
"Aku bahagia dik, bahagia mu bahagiaku," ucap mas Hima ketika tanpa tahu malunya aku menghampiri dan memeluknya saat dia hampir menyelesaikan lagunya.
"Mas..." aku berteriak terkejut saat aku merasa tubuhnya ambruk dalam pelukanku, aku mencoba menahannya dan emosiku meledak seketika karena dia berani mencuri kesempatan saat aku terbawa suasana.
Aku yang menahannya mendongakkan wajah, aku tersentak ternyata wajahnya memucat dan mata itu terpejam.
"Mas!!!!" aku berteriak menyadari ada hal ganjil pada laki laki yang pernah aku cintai itu.
Di atas panggung pesta pak Kades, aku memangku kepala laki laki yang sesaat lalu membuatku begitu bahagia dan galau.
Kami menjadi kerumunan banyak orang, mata Hima tetap terpejam dengan wajah yang makin memucat.
"Dik... ibu Kasih dimana?" lirihnya.
"Ada apa dengan ibu mas?" Aku yang masih mampu menahan hati menjadi keheranan karena disaat seperti ini mas Hima justru mencari ibuku.
"A...ada yang ingin aku katakan pada ibu dik," mas Hima bicara dengan terbata bata.
"Ibu ga ada disini mas, ibu sedang bekerja."
"A... a... aku ingin bicara dengan ibu dik, a...a... aku takut tidak bisa bertemu dengan ibu." Dari sudut matanya yang terpejam mengalir titik titik bening.
"Sekar, kamu video call saja ibumu," usul seseorang yang ikut berkerumun.
Tanpa ba-bi-bu aku lantas mengambil ponselku.
"Ada apa Kar, tumben kamu Vc mama?" terlihat mama Kasih mengkerut wajahnya di monitor ponselku.
"Ma, ada yang mau bicara dengan mama..." tangan ini bergetar, aku merasa ada sesuatu yang terjadi antara mas Hima dan mama. Ponselku terjatuh.
Tika, salah satu orang yang berkerumun di dekatku mengambil ponsel itu, mengarahkan kamera video kearah ku.
"Kar, siapa laki laki itu?" mama terlihat terkejut saat melihat aku sedang memangku seseorang yang mungkin dia sudah lupa.
"Ma... a, a, aku Hima mah." Mama terlihat syok.
"Hima?"
"Ma... aku menepati janjiku pada mama," suara mas Hima makin melemah.
"Ma... bolehkah aku pulang kerumah mama? aku ingin tinggal dirumah kekasihku sebentar saja menunggu yang menjemputku, setelah itu aku janji tak akan kembali lagi ma," dengan berderai air mata mas Hima memohon, mama terlihat syok.
__ADS_1
"Bo-bo-bo-boleh mah?" Suara mas Hima makin terbata-bata.
Mama hanya mengangguk dengan guratan wajah yang sulit diartikan.
"Te-te-terima ka-kasih ma," Mas Hima terlihat tersenyum karena keinginannya terkabulkan.
"Dik aku bahagia, meski aku tak bisa menyanding dirimu tapi aku bisa memenuhi janjiku padamu meski terlambat," mas Hima menggenggam tanganku dengan begitu erat "Dirimu adalah semangatku, berbahagialah dik." Mas Hima terus menatapku dengan senyum yang selalu kurindukan selama ini.
"Pak... bisakah bapak menuntunku? aku, aku mau pulang pak," tangan mas Hima bergerak kearah pria lanjut usia yang mengenakan peci di samping mas Hima terbaring, mata mas Hima kembali terpejam.
Tangan mas Hima disambut pria lansia itu, beliau membimbing mas Hima.
Di atas pangkuanku, mas Hima mengucapkan iman Islamnya dan tertidur selamanya dengan senyum yang indah.
Aku terisak, aku menjerit, hatiku benar benar terkoyak atas kepergiannya. Aku tak pernah mengira bahwa sekali lagi dia meninggalkan aku dan benar benar meninggalkanku selamanya.
Jenasah mas Hima dihantarkan kerumah, saat kami tiba mama sudah dirumah.
Mama memelukku dengan derai air mata, "maafkan mama Kar, mama benar-benar minta maaf, mama tidak tahu jika akan begini jadinya."
Didepan jenasah mas Hima yang dibaringkan ditengah ruangan kembali mama tersedu-sedu, jelas mama sepertinya begitu menyesali diri, entah apa itu.
Dua jam kemudian terlihat sebuah mobil masuk kedalam parkiran, disusul lagi dengan empat mobil dibelakangnya.
Terlihat mereka turun dengan membawa banyak barang yang dikemas seperti hantaran.
Terlihat pamanku tergopoh-gopoh menemui orang-orang yang sepertinya sedang bersiap-siap hendak masuk kerumah.
"Maaf bapak-ibu, sepertinya bapak ibu salah tempat," terdengar samar suara paman bicara.
"Kami tidak salah rumah pak, kami keluarga Hima, Himawan, kami hendak menjemput almarhum" Jawab seorang bapak-bapak.
Semua terdiam tidak mengerti dengan maksud kedatangan keluarga Hima yang datang dengan barang bawaan seperti seserahan. Apakah keluarga Hima salah informasi?
Orang orang yang menunggui jenasah almarhum sepertinya sangat paham, mereka keluar untuk memberi ruang bagi keluarga mas Hima, hanya tersisa aku dan mama.
Mbak Yuni, kakak kedua mas Hima menghampiri aku dan ibu yang duduk disebelah jenasah.
Mbak Yuni datang memelukku dengan terisak, aku yang hampir bisa menguasai kesedihanku kembali menangis, perasaanku kembali porak poranda.
"Himawan sangat bahagia dek, rupanya dia meninggalkan senyumannya. Terimakasih sudah memberikan kebahagian buat adik malang ku." Mbak Yuni memperhatikan senyum almarhum adiknya itu, bibirnya tersenyum disertai bulir bulir bening yang meluncur dari matanya.
__ADS_1
"Hima, mbak ikhlas kamu pergi dek, apa yang jadi amanah darimu akan mbak tunaikan disini, saat ragamu masih ada ditempat ini. Mbak ingin engkau bahagia tanpa ada ganjalan apapun," mbak Yuni terisak, terdengar mbak Yuni menarik napas berat.
"Sekar... " mbak Yuni kembali menyentuh bahuku.
"Ini adalah semua yang almarhum siapkan untukmu, almarhum berpesan kamu harus menerima semua pemberiannya."
"Maksud mba Yuni?"
"Hima sepertinya sudah tahu bahwa waktunya sudah dekat, dia menyiapkan semua ini sebagai bukti cintanya padamu.
Hima ingin apa yang dia berikan padamu, kamu pakai dihari bahagia mu kelak. Hima begitu bahagia saat dia tahu kamu pernah menunggu dirinya.
Keinginan Himawan untuk tinggal dirumah ini meski hanya menjadi tamu sudah terpenuhi, sekarang mbak izin untuk membawa jenasah almarhum pulang.
Bu Kasih, maafkan adik saya yang membuat beban dirumah ini, segala salah dan khilaf nya sedari muda hingga saat ini tolong dimaafkan."
"Mbak Yuni, bisakah Himawan diurus pemakamannya disini saja? Himawan bukan hanya tamu dirumah ini tapi dia adalah bagian dari kami." Ujar mama Kasih.
"Tapi bu..."
"Mungkin dengan cara ini saya bisa meringankan beban hati yang saya tanggung selama ini, saya mohon mbak Yuni..."
Mbak Yuni menatap satu persatu keluarganya dan terakhir menatapku, lagi dia memelukku kali ini tangisnya benar benar pecah diatas kepingan hatiku.
Jenasah mas Hima sudah dimandikan, sebagian tubuhnya sudah terbungkus dengan kain kafan.
"Kar?" Mba Yuni memanggilku, terperangah melihat dandanan ku begitu juga dengan yang lain.
Aku kenakan kain songket dan kebaya putih pengantin yang dibawa oleh rombongan mba Yuni tadi, aku bersolek sebisaku.
"Biarkan aku memakai pakaian ini mba, aku ingin mas Hima tahu bahwa hatiku tidak sepenuhnya milik orang lain, masih ada dia disini, dihati ini.
Biarkan aku memakai caraku sendiri untuk melepaskan kepergian cinta pertamaku.
Kemarin... saat kami sedang jalan berdua mas Hima mengungkapkan ingin melihatku memakai pakaian pengantin, berkebaya putih dan berkain songket. Jadi izinkan aku memakai ini sekarang mba, selagi ada fisik mas Hima disini."
Lagi mba Yuni memelukku, tangis kami berdua pecah.
"Aku pasti akan selalu merindukanmu mas... selalu," ku tatap wajah tersenyum milik cinta pertamaku itu, terlihat tenang dan damai untuk terakhir kalinya.
"Almarhum beruntung memiliki hatimu Kar, senyumnya adalah tanda kebahagiannya. Ikhlaskan kepergian dan kuatkan hatimu." Tutur seorang laki laki yang berdiri di sampingku.
__ADS_1