MAS DUDA DITENGAH AWAN

MAS DUDA DITENGAH AWAN
Aku memperjuangkanmu


__ADS_3

"Sekar ke kamar dulu ya ma, Sekar mau menghubungi Awan dulu." Sekar beranjak kedalam kamar untuk menghubungi Awan.


"Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi." Sudah berkali kali Sekar menghubungi gawai Awan, namun selalu diluar jangkauan.


"Awan.... kenapa nomormu tidak aktif? Apa kamu ganti nomormu untuk menghindari aku? Air mata Sekar, mulai menganak.


"Ya Tuhan.... ternyata seperti ini rasanya disakiti dan dikhianati kekasih tapi kenapa aku ga bisa benci kamu Wan?"


drrettt drettt...


Ada pesan masuk diaplikasi hijau membuyarkan lamunan Sekar.


[Maaf Sekar, ada apa kamu menghubungi aku?]Pesan masuk dari Awan.


"Awan, bisa kita bertemu?" balas Sekar.


[Buat apa Sekar? bukannya semua sudah aku jelaskan? Ayo donk kamu move on Sekar, banyak laki laki diluar sana selain aku.]


"Kita bertemu untuk yang terakhir kali ini saja Wan, setelah ini aku janji tak akan menggangu kamu lagi,"


[Oke, kapan kamu mau ketemu?]


"Besok Wan, aku mau jalan jalan terakhir kalinya denganmu,"


[Oke, besok aku jemput kamu jam sepuluh]


"Terimakasih Wan, sampai jumpa besok jam sepuluh."


Sudah tak ada balasan lagi dari Awan, biasanya setelah akhir percakapan diaplikasi biru Awan selalu mengirimkan emot hati tapi sudah hampir sebulan ini sudah tak adalagi hal romantis Awan, semuanya berubah... Tapi malangnya Sekar baru menyadarinya sekarang.


Tok tok tok....


"Sekar, mama boleh masuk ya nak?"


"Masuk saja ma, pintu ga dikunci," teriak Sekar dari dalam kamar.


"Bagaimana Kar, apa Awan mau bertemu denganmu?"


"Iya ma, Awan mau karena Sekar bilang untuk yang terakhir kalinya sepertinya."


"Ingat pesan mama ya nak, apapun keputusan Awan kamu harus terima.


Jika apa yang kamu usahakan dan perjuangkan tidak berhasil maka lupakan dia, mama juga hanya kasih kesempatan sekali ini ingat itu."


"Iyaa ma, Sekar ingat."


"Ya sudah sekarang kamu mandi, makan dan istirahat jangan karena masalah cinta kamu sakit. Mama tunggu kamu dimeja makan."


🌸🌸🌸


"Sekar, seharusnya kita ga perlu bertemu lagi. Kamu harus mulai menata hidup kamu lagi, kamu pasti gampang cari pengganti ku." Keluh Awan, sepertinya dia sangat keberatan pergi dengan Sekar.


"Awan, disini cuma ada kita berdua ga akan ada yang dengar kalau kamu bicara terus terang padaku. Apa alasanmu meninggalkan aku?" Sekar sudah menyiapkan diri untuk tegar dengan apa yang akan didengarnya.


"Sekar, kemarin kan aku sudah bilang alasan aku, apa harus aku ulangi lagi jawabanku?" Awan terus menatap kearah pantai tanpa mau melihat Sekar yang duduk disampingnya.


"Wan, aku hanya mau memastikan bahwa pendengaran ku tidak salah," kilah Sekar.


Ada semburat bening di netra Sekar yang tertahan dan Sekar membuang pandangannya jauh kearah laut lepas dihadapan mereka, bagaimanapun ia menyiapkan mental namun pada akhirnya hatinya tetap merasa sakit meski ini pengakuan yang diulang.


"Sekar, aku sudah jatuh cinta dengan wanita lain mungkin karena kebersamaan diantara kita sudah sangat lama jadi aku mulai merasa jenuh dengan hubungan kita."


Deg!


Semburat bening di netra Sekar semakin nyata terlihat, namun masih dapat terbendung.


"Aku minta maaf Sekar, tapi cobalah move on dariku," desak Awan.


"Dari mana kamu kenal Sasa, Wan?"


"Aku kenal lewat medsos Kar, dia teman Ari."


"Bagaimana orang nya?"


"Sasa..., sekarang dia kelas dua sekolah menengah atas. Anaknya periang, dia lebih pendek darimu, rambutnya panjang bergelombang, anaknya asik diajak ngobrol," ada senyum indah yang tersungging ketika Awan menggambarkannya, menohok hati Sekar.


"Kapan kalian jadian?"


"Besok kami genap satu bulan pacaran Kar," Awan merasa tidak enak hati.


"Berarti masih denganku kamu sudah dengannya juga Wan," Sekar tersenyum masam.


"Maaf Sekar, aku merasa berdosa membohongimu karena itu aku jujur padamu kemarin."


"Ya ya ya.... terimakasih atas kejujuran mu Wan, terimakasih sudah menemaniku delapan tahun ini. Aku berharap kamu bahagia dengan pilihanmu." Semburat bening itu mulai mengkristal namun bisa ditahan Sekar.


"Tapi kita tetap bisa berteman, kapanpun kamu butuh teman aku ada untukmu. Kita teman kan Sekar?"


"Maaf Wan, aku rasa hanya waktu yang memutuskan kita bisa bersahabat atau tidak, sekarang aku sudah yakin dengan keputusanmu, kelak aku berharap kamu tidak menyesali keputusanmu membuang ku seperti ini." Kristal bening itu akhirnya jatuh, meski Sekar telah berusaha untuk kuat.


"Sekar, maaf sudah menjadikanmu sebagai korban kebahagiaanku."

__ADS_1


"Sudahlah basa basi mu Wan, mungkin memang wanita itu yang jadi sumber bahagiamu. Cukup sampai disini aku berusaha memperjuangkan mu."


"Sekar, bagaimana kalau kamu jadian saja sama Arda? Aku tahu Arda sangat mencintaimu, dia laki laki baik," cetus Awan.


"Kamu pikir hatiku ini apa Wan?" Sekar tersenyum getir dengan air mata berlinang tak percaya dengan apa yang diucapkan Awan.


"Hati ini bukan hati ayam yang bisa di masak sesuai selera yang masak Wan, ini hati manusia yang punya rasa.


Jika kamu sudah punya yang baru, ya silahkan tapi jangan coba coba mengaturku dengan siapa." Sekar memperlihatkan ketidak sukaannya.


"Tapi Arda laki laki yang baik Sekar, dia tidak akan seperti ku. Dia menjomblo selama ini karena masih mengharapkan kamu Kar."


"Ah sudahlah Wan, tak usah repot mengurusi masalah pribadiku. Ingat kita hanya seseorang yang saling mengenal karena masa lalu, ayo kita pulang, sepertinya sudah tidak ada yang harus kita bahas lagi. Lama lama disini juga nanti ada yang marah."


Clenting clenting benda pipih berteknologi milik Awan berbunyi.


"Sebentar Sekar, aku mau menghubungi Sasa dulu. Kamu silahkan tunggu aku sebentar di sepeda motor."


"Ok!"Sekar sudah mengira bahwa memang pacar baru Awan yang mengirim pesan.


Di sepeda motor yang terparkir agak jauh dari lokasi Awan menelpon, Sekar menyeka air matanya.


"Sekar, kamu harus kuat Sekar, kamu ga boleh menangisi Awan lagi cukup, cukup dan cukup air matamu luruh untuk laki laki tak punya hati itu!" Sekar berusaha menegarkan diri.


"Sekar, maaf lama, Sasa marah tahu aku pergi denganmu."


"Oh..."


"Iya dia bilang, aku tak boleh berteman denganmu."


"Hem..." respon Sekar.


"Ini terakhir kalinya untuk kita bersama, kalau tidak dia mau nekat. Sasa sangat cemburu! Sekar.... kamu mau kemana?"


"Lebih baik aku pulang sendiri saja Wan, didepan banyak angkot biar aku naik angkot saja, terimakasih karena sudah meluangkan waktumu untukku, sampaikan ke Sasa, aku tak berteman denganmu tak masalah dan kita tidak akan pernah pergi bersama juga, sudah tak ada urusan apapun jadi tidak usah khawatir."


"Sekar, kamu..., kamu yakin dengan perkataan kamu Kar?" Awan terkejut mendengar perkataan Sekar, ada rasa sakit dalam relung hatinya.


"Aku yakin," ada senyum tersungging dibibir Sekar


"Aku tidak percaya Sekar secepat ini move on dariku tapi setidaknya ini lebih baik. Sekar, kita berangkat bersama setidaknya biar aku mengantarmu pulang untuk yang terakhir kalinya," ucap Awan bergetar.


"Sekar, setelah ini kamu punya rencana apa?" Awan berusaha untuk mencairkan kekakuan diantara mereka, saat kuda besi itu berjalan membawa mereka.


"Ahhh... biasanya aku memelukmu saat berboncengan begini Wan, bahkan jika aku tak mau, kamu yang memaksaku untuk memeluk mu tapi sekarang semua berbeda." Kenang Sekar.


Sekar menahan sesak hatinya dan tangisnya, ia tak mau Awan melihat itu.


"Kamu lagi apa Kar?" Awan melihat Sekar sedang sibuk dengan gawainya.


"Maaf Wan, ada yang mengirim pesan padaku dan harus selalu ku jawab," Sekar berpura pura menyibukkan dirinya dengan benda berbentuk pipih miliknya, sejujurnya Sekar sudah tidak ingin lagi berbicara dengan Awan.


Seandainya ada kendaraan lain, Sekar akan meminta turun ditengah jalan dari pada berboncengan dengan Awan.


"Oh.... pesan penting ya Kar?"


"Hemm..." Sekar hanya menjawab dengan deheman saja.


"Sekar, besok hari pertamamu kerja kan?"


"Iya."


"Besok biar aku yang hantar ya?"


"Ga usah Wan, kamu lupa kalau Sasa sudah ultimatum untuk tidak bersamaku?"


"Aku tak akan bilang Kar, bagaimanapun aku juga ingin bersamamu dihari pertamamu bekerja."


"Tidak usah repot repot Wan, lagian aku juga tak ingin menyakiti hati Sasa."


"Tapi kita berteman Kar?"


"Tidak baik berteman dengan mantan Wan, setulus apapun pertemanan dengan mantan akan tetap terlihat tidak baik."


"Mantan?" Awan terdengar getir, entah kenapa hati ini jadi galau begini melihat Sekar sudah seperti orang yang berbeda dengan yang kemarin.


"Besok aku yang akan hantar kamu dan jemput kamu pulang kerja. Setidaknya biarkan aku menebus salahku."Awan makin memaksa.


"Sekarang kamu hantar aku pulang sampai depan rumah, itu sudah cukup Wan. Aku berterimakasih."


"Sekar.... entah kenapa aku merasa sakit dengan setiap perkataan mu, aku bingung dengan perasaanku Kar."


"Sudahlah Wan, tak ada yang harus kita bahas lagi. ini keputusanmu, aku harap kamu bahagia dan akupun belajar untuk bahagia meski bukan dengan kamu."


"Jadi benar kamu ga mau aku antar jemput besok Kar? Aku tulus Kar, ga ada maksud apa apa ke kamu."


"Aku juga serius Wan, tidak usah. Jaga hati wanitamu agar tak ada lagi wanita lain yang hatinya lebur, cukup aku saja."


"Terus siapa yang besok akan hantar jemput kamu Sekar? Tempat kerjamu jauh."


"Biar itu jadi urusanku Wan, oh ya terimakasih karena sudah mau mengajak aku jalan hari ini. semoga kamu bahagia dengan gadis pilihanmu itu."

__ADS_1


"Kamu ga mau ngajak aku mampir Sekar?" Awan hendak menyetandarkan sepeda motornya ketika Sekar sudah turun dari kuda besinya di halaman rumahnya.


"Kamu ga usah mampir Wan, aku sudah capek dan ingin istirahat. Terimakasih sudah menghantarkan aku pulang, aku berharap kita tak lagi ada urusan Wan." Sekar lalu masuk kedalam rumah dan mengunci pintu yang memang terbuka saat Sekar sampai.


"Sekar, maksud kamu apa? Apa benar kamu tak ingin kenal denganku lagi? Awan merasa ada yang begitu nyeri didalam dadanya, ahhh sebenarnya aku kenapa?."


🌸🌸🌸🌸🌸


Drrettt drettt... gawai Sekar bergetar pertanda ada pesan masuk.


"Ahhh... kenapa lagi Awan ini." Sekar sudah tak ada niat untuk membaca pesan dari Awan. Dibiarkan saja pesan itu.


Drettt drrettt...


"Kenapa sih sebenarnya dengan awan ini bukannya dia yang minta seperti ini. Apa dia pikir hatiku ini telor ceplok jadi seenak enaknya dia mau memporak-porandakan hatiku?" sungut Sekar.


Sekar mencoba tabah dan tak ingin menangis lagi, Sekar berusaha membiasakan diri seperti tak terjadi apa apa seperti janjinya pada mama.


Drrettt drettt drrettt drettt.... Gawai Sekar bergetar panjang ada panggilan masuk.


Sebenarnya apasih mau nya Awan, dengan kesal Sekar akhirnya mengangkat gawainya.


"Sekar.... kenapa pesanku tidak kamu balas?" Suara Awan langsung terdengar ketika Sekar memencet tombol hijau berlogo telepon.


"Ada apa Wan?"


"Jawab pesanku Kar."


"Aku lelah ingin istirahat Wan."


"Maaf Sekar, aku mengganggu istirahat mu tapi nanti tolong balas pesanku ya?"


"Maaf Wan, sepertinya sudah tak ada yang harus kita bahas lagi. lagian kamu ingat pesan Sasa jangan berteman denganku!


Sudah ya Wan, aku mau istirahat dan tolong jangan hubungi aku lagi. ini yang terakhir kalinya kamu menghubungi aku!"


Tut Tut Tut.... suara panggilan terputus.


🌸🌸🌸


"Ahh Sekar, seandainya kamu tahu apa yang aku rasa sekarang Kar. Kenapa aku justru bimbang begini ya Tuhan, harusnya aku bahagia Sekar sudah bisa menerima kenyataan kalau aku ingin berpisah darinya tapi kenapa sekarang justru aku yang merasa sangat tak berarti tanpa Sekar?"


Clenting clenting (bunyi gawai Awan mengisyaratkan ada pesan masuk)


"Ahhh kenapa justru pesan dari Sasa bukan dari Sekar sih? Aku menunggu pesan dari Sekar bukan dari kamu Sa!" gerutu Awan pada gawai nya dan mengabaikan pesan Sasa.


"Kenapa juga Sekar belum membuka pesanku? Apa Sekar benar benar tak ingin menghubungi aku lagi? Sekar, please tolong buka pesanku Sekar..." Runtuk Awan.


"Awan.... Wan, kamu di mana Wan?" bu Lastri, ibu Awan memanggil manggil Awan.


"Awan dikamar bu, ada apa?" jawab Awan dari dalam kamarnya.


"Ini ada perempuan nelpon kamu, suaranya bukan suara Sekar."


"Stttt.... " Awan menempelkan telunjuknya pada bibirnya menandakan Awan meminta ibunya untuk tidak bicara.


"Hemmmm," ujar ibu sambil memperhatikan gerak gerik anak laki lakinya yang terlihat aneh dihadapannya.


"Iyaa dek, ada apa? Kenapa menghubungiku dengan nomor ibu?"


xxxxxx


"Oh, maaf dek aku ga tahu kamu menghubungi nomorku. iya iya, aku ga menghubungi Sekar lagi dek."


xxxxxxx


"Iya, aku ga akan nemuin dia lagi,


udah dek, nanti malam aku yang hubungi kamu. jangan hubungi nomor ibuku lagi ya, ibu marah marah ini."


xxxxx


"Iya iya dek, benar nanti mas hubungi kamu."


"Sepertinya itu bukan Sekar, Wan." Ternyata ibu menguping pembicaraan Awan dengan Sasa.


"Siapa perempuan itu?" Ibu terlihat emosi.


"Pacar Awan bu."


"Pacar kamu Wan? Pacarmu dua Wan?" Teriak ibu terkejut.


"Bu, jangan teriak teriak kalau ngomong. Awan dengar kok, pacar Awan yang sekarang namanya Sasa, bu."


"Lalu Sekar bagaimana?" Tatap ibu tajam.


"Sekar bagian masa lalu Awan bu," dengus Awan.


"Keterlaluan kamu Wan, ibu ga nyangka punya anak laki laki sejahat kamu!"


"Bu, Awan bisa jelasin ke ibu. Ibu jangan marah dulu, tolong dengarkan penjelasan Awan, bu," ujar Awan yang berjalan membuntuti ibunya yang pergi menjauh karena sepertinya ibu kecewa dengan sikap Awan yang meninggalkan Sekar.

__ADS_1


"Penjelasan apa Wan? Ah ibu ga butuh penjelasan kamu sahut ibu terdengar marah."


__ADS_2