikan tentang hubungan kita selama ini menjadi kenyataan dik, meski akhirnya mungkin akan menambah luka dihati ini. Mungkin dengan rasa sakit itu aku bisa move on dan ikhlas melepas mu. Mungkin bagimu aku aneh dik, memang kita ditakdirkan untuk tak berjodoh dan aku mencoba untuk menerima kenyataan yang ada hanya setidaknya beri aku satu hari saja untuk merasakan memilikimu meski hanya pura pura, cukuplah itu.


Setelah ini aku akan pergi jauh hingga mungkin kau sendiri akan lupa akan namaku apalagi sosok ku.


Aku mohon bantu aku mewujudkan mimpiku ini, hanya kamu yang bisa mewujudkannya bagiku dik. Kamu mau kan dik?"

__ADS_1


__ADS_2