MAS DUDA DITENGAH AWAN

MAS DUDA DITENGAH AWAN
Perbedaan


__ADS_3

"Mas... lihatlah kebaya putih dan kain songket pilihanmu sangat pas dibadanku, aku terlihat cantik ya mas? andai aku kenakan ini saat kau masih ada aku yakin kau akan memujiku mas.


Aku kenakan pakaian pengantin perempuan dan berhias sebisaku, aku berdandan seperti yang mas Hima katakan kemarin. Sekarang bukalah matamu mas, lihat aku, bukankah kau ingin sekali menggandeng tanganku mengajakku menemui penghulu? aku sudah siap mas." Tubuh Sekar terlihat lunglai, Laki laki yang disampingnya dengan sigap menangkap tubuh Sekar namun ditampiknya tangannya.


"Maaf tolong jangan dekat dekat denganku, nanti mas Hima marah."


Sekar seperti sudah kehilangan pikiran jernihnya.


"Sekar, jangan begitu, kasian almarhumah jika kamu begitu. Doakan mas mu dilapangkan jalannya. Jangan membuatnya berat melangkah Kar," mbak Yuni memeluk Sekar dengan pilu.


"Mbak Yuni, aku benar-benar menyesal! aku menyesal sudah menuduhnya yang tidak tidak," tangis Sekar pecah, Sekar benar benar tak mampu menahan kepedihannya.


"Sekar, mas Hima pasti ga mau liat kamu seperti ini, kamu harus ikhlaskan kepergiannya."


"Tau apa kamu tentang mas Hima, Wan? Kamu ga kenal dia." Sekar emosi, laki laki itu terkejut melihat ekspresi Sekar yang berubah drastis.


"Aku tahu semuanya Kar, aku tahu betapa besarnya mas Hima mencintaimu, dalam hari hari terakhirnya dia hanya ingin membuatmu bahagia dan mengenang dirinya sebagai laki laki baik yang bertanggung jawab. Jadi aku sangat yakin bahwa mas Hima akan kecewa melihatmu seperti sekarang ini!" Laki laki itu memberikan tatapan elangnya.


"Kamu tidak mengenal mas Hima!"


"Aku kenal almarhum Kar, aku memang mengenal dirinya meski hanya seminggu, mas Hima tinggal bersamaku selama dia menginjakkan kaki di desa ini."


"Kamu bohong!" Sekar menatap nyalang pada Awan.


"Nanti setelah pemakamannya, kamu bisa ambil barang barangnya dirumah ku."


"Apa mas Hima banyak berkata padamu?" Lirih Sekar, Awan memberikan jawaban dengan sebuah anggukan.


Jenasah Hima sudah sepenuhnya dikafani, senyum manis itu hilang secara pandangan namun tetap terpatri dalam hati dan ingatan.

__ADS_1


Jenasah mas Hima setelah disholatkan di masjid dusun segera diberangkatkan langsung di pemakaman umum dikampung mbak Yuni, Sekar yang dalam keadaan terpukul duduk disamping pusaran mas Hima. Tak ada niat dalam hati untuk beranjak.


"Sekar... ayo kita pulang," lirih Awan memanggil Sekar dia tak tega melihat perempuan yang dicintainya itu begitu terpuruknya.


"Biarkan aku disini Wan, aku ingin menemani mas Hima dulu." air mata Sekar kembali mengalir tanpa terbendung.


"Mbak Sekar ayo kita pulang mbak, jangan mbak menyiksa diri seperti ini meski jasad mas Hima terkubur disini tapi dia hidup dihati dan pikiran kita mbak. Ikhlaskan kepergian mas Hima mbak, kasian mas Hima kalau mbak seperti ini." Rima, satu satunya adik sekandung yang begitu disayang Hima akhirnya angkat bicara dalam diamnya.


Direngkuhnya tubuh Sekar, diajaknya berdiri dari sisi pusara kakaknya.


"Aku juga sedih mbak tapi aku sadar tangis ini justru memberatkan langkahnya, aku tak mau mas Hima mengalami itu, jadi aku mohon mbak Sekar bisa belajar untuk mengikhlaskan."


🌸🌸🌸


"Sebenarnya ada apa antara mama dan mas Hima ma?" Sekar menatap wajah sang mama yang terlihat sendu.


Mama bukannya menjawab justru menangis tersedu, dipeluknya anak gadisnya itu diciuminya puncak kepala anak perawannya dengan perasaan yang berkecamuk. Sekar hanya terdiam dengan pikiran traveling kemana mana memikirkan semua kemungkinan namun semakin mencoba berpikir sekat justru merasa semakin takut akan kenyataannya.


"Minta maaf untuk apa ma?" Sekar mencoba memandang sang mama yang terlihat gelisah.


"Mama melakukan dua kesalahan padamu dan pada almarhum Hima," suara mama nyaris tak mampu Sekar dengar.


"Kesalahan apa ma? coba katakan pada Sekar sekarang," Sekar menatap sang mama dengan penasaran. Mama bukannya menjawab tapi justru kembali terisak.


"Kalau mama katakan, apa kamu mau memaafkan mama nak?" Dari wajah yang nampak, mama benar benar seperti ketakutan.


"Dimaafkan atau tidak setidaknya perasaan mama akan menjadi lebih lega," jawaban ambigu Sekar membuat sang mama semakin bingung.


Hening dan senyap yang akhirnya dihadapi oleh Sekar dan sang mama, hanya sepintas sepintas terdengar suara kendaraan yang lewat di jalan depan rumah Sekar.

__ADS_1


"Ma, aku masuk kamar dulu saja kalau memang mama tak ingin bicara, Sekar letih, ingin istirahat."


"Kar... mama yang memisahkan mu dengan Hima kala itu!" Sekar yang sudah bangun dari kursinya berpaling pada sang mama.


"Apa maksud mama?" Sekar seperti diajak tebak tebak buah manggis oleh sang mama.


"Dulu Hima pergi dari sini karena mama yang menyuruhnya pergi dari sini, mama tak suka jika anak mama yang masih empat belas tahun didekati oleh lawan jenisnya, apalagi perbedaan usia kalian sangat jauh. Mama takut kamu tidak lagi mau bersekolah dan memilih menikah dini seperti teman temanmu itu!


Mama juga tak mau kamu memiliki suami yang tidak punya masa depan, mama tak mau dia malah menjadi beban mu nantinya. Mama tak ingin nasibmu menderita seperti mama Kar."


"Lalu apa kesalahan mama yang kedua?" Lagi bu Kasih terdiam.


"Apa mama juga yang mengirimkan surat atas namaku kepada mas Hima? Sekar menatap lekat sang mama yang nampak menggigit bibir bawahnya sendiri.


"Apa benar ma?" Sekar menjadi tak sabar kembali menanyai sang mama. Mama hanya mengangguk lesu.


"Kenapa ma? apa mama juga tak ingin melihatku bahagia? apa mama senang melihatku terluka?" Sekar meledakkan tangisnya, Sekar benar benar merasa sangat kecewa atas perbuatan sang mama. Sekar tidak pernah mengira bahwa dalang semua kesedihannya justru sang mama tempat dia mencurahkan segala isi hatinya.


Mama berusaha meraih tubuh Sekar untuk dipeluknya namun Sekar menepisnya. Sekar benar benar kecewa.


"Katakan kenapa ma?" Sekar menyoroti sang mama yang lebih banyak diam.


"Kalian itu berbeda Kar!" akhirnya mama menjawab.


"Usia ma? banyak kok sekarang perempuan perempuan muda yang dapat kakek kakek renta ma, bahkan ada juga nenek nenek renta menikahi brondong, aku dan mas Hima hanya selisih sepuluh tahun ma!" pekik Sekar histeris.


"Kamu salah nak, mama ini memang mama yang jahat karena memisahkan kalian tapi dibalik kejahatan mama tentu ada alasannya." Mama kembali menarik napas berat.


"Kalian itu berbeda Kar, percayalah jika perbedaan itu akan tidak baik jika disatukan. Sekarang kamu boleh menyalahkan mama tapi mama punya alasannya.

__ADS_1


Hima yang sepenuh hati mencintai mu saja akhirnya mengerti dengan yang mama maksudkan, cinta tidak harus selamanya bersama dan memiliki karena tidak semua perbedaan bisa disatukan."


"Sekar benar benar ga bisa ngerti jalan pikiran mama, ini jaman modern ma, semua pasti ada solusinya." Sekar bangun dari duduknya lalu meninggalkan sang mama duduk sendiri diruang tengah.


__ADS_2